
#34
"Diana, coba lihat di sebelah sana." Rosa berbisik sambil menunjuk pada satu titik yang diikuti pandangan mata Diana.
"Ada Mario disana. Kayaknya lagi ngliatin kamu deh Di.." Lanjut Rosa.
"Apaan sih Ros. Gak penting tau." Jawab Diana dengan kesal dengan suara berbisik pula.
"Ciye, kalo gak penting biasa aja kali.." Ledek Rosa masih sambil berbisik.
Diana menjadi sedikit salah tingkah mengetahui ada mata yang sedang mengawasinya saat ini. Fokus menjadi buyar seketika.
"Tau gak Di, dari kemarin Mario itu nanyain kamu mulu. Kamu main petak umpet atau gimana sih?" Bisik Rosa lagi.
Semenjak sore itu Diana lebih suka menyendiri di dalam kelas atau mengasingkan diri di perpustakaan ketika jam istirahat. Diana seolah sedang bersembunyi dari dunia luar. Terutama Mario tentunya.
Kantin seolah menjadi area haram untuk Diana, karena rasanya dia sudah tidak ada muka untuk pergi kesana. Tentu semua itu karena lagi-lagi ulah Mario.
Diana tidak mengerti kenapa dia yang harus lari? Seolah dia yang bersalah dan membuat malu.
Diana hanya memahami kapasitasnya. Dialah yang akan dirugikan dalam banyak hal. Dialah yang akan ditertawakan disana, sementara Mario tetaplah menjadi idola dimata mereka.
Zahra berkali-kali mengatakan kalau Mario seperti sengaja hilir mudik melewati depan kelas ketika jam istirahat. Hal itu sebelumnya tidak pernah terjadi. Zahra menarik kesimpulan kalau Mario sebetulnya ingin mencari Diana. Tapi Diana tidak terprovokasi dan membiarkan kejadian itu bagai angin lalu. Tidak ada istimewanya.
"Rosa, Diana, silahkan."
Suara yang tiba-tiba itu mengagetkan mereka berdua. Mempersilahkan Rosa dan Diana naik ke arena gelanggang untuk latihan bertanding.
Ekor mata Diana mengintip ke sudut dimana Mario masih duduk dan memandang ke arah Diana. Seketika fokusnya sedikit buyar, namun tak lama Diana berhasil menguasai dirinya sendiri.
Diana dan Rosa saling memberi salam. Mereka mulai bergelut setelah aba-aba dimulainya pertandingan meluncur dari mulut pelatih.
Meskipun hanya latihan, Diana dan Rosa bergulat cukup sengit. Mereka berdua memiliki kemampuan yang setara.
Ekor mata Diana menangkap bayangan Mario yang mendekat ke arah gelanggang. Konsentrasi Diana mulai buyar. Bahkan dia sangat terkejut mendapati Mario sudah berada di hadapannya.
Tangan Mario mengepal bergerak mengayun menuju ke arahnya. Seketika bayangan malam itu terlintas dalam benaknya.
Reflek Diana mengayunkan kakinya dan sekali lagi menendang perut Mario dengan seluruh energi yang dimilikinya.
Mario pun tumbang. Tapi..
"Aaauuuww.. Sakit Di.."
Mendengar suara erangan seseorang yang sangat dia kenal, seketika Diana tersadar.
"Kamu nendangnya pake perasaan dong Di, kayak ada dendam sama aku aja." Rosa tampak cemberut mengelus perutnya.
"Maaf Ros, gak sengaja." Diana mengulurkan tangan membantu Rosa berdiri.
Teman-teman yang berada di sekeliling mereka pun terkekeh melihat kekocakan Rosa yang berceloteh karena kesakitan.
"Diana, tolong jaga konsentrasi. Kendalikan.emosi kamu." Ucap kak Ari menengahi.
"Iya kak, maaf." Diana merasa tidak enak dibuatnya.
"Tapi tendangan kamu bagus sekali." Kak Ari mengacungkan jempol membuat Rosa makin memanyunkan bibirnya.
"Kemenangan untuk Diana. Silahkan kembali." Kak Ari mempersilahkan Diana dan Rosa duduk kembali.
"Maaf ya Ros.." Diana meringis memohon pengampunan dari temannya itu.
...
Sore yang lengang. Tak banyak aktivitas di gang yang biasa dilewati oleh Diana.
Suasana ini benar-benar biasa saja. Namun semenjak beberapa bulan terakhir, kesunyian gang ini seolah berubah penuh dengan kejutan menimbulkan efek trauma tersendiri bagi Diana.
Bagaimana tidak. Semua hal yang menyangkut peristiwa di malam pengeroyokan itu, semuanya saling bertaut dan menyapa Diana di area sekitar gang ini.
Sekarang Diana menjadi lebih waspada dan mempersiapkan diri pada kejutan apapun yang akan di twmuinya ketika akan melewati gang tersebut. Rosa merasa Diana lebih banyak diam. Dia dapat menangkap ada kecemasan pada teman di sampingnya itu.
"Di, kamu kok gak seceria biasanya sih? Masih kepikiran yang kemarin?" Tanya Rosa.
