
#92
Saembara Kembali Dibuka
"Wah, ini acara seminarnya udah kayak hajatan pernikahan aja ya Ma, kuenya banyak banget." Ucap Diana yang sedari pagi sudah duduk bersila sambil membantu Mamanya mengemas kue pesanan Suster Lina.
"Iya Di, kuenya aja segini banyaknya, belum nanti minuman, makanan utamanya di sana." Ucap sang Mama yang juga duduk bersila dengan hamparan beberapa nampan berisi kue-kue buatannya.
Plak!
"Aduh! Sakit Ma!" Ucap Ayah Arman sambil mengusap lengannya.
"Ayah kalau bantuin yah bantuin aja. Jangan dimakanin mulu. Kebiasaan deh Ayah ini!" Ucap Mama Mila.
"Nyicip satu aja Ma, pelit amat sih.." Gerutu Ayah sambil meringis menahan sensasi panas bekas pukulan telapak tangan istrinya.
"Satu yang ketahuan! Nanti kalau kurang gimana? Bisa dimarahin orang nanti!" Mama mendengus kesal.
"Iya, iya, maaf. Habis risol mayo buatan Istriku ini juara banget. Masakan chef hotel bintang lima kalah deh.." Goda Ayah sambil mentoel-toel lengan istrinya.
"Gak usah ngerayu!"
Diana tak sanggup menahan geli diperutnya bila sudah melihat drama kedua orang tuanya yang seperti ini. Rasanya perutnya sudah dikocok-kocok karena kekocakan keduanya kalau sudah adu mulut.
Tok.. tok.. tok..
"Waduh, siapa itu ya? Masak Mbak Suster udah nyampe sini aja? Coba tengok Di," Ucap Mama pada Diana.
"Biar Ayah aja." Potong Ayah dengan pembawaan yang tiba-tiba gagah penuh wibawa, langsung bangkit dari duduknya sabelum Diana sempat berdiri.
Namun sebuah telapak tangan mencengkeram lengan kokoh pria bertubuh tegap itu, membuatnya tersentak kaget menatap bingung pada pemilik telapak tangan itu.
"Taruk dulu ri-sol-nya!" Ucap sang istri dengan mata melotot isyarat sebuah perintah yang mutlak.
Hahahaha..
Tawa Diana tak dapat dibendung lagi ketika melihat ekspresi sang Ayah berubah cengar-cengir malu-malu.
"Maaf sayang, lupa.." Ucap Ayah sambil meletakkan risol yang ia pegang kembali ke nampan bersama kawan risol lainnya.
"Dasar Ayah ini!"
Mata elang sang Mama memang tidak bisa diremehkan.
Tok.. tok.. tok..
"Iya, sebentar.." Ucap Ayah setengah berteriak.
"Pasti bocah itu ikut datang. Mana mungkin dia melewatkan kesempatan buat ketemu putriku. Tidak akan semudah itu." Batin Ayah sambil terus melangkah menuju pintu.
-
Di balik pintu, seorang pemuda sedang berdiri menunggu si empunya rumah menyambutnya.
Senyumnya merekah dengan rasa dag dig dug mengguncang dadanya terasa begitu menyenangkan.
Willy harap-harap cemas menunggu kejutan apa dari balik pintu. Sudah berkali-kali dia mengunjungi rumah ini, namun entah mengapa debaran itu seperti pertama kali menginjakkan kaki di sana.
Tapi dia sangat senang hari ini. Dia datang dengan penuh persiapan.
Selain setelan kasual, parfum yang wangi, rambut yang tertata, juga persiapan mental ketika nanti menghadapi tantangan kedua saembara cinta dengan papan catur oleh sang penguasa tuan putri bunga musim seminya. Bahkan dia sangat menantikan mencoba peruntungannya kali ini. Dia sudah berlatih keras untuk hari ini.
Ditambah lagi, ada rencana manis untuk bisa mengajak Diana sejenak jalan-jalan bersamanya. Dia sudah menyusun rencana matang agar kesempatan jalan-jalan dengan gadis itu dapat benar-benar terwujud.
Pagi hari sebelum Lina berangkat shift pagi, dia berpesan pada putranya, meminta tolong untuk membantunya mengambil pesanan kue di rumah Tante Mila sekaligus mengantarkannya ke rumah sakit tempat Mamanya bekerja. Tentu saja tak.ada penolakan sama sekali dari Willy. Bahkan bila tidak diperintahpun, dia akan merengek memohon agar dapat turut mengambil pesanan kue itu.
