Titip Salam

Titip Salam
Sepotong Kue



#64


Sepotong Kue


"Diana udah dateng.."


Grep,


"Eh, eh, eh.."


Diana yang baru sampai di depan pintu kelasnya langsung diseret menuju bangkunya oleh ketiga temannya yang sudah menungguinya sedari tadi.


Diana pun segera duduk dengan penuh keheranan sebab ketiga temnnya tersebut langsung mengerubunginya.


"Apaan sih?" Diana merasa terpojok dengan tiga mata yang menatapnya dengan tatapan yang menginterogasi. Diana seperti sudah menjadi terdakwa yang duduk di kursi pesakitan.


"Buruan cerita." Ucap Hera yang sudah tidak sabar.


"Kemarin dibawa kemana?" Tanya Rida begitu antusias.


"Kalian udah jadian kan?" Lanjut Zahra pun yang tidak kalah penasarannya.


"Aduh, kalian ini kirain ada apaan. Bikin panik aja." Diana merasa kesal pada ulah teman-temannya yang sudah membuatnya berpikiran macam-macam.


"Udah cepetan cerita. Kita udah penasaran banget dari kemarin." Zahra benar-benar sudah gemas ingin tau apa yang terjadi antara Diana dan Mario kemarin.


"Ya kalian nanya satu-satu. Aku kan jadi bingung mau jawab yang mana duluan."


"Gak usah bertele-tele deh Di, langsung aja kemarin kalian kemana aja jadinya?" Rida pun ikut geregetan karena Diana tidak langsung memulai ceritanya.


"Yah, seperti yang dia bilang, kita cuma makan es krim." Ucap Diana singkat.


"Terus.. terus.."


"Dia traktir aku makan eskrim, habis itu dia nganterin aku sampe perempatan, terus aku lanjutin naik angkot, udah deh nyampe rumah." Diana bercerita seperlunya saja. Dia memilih merahasiakan kisah lengkapnya dari pada harus menjadi bulan-bulanan teman-temannya.


"Hi...." Ketiga teman Diana nampak geregetan, kesal, jengkel, mendengar cerita Diana yang sama sekali tidak sesuai espektasi mereka.


"Masak gak ada apa-apa yang terjadi sih Di?" Hera menahan tangannya yang ingin mencakar-cakar Diana karena saking kesalnya.


Diana hanya menggeleng dan memasang wajah polosnya.


"Kalian gak jadian?" Tanya Zahra yang dibalas gelengan lagi oleh Diana.


"Kalian tuh kenbanyakan liat drama orang dewasa deh.. Pikirannya tuh kalau ada cowok ama cewek jalan berdua pasti jadian lah pacaran lah, padahal kan ya gak melulu kayak gitu."


"Kamu gak tau aja sih Di. Setahu aku, Mario itu gak pernah bertindak kayak gitu. Dia gak pernah terang-terangan di depan umum ngajak cewek jalan." Ucap Zahra yang merasa lebih banyak tau tentang Mario.


"Iya Di, Abdul juga pernah bilang kalau dia gak pernah lihat Mario boncengin cewek pakai motornya selama ini. Apa kamu yang pertama ya Di?" Lanjut Hera.


"Masak sih?" Tanya Diana tidak percaya.


"Mario kurang apa lagi sih Di? Kok bisa-bisanya kamu sampai jual mahal banget nolak dia. Padahal banyak banget cewek yang ngejar-ngejar dia." Kini Rida yang merasa heran dengan pola pikir Diana.


"Siapa yang nolak sih? Buktinya kemarin aku ikut aja ajakan dia makan es krim." Diana pun membantah penuturan Rida, karena menurutnya, dirinya sudah cukup berbuat baik dengan menyetujui ajakan Mario.


"Berarti kalau seandainya Mario nembak kamu, kamu bakal terima dong?" Nah, pertanyaan jebakan dari Hera.


Diana terdiam sesaat. Dadanya berdegup kencang.


"Hahaha.. Gak mungkin lah Her.." Diana berusaha menekan harapan-harapan indah ya.g terlintas dipikirannya. Dia tidak berani berespektasi terlalu tinggi. Dia benar-benar takut terluka.


"Apanya yang gak mungkin? Keliatan banget kalau Mario itu beneran naksir kamu." Ucap Rida meyakinkan.


"Kalian jangan kayak gitu dong. Jangan terlalu meninggikan sesuatu yang masih gak pasti kayak gitu. Karena nanti akhirnya kalian juga yang kecewa."


Benar apa yang dikatakan Diana. Ketiga temannya hanya terdiam pasrah.


"Huh, akhirnya diem juga mereka." Ucap Diana penuh kelegaan.


Sementara di kelas yang berbeda,


"Kayaknya belakangan ini, kamu jadi jarang terlambat. Bahkan seminggu ini kamu datang lebih dulu dari aku." Ucap Abdul menyapa teman sebangkunya itu.


"Udaah kelas tiga, waktunya tobat." Jawab Mario yang masih asik memainkan ponselnya.


