Titip Salam

Titip Salam
Gosip Berbisa



#35


"Di, ke kantin yuk.." Ajak Hera.


Mengingat kejadian kemarin, Diana semakin merasa enggan untuk melangkahkan kaki menuju kantin. Diana malas bila harus bersinggungan dengan hal yang membuat moodnya berantakan. Dia tersenyum bermaksud menolak dengan sopan ajakan sahabatnya itu.


Belum ada sepatah kata pun keluar dari bibir Diana, dari pintu masuk Zahra dan Rida dengan tergopoh-gopoh mendekat ke bangku Diana.


"Di, kamu dilabrak lagi sama Stefi?" Tanya Zahra.


Hera dan Rida pun memandang penuh tanya pada Diana. Menunggu jawaban untuk memuaskan rasa penasaran mereka.


"Iya, kemarin pas pulang latihan. Kamu tau dari mana?" Jawab Diana santai.


"Kita tadi curi dengar dari anak-anak kelas dua yang pada nongkrong di kantin." Kata Rida mendengarkan.


"Trus yang lebih heboh lagi, kabarnya kamu jadian sama Mario. Bener itu Di?"


Pertanyaan Zahra membuat Diana mengernyitkan dahi. Hera yang mendengarnya pun tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Di, kok kamu gak ada cerita sih?" Cetus Hera.


"Apaan sih kalian. Gak mungkin lah aku jadian sama Mario. Deket aja enggak. Jangan suka percaya gosip aneh-aneh." Tukas Diana yang mulai kesal.


"Jadi yang bener ceritanya kayak gimana?" Tanya Zahra penasaran.


"Ayo cerita Di,"


"Ayolah.. Penasaran aku."


Diana menghembuskan nafasnya. Teman-temannya ini begitu kompak kalau masalah menginterogasi Diana. Banyak hal yang tidak dia ceritakan pada teman-temannya karena menurutnya itu tidak penting. Tapi karena teman-temannya sudah terlanjur penasaran sepertinya Diana tidak bisa lagi menyembunyikannya. Kupingnya tidak akan kuat mendengar rengekan demi rengekan tiap saat.


Memang kejadian yang terjadi belakangan sedikit banyak terjadi ketika jam sekolah sudah selesai tepatnya akan dan setelah kegiatan ekskul bela diri. Ditambah lagi tidak ada dari mereka yg satu ekskul dengan Diana. Jadi saksi konkrit dari gosip yang tersebar sebenarnya tentu adalah Rosa.


Diana mulai bercerita mulai dari peristiwa pengeroyokan hingga peristiwa Stefi yang berani melabrak Diana seorang diri. Tentu saja Diana menghilangkan part ketika Mario yang dengan lancang mengecup kening Diana. Itu memalukan.


"What? Stefi berani nampar kamu?"


Seketika suara Zahra menggema memenuhi ruang kelas. Diana meletakkan telunjuk dibibirnya isyarat agar Zahra memelankan suaranya.


"Keterlaluan tuh anak. Apa kita labrak balik aja ya? Biar dia kapok." Ucap Rida ikut emosi.


"Gak usah Ri, gak usah diperpanjang." Jawab Diana.


"Tapi kamu berani banget bisa kasi perlawanan balik. Aku gak nyangka kamu bisa bar bar gitu. Kayaknya Stefi bakalan mikir panjang kalau mau nyerang kamu lagi." Kata Hera memuji Diana.


Ada satu hal yang masih mengganjal dipikiran Diana. Ini tentang pernyataan Stefi bahwa Mario tidak menyangkal gosip yang beredar. Bahkan sekarang menjadi semakin runyam karena beritanya malah menjadi Mario dan Diana jadian.


Dengan membayangkan panasnya fans Mario saat ini, sudah membuat Diana merasa muak dan lelah.


"Apa begini cara kamu balas dendam, Mario?" Batin Diana.


...


Semakin tinggi pohon, maka akan semakin kuat pula anginnya. Begitulah pribahasa mengumpamakan sebuah tingkatan yang semakin tinggi maka akan semakin sulit pula rintangannya.


Diana tidak merasa dia sedang menapaki tingkatan yang semakin tinggi saat ini. Namun entah mengapa dia merasa goncangan yang ia rasakan datang silih berganti. Mengaduk-aduk ketenangan hidupnya. Satu hal yang ia dapatkan pastinya, kini namanya mulai menjadi perbincangan.


Itu bukan hal bagus untuk Diana. Dia tidak diuntungkan sama sekali dalam hal ini. Malah banyak mata jahat yang memandang ke arahnya. Mereka berbisik dengan cibiran yang samar-samar masih dapat didengar.


