Titip Salam

Titip Salam
Senyum Kemenangan



#132


Senyum Kemenangan


Cling,


Ponsel Mario berdering yang menandakan ada sebuah pesan masuk. Itu adalah pesan gambar yang dikirin oleh Zahra. Ia segera mengunduh dan melihat langsung hal apa yang membuat Diana panas dingin di ruang kepala sekolah tadi.


“Siapa yang kirim?” Tanya Mario singkat.


“Anak SMP 2. Aku gak kenal juga sih..” Jawab Zahra.


Mario sengaja datang ke kelas Diana untuk membahas masalah foto yang membuat Diana gelisah. Sebuah foto yang tengah ramai diperbincangkan dalam grub chat para fans Mario, yang bahkan Mario sendiri baru tau kalau ada grub chat semacam itu.


Ini adalah upaya Mario untuk mencari tau secara pasti apa yang mengganggu pikiran Diana setelah mendengar cerita Diana setelah mereka keluar dari ruang kepsek dan berusaha menyelasaikannya. Jujur, dia sangat merasa bersalah karena ulahnya yang membuat Diana dalam masalah besar.


“Ada yang mengenali kalau cewek yang aku peluk ini Diana?” Tanya Mario lebih mendetail lagi pada Zahra yang secara tidak langsung ia benar mengakui kebenaran dari foto tersebut dengan Diana yang merupakan gadis yang ada dalam foto tersebut.


“Selama ini belum ada yang menyebut nama Diana. Kebetulan Diana menguncir rambutnya juga di foto ini, jadi agak sulit ditebak sih seharusnya.” Jawab Zahra mencoba menganalisa. Perkataan Zahra sekaligus membuat Diana merasa sedikit tenang.


“Tapi karena kalian berdua dekat, pasti banyak yang udah mikir kalau itu kalian.” Lanjut Rida yang langsung mendapat sikutan dari Zahra.


“Kamu kok bikin Diana panik lagi sih?” Bisik Zahra di sela sikutannya.


“Sorry..” Rida tampak menyesal dengan ucapannya barusan.


“Tuh kan..” Diana tampak lemas. Ia juga merasa sangat malu karena akhirnya semua teman-temannya mengetahui kebenarannya. Ia meringkuk menyembunyikan wajahnya dalam lipatan tangannya.


“Tenang dong Di.. Kamu gak usah takut. Lama-lama berita ini pasti akan berlalu.” Hera mencoba menenangkan Diana.


“Aku akan bertanggung jawab kalau sampai kamu kena masalah gara-gara foto ini. Aku yang salah Di, aku minta maaf ya..”


“Bahkan jika ayah kamu tau, aku yang akan bicara dan minta maaf secara langsung.”


Kata-kata Mario sontak membuat tiga dara di sana meleleh. Zahra, Rida, dan Hera tampak sangat tersentuk dengan pemikiran heroic dan gentleman dari seorang Mario.


Diana mengangkat wajahnya dan menatap wajah Mario yang penuh kesungguhan. Sorotan mata pemuda itu seolah membuatnya begitu yakin dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja.


“Aku gak ada masalah kalau memang harus dimarahi Ayah. Aku cuma malu kalau sampai semua orang tau kalau yang difoto itu aku.” Diana berucap sambil cemberut. Dalam pendengaran Mario gadis itu terdengar sedang merengek manja seolah meminta perlindungannya. Hal tersebut membuat Diana tampak sangat menggemaskan dimatanya. Ingin sekali ia mencubit pipi gadis itu.


“Aku minta maaf Di.. Aku janji gak akan mengulanginya lagi.” Ucap Mario tampak sangat menyesal. Sesungguhnya ia tidak menyesali kejadian itu. Ia hanya merasa marah pada dirinya sendiri karena ulahnya, gadis itu kini dilanda kecemasan.


“Yakin gak mau mengulangi lagi?” Celetuk Rida yang sontak membuat semua mata mengarah padanya.


“Kalau boleh jujur sih, masih mau lah..” Jawan Mario yang disusul cekikikan renyah.


Plak,


Aw,


Sebuah tepukan penuh bara api mendarat di lengan Mario. Sangat keras dan sarat akan kemarahan. Namun hal tersebut membuat suasana kembali mencair karena semua tertawa dengan jawaban Mario yang tanpa ragu untuk berterus terang.


“Balik kelas sana!” Usir Diana dengan bibir mengerucut penug kekesalan.


“Kok aku diusir? Aku kan cuma jawab jujur Di.. Kamu sih Rid, mancing-mancing.” Mario beralih menyalahkan Rida yang tertawa terpingkal.


“Buruan balik atau aku..” Diana menunjukkan kepalan tangannya.


“Iya, iya, nanti siang jangan lupa.” Mario mencebikkan bibirnya. Namun melihat gadis itu yang sudah bisa marah-marah lagi, dapat dipastikan bahwa kecemasannya sudah berkurang.


“Di, kamu bisa galak sama Mario sekarang? Tapi kenapa kamu kok diam waktu dipeluk Mario waktu itu?”


