
10
Gempar
Lelah dan peluh seketika luntur mengalir bersama aliran air menuju selokan-selokan yang terus mengalir hingga samudra lepas. Rasanya segar sekali.
Selesainya mandi, aku membantu mamaku yang berkutat di dapur sedari tadi dengan barang belanjaan, dan sekarang dengan berbagai bahan makanan. Waktunya memasak.
Aku tidak bisa memasak, tapi aku suka sekali membantu mama memasak. Kata mama dengan membiasakan membantu urusan dapur, lambat laun skill memasak itu akan tumbuh dengan seringnya memperhatikan orang memasak. Meskipun aku buta ketika membedakan jahe dan lengkuas, tapi sambal hasil ulekan tanganku benar-benar mantap.
Mama yang tidak menyukai kesunyian, mulai mengajakku mengobrol santai sambil tangannya terus meracik bumbu dengan cekatan.
"Kamu sudah lapar?"
"Bangeeet ma,, tadi capek sekali latihannya." Jawabku sambil mengendus-endus aroma tumisan bumbu yang mulai menyeruak memenuhi ruangan. Padahal tadi sudah makan pentol korea dua porsi. Tapi mencium aroma masakan mama, perut ini auto menyediakan ruang kosong untuk segera diisi.
"Sabar ya, dikit lagi."
Aku mulai menyiapkan nasi hangat di piring. Sembari menunggu masakan mama matang aku membantu beliau mencuci piring dan peralatan dapur yang sudah digunakan untuk memasak tadi. Mama hanya tersenyum memandang anak perempuannya ini langsung peka bergerak mengambil suatu pekerjaan tanpa diperintah.
“Hmm, anak mama rajin sekali.” Puji mama.
“Pasti ada maunya.” Lanjut beliau.
Aku hanya mendengus kesal. Mama selalu berprasangka saja padaku. Mungkin karena biasanya aku akan tampak sangat rajin untuk mengambil hati mamaku agar mengabulkan suatu keinginanku. Hehehe.. “Tapi kali ini aku tanpa pamrih ma..” Batinku.
"Dulu waktu mama hamil kamu, semua menebak anaknya laki-laki. Sampai-sampai, mama ikut terbawa dengan hanya beli pakaian bayi laki-laki dan menyiapkan nama bayi laki-laki. Maklum, jaman waktu itu USG sangat jarang tersedia. Kalaupun ada harganya sangat mahal dan hanya di rumah sakit besar." Kata mama mulai bercerita.
Okeh, radio mode on.
Seperti yang aku katakana, mamaku tipe orang yang tidak suka suasana yang sunyi. Ada saja bahan untuk dibicarakan dengan orang lain. Namun jika sedang sendiri beliau memilih menyalakan televisi atau radio untuk memecah keheningan. Lebih sering lagi bernyanyi-nyanyi seakan dunia adalah panggung miliknya seorang.
"Terus, mama nyesel ternyata yang lahir bayi perempuan?" Jawabku sambil sedikit manyun karena merasa tidak suka dengan arah perbincangan kami.
"Hush.. Kok kamu ngomong gitu. Gak baik ah,"
"Yah habisnya mama kayak kecewa banget kalo ternyata Diana itu perempuan."
"Mama kan cuma cerita Di. Kamu sensitive sekali sih. Gitu aja sewot.” Ucap mama malah menggodaiku.
“Apapun pemberian Tuhan harus disyukuri. Mama malah seneng ternyata meskipun kamu anak perempuan tapi sama tangguhnya seperti anak laki-laki. Misalnya, bisa benerin sendiri rantai sepeda yang lepas waktu itu. Mama aja gak bisa." Kata mamaku berusaha menghibur.
Beliau sepertinya menyadari perubahan wajahku yang menunjukkan ketidaksukaan tentang urusan gender. Aku jadi mengenang kembali kisah masa kecilku. Benar, aku dikenal sedikit tomboy oleh teman-temanku.
"Bahkan si Bagas temen aku kecil dulu, kalau rantai sepedanya lepas aku juga yang benerin." Jawabku yang mulai bisa tersenyum.
"Mama tuh ya, paling terbantu kalau urusan memetik mangga. Mama kan paling doyan sama rujak mangga. Kalau anak perempuan mama ini, siapa lagi yang petik mangga di depan rumah. Bahkan ayah kamu gak bisa manjat pohon." Mama tertawa sendiri dengan apa yang diceritakannya.
Oh iya, kejadian itu. Kami pun tertawa bersama mengingat kejadian lampau ketika aku masih berumur belum genap empat tahun.