Gosip kedekatannya dengan Mario dengan cepat menyebar ke seluruh sekolah. Diana menjadi tidak nyaman dibuatnya. Dia merasa tidak ada cukup kekuatan untuk meluruskan gosip yang sudah terlanjur dipercaya.


"Sabar Di, gak usah di dengerin omongan yang gak enak." Ucap Hera menenangkan.


"Iya Di, kan masih ada kita. Kita percaya sama kamu." Rida ikut memberi dukungan.


"Bener Di, meskipun kamu jadian beneran juga kita pasti bantu melindungi kamu dari setan-setan jahat yang penuh iri dengki." Ucap Zahra berapi-api.


Diana cemberut menatap Zahra. Entahlah mengapa Zahra seolah mendukung keras bila gosip yang beredar bisa berubah menjadi fakta.


"Hehehe.. Jangan manyun Di. Jelek." Zahra telah berhasil mengerjai temannya itu.


Mendekati gerbang sekolah, dengan banyaknya murid yang berlalu lalang, samar-samar terdengar suara yang begitu familiar menyerukan nama Diana.


Diana mendengarnya, namun dia lebih memilih menyumbat telinganya. Dia pun memprovokasi temannya agar terus berjalan tidak perlu memedulikan panggilan tersebut.


Telapak tangan itu menggapai bahu Diana. Terdengar nafas yang terengah-engah dari belakang.


"Diana. Kok kamu malah makin cepet sih jalannya." Ucap seseorang itu.


Empat sekawan itu menoleh ke sumber suara. Mario disana. Dia membuka tas ranselnya seperti sedang mencari sesuatu.


"Ini buat kamu." Ucapnya sambil menyerahkan bingkisan kecil dibungkus kertas koran.


"Apa ini?" Kata Diana yang sedikitpun tidak menyentuh bingkisan itu.


Merasa ini tidak akan mudah, Mario langsung meraih tangan Diana dan meletakkan bingkisan itu di tangan Diana.


"Udah terima aja." Ucap Mario.


Diana tercengang dibuatnya. Begitupun dengan teman-teman Diana dan banyak mata lain yang memandang ke arahnya.


"Buka aja kalau sudah sampai rumah." Mario tersenyum, berbalik, dan pergi melangkah menjauh.


"Aduh Di, kok aku yang meleleh jadinya Di.." Ucap Zahra dengan nada penuh manja.


"Hu-ump Di, aku juga jadi baper." Sahut Rida yang ikut-ikutan gaya Zahra.


"So sweet banget Di.." Begitu pula dengan Hera.


"Persis banget, kayak yg dilakuin Abdul waktu itu.." Ucap Hera sambil senyum sumringah.


Semua mata mengarah pada Hera seketika. Mereka benar-benar terkejut dengan respob ajaib Hera. Namun Hera sendiri nampak tidak sadar dengan apa yang diucapkannya barusan.


"Apa?" Tanya Hera bingung.


"Kok topiknya berubah jadi Abdul sih Her?" Rida bertanya heran.


"Abdul? Kenapa dengan Abdul?" Hera malah balik bertanya.


"Nah kamu yang nyebut nama Abdul tadi." Timpal Zahra.


"Masak sih? Enggak ah." Sanggah Hera.


"Ciye.. Yang mikirin Abdul mulu.." Diana mulai meledek Hera.


"Apaan? Enggak kok. Ngarang deh kalian." Hera masih berkelit dengan pipi yang mulai merona.


Bingkisan itu jadi teralihkan dengan tingkah konyol Hera. Cepat-cepat Diana memasukkan bingkisan itu ke dalam tasnya sebelum jiwa kepo teman-temannya bangkit lagi.


Disudut gerbang sepasang mata memandang kesal ke arah mereka. Diana menemukan pandangan itu. Seorang gadis berdiri disana. Kilatan matanya menunjukkan amarah.


Stefi, meremas tangannya dengan geram.


Diana balas menatapnya. Hanya menatapnya tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Diana tidak tau harus berekspresi seperti apa. Dia tidak merasa sebagai pemenang karena ini bukan sebuah pertempuran. Ini kesalah pahaman.


...


Author's cuap:


Isi bingkisan Mario apaan hayo?


Rahasia dulu dong.. Hahahaaa


Temen2 jangan lupa untuk tidak menjadi pembaca yang pasif.


Support kamu tuh ibarat dopping untuk author..


So,


Like, Vote, Bunga Kopi nya jangan lupa dong..


๐Ÿ‘๐Ÿผโค๏ธ๐ŸŽŸ๏ธ๐ŸŒนโ˜•


Komen juga ya..


๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป