
#122
Dating (part 1)
Sejak pagi gadis itu sudah berdiri di depan cermin. Merapikan rambut, memasang jepit untuk menghalau poni, memupuk bedak tipis di wajah, benar-benar riasan sederhana sehari-harinya.
Namun ada satu tambahan lagi yang membuat Diana masih ragu untuk mengenakannya. Benda itu pemberian dari Hera.
"Kamu kan mau jalan sama cowok, jadi harus ada sesuatu yang berbeda dong.." Ucap Hera kala mereka duduk bersandingan di dalam angkot.
"Beda gimana?" Diana mengernyit tidak mengerti.
"Ah, kamu pasti gak ngerti hal-hal kayak gitu. Pokoknya kamu mampir dulu ke rumah aku. Aku mau kasih kamu sesuatu." Ucao Hera yang membuat Diana sangat penasaran.
Dan inilah yang diberikan Hera padanya. Sebuah lipbalm rasa strawberry yang baru saja Hera beli. Ia rela memberikannya cuma-cuma untuk Diana agar kencan Diana berkesan semakin manis nantinya.
"Kencan? Hahaha.. Ini bayar hutang." Ucapnya pada cermin yang memantulkan bayangannya.
Diana membuka segel benda itu, membuka tutupnya, hingga tampaklah produk berwarna putih beraroma strawberry di dalamnya.
Seumur hidup ia belum pernah mencoba sesuatu yang seperti ini.
"Ini kayak lipstick mama sih.. Tapi kok warnanya putih ya?" Diana masih ragu-ragu memakainya.
Aroma strawberry yang manis bukannya membuat Diana penasaran mencobanya, tapi malah lebih kepada ingin mencicipinya.
"Eh, ada manis-manisnya. Hmm enak." Ucap Diana yang akhirnya ketagihan mengoleskan benda itu di bibirnya.
"Di, ada Willy di depan.." Panggil Mila, sang mama dari balik pintu kamarnya.
"Iya Ma, tunggu sebentar." Ucap Diana yang mulai memasukkan dompet, hape, dan lipbalmnya ke dalam tas selempang kecil. Dia tak lupa mengenakan jam tangan dan meraih jaketnya sebelum akhirnya keluar kamar.
Diana melangkah ke dapur tempat dimana Mila beraktivitas untuk berpamitan.
"Ma, aku berangkat ya. Nanti pulang sore loh.." Ucap Diana mengingatkan Mila agar tidak cemas bila Diana pulang terlambat.
"Kok buru-buru? Gak nunggu teman-teman yang lain?"
"Oh, emm.. Kita nanti langsung ngumpul ketemu disana." Diana cepat-cepat mengulurkan tangan untuk berpamitan sebelum mamanya bertanya lebih jauh lagi.
Yah, Diana berkata pada Mila bahwa Willy akan mengajaknya tour ke beberapa museum dan tempat bersejarah di Kota dan daerah disekitarnya bersama teman-teman lainnya. Setidaknya itu yang dikatakan Willy agar Diana memperoleh ijin untuk pergi seharian bersamanya. Diana benar-benar tidak enak karena merasa telah membohongi mamanya.
"Eh tunggu!"
Langkah Diana sontak berhenti mndadak ketika mendengar suara peringatan Mila.
"Coba hadap sini dulu."
Mila memperhatikan putrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia merasa seperti ada sesuatu yang berubah.
"Kamu kok kayaknya cakepan sih? Apa ya yang beda?"
Diana mengatupkan bibirnya berusaha menutupi bibirnya yang yang bersemu pink karena efek dari lipbalm yang ia gunakan.
"Eh Ma, gosong tuh.." Ucap Diana menunjuk asap mengepul di dapur.
"Ya ampun.. lupa!" Ucap Mila yang segera menghampiri kompornya.
Diana tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Lebih baik ia segera pergi sebelum sang mama bertanya lebih jauh lagi. Ia buru-buru keluar menghampiri Willy yang sedang menunggu di teras.
"Ayo Wil, buruan!" Ucap Diana sambil berjongkok dan cepat-cepat mengenakan sepatu ketsnya.
"Aku pamitan dulu lah sama tante Mila." Willy pun berdiri dari duduknya dan berniat masuk menghampiri Mila di dalam.
"Stop!" Diana meraih pergelangan tangan Willy ketika pemuda itu melewatinya.
Diana mendongakkan wajahnya dan berkata "Mama lagi repot di dapur. Udah gak apa-apa kita langsung berangkat aja."
