Titip Salam

Titip Salam
Perpisahan - Papa bersamamu boy (Part 2)



#143


Perpisahan - Papa bersamamu boy (Part 2)


Bak sebuah reuni, pertemuan antara dua kawan lama selalu terasa hangat. Namun yang dirasakan oleh Arman, pertemuannya dengan Jefri terlalu hangat bahkan nyaris memanas.


"Anakku nyium kening gadis itu.." Bisik Jefri yang diakhiri dengan cekikikan pelan.


"Apa?"


Hawa panas sangat dirasakan Arman di sana. Ia sangat terkejut mendengar sebuah fakta yang dibisikkan oleh kawannya itu. Bisa-bisanya Jefri cekikikan ketika putranya berbuat tidak sopan seperti itu?


"Berani sekali bocah itu mencium putriku?" Batin Arman.


"Baguslah! Anakmu memang pantas mendapat tonjokan." Celetuk Arman dengan intonasi yang berusaha ia setting untuk terdengar santai.


"Hahaha... Puber Man.."


"Kok dari tadi aku terus yang cerita. Ceritakanlah tentang anakmu. Anakmu laki-laki atau perempuan?" Jefri mencoba membuka percakapan dua arah.


"Anakku perempuan." Jawab Arman singkat. Arman bingung harus bercerita apa tentang putrinya. Apalagi kalau sampai Jefri tau kalau anak gadis yang sedang mereka perbincangkan dari tadi adalah putrinya?


"Yang mana anakmu? Cantik tak? Kalau cantik, bisa lah nanti jadi besan kita ya? Haha..." Canda Jefri.


"Cantik lah, kau tak lihat ayahnya saja tampan seperti ini, hehehe.." Balas Arman.


"Nanti kau lihat sendiri seperti apa putriku. Aku yakin dia gak akan mau jadi menantumu Jef.."


Jefri terdiam sejenak, namun ia kembali tertawa ketika Arman juga tertawa. Entathlah apa yang terdengar lucu di sana. Namun Jefri mulai merasakan firasat tidak baik.


"Jangan buru-buru menolak Man.."


Satu tahap selesai. Diana dapat sedikit bernafas lega. Tinggal satu lagu penutup, maka lepas sudah beban di pundaknya.


Namun kini ia merasa jauh lebih tenang ketika melihat sang Ayah tersenyum bangga menyaksikannya tampil, benar-benar meneduhkan.


"Acara selanjutnya adalah pengumuman nama-nama siswa yang meraih peringkat sepuluh besar nilai ujian terbaik. Untuk siswa yang dipanggil namanya dimohon untuk maju dan didampingi oleh wali murid ke panggung."


Mario tampak sangat bersemangat. Ia begitu yakin dirinya akan masuk dalam jajaran sepuluh besar itu, dan tentu saja mengalahkan Diana. Yah, taruhan itu akan diketahui hasilnya sesaat lagi.


Pembawa acara membacakan satu persatu nama yang dimulai dari peringkat sepuluh.


"Peringkat tujuh, diraih oleh Mario Anggara kelas 3C, putra bapak Johannes Jefriansyah."


"Yes!" Mario senang sekali. Ia melirik ke arah di mana Diana duduk, dan mendapati gadis itu juga sedang meliriknya dengan ekspresi menganga tak percaya.


Dengan langkah yang sedikit jumawa, Mario berjalan melewati kursi tempat Diana duduk, dan menyempatkan untuk berbisik "Kamu kalah sayang.." dan kerlingan mata yang penuh kemenangan.


Habislah kau Diana... Apakah kau kalak telak sekarang?


Sementara di deretan bangku wali murid,


"Apa kubilang Man, jangan buru-buru menolak. Anakku sudah tampan, keren, otaknya encer. Seperti bapaknya.. Hehehe.. Aku ke depan dulu ya.." Jefri pun bangkit untuk mendampingi putranya naik ke atas panggung.


"Hebat anak kau, selamat ya.." Ucap Arman sambil menyalami kawannya itu. Arman harus mengakui peringkat sepuluh besar dalam satu angkatan adalah prestasi yang membanggakan. Dan Mario adalah salah satunya, pemuda itu memang hebat.


"Lumayan juga bocah tengil itu." Batin Arman yang memuji prestasi Mario.


"Peringkat enam diraih oleh Diana Shandy kelas 3A, putri bapak Arman Shandy."


Diana tak bisa berkata-kata mendengar namanya dipanggil. Bahkan lututnya terasa lemas.


Ia sangat senang karena Ayahnya pasti sangat bangga, dan tentu saja sangat senang melihat wajah kecewa Mario di atas panggung. Ini benar-benar hari terbaiknya.


