
#53
Fakta Mencengangkan
"Diana tunggu!"
Suara itu menggema dari arah belakang. Suara yang begitu familiar ditelinga Diana.
"Aduh, kenapa harus pake nyapa sih? Pagi-pagi sudah merusak mood." Batin Diana mempercepat langkahnya.
Sebuah tangan menarik lengan Diana. Diana yang terkejut spontan berbalik meremas balik lengan yang menyentuhnya dengan tangannya yang lainnya. Ini adalah satu teknik beladiri yang ia pelajari. Memberi perlawanan balik terhadap serangan lawan. Sepertinya euforia pertandingan kemarin belum sepenuhnya hilang. Wah, peraih medali emas memang tidak boleh diremehkan.
"Eits, sabar Diana. Aku gak maksud ngajak berantem." Mario benar-benar terkejut dengan respon cepat Diana.
"Terus mau apa?" Tanya Diana ketus.
"Galak amat sih. Mentang-mentang dapet medali emas, apa-apa langsung sigap pakai jurus. Hehehe.." Gurau Mario berusaha mencairkan es pada diri Diana.
"Udah cepetan ada apaan? Keburu telat."
"Kamu kan sudah ngasi aku selamat dan bunga kemarin. Sementara aku belum kasih kamu apapun atas keberhasilan kamu. Jadi, aku mau kasih kamu ini." Ucap Mario sambil menyerahkan sebuah paperbag pada Diana.
"Bunga? Hahaha Zahra benar-benar berhasil membuat Mario berpikir kalau bunga itu sungguhan dariku." Batin Diana.
Diana melirik sekilas paperbag coklat bertaburan gambar hati itu. Diana benar-benar ingat kalau paperbag itu persis seperti paperbag dari Stefi kemarin.
Diana tampak ragu menerimanya. Prasangka buruk terlintas dibenaknya.
"Apa ini hadiah dari Stefi kemarin ya? Kenapa dia kasih ke aku? Jahat banget sih Mario. Gak menghargai pemberian Stefi, malah diberikan pada orang lain. Kalau Stefi tau dia pasti sedih sekali." Batin Diana.
"Kenapa Di? Kok cuma dilihat doang?" Mario menatap penuh arti pada gadis yang terdiam di depannya.
"Apa kamu berpikir ini hadiah dari Stefi kemarin? Aku tau kok, kamu pasti bakalan mikir kayak gitu."
Diana menatap Mario yang telah berhasil menebak pikirannya. Seperti ada kesengajaan untuk membuat Diana berpikir demikian.
"Kalau kamu tau aku bakal mikir kayak gitu? Kenapa kamu malah kasih ke aku? Kalau kamu gak suka, kamu tinggal balikin ke Stefi baik-baik."
Mario tersenyum simpul. "Kamu kira aku orang yang seperti itu?"
Mario mengambil bingkisan dari dalam paperbag itu.
"Tas nya memang dari Stefi, tapi isinya dari aku. Kalau kamu gak suka apapun yang berhubungan dari Stefi, kamu kan tinggal bilang. Gak usah uring-uringan kayak gitu" Mario tersenyum penuh makna.
"Siapa yang uring-uringan?" Diana pun mulai naik pitam.
"Kenapa sih cewek itu suka menutupi perasaannya?" Ledek Mario.
"Maksudnya?"
"Kamu jealous sama Stefi. Udah kelihatan banget tapi kamu masih ngeles."
"Hah?" Diana tercengang dengan kesimpulan yang diyakini Mario.
"Kemarin kamu langsung pergi gitu aja setelah Stefi dateng, apa namanya kalau bukan jealous?"
"Kamu jangan menarik kesimpulan suka-suka gitu dong."
"Terus apa namanya? Kesel? Marah? Jengkel? Sakit hati? atau jangan-jangan yang Hera omongin kemarin bener, kalau kamu mau bilang suka sama aku waktu itu?" Mario memainkan alisnya menggodai Diana yang nampak gelagapan.
"Hah? Iya engg,-"
"Apa? Iya? Jadi beneran kan?" Ucap Mario memotong perkataan Diana.
Plak!
"Aw, sakit Di!"
Mario mengelus lengannya yang mendapat smash-an mendadak dari Diana.
"Rasain! Kalau perlu aku tendang lagi sampai jungkir balik." Diana menunjukkan kepalan tangannya tepat di depan hidung Mario dengan penuh ancaman.
"Kamu katanya suka, kok masih galak banget sih?"
"Terserah kamu mau ngomong apa. Jadi orang gak usah kepedean! Lagi pula kamu gak perlu balas bunga yang kemarin. Bunga itu bukan dari aku." Diana pergi begitu saja mengabaikan bingkisan yang telah disiapkan Mario untuknya, meninggalkan Mario yang kini terdiam tanpa penjelasan lebih lanjut.
Mario hanya berkacak pinggang dan menggelengkan kepala. Mata itu masih memandang gadis itu menjauh dengan langkah penuh kekesalan. Bibir itu kemudian menyunggingkan senyum, dan mulai melangkah mengekor di belakang Diana.
Dan sekedar informasi, pagi ini Mario tidak datang terlambat saat upacara bendera. Dia sengaja datang lebih pagi, duduk manis diwarung kopi dekat persimpangan, khusus menunggu Diana, untuk menyapanya.
Apakah Mario berhasil? Bisa dikatakan "iya"
Apa sesuai espektasi? Tentu tidak. Mario membayangkan pagi yang manis, mereka akan melewati gerbang beriringan sambil berbincang ringan. Namun yang terjadi, Diana bahkan tidak sedikitpun memberinya senyuman ramah.