"Subuk betul hape kamu. Getar-getar mulu dari tadi."


"Iya nih, banyak banget pesan yang masuk dari semalem."


"Oh iya, kamu ulang tahun kan.. Selamat ya bro." Abdul pun merangkul pundak Mario sambil mengintip-intip layar hape Mario.


"Selamat doang nih? Gak ada kado?" Canda Mario.


"Aku kecup aja, mau?"


"Jijik tau gak sih. Sana sana.." Mario begidik geli sambil mendorong-dorong tubuh Abdul agar menjauh.


"Hahahaha.." Abdul pun tertawa terpingkal-pingkal.


"Gimana kemarin? Lancar?" Tanya Abdul tentang kabar jalannya rencana Mario kemarin.


"Lancar.." Ucap Mario singkat.


"Terus diterima?" Tanya Abdul penasaran.


"Diterima."


Abdul nampak tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Seriusan? Segampang itu?" Tanyanya lagi agar lebih meyakinkan.


"Iya, dia terima kok jaketnya."


Gubrak,


Abdul menggeram kesal. Abdul merampas hape Mario agar perhatian Mario teralih padanya. "Bukan diterima kayak gitu. Emangnya kamu gak nembak dia?"


"Enggak lah, emangnya siapa yang bilang mau nembak. Aku cuma bilang mau ngajak dia jalan." Mario mengambil kembali hapenya dan terfokus lagi pada benda pipih itu.


"Kenapa gak langsung bilang aja kalau kamu suka dia?"


"Aku gak pede Dul, ntar aku ditolak gimana?"


Tawa Abdul pecah seketika. "Hahaha.. Seorang Mario yang dikejar-kejar banyak cewek, gak pede mau nembak cewek?"


Mario langsung membekap mulut Abdul karena seisi kelas menoleh pada mereka yang membuat kebisingan di bangku belakang.


"Mulut jangan kayak corong masjid gitu dong." Umpat Mario kesal.


Abdul yang mulutnya dibekap terpaksa harus menahan tawanya, hingga


Preet..


"Bang-ke! Kamu kentut ya.." Mario lantas menutup hidungnya.


"Hehe sorry Mar, kelepasan. Kamu sih, pake bekap mulut aku segala, jadi ketahan kan ketawanya."


"Gantinya pantat kamu yang ketawa?" Ucap Mario sambil berjalan keluar kelas, mencari angin segar yang tidak terkontaminasi aroma yang tidak sedap.


...


Yah, mereka adalah teman-teman sekolah sekaligus para penggemar Mario.


Stefi berdiri paling depan membawakan kue coklat ukuran kecil dengan lilin yang menyala. Senyumnya paling lebar diantara yang lainnya.


"Make a wish dong.." Ucap salah seorang diantara mereka sebelum Mario meniup lilinnya.


Mario nampak memejamkan matanya dan "Fiuh.." lilin pun padam dengan diiringi tepuk tangan riuh mereka yang ada disana.


"Makasih ya," Ucap Mario yang selalu merasa terharu pada perlakuan istimewa teman-teman pada dirinya.


Dalam tiga tahun terakhir, dirinya selalu mendapatkan kejutan seperti ini dihari ulang tahunnya. Mario benar-benar merasa beruntung.


Diana tersenyum dibalik jendela kelas menatap Mario yang tersenyum bahagia. "Kamu hebat banget Mario. Semua orang begitu perhatian sampai memberikan kejutan seperti ini dihari ulang tahunmu." Batin Diana.


"Kok senyum-senyum aja, ayo masuk Di.." Ajak Zahra yang sengaja menyeret Diana untuk ikut bersamanya. Sementara Hera dengan suka rela dan tanpa paksaan bergabung dengan Zahra dan Diana untuk menuju kelas 3C. Tentu saja karena Abdul yang menjadi alasannya.


"Gak mau ah, aku tunggu diluar aja."


Dan tragedi tarik menarik pun tak dapat terelakkan. Zahra sekuat tenaga menarik tangan Diana agar mau masuk ke dalam kelas itu.


"Hera, bantuin." Ucap Zahra meminta pertolongan Hera yang berjalan santai di samping dia gadis yang tampak sedang bertikai tersebut.


"Iya, iya.." Ucap Hera cepat-cepat.


"Ngapain sih aku ikut masuk? Kan aku gak ada kepentingan." Ucap Diana yang mulai kalah langkah dengan dua gadis yang menyeret tangannya.


Suara gaduh yang ditimbulkan mereka bertiga pun menarik perhatian seisi kelas. Semua menatap heran pada tiga gadis yang datang-datang membuat ribut tersebut.


Senyum Stefi mendadak lenyap melihat kehadiran Diana disana. Apalagi Mario langsung membelah kerumunan, dan berjalan menghampiri mereka. "Ngapain dia harus kesini sih?" Batinnya.


"Kalian ngapain tarik-tarikan gitu? Ayo gabung."