(****flash back on)
Siang itu bu Mila, mamaku kebingungan karena putri kecilnya, yaitu aku, Diana menghilang. Setelah dicari kemana-mana ternyata aku ditemukan sedang tertidur di dahan pohon mangga depan rumah yang posisinya cukup tinggi. Seingatku, aku sedang bermain rumah pohon hingga kelelahan dan tertidur disana.
Arman, Ayahku yang berusaha untuk menurunkanku tidak berhasil memanjat pohon dan kebingungan mencari tangga sebagai alat bantu. Tetanggaku yang melihat kejadian itupun mulai ikut panik. Seketika suasana menjadi gempar.
Kebisingan yang terjadi membuatku terbangun. Aku mulai menggeliat yang diikuti teriakan orang-orang di bawah takut kalau-kalau aku terjatuh. Mamaku menjadi histeris. Ayahku pun yang mencari tangga untuk digunakannya menaiki pohon tak kunjung datang.
Aku yang kebingungan mulai bertepuk tangan mengira ada kegembiraan menyaksikan atraksiku naik pohon. Tapi sepertinya suasana di bawah tidak seperti yang aku pikirkan.
"Jangan bergerak nak.." kata mamaku sambil terisak.
Melihat mamaku menitikkan air mata membuatku heran dan takut. Aku mulai bergerak turun perlahan-lahan. Dengan mudahnya aku melangkah dari satu dahan ke dahan lainnya kemudian meraih tangan mamaku dan masuk dalam dekapannya.
"Haduh nak, kok berani manjat pohon tinggi sekali. Sampe bingung mamanya." Ujar salah satu tetanggaku merasa ikut lega melihatku selamat dan baik-baik saja.
Dari kejauhan seseorang berteriak dengan penuh kepanikan.
Ayahku datang bak super hero sambil membawa tangga. Orang-orang yang berkerumun itu pun terbelah memberikan jalan untuk sang pahlawan lewan.
Tanpa pikir panjang dan mengabaikan orang-orang disekitar, beliau langsung menegakkan tangga di batang pohon. Orang-orang yang menyaksikannya mulai tampak kebingungan.
Dengan sigap ayahku memanjat anak tangga satu per satu hingga anak tangga terakhir. Betapa terkejutnya beliau melihat dahan dimana aku berada tadi sudah kosong.
"Loh, mana Diana?" Teriaknya sambil menoleh ke bawah.
"Pak Arman, anaknya sudah turun sendiri." Kata tetanggaku sambil menunjuk ke arahku yang sudah digendong oleh mama.
"Kelamaan cari tangganya pak," Sahut tetangga yang lain.
"Laaah, kok gak ada yang bilang kalo sudah turun." Kata ayahku yang tampak sedikit jengkel bercampur malu. Aksi heroic ayahku menjadi aksi pahlawan kesiangan.
"Mana sempat mama ngomong, Lah wong ayah datang-datang langsung main manjat tangga aja." Jawab mamaku yang mulai bisa tertawa.
"Waduh.." ayahku menepuk pelan jidatnya.
Ayahku tampak menghembuskan nafas dengan kasar. Tampak kelegaan melihat anaknya selamat tanpa
terluka. Namun anehnya, ayahku tidak segera turun. Beliau tampak celingukan
memandang ke arah bawah.
"Pak, buk, minta tolong bantuin pegangin tangganya ya, saya takut turunnya ini. Tinggi sekali. Kaki saya tiba-tiba gemetar." Ujar ayahku dengan sedikit malu-malu.
"Walah pak Arman, masak kalah sama anaknya. Anaknya lho bisa turun sendiri."
Dan semua orang menjadi tertawa melihat kekocakan keluargaku. Beberapa orang kemudian memegangi tangga dan membantu ayahku turun.
Suasana yang awalnya heboh dengan kecemasan menjadi riuh penuh dengan kelucuan aksi ayahku.
(flash back off)
"Udah matang masakannya Di,"
"Iya ma," jawabku yang masih tertawa.
"Ada apa ini kok rame amat?" Tiba-tiba ayah muncul dari teras.
"Tuh, diketawain anakmu." jawab mama dengan entengnya.
"Enggak yah, mama tuh yang ngetawain ayah. Aku cuma ikut-ikut aja."
"Ya udah, terserah. Pokoknya makan dulu. Ayah laper sekali."
Kami pun makan dengan lahapnya sambil mengenang kisah itu kembali.
Tunggu! ada yang kurang.
"Ma, Tania mana?" tanyaku teringat ada personil yang kurang.
...
Bersambung..
Author's cuap:
Jempolnya digoyang dong...
Temen-temen jangan bosen tungguin next episode nya ya...
baca terus
Terimakasih,