Titip Salam

Titip Salam
The Result



#114


The Result


"Heh mas.. tau gak itu yang naik podium siapa? " Tanya Arman pada seseorang laki-laki asing yang duduk disampingnya.


Laki-laki itu lantas menggeleng. "Gak tau pak," Ucapnya.


Arman menepuk dadanya yang membusung. "Anak saya, hahaha.. Hebat kan?" Ucapnya dengan jumawa.


Sang istri tampak menepuk jidatnya sendiri melihat tingkah laku suaminya. Sepertinya sang suami benar-benar sangat keterlaluan untuk sebuah rasa bangga yang luar biasa atas prestasi putrinya. Dia bahkan tak pernah melihat sang suami sebahagia ini.


Diana sangat bangga dan berpuas hati dengan medali perunggu yang dikalungkan di lehernya. Ia sampai menitikkan air mata ketika melihat sang Ayah yang terlihat pling heboh di tribun penonton.


Ketika menatap ke belakang, dilihatnya Putri yang tersenyum dan mengacungkan jempol ke arahnya.


"Diana, ini tahun terakhir kamu berlaga di tingkat junior. Kamu harus berjuang agar bisa naik ke podium." Ucap Putri kala keduanya berada di delapan besar.


Teman satu kontingennya itu begitu banyak membantunya. Kemampuan menganalisis Putri ditambah strategi perlawanan yang disusun sang pelatih sangat membantu mereka dalam menyusun strategi mencari titik lemah lawannya.


Sayang, langkah Putri harus terhenti ketika ia berhadapan dengan gadis berambut cepak yang mereka bicarakan di awal pertandingan.


Melihat Putri yang tidak bisa lanjut ke babak berikutnya membuat Diana merasa begitu sedih dan tertekan. Ia bahkan sempat menangis sesenggukan.


"Aku yang kalah kok kamu yang nangis sih Di?" Begitu ucapnya yang justru malah berusaha menghibur Diana.


Memang benar yang dikatakan Putri kalau gadis itu memiliki serangan yang mengerikan. Diana bahkan merasakan bahunya seperti terkilir ketika menerima sikutan lawan kala berhadapan dengan gadis berambut cepak itu di semifinal.


Drama pijat urut sepertinya akan terulang kembali.


"Nak, Ayah pulang duluan ya.. Kabari Ayah kalau sudah masuk perbatasan Kota. Biar kamu gak perlu nunggu lama." Ucap Arman berpamitan setelah puas berfoto dengan putrinya seusai acara perlombaan.


"Ayah, Mama, sama Tania ke sini naik apa? Motor?"


"Enggak dong.. Kita naik mobil. Enak gak kepanasan." Sahut Tania.


"Mobil kantor Di. Kebetulan lagi nganggur seminggu ini. Jadi boleh deh Ayah bawa."


"Wah, bisa dipakai jalan-jalan besok Yah? Besok anterin sekolah naik mobil ya.." Ucap Diana seperti bocah kecil yang belum pernah naik mobil.


"Aku juga.. Sekalian ajak teman-teman aku ya Yah," Tania pun tak kalah antusias.


Arman hanya menghela nafas beratnya. Dua putrinya ini seperti kurang piknik saja.


Diana melambaikan tangan sebelum akhirnya berbalik kembali masuk dalam gedung dan berkumpul bersama teman-temannya yang sudah bersiap kembali ke asrama atlet.


Grep,


Sebuah telapak tangan menarik pergelangan tangan Diana keluar dari kerumunan.


"Eh, kak Ari, bikin kaget aja. Ada apa sih?"


"Foto bareng yuk, pakai medali kamu dong." Ucap Ari sambil memamerkan medali perunggunya menghadap kamera.


"Ayo,"


Diana pun melakukan hal yang sama. Mereka duduk merapat sambil tersenyum riang.


