Titip Salam

Titip Salam
Usaha Keras!



#87


Usaha Keras!


Lina membuka kembali rapor yang ada ditangannya. Meneliti tiap angka yang tertera di sana.


"Nilainya meningkat semua." Begitu gumamnya sambil tersenyum bangga.


"Eh Tante Lina, Congek gak ikutan?" Sapa seorang pemuda yang langsung menyalaminya.


"Eh ada Salim." Sapa Lina ramah.


"Congek mana mau ikutan ambil rapor kayak gini. Palingan juga di bengkel. Biasa lah, takut kena omelan tante gara-gara dia gak pernah bayar uang kas kelas. Nih, jadi Tante deh yang selalu nombokin gara-gara ditagih sama bendahara kelasnya."


"Hahaha.. Tuh anak dari dulu bandelnya gak berubah." Ucap Salim menertawai temannya itu.


"Pagi Tante.. " Sapa seorang gadis yang turut menyalami Lina.


"Tante Mamanya Willy kan? Saya Lala Tan, dulu kan sering belajar kelompok dirumah Tante." Ucap gadis itu dengan senyum manisnya.


"Oh iya, maaf Tante lupa. Habisnya sudah lama banget kayaknya gak pernah main ke rumah lagi. Apa kabar?"


"Kabar baik Tan.. Yah maklum kan sekarang sudah gak sekelas sama Willy jadi gak pernah main kesana. Kapan-kapan deh main lagi, boleh kan Tan?" Ucap Lala yang begitu sumringah seolah mendapat undangan langsung dari Mama Willy.


"Boleh kok.."


Lala tersenyum kegirangan seolah memperoleh golden tiket menuju red carpet.


"Bareng Salim aja kalau ke rumah. Biar makin rame, ya kan Lim?" Sahut Lina yang membuat senyum di gadis itu sirna.


"Kenapa musti bareng Salim sih?" Batin Lala merengut sambil melirik Salim yang cekikikan.


"Ya udah, Tante duluan ya Lim, La,"


"Iya Tante.." Sahut Salim dan Lala bersamaan.


Tawa Salim langsung pecah tak lama setelahnya. Lala semakin merengut kesal seolah mendapat ejekan dari pemuda menyebalkan di depannya.


"Gagal carmuk (cari muka) nih.." Ledek Salim.


"Minggir!" Lala menoyor bahu Salim melampiaskan kekesalannya.


Sementara tak jauh dari sana, tepatnya di sebuah bengkel kecil pinggir jalan, seorang pemuda tengah duduk bersandar tampak sedang berpikir keras di depan layar biru mungil di hadapannya.


"Sstt... Cung, batuin ibu itu dulu!" Ucap Om Rudi pada keponakannya yang tampak serius dengan hapenya. Berkali-kali dipanggil Willy tidak bergeming sedikitpun.


"Woy," Sebuah kain lap melayang ke muka Willy membuat pemuda itu gelagapan.


"Apaan sih Om? Kaget tauk!" Ucap Willy kesal.


"Tuh ada pelanggan. Bantuin bentar, Om lagi tanggung." Ucap Om Rudi yang sedang sibuk dengan motor garapan di depannya.


Willy segera meletakkan hapenya dan mendekati seorang pelanggan yang sedang menunggu di pinggir jalan.


"Eh, Tante Mila. Apa kabar?" Ucap Willy yang langsung menyalami sang pelanggan tersebut.


"Baik, " Jawab Mila dengan ramah.


Willy tampak celingukan ke arah belakang seperti sedang mencari sesuatu. Mila yang melihat tingkah pemuda itu jadi ikut menoleh ke arah belakang, hingga akhirnya dia mulai berspekulasi..


"Diana gak ikut." Ucapnya sambil tersenyum melihat tingkah konyol Willy yang langsung garuk-garuk kepala karena malu.


"Dia lagi dirumah Eyangnya dari tadi pagi. Katanya mau bikin kue sama Bude." Lanjut Mila.


"Emang dia bisa bikin kue?" Tanya Willy spontan.


"Bisa dong.. Bisa nyicipin doang tapi." Jawab Mila yang membuat pemuda itu pun turut tertawa.


Di lain tempat,


Hatchimm.. Hatchiiimmm...


"Aduh, kok tiba-tiba bersin-bersin sih? Kayaknya ada yang lagi ngomongin aku nih.." Ucap Diana sambil menggosok-gosok hidungnya.


Kembali ke bengkel,


"Motornya kenapa Tante?" Ucap Willy sambil berjongkok memeriksa keadaan motor dihadapannya.


"Isi angin aja Nak," Jawab Mila.


Willy pun dengan cekatan melakukan pekerjaan sesuai yang diminta oleh sang pelanggan.


"Mbak Mila, dari mana?" Ucap seseorang yang baru saja datang dan menepikan motornya di depan bengkel tersebut.


"Eh ada Mbak Suster juga. Ini lho, habis ambil rapor Diana. Balik ke sini mampir sebentar mau isi angin." Jawab Mila menjawab sapaan seorang perempuan yang ternyata adalah Lina, Mama Willy.


"Iya sama kalau gitu. Ini juga dari sekolah Willy habis ambil rapor."


Willy yang sudah merampungkan pekerjaannya lantas menyalami sang Mama yang baru tiba di sana.


"Berapa?" Tanya Mila pada Willy.


"Dua ribu Tan. Oh iya, itu ban luar bagian depannya udah agak halus Tan. Kalau ada rejeki mending segera diganti aja, biar gak licin di jalan." Ucap Willy sambil menerima upah yang diberikan Mila.


"Kalau Om nya repot saya bisa bantuin Tan, gak usah sungkan. Diana punya kok nomor saya." Ucap Willy dengan senyum yang begitu ramah.


"Aduh Mbak Suster beruntungnya, punya anak udah ganteng baik hati pula." Ucap Mila memuji yang membuat Willy tersenyum malu-malu.


"Iya Mbak, beruntung banget ya.. Tapi biasanya kalau lagi baik gitu ada maunya." Jawab Lina sambil cekikikan.


"Mama nih," Ucap Willy merengut kesal yang sontak membuat para Mama itu tertawa.


"Ya udah ya Mbak, saya pamit dulu. Mau lanjut ke sekolah Tania." Pamit Mila undur diri.


"Eh, Mbak Mila sekalian saja mau bilang kalau saya mau pesan kue lagi."


Wah,


Mata Willy nampak berbinar mendengar informasi tersebut.


"Empat puluh kotak untuk tanggal 10."


Wah, wah,


Willy menggigit bibirnya menahan diri sekuat tenaga agar tidak sampai jimprak-jimprak kegirangan.


"Bisa Mbak Suster. Menunya apa aja?"


"Nanti aja dilanjut telepon ya.. Atau kalau senggang saya langsung mampir aja."


Wah, wah, wah..


"Berarti dalam waktu dekat aku bisa main lagi ke rumah Diana. Buat pesan kue sama ambil kuenya. Waaaah.." Batin Willy sambil menggosok-gosok telapak tangannya. Perasaannya kini begitu hepi.


"Wil, Tante Mila pamit tuh.." Ucap Lina sambil menepuk pelan bahu Willy.


Eh,


Willy tersentak kaget. Ah, rupanya dia baru tersadar dari lamunannya.


"Iya Tante, hati-hati.." Ucap Willy sambil buru-buru menyalami Mila sebelum akhirnya dia memacu motornya semakin jauh dari pandangan Willy.


"Anak muda jangan kebanyakan melamun. Tapi bertindak." Ucap Lina menepuk pundak anaknya sambil tersenyum penuh arti.


"Apaan sih Mama ini. Hobi banget godain anaknya." Ucap Willy melengos kesal menutupi semburat merah di pipinya.


"Naksir sama anaknya tuh Mbak," Sahut Om Rudi sambil cekikikan.


"Gak Mama, gak Om Rudi, sama aja. Kompak banget kalau urusan godain aku." Willy semakin memanyunkan bibirnya.


"Satu pabrik lah Cung, hahaha.."


Yah, mereka tertawa riang melihat Willy yang crmberut dengan pipi merona.


"Ya udah, Mama mau pulang dulu. Kamu jangan kesorean pulangnya." Mila membelai lembut rambut putra bungsunya itu.


"Iya Ma," Ucap Willy mencium punggung tangan Mamanya, kemudian kembali lagi fokus pada hapenya.


"Langsung pulang Mbak?" Ucap Om Rudi yang masih berkutat dengan pekerjaannya yang belum rampung.


"Enggak sih, mau mampir dulu ke rumah tetangga sebentar. Mau belajar bikin kue mumpung lagi libur. Nanti sore aku kirimin deh kuenya sebagian ke rumah kamu ya," Jawab Lina.


Willy yang masih menajamkan telinganya mulai pecah konsentrasi.


"Iya kalau jadi kuenya, kalau gosong ya gak mau." Ledek Om Rudi pada kakak perempuannya itu.


"Aku belajar dari ahlinya. Pasti jadi lah, awas aja kalau ketagihan."


"Belajar bikin kue? Jangan jangan.." Gumam Willy sambil beralih menatap Mamanya.


"Belajar kue sama Bude Tatik? Di rumah Eyang Siti Ma?" Tanya Willy begitu mendetail.


"Iya, kenapa?" Lina mulai mencium gelagat aneh dari mata berbinar putranya.


"Ikut ya Ma.."


Willy langsung bangkit, mengantongi hapenya, meraih helmnya, berjalan menuju motor Mamanya, meninggalkan si Item kesayangannya di bengkel Om Rudi.


Sang Mama menatap heran pada putra bungsunya itu.


"Kenapa dia semangat sekali? Aneh!" Gumam sang Mama.


"Ayo Ma, mana kunci motornya?"


...


Author's cuap:


Gercep deh bang Willy ini.


Gak.bisa lewatin kesempatan dikit..


Hahaha


Jiwa muda lagi kasmaran ya..