Puas? Senyuman Mario yang menjawabnya. Setidaknya kejadian pagi ini akan membuat Diana mengingat Mario sepanjang harinya.
...
Rasa sedap bakso andalan kantin bu Ida, ditambah pedasnya sambal, manisnya saos kecap, melebur menjadi satu dalam tiap kunyahan, menghasilkan sensasi kenikmatan yang memanjakan lidah hingga berdecak dengan sebuah kesimpulan "Hmm lezat."
Apalagi, ini "gratis". Sebuah kata yang dapat menambah tingkat kelezatan menjadi sepuluh kali lipat.
Bener gak sih?
Namun bakso spesial itu hanya ada satu dari lima mangkuk lain yang berada disekitarnya. Yups, semangkuk bakso milik Zahra.
"Gara-gara kamu nih Zah, Mario sekarang jadi salah paham sama aku." Ucap Diana kesal sambil mangap-mangap ******* bakso panas itu bulat-bulat.
"Diana, kalau makan gak usah pakai emosi. Nanti keselek tuh.." Ucap Silvi memperingatkan.
"Tauk nih Diana. Biarin aku makan enak dulu napa.. Ntar aja lanjut uring-uringannya." Lanjut Zahra.
"Gimana gak emosi. Tadi di deket warkop persimpangan dia tiba-tiba nongol ngomong bahas-bahas bunga yang kemarin. Terus tadi waktu di depan saat nerima penghargaan dari sekolah, sial banget barisnya sebelahan ama dia. Kalian lihat kan tadi? Dia terus-terusan bisik-bisik godain aku. Kan malu Zah.." Diana pun nyerocos mengumbar unek-uneknya.
"Oh, pantes aja muka kamu sampe merah gitu. Kirain karena kena panas matahari. Ternyata karena panasnya asmara. Hahaha.." Rosa tertawa renyah seperti biasa.
"Sialan kamu Ros!" Akhirnya Diana pun mengumpat kesal.
"Hush, jangan gitu dong Di. Emangnya Mario tadi bisikin apa sih?" Pancing Rida agar Diana melanjutkan ceritanya.
"Cerita dong.."
"Cerita dong.."
"Cerita dong.."
Diana mendengus kesal. "Kalau kepo aja, kompak!"
"Emangnya salah paham gimana sih maksud kamu?" Tanya Zahra pura-pura tidak tahu.
"Mario tuh ngiranya aku naksir dia." Ungkap Diana tampak jengkel dan malu.
"Tapi, kenyataannya gimana? Kamu naksir gak?" Kali ini Hera yang memancing
"Ya enggak lah.." Jawab Diana spontan.
"Yakin?" Tanya Zahra dengan nada menggodai.
"Yakin! Yakin banget. Yang ada aku malah kesel mulu sama dia. Dia itu sudah antagonis stadium akhir deh kalau menurut aku."
"Awas aja, kesel kesel tapi bikin kepikiran melulu." Timpal Rida.
"Yah, gimana gak mikirin. Otak aku selalu mikirin gimana caranya gak usah ketemu dia, gak usah ngeliat dia, bahkan rasanya pengen banget buat bales setiap hal resek nya dia ke aku." Diana menggerutu panjang mengingat betapa Mario lebih sering meninggalkan kesan rujak pare yang asam pahit ketimbang lollypop yang manis.
"Sebetulnya, Mario itu gak sejahat yang kamu pikir loh Di.." Sanggah Rosa atas pemikiran Diana.
"Dia dikenal suka menolong teman-temannya." Lanjutnya.
Seolah menampik informasi tersebut, Diana pun bersikukuh memberi respon pada otaknya tidak ingin memercayainya. Diana melengos menahan tawa seperti baru saja mendengar lelucon.
"Sungguh Di. Mario memang badung, gak disiplin, terkesan cuek, dan berbuat suka-suka dia. Dia juga suka nongkrong bareng geng motor dan hobi balap liar. Tapi asal kamu tahu, uang hasil taruhan balapannya itu, dia gunakan untuk membantu teman-teman yang kesulitan membayar spp." Terang Rosa panjang lebar.
"Serius Mario kayak gitu?" Tanya Rida yang tak membayangkan kalau apa yang dikatakan Rosa adalah fakta.
"Huumph.. Uda ganteng, berhati malaikat."
Deg,
Diana merasa tertampar dengan kata-kata Rosa. Otaknya mulai membayangkan wajah iblis Mario mendadak berubah tersenyum dan penuh cahaya.
Semua yang ada disitu hanya tercengang mendengar penuturan Rosa. Rosa yang memang dua tahun terakhir satu kelas dengan Mario pun menjadi lebih tahu banyak tentang kehidupan Mario di sekolah bahkan melebihi Zahra yang menjadi salah satu penggemar Mario itu.
"Benarkah?" Batin Diana.
...
Author's cuap:
Kok author jadi ikut makin respect ama peran Mario ini?
Kalo ditanya, kenapa sih kok bagian Willy gak terlalu banyak,
mohon maap ye.. Willy kebetulan kagak satu sekolah sama Diana.. jd bkin part Willy nya juga gak sebanyak part Diana-Mario
Tapi alur ceritanya, udah ada d otak author..
Readers tinggal tunggu tanggal mainnya aja,
semoga kalian bisa ikut seneng dengan alur yang author imajinasikan..
okeeey
Dukungannya jangan lupa dongzzz