"Kirim ke aku juga ya kak," Ucap Diana setelah puas melihat-lihat hasil bidikan kamera ponsel milik Ari.


"Kamu ada sosial media gak? Nanti aku tag sekalian." Ucap Ari yang sudah bersiap mengudarakan fotonya.


"Belum punya kak, nanti deh aku buat."


"Woi, mojok aja berdua!" Dari jauh sang pelatih berteriak dan melambai ke arah Diana dan Ari.


"Kemari sebentar, ada wartawan Kota mau wawancara." Lanjutnya.


Diana dan Ari yang didampingi oleh sang pelatih dengan bangga menjawab semua pertanyaan dari wartawan. Namun satu pertanyaan tak terduga yang entah mengapa bisa terlontar untuk terucap.


"Apa kalian dekat? Kalian berpacaran?"


"Maaf, apa pertanyaan itu bagian dari wawancara?" Ucap Ari dengan tegas.


Wartawan laki-laki yang masih muda itu tertawa sekilas.


"Maaf, maaf, intermezo saja. Karena kalian selalu terlihat kompak sekali." Tuturnya.


"Kak Ari ini juga pelatih saya. Kita sudah kenal cukup lama. Dia banyak membantu saya selama ini. Sepertinya itu yang membuat saya terlihat lebih dekat dengan kak Ari dari pada dengan teman lainnya karena saya juga bukan orang yang pandai bersosialisasi." Jawab Diana berusaha menjelaskan keadaan sebenarnya.


Diana benar-benar tidak ingin memunculkan persepsi orang yang tidak sesuai dengan realitanya. Dia sangat berhati-hati dalam bertutur menjelaskan yang sebenarnya ketimbang harus menghadapi berbagai gosip nantinya. Atau ada hati yang ingin ia jaga? Entahlah.


Malam hari seluruh tim beladuri dari berbagai kontingen memutuskan untuk kembali ke daerahnya masing-masing, termasuk kontingen Kota Gresik yang mana Diana menjadi bagiannya.


Suasana dalam bis tampak sunyi dengan lampu yang meredup karena sebagian besar penumpangnya telah terlelap.


Sementara Diana, ia begitu menikmati kerlap kerlip lampu kota bak bintang di daratan. Perjalanan malam hari yang sangat jarang ia lakukan, ia tidak ingin melewatkannya dengan terlelap meskipun fisik sudah begitu lelah.


"Lihat deh Di, di sosmednya kak Ari ada foto kamu." Bisik Putri sambil menunjukkan layar ponselnya.


Diana yang semula acuh pada apa yang dilakukan teman sebelahnya itu menjadi terpancing untuk menoleh mencari tahu.


"Lihat deh, kamu tuh cewek pertama yang diposting di sosmednya kak Ari. Kalian beneran pacaran ya?" Ucap Putri masih dengan nada berbisik.


Mata Diana mengikuti gerakan ibu jari Putri yang menggeser layar ponselnya untuk menunjukkan semua gambar yang ada di halaman sosmed milik pelatih tampan itu, dan memang benar tidak ada foto perempuan disana kecuali Diana yang mengudara sekitar dua jam yang lalu.


"Baca deh captionnya, *Tidak ada janji ataupun telepati, tapi kita sama-sama dapat perunggu. Pertanda apa ya?" Putri membaca dengan memelankan suaranya.


"Baru dua jam yang lalu, komennya udah ratusan." Ucap Putri yang mulai tertarik membaca komentar dari foto yang menampilkan wajah Ari yang tersenyum riang dengan kalungan medali perunggu sedang merangkul pundak Diana yang juga tersenyum sambil memamerkan medali perunggu miliknya.


Diana terlihat terkejut melihat tangan itu melingkar di pundaknya. Dia tidak menyadari hal itu sampai ia melihat foto itu saat ini.