"Masak sih? Kayaknya biasa aja kok." Jawab Diana mencoba menutupi apa yang dia rasakan.
"Di, kalau Mario beneran suka sama kamu gimana?"
Diana terdiam sejenak. Dia tidak berminat menjawab pertanyaan Rosa. Karena dia sendiri tidak tahu harus bagaimana menyikapi bila.hal itu benar-benar terjadi.
"Jangan sampai deh Ros." Jawab Diana.
"Tapi Di, kayaknya Mario itu ada rasa sama kamu. Cara dia memandang kamu tuh beda."
"Udah dong. Gak usah bahas Mario lagi. Bikin gak mood."
"Hahaha.. Gak mungkin." Tawa Diana pecah.
Diana mulai bisa mencairkan kekhawatiran di hatinya. Dia selalu bersyukur dianugerahi teman-teman yang selalu bisa membuatnya ceria.
Lagi-lagi sebuah telapak tangan menyentuh pundak Diana dari belakang, membuat Diana tersentak. Diana merasakan aura yang tidak menyenangkan dari sentuhannya. Perlahan lehernya menengok menemui pemilik telapak tangan tersebut.
Plak
Telapak tangan itu seketika berpindah ke pipi Diana dengan kecepatan dan energi amarah memberikan rasa panas yang tertinggal.
Rosa terbelalak menyaksikan kejadian itu. Tubuhnya terpaku tak dapat bereaksi saking terkejutnya.
Berbeda dengan Diana. Kejutan bertubi-tubi yang ia alami belakangan membuatnya lebih sigap memberikan respon.
Tangannya reflek mendorong seorang gadis berambut panjang yang telah menaparnya itu. Gadis itu terjatuh mendapatkan dorongan yang begitu kuat dari Diana. Sebetulnya dia bukanlah tandingan untuk Diana.
"Maksud kamu apa?" Tanya Diana yang terpancing emosi.
Gadis itu menatap Diana dengan benci. Dia adalah gadis yang sama. Gadis yang sempat melabrak Diana di gang ini ketika pulang sekolah.
Stefi.
"Munafik." Kata Stefi setelah dia berhasil berdiri.
"Apa maksud kamu? Aku gak kenal siapa kamu. Aku juga gak ada masalah sama kamu." Ucap Diana dengan nada tinggi.
"Kamu bilang gak ada apa-apa sama Mario. Tapi ternyata apa? Kamu sengaja sok jual mahal di depan aku kemarin. Tapi ternyata kamu itu pengecut. Ya kan?"
"Mario lagi." Dengus Diana pelan.
Diana merasa bingung dengan segala tuduhan yang dilontarkan oleh Stefi. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang diucapkan oleh gadis ini.
"Aku bener-bener gak ngerti maksud kamu." Diana memasang wajah penuh tanda tanya.
"Banyak saksinya kalau kamu nembak Mario di kantin."
Diana terperangah mendengar pernyataan Stefi. Begitupun dengan Rosa. Mulutnya menganga lebar sambil menatap Diana, mencari pembenaran atas apa yang ia dengar dari gadis itu.
"Serius Di?" Tanya Rosa.
Diana mendelik menatap Rosa.
"Enggak lah Ros, gila apa aku." Jawab Diana sedikit nyolot.
"Gak usah munafik kalau punya mulut. Semua temen-temen Mario tau. Mario juga gak menyangkalnya. Sekarang kamu masih mau berkelit. Dasar cewek kecentilan."
Tangan Stefi terangkat hendak menjambak rambut Diana. Respon Diana pun tak mau kecolongan lagi. Dia menggenggam tangan itu sebelum bisa menyentuh sehelai rambutnya. Cengkeraman yang begitu keras dan pasti menyakitkan.
"Lepasin!" Teriak Stefi penuh emosi.
Rosa hanya diam menatap dua gadis itu bertikai. Dia masih menerka-nerka merangkai apa yang sebenarnya terjadi.
"Asal kamu tahu. Kejadiannya gak seperti itu. Aku males jelasin ke kamu. Yang jelas, aku gak ada hubungan apa-apa sama Mario. Titik." Diana melepaskan.cengkeramannya dengan kasar.
"Kamu pikir aku bisa percaya sama mulut kamu?" Stefi masih nampak panas dan marah.
"Terserah! Kamu gak usah mancing emosi apalagi ngajak berantem. Karena kamu bukan tandingan aku." Diana berbalik dan melangkah dengan cepat.
Peringatan yang diberikannya terkesan sombong namun memang benar kenyataannya. Stefi pasti babak belur kalau sampai benar mengajak duel Diana.
Rosa menyusul Diana dengan tergopoh-gopoh. Rosa sudah terlalu banyak menyaksikan banyak perustiwa mengejutkan di depan matanya. Diana berhutang banyak penjelasan padanya.
...
Author's cuap:
Kalian pernah dilabrak gak sih?
Kalau pernah, standing applause buat masa muda kalian.
Hidupmu pasti penuh warna
Hahahaa...
Like, Vote, Bunga Kopi nya jangan lupa dong..
๐๐ผโค๏ธ๐๏ธ๐นโ
Komen juga ya..
๐๐ป๐๐ป๐๐ป