Mereka bertiga yang tidak menyadari kehadiran Mario tampak terkejut dan sontak melepaskan kaitan tangan mereka.


"Kamu sih.." Diana memelototi Zahra dan Hera bergantian.


Zahra tersenyum puas karena misinya berhasil. Dia pun menggandeng lengan Diana dan berjalan mengikuti langkah Mario vergabung di kerumunan.


"Teman-teman, terimakasih banget buat kejutannya ya.. Kalau kalian ada waktu, nanti jam empat sore pada datang ke kedai COBE di jalan Proklamasi ya.."


"Wah.." Semua tampak antusias dan gembira menerima undangan dari Mario.


"Ya udah kita pulang dulu sekarang, aku juga mau nyiapin tempatnya buat acaranya nanti." Ucap Mario sopan untuk membubarkan teman-temannya.


"Mar, potong kuenya dulu lah. Kasih potongan pertama buat yang paling spesial." Ucap Abdul yang disambut riuhnya mereka yang berada disana.


Mario menatap Diana yang juga tengah menatapnya. Senyum Mario tersungging begitu manis.


"Aduh, kok aku deg deg-an gini sih?" Batin Diana yang kemudian menundukkan kepalanya.


"Potongan pertama ya?" Ucap Mario mebuat riuh seisi kelas. Mereka semua pasti juga turut berdebar mengetahui siapa yang akan mendapatkan potongan pertama itu.


"Hmm.. Aku gak mau kalian jadi kecewa karena cuma satu orang yang bakal nerima potongn kue nya. Jadi mending kuenya kita makan bareng-bareng" Ucap Mario.


Diana menegakkan kembali kepalanya. Ditatapnya Mario yang ternyata masih manatapnya. "Apa kue itu sebetulnya untuk Stefi?" Batin Diana yang menyimpan harap bahwa dirinyalah orang spesial yang akan menerima potongan pertama kue itu.


Stefi tersenyum mendengar jawaban bijak Mario. Membagi rata kue itu akan lebih baik dibandingkan dirinya harus melihat Mario menyerahkan potongan pertama kuenya untuk Diana.


Mario memotong kue itu menjadi beberapa bagian potongan kecil. "Aku suapan pertama ya.." Mario mengambil potongan kecil kue itu dan meletakkannya di piring kertas, lalu mencubitnya sedikit untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.


"Dibagi rata ya, dan jangan nyampah ya guys.." Ucap Mario kemudian.


Mereka semua sibuk saling berbagi potongan kue. Yah, semua tampak tersenyum bahagia.


Zahra sudah turut membaur dengan komunitas para fans Mario. Hera pun sudah asik mengobrol berdua dengan Abdul sambil berbagi potongan kue bersama. Sementara Diana tampak asing ditengah keramaian itu.


Diana merasa tidak berminat untuk sekedar mencomot kue yang sengaja dibiarkan untuk dinikmati bersama. Dia lebih baik berpamitan dan segera pulang.


Niatnya untuk segera meninggalkan tempat tersebut membawanya berjalan mendekat pada Mario yang masih dikerumuni oleh teman-temannya.


"Mario selamat ulang tahun ya.. Aku mau balik duluan." Diana mengulurkan tangannya tepat dihadapan Mario.


Mario tersenyum, memindahkan piring kertas yang berisi potongan kue yang ia comot sebagian ketangan kirinya untuk membalas jabat tangan Diana.


"Makasih ya Di," Ucap Mario.


Diana pun segera berlalu keluar dari kelas itu dengan sedikit rasa kecewa yang tak ia sadari cukup mebuatnya terluka. Seharusnya dia tidak terlalu berharap pada sesuatu yang terlalu tinggi ia jangkau.


Diana menegakkan kepalanya kembali, membuang segala fantasi yang terlalu mustahil untuk menjadi kenyataan, menatap realita yang apa adanya saja.


Kakinya melangkah melewati koridor panjang yang tampak lengang oleh kehidupan.


"Diana tunggu!"


Langkah Diana terhenti mendengar seseorang menyebut namanya. Dia menoleh menatap kebelakang.


Deg deg,


Jantungnya serasa tak bisa berkompromi dengan logika tatkala melihat Mario berjalan mendekat menghampirinya.


Mario menyerahkan piring kertas berisi potongan kue yang ia bawa dari tadi.


"Ini potongan kue pertama, aku sengaja simpan buat kamu Diana."


Diana terhenyak menelaah kembali ucapan Mario.


"Apa?" Diana masih berusaha mencerna maksud dari Mario.


Mario tersenyum menyodorkan kue itu semakin dekat pada Diana.


"Kamulah yang spesial." Jawabnya.


...


Author's cuap:


Gemesh gak sih???


Author kok lagi seneng nulis yang manis-manis ttg Diana dan Mario..


Bikin keinget ama mantan pacar deh..


Hahahaa...


Semoga kalian hepi juga bacanya ya..


So, support terus karya aku biar author makin semangaaattt nulisnya, makin enceerrr inspirasinya...


Like comment vote


Makasih..