Titip Salam

Titip Salam
Ini Disebut Rindu



#94


Ini Disebut Rindu


Semester genap sudah dimulai. Ini akan semester yang sibuk bagi siswa siswi di tingkat akhir. Jam belajar mereka akan ditambah dengan les tambahan di sekolah untuk mempersiapkan ujian akhir nanti.


Les tambahan dimulai pada minggu kedua. Tingkat stres yang tinggi membuat para pendidik juga membekali mental para anak didiknya dengan memberikan kegiatan kerohanian rutin setiap dua minggu sekali. Namun bagi Diana, itu membuatnya semakin pusing karena bentrok dengan jadwal ekskul beladirinya.


Yah, sesuai saran kedua orang tuanya ekskul harus mengalah. Bahkan izin untuk mengikuti kompetisi lanjutan tingkat provinsi pun belum dikantongi Diana. Padahal persetujuan orang tua adalah syarat mutlak dalam formulir pendaftaran. Diana harus berusaha lebih keras untuk membuktikan kalau sekolahnya tidak terganggu sama sekali meskipun ia menekuni beladiri sekaligus.


Tak hanya dipusingkan oleh ekskul dan sekolah, seolah beban lain yang berusaha Diana tepis dari pikirannya yakni mengenai Mario. Pemuda itu seolah menghilang. Tak nampak sekaligus tak ada kabar.


Hampir dua minggu Diana tak menemukannya di manapun sudut sekolah karena memang selama itu Mario tidak hadir di kelas. Tak ada satu pun yang tau kemana Mario, termasuk Abdul.


Dua kali Diana mengirimkan pesan namun tidak ada balasan. Benar, hanya dua kali, karena Diana merasa sangat malu bila terlalu sering mengirim pesan hanya untuk bertanya Mario kemana? Cukuplah dua kali saja. Itu pun rasanya sudah sangat menyebalkan karena tidak ada balasan.


Upacara bendera Senin pagi ini giliran kelas 3A yang menjadi petugas upacara. Diana menjadi salah satu yang dipercaya untuk menjadi tim pengibar bendera.


Keuntungan menjadi petugas upacara adalah posisi barisannya berada di sisi Timur yang tidak akan terkena pancaran Matahari pagi, dan benar-benar teduh dipayungi oleh pohon yang rimbun.


Diana benar-benar menikmati upacara yang nyaman pagi ini. Rasanya, meskipun pak Jamal akan berpidato sampai dua jam pun tidak masalah.


Seluruh proses upacara berlangsung kurang lebih empat puluh lima menit. Kini tinggal sesi terakhir yaitu menyambut para siswa telatan (bukan teladan ya... telatan!).


Wajah-wajah yang takut, malu, cengar-cengir, beraneka ragam ekspresi dari mereka yang baru saja muncul dari gerbang sekolah menunjukkan tingkat kedisiplinan mereka. Siswa yang sedang sial karena mungkin pertama kalinya terlambat akan tampak cemas atau malu. Sementara mereka yang cengar-cengir sudah bisa ditebak lah, seberapa banyak catatan mereka di buku pelanggaran guru BP.


Wajah terakhir yang mencul dan berbaris disisi paling Timur adalah salah satu wajah yang kategori kedua. Wajah yang sangat familiar, berjalan santai, gak ada rasa sesal karena tidak dapat mengikuti upacara bendera. Mario.


Seketika senyum Diana muncul tanpa ia sadari. Ada rasa bahagia melihat wajah yang diam-diam membisikkan rindu pada hatinya.


Mario tampak terkejut melihat Diana yang hanya berjarak beberapa meter di sisi kirinya. Gadis itu tersenyum sambil menatapnya. Mata mereka beradu membuat Mario tak berkutik membeku.


"Ehem..." Suara barritone itu berdehem menggunakan mic tepat di telinga kanan Mario.


Mario melompat gelagapan sambil memegangi dadanya ketika menoleh mendapati kumis pak Jamal yang hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya. Sontak seisi lapangan dibuat terpingkal dengan kekonyolan di depan mereka.


Pak Jamal melotot sambil berkacak pinggang mrlihat anak didiknya satu itu cengar-cengir sambil garuk garuk kepala.


"Kenapa kok kamu sampai loncat begitu?" Ucap pak Jamal memasang wajah garangnya.


"Kaget pak," Jawab Mario berusaha menahan rasa ingin tertawa.


"Kenapa kaget?" Pak Jamal sampai kumisnya berkedut yang membuat semakin merasa ingin terpingkal.


"Saya kira pak Jamal mau cium pipi saya tadi."


Huahahahaa


Tawa riuh kembali pecah mengiringi jemari jempol dan telunjuk pak Jamal yang bersatu untuk menjewer telinga kanan Mario.


"Nanti saat jam istirahat langsung ke ruangan saya. Mengerti!"


"Baik pak," Ucap Mario tertunduk sambil menahan cenut-cenut bekas jeweran sang Kepsek.


Puas tertawa Diana hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Mario yang tidak pernah berubah. Namun ada rasa cemas menggelayuti pikirannya. "Kenapa sampai pak Kepsek sendiri yang melakukan pemanggilan? Bukan melalui guru BP?" Diana merasa resah memikirkan nasib pemuda badung satu itu.


"Sstt, tadi Mario bengong ngeliatin kamu kan Di?" Goda Zahra ketika mereka sudah masuk dalam kelas.


"Siapa yang ngaco? Aku kan baris di belakang kamu Di. Aku lihat jelas arah pandangan Mario itu ke kamu. Sampe gak kedip." Ucap Zahra mempertegas argumennya. Yah, Zahra tidak tau saja kalau Diana sebetulnya juga balik menatapnya.


"Ya udah lah, gak usah nge gas juga Zah, tuh gurunya udah masuk." Ucap Rida sambil menepuk pundak Zahra agar segera berbalik menghadap depan.


"Sstt, Di. Kamu tadi senyum-senyum kan ke Mario? Kelihatan banget lho dari posisi aku berdiri tadi." Kini ganti Hera yang berbisik menggodai Diana.


"Kamu mulai naksir ya sama Mario. Xoxixi.."


Diana melotot sambil menempelkan telunjuk di bibirnya isyarat agar teman sebangkunya itu diam.


"Muka kamu merah Di.. Hihihi.."


Cubitan pedas di pinggang Hera akhirnya berhasil membuat gadis itu cemberut menahan nyeri. Namun tak lama cekikikan berbisik kembali terdengar di telinga Diana. Rupanya Hera masih menertawai pipi Diana yang tampak memerah.


...


Entah mengapa Diana merasa gelisah. Dia berpikir mencari alasan apa agar bisa mengintip ke kelas Mario. Dia benar-benar ingin tau kira-kira hukuman apa yang diberikan oleh pak Kepsek padanya.


"Apa mungkin Mario di skors?" Begitu batin Diana mengingat oemuda itu sudah dua minggu tidak masuk sekolah, datang terlambat, dan berprilaku tidak sopan yang mungkin menyinggung pak Kepsek tadi.


Diana berkali-kali menyambangi kantin saat jam.istirahat kedua dan jam pulang sekolah sebelum les tambahan dimulai. Namun lagi-lagi batang hidung Mario tidak terlihat di sana.


Tingkah laku Diana yang seperti cacing kepanasan itu mengingatkan pada apa yang terjadi pada Hera beberapa bulan yang lalu, dimana Hera yang mengajak Diana tiba-tiba ingin berkeliling setiap sudut sekolah yang Diana sendiri tak tahu penyebabnya. Tentu saja alasan Hera kala itu ingin sekali bisa menjumpai wajah Abdul.


Semua proses itu terjadi karena dorongan alam bawah sadar kita yang ingin sekali melihat sosok yang tanpa disadari memberi rasa rindu hanya untuk sekedar melihatnya. Seperti ada kepuasan dan kebahagiaan setelah dapat bertatap muka dengan sosok yang dirindukan itu.


Ah, Diana kini kau merasakannya juga kan? Ada sesak yang menyiksa akibat sebuah rasa yang dinamakan rindu.


Mario, kau berhasil.


...


Author's cuap :


Ada nyesek rindu author juga gak sih???


Gak ada ya?


Hiks..


Mohon maaph yaa..


kemaren2 sibuk banget aku..


sampe kelelahan langsung blek sek bubuk kagak sanggup mata melek buat up ceritanya.


Maaphkeun yaa...


Tetep support karya author ya


Bagi jempol dan komennya


Terimakasih sudah membacaa