Secara tidak sadar Diana pun turut tertarik membaca beragam komentar disana. Ada yang mengatakan "pertanda kalian berjodoh", ada yang mengucapkan selamat atas kemenangannya, dan banyak ungkapan patah hati.


Namun ada satu komentar baru yang bahkan beberapa menit lalu dijawab oleh sang pemilik akun.


*Kak, dia punya aku, titik! Please lah jangan ditikung. G sanggup klo musti saingan ma kakak. (emoticon menangis berderet tiga)


"Will_Ard?" Gumam Diana membaca username penulis komentar itu.


"Siapa Di? Pacar kamu ya?"


Klik


Putri sudah lebih dulu masuk mencari tahu sebelum Diana sempat menjawabnya.


Halaman sosial media yang penuh dengan foto seorang pemuda yang begitu familiar di indera penglihatan Diana.


"Di, ada foto kamu. Captionnya *My cute lady warrior, Jangan percaya senyum manisnya, aslinya galak. hahaha. Ciye.. jadi cowok ini yang bikin kamu nolak kak Ari. Cakep juga sih.. " Ucap Putri berkomentar.


Diana diam tak berkomentar melihat fotonya yang berada dalam halaman sosial media milik Willy. Dia malah semakin tertarik terus melihat-lihat semakin dalam pada satiap foto bahkan beberapa komentar disana.


Hap,


Putri tiba-tiba meraih ponselnya yang secara tidak sadar telah dikuasai oleh Diana.


"Makanya bikin sendiri dong. Masa mau stalking cowok sendiri pake hape orang, xixixi" Ledek Putri sambil cekikikan.


"Pelit amat sih, lagian dia bukan cowok aku. Dia itu teman aku."


"Masa sih? Tapi kayaknya kamu kelihatan hepi banget sambil senyum-senyum sendiri lihat foto-foto dia tadi." Lagi-lagi Putri berhasil menggodai Diana.


"Gak usah ngarang ya, mana ada senyum-senyum. Udah ah, mending aku tidur aja kalau gitu." Diana memalingkan wajah kembali menatap pekatnya malam bertabur kerlip lampu jalan dan sorot lampu kendaraan yang melintas.


"Hmm, ngambek ya.."


Diana tak lagi menghiraukan Putri yang terus meledeknya. Dia sudah kepalang malu kalau sampai sungguh tak sadar senyum-senyum sendiri tadi.


Bis yang membawa rombongan mulai memasuki perbatasan Kota.


Jalanan perbatasan begitu lengang. Hanya terdapat beberapa warung kopi pinggir jalan yang mungkin pengunjungnya adalah para karyawan shift tiga.


Bis berhenti cukup lama menantikan lampu merah berubah warna. Selama itu Diana menyapu pandangan pada motor yang berderet di pinggir jalan.


Tunggu!


Diana menajamkan pandangannya kala melihat dua motor yang terparkir di depan sebuah warung kopi pinggir jalan dekat sana. Ia sangat yakin itu adalah motor merah milik Mario dan satu lagi si hitam legam milik Willy.


Pikiran Diana sudah berkecamuk. Pasalnya dua pemuda itu sudah tidak pernah akur ketika berjumpa, dan ini sudah terlalu larut untuk hanya sekedar tak sengaja berjumpa.


"Apa mereka berantem lagi?"


Perlahan bis bergerak meninggalkan persimpangan jalan, namun pikiran Diana seolah masih tertinggal di sana.


...


Author's cuap:


Kangen banget ama abege abege yg bikin bape nih..


Saking lama gak update sampe banyak sarang laba-labanya.


Mup yah.. author habis ada musibah dan banyak kesibukan kemarin..


Makasih banyak para readers yang masih ikutin cerita Titip Salam.


Tak akan habis uangkapan sayang yang pingin aku lontarkan untuk kalian semua.


Kebahagiaan utama author adalah ketika karyanya dapat dinikmati oleh orang lain.


syukur-syukur bisa menghibur dan memberi manfaat.