"Gak jadi menang ya sayang? Xixixi.." Bisik Diana ketika melewati Mario.


"Nilai kita cuma beda 0,3 poin Di, itu nyaris sama.." Jawab Mario yang merasa tak terima.


"Tetap saja aku yang menang, titik!"


Dua anak manusia itu sibuk bertikai dalam bisik di atas panggung.


Rupanya tak hanya Diana dan Mario, kondisi yang sama juga terjadi pada dua pria yang berdiri di belakang mereka, Arman dan Jefri.


Jefri tampak sangat terkejut melihat siapa yang mendampingi gadis yang ia ketahui sedang disukai oleh putranya itu, yang dari tadi sedang ia perbincangkan dengan kawan sebelahnya.


"Rupanya ini putrimu?" Bisik Jefri pada Arman.


"Iya. Cewek galak dan bapaknya pasti lebih galak." Arman tersenyum puas melihat Jefri yang mulai memucat.


Bagaimana bisa Jefri bercerita panjang lebar tentang kelakuan anaknya pada anak gadis orang dengan ayah gadis itu sendiri? Sepertinya Jefri harus memperbaiki keadaan.


Jefri meraih pundak Arman dan berbisik "Maafkan kelakuan anakku ya... Namanya juga anak muda.. Hehehe.."


Ingin rasanya Arman terpingkal melihat kawannya itu salah tingkah. Menguap sudah rasa kesal yang ia rasakan tadi. Bisa ia bayangkan betapa malunya Jefri karena mulutnya yang bercerita leluasa tanpa tau siapakah orang yang ia bicarakan.


"Oke. Katakan pada anakmu, jangan diulangi lagi! Atau bapaknya yang akan bikin dia mimisan. Hehe.." Jawab Arman sambil balas menepuk-nepuk pundak Jefri dengan seringai yang mengerikan.


"Ayolah Man, jangan terlalu keras. Yang penting anak-anak kita tetap pada jalur yang benar. Jangan terlalu membatasi atau mengekang mereka, nanti mereka akan semakin berontak. Kita sebagai orang tua harus lebih fleksibel menghadapi anak usia remaja. Biarkan mereka nyaman agar mereka bisa leluasa bercerita seperti pada temannya sendiri." Ucap Jefri menasihati kawannya yang terkesan sedikit kolot itu.


Sungguh Arman merasa tertampar. Apakah ia terlalu mengekang anak gadisnya? Membatasi anak gadisnya dalam banyak hal? Hampir tidak memberikan ruang privasi yang membuat putrinya menutup diri padanya? Yang Jefri katakan memang benar, tapi yang dilakukan Arman tidak sepenuhnya salah. Mungkin hanya perlu ruang untuk ayah dan anak ini lebih banyak berkomunikasi.


"Tapi tetap saja, mencium anak gadis orang sembarangan bukan tindakan yang bisa dibenarkan. Nasihati anakmu.." Apapun alasannya Arman tetap merasa cemburu mengetahui ada laki-laki lain yang menyukai putrinya.


"Siap Man, lain kali akan aku suruh anakku minta izin dulu sebelum mencium anak gadis orang,"


"Kau..." Arman menyikut pundak Jefri yang sudah bergetar karena cekikikan.


Bisik-bisik yang mulai jadi berisik antara Arman dan Jefri lantas membuat anak mereka merasa heran. Bahkan beberapa pasang mata yang mulai terusik tampak memandangi mereka.


"Ayah, kita lagi di panggung loh, berisik sekali sih.." Bisik Diana sambil mencolek-colek lengan Arman yang berdiri di belakangnya.


Arman yang mendapat teguran dari putrinya sontak terdiam dan mulai menjaga sikap. "Maaf," Rupanya benar kata Jefri kalau putrinya memang galak. Bahkan pada ayahnya sendiri.


"Papa kenal sama Om Arman?" Bisik Mario dengan suara sepelan mungkin pada Jefri.


"Kita kawan lama, satu Sma." Jawab Jefri sambil mendekatkan kepalanya pada Mario.


Mario seperti mendapatkan suatu dukungan penuh saat ini. Ada papa di kubunya.


"Pa, can you help me?"


Hubungan Ayah dan anak ini memang begitu kuat. Hanya sebuah permintaan yang masih ambigu mengenai sebuah pertolongan yang diminta putranya, tapi seolah Jefri sudah dapat membaca pertolongan seperti apa yang diinginkan putranya itu.


"Everithing boy," Jawab Jefri sambil mengacungkan jempolnya.


Mario tersenyum puas. Ia tidak melangkah sendirian.