Willy tertegun menatap gadis itu. Ia melihat ada sesuatu yang berbeda.
"Kenapa? Kok bengong?"
Willy tersenyum ketika menemukan sesuatu yang dirasa berbeda. Bibir yang terlihat lebih lembab dan bersemu merah muda itu membuat wajah ceria gadis itu semakin segar.
"Ih, sekarang malah senyam senyum. Jadi pergi gak sih? Kalo enggak aku mau masuk lagi aja nih!"
Grep,
Willy menarik lengan Diana ketika gadis itu hendak berbalik masuk rumah.
Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Willy yang membuat Diana tertegun menatap pemuda itu teraenyum tipis.
"Apa pujian ini termasuk awal dari kencan? Hmm sweet banget. " Batin Diana.
"Hei, kok bengong sih?"
"Baru dipuji cantik aja langsung nervous sampe bengong." Ledek Willy sambil cekikikan yang akhirnya berhadiah sebuah cubitan pedas di lengannya.
"Aw, " Willy meringis mengusap-usap lengannya yang terasa panas.
"Rasain tuh," Ucap Diana melengos melewatinya begitu saja dan melangkah mendekati si item, kuda besi milik sang pangeran yang rencananya akan menjadi pacar seharinya dalam sebuah kencan yang terhitung sebagai hutang.
Klik,
"Pakai helm yang bener." Ucap Willy setelah memasangkan pengait helm Diana agar helm tersebut terpasang dengan benar.
Diana tersipu malu. Sebuah permulaan yang begitu manis membuat pipi Diana merona. Tak dipungkiri dadanya pun berdebar.
"Baru awal aja udah kayak gini, gimana kalau seharian ya?" Batin Diana.
Motor melaju perlahan menuju area perbukitan yang tampak hijau. Tak banyak rumah penduduk di sana. Willy membawa motornya semakin jauh ke bukit hingga memarkirkan motornya di area yang cukup lapang.
Diana terperangah melihat Kota kelahirannya itu dari puncak bukit. Bahkan ia dapat melihat laut dan pulau seberang. Indah sekali.
"Kalau malam hari lebih keren." Ucap Willy yang seolah tau apa yang ada di pikiran Diana saat ini.
"Masa sih? Gak horror ya? Kayaknya pasti gelap banget di sini." Ucap Diana sambil melihat sekitar yang jarang sekali ada manusia yang lewat.
"Iya bakal horor kalau ngajak kamu."
Diana menyikut lengan pemuda itu. "Sialan! Emangnya aku demit?" Ucap Diana cemberut kesal.
"Bukan kamunya, tapi yang nungguin di rumah. Auto diblacklist jadi calon mantu ntar."
Willy terkekeh setelah mengatakannya. Diana pun tak bisa menyembunyikan tawanya.
Yah, tentu mereka membayangkan hal yang sama, yaitu reaksi Arman, ayah Diana.
"Harusnya aku nembak kamu saat ini. Sesuai perjanjian, kamu pasti menerimanya dan kita akan jadian selama satu hari." Gumam Willy dalam hati ketika menatap tawa riang gadis itu.
"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba diam?" Diana menatap Willy yang seketika tampak murung.
"Gak kenapa-kenapa kok, aku seneng aja lihat kamu tertawa." Jawab Willy.
"Kenapa? Aku kalau tertawa kelihatan cantik? Udah gak mempan pujiannya." Diana melengos kesal mengingat kejadian sebelum mereka berangkat tadi.
"Hahaha.. Udah kebaca alurnya ya?"
Sunyi.
Dalam beberapa saat mereka terdiam. Hanya deru angin yang mengusik pendengaran.
"Wil, kencan itu kayak gini ya?" Tanya Diana dengan begitu polosnya.
Willy terkekeh pelan. Ia kemudian melirik jam tangannya.
"Harusnya dia udah nyampe." Gumam Willy dengan suara yang masih dapat didengar oleh Diana.
"Dia? Dia siapa? Kita lagi nungguin siapa?"
Willy hanya menjawab dengan senyumnya. Ia tak sanggup berkata saat ini.
Sejujurnya di dalam hati ia terus memaki kenapa harus ia yang berkorban? Kenapa ketika saatnya tiba ia justru merasa tudak rela? Apalagi gadis itu sengaja tampil beda untuk hari ini. Hari yang diketahui Diana bahwa ia akan berkencan dengan Willy.
Namun nyatanya, ada dia yang sedang melaju, bergerak mendekati mereka berdua.
...
Author's cuap:
Wil, mending kamu puter balik
trus kencan ma author
Setuju???