"Kamu ajak teman kamu ya, soalnya Mama gak bisa bantu. Mama shift pagi." Ucap Lina penuh sesal harus sangat merepotkan putranya itu.
Sementara yang merasa direpotkan justru tampak sumringah riang gembira.
"Siap laksanakan Bu Bos.." Jawab Willy.
"Ah, kamu ajak Mas Farid aja. Kalau susah pakai motor, pinjam mobilnya nanti diganti bensinnya sama Mama." Ucap Lina menyebutkan satu nama yang merupakan tetangga sebelah mereka sebagai masukan untuk Willy.
"Iya, ntar Willy yang urus. Gampang lah itu. Mama buruan berangkat. Nanti telat loh.." Ucap Willy.
"Ahaa! Aku punya ide.." Seolah ada nyala lampu neon di atas ubun-ubunnya.
Dan inilah ide brilliantnya. Dia datang seorang diri, mengetuk pintu dengan berani dan percaya diri.
Ceklek,
"Sudah ku duga," Gumam Ayah mendapati pemuda itu meringis memamerkan sederet gigi putihnya.
"Sore Om," Ucap Willy setelah mencium punggung tangan pria yang lebih tinggi beberapa senti darinya itu.
"Iya! Mau ambil kue kan?" Ucap Ayah sambil celingukan menyapu setiap sudut teras hingga pekarangan rumahnya.
"Kamu sendirian aja?"
"Iya Om,"
"Ada siapa Yah?" Terdengar suara teriakan dari arah dalam rumah. Suara Mila.
"Ini.. Ada Willy si Congek Cakep..." Jawab Ayah sedikit berteriak.
Ups!
Ayah sontak membekap mulutnya sendiri setelah menyadari apa yang ia ucapkan. Willy pun tak kalah terkejutnya sampai mulutnya menganga.
"Aduh! Keceplosan." Batin Ayah.
Diana sontak melotot kaget mendengar Ayahnya mengucapkan dengan benar dan tepat sebuah nama kontak dihapenya. Nama kontak untuk nomor Willy.
Sementara sang istri yang mendengar jawaban nyeleneh dari sang suami merasa bingung.
"Willy si- apaan tadi Ayah bilang?" Tanyanya pada Diana yang tentu juga mendengarnya.
"Gak tau tuh, gak jelas." Ucap Diana langsung tertunduk menutupi rasa malunya. Ingin hati mengumpati sang Ayah, namun ia urungkan karena itu berdosa. Dia hanya berjanji dalam hati akan mengubah semua nama kontak yang aneh menjadi nama-nama sebenarnya saja. Kapok!
Kembali pada Ayah Arman yang merasa sangat malu. Tapi lagi-lagi dia gak boleh menampakkannya, apalagi di depan bocah yang sudah berani menyukai putrinya itu.
"Tunggu di depan aja ya, masih dikemas." Ucap sang Ayah dengah pembawaan yang begitu gentleman dan.penuh wibawa seolah kekonyolan yang ia lakukan tadi tak pernah terjadi.
"Iya Om," Ucap Willy sambil berusaha menahan tawanya.
Krik.. krik..
Tak ada suara yang tercipta dari dua lelaki berbeda era yang tengah duduk di teras rumah. Canggung, itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan suasana saat itu.
"Main catur?" Akhirnya Ayah mulai membuka obrolan.
"Boleh Om," Ucap Willy dengan percaya diri. Mulutnya seperti sudah gatal ingin berucap skak! skak! skak!
Seolah ada gong besar yang dipukul, menimbulkan gema suara menggelegar sebagai pertanda saembara dibuka.
Beberapa menit kemudian, Ayah nampak terkejut ketika pemuda yang ia tahu kempuan bermain caturnya kategori payah, sudah berhasil memakan kuda hitam miliknya.
"Lumayan juga," Batin Ayah.
Willy benar-benar fokus menatap tiap buah catur yang sudah menyebar ke segala penjuru papan hitam putih.
Tak berbeda jauh dengan Ayah, dia srmakin berhati-hati mengambil langkah. Dia sangat tau kemampuan bermain dari pemuda dihadapannya itu benar-benar jauh meningkat. Ini pertama kalinya sang Ayah dibuat berpikir keras oleh seorang Willy.
"Skak!"
Hah?
Willy tersenyum puas.
...
Author's cuap:
Nah lo.. Ayaaah..
Ketemu musuh tangguh nih..
Kira-kira Willy menang gak ya?