Diana terdiam membisu mendapat pertanyaan dari Hera. Bahkan Zahra dan Rida pun tampak penasaran dengan jawaban yang dari pertanyaan Hera. Namun Diana tak memiliki jawaban apapun.


“Ciye..”


“Udah ah, gak ada bahasan lain?” Diana berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia benar-benar malu terus menjadi bahan ledekan teman-temannya.


“Kalau emang sama-sama suka kenapa gak jadian aja sih?” Kini Zahra yang masih begitu penasaran dengan kelanjutan cerita Diana. Masih banyak teka teki yang belum diceritakan secara lengkap oleh Diana karena gadis itu memang sengaja menutup-nutupinya.


“Cerita dong Di.. Kamu kemarin bilang mau kencan sama Congek. Kok jadinya sama Mario sih?” Hera pun tak menyiakan kesempatan untuk membuat Diana menceritakan kisah lengkapnya sebab ia tak berhasil mengorek informasi apapun selama dua hari melalui pesan yang tak kunjung dibalas oleh Diana karena Diana sengaja mematikan hapenya.


Merasa sudah terdesak dan tidak ingin teman-temannya menaruh prasangka dengan fantasi mereka sendiri, akhirnya Diana menceritakan kisah kencannya dan juga pemanggilan pak Kepsek yang meminta dirinya dan Mario untuk menjadi salah satu pengisi acara pada acara perpisahan siswa kelas tiga yang akan berlangsung dua minggu lagi.


“Jadian, putus, eh sekarang terjebak lagi bareng-bareng. Jodoh banget deh kayaknya..” Celetuk Rida menyimpulkan yang dilanjutkan ledekan ciye ciye oleh Zahra dan Hera sebagai tanda mereka pun setuju dengan kesimpulan Rida.


Diana hanya menghela napas beratnya. Rasanya sudah malas untuk meladeni ledekan teman-temannya yang tak akan ada habisnya. Ini adalah konsekuensi yang harus ia bayar setelah menceritakan semuanya.


Sementara di sudut lain, Mario tengah senyum-senyum seorang diri di depan layar ponselnya. Ia terus memandangi foto buram yang samar-samar menampakkan wajahnya yang sedang memeluk seorang gadis.


Bukannya panik dan ketakutan seperti reaksi yang ditunjukkan Diana ketika melihat foto itu, justru ia ingin sekali mengucapkan terimakasih pada sang paparazi yang berhasil mengabadikan momen yang tak akan pernah ia lupakan itu.


Memandang foto itu membuatnya terus terbayang-bayang kejadian hari itu, rasa nyaman ketika ia berani merengkuh tubuh gadis itu, dan tidak ada penolakan atau perlawanan dari gadis itu. Peristiwa itu terus berputar-putar di ingatannya membuatnya tampak seperti orang gila di sudut ruang kelas.


“Wah.. ternyata kamu beneran berani peluk doi? Kirain cuma fantasi halu kamu aja!”


Mario menoleh pada suara seseorang yang tiba-tiba terdengar di sampingnya. Abdul dengan wajah serius yang sudah turut mengintip pada layar ponsel Mario.


“Apaan sih? Main ngintip-ngintip hape orang!” Mario bersengut kesal lalu menyimpan ponsel dalam sakunya.


Abdul menangkup wajah Mario dengan kedua telapak tangannya. Ia memutarnya kesamping kiri dan kanan, atas dan bawah, memperhatikan seluruh sudut wajah Mario. Kelakuan Abdul sontak membuat Mario begidik geli.


“Ngapain sih pegang-pegang pipi aku? Jijik tau gak?” Mario berusaha melepaskan diri dan menggeser posisi duduknya sedikit memberi jarak pada Abdul.


“Aku cuma mau memastikan ada luka bonyok-bonyok gak di wajah kamu?” Jawab Abdul yang kini beralih memperhatikan tangan, badan, hingga kaki Mario.


“Bonyok kenapa?”


“Secara kamu berani peluk seorang dewi perang pendekar sakti mandraguna. Waktu kamu cium keningnya aja hidung kamu sampai mimisan dan membekas merah sampai seminggu. Tapi kayaknya sekarang gak ada yang bonyok?” Ucap Abdul yang masih celingukan memperhatikan setiap sudut wajah Mario.


“Hmm..” Mario hanya berdehem sambil menahan senyumnya.


Abdul yang mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Mario itu sontak menganga takjub.


“Kamu berhasil menaklukkan dewi perang?” Ucap Abdul sambil memberikan applause tanda sebuah penghargaan tertinggi atas kemenangan sahabatnya itu.


“Fix, kamu kudu traktir aku makan sebagai perayaan!” Lanjut Abdul mengakhiri tepukannya.


“Sialan! Ujung-ujungnya tetep traktiran juga, kampret!” Ucap Mario sambil menoyor pundak Abdul yang terkekeh.


“Besok aja ya.. Nanti siang aku sibuk!”


“Okey! Besok ya...”


.


.


Author’s cuap:


Mario, author ikut ditraktir juga ya...


Kasih dua bab deh biar readers seneng


Terimakasih sudah membaca..