
#117
Mahar untuk Kencan
NOS adalah sebuah tabung kecil yang berisi cairan N2O (Dinitrogen oksida) yang sengaja ditambahkan atau modifikasi pada mesin kendaraan guna meningkatkan performa kendaraan dalam waktu sekejap.
NOS adalah singkatan dari Nitrous Oxide System yang merupakan produk dari perusahaan Holley Performance.
Meskipun pada beberapa pertandingan balap pemakaian NOS ini sering dianggap sebagai kecurangan, namun dalam dunia balap liar yang tidak mengenal peraturan, membebaskan setiap modifikasi dan kreatifitas namun tetap menjunjung tinggi sportifitas, pemakaian produk-produk injeksi performa mesin sejenis NOS ini sangat umum dilakukan.
Salah satunya pada sang kuda besi merah mengilat Red Fire milik Mario.
Mario termenung menatap nanar tabung NOS bak bayi mungil di telapak tangannya yang merupakan salah satu organ penting milik Red Fire jagoannya itu harus sementara ia relakan demi sebuah tawaran lain yang menggiurkan.
"Udah ikhlasin aja. Cuma sebulan doang." Ucap Willy sambil mengulurkan telapak tangannya bersiap untuk sebuah serah terima tanggung jawab yang luar biasa.
"Kamu tau cara merawatnya kan Ngek? Cara pakainya juga gak sembarangan." Ucap Mario memperingati.
"Iya, aku udah tau Munyuk. Aku juga udah modif ulang motor aku biar bisa menyesuaikan sama NOS kamu." Ucap Willy yang masih menanti tabung biru itu berpindah ke telapak tangannya.
"Serius jagain ya Ngek, aku belinya gak murah nih." Teapak tangan Mario justru semakin menggenggam erat tabung itu.
"Baik tuan muda Mario yang cerewet, bawel, buruan cepetan bawa sini tuh tabungnya." Ucap Willy yang mulai habis kesabaran.
"Gak bisa ditawar sehari dua hari aja minjemnya Ngek?"
Willy menurunkan telapak tangannya yang sudah lelah menengadah.
"Heh, Munyuk! Niat gak sih? Kalo gak jadi juga gak masalah. Biar aku aja yang pergi kenc--"
Puk!
Mario langsung menyerahkan tabung NOS-nya secepat kilat pada Willy sebelum Willy sempat menyelesaikan kalimatnya. Willy sontak gelagapan menerima benda itu dilemparkan begitu saja ke arahnya. Padahal sebelumnya ia bahkan memperlakukannya begitu lembut seperti mengangkat bayi baru lahir.
"Kita udah sepakat semalam. Jadi laki harus bisa dipegang omongannya. Jangan coba-coba batalin kesepakatan secara sepihak gitu ya," Gerutu Mario.
"Kan yang ngajak tawar menawar lagi kamu sendiri tadi. Kok sekarang malah nyolot. Terus ini gimana? Jadi gak?" Ucap Willy kembali menegaskan kembali kesepakatan diantara mereka.
"Ya jadi lah Ngek! Awas aja sampai kamu bohongin aku masalah kencan ini!"
Willy terkekeh melihat ekspresi mengancam dari Mario. Bagi Willy, tentu saja tabung NOS yang akan ia pinjam selama satu bulan ini tidak akan pernah sebanding dengan apa yang harus ia tukar. Bahkan bila Mario memberikannya secara cuma-cuma juga tidak akan pernah bisa menggantikan tiket emas yang ia miliki. Namun sekali lagi, ini demi gadis itu.
"Owh, ya ya ya.. Aku paham nih sekarang." Ucap lelaki berkaos oblong dan jelana jeans belel yang sedari tadi duduk sambil memperhatikan dua anak muda itu berdebat. Dia adalah Dion sang pemilik bengkel sekaligus pendiri club motor yang mana Mario adalah salah satu anggotanya.
"Jadi gara-gara cewek nih?" Dion terkekeh
"Iya bang, dia rela tukar tabung NOSnya demi bisa kencan sama cewek." Ucap Willy yang turut mengompori suasana sambil cekikikan.
"Astaga Mario, ngajak kencan kan tinggal ngomong langsung aja. Hai cewek, kencan yuk.. gitu. Masa iya gitu aja mesti aku ajari sih? " Ucap Dion yang terus meledek Mario yang sudah cemberut.
"Kamu gak tau sih bang nih cewek kayak gimana. Ngomong doang sih gampang." Mario terus menggerutu yang sontak membuat Dion semakin terpingkal.
"Mana sih fotonya aku mau lihat?"
"Gak ada! Ntar kamu ikutan naksir lagi. Makin banyak deh saingan aku."
Dion dan Willy terus saja terkekeh mendengar Mario menggerutu.
"Selesai juga." Ucap Willy sambil mengibaskan tangannya yang kotor.
"Cakep! Kudu di coba nih. Ntar malem turun ya.. " Ajak Dion sambil berjongkok mengamati mesin dari si Item, motor milik Willy yang tampak makin mewah dengan tambahan tabung NOS milik Mario di sana.
"Besok aja bang, hari ini gak bisa. Banyak pr nih.." Ucap Willy sambil membereskan kotak perkakas yang ia pinjam dari Dion.
"Kalau kamu Mar, banyak pr juga gak? Ntar turun lah kalau gak ada pr. Biar rame!" Dion mengalihkan pandangannya pada Mario yang masih merengut sambil memandang tabung NOS miliknya terpasang cantik di motor Willy.
"Kamu ngeledek apa ngajak berantem sih bang? Masa aku turun balapan pakai motor kosongan gini. Berasa naik motor ban ci tau gak?"
"Jangan manyun gitu dong Mar, yang lenting kan bisa kencan nanti, betul gak bang?" Ucap Willy sambil merangkul pundak Mario.
"Bener tuh, bayangin yang hepi-hepi aja lah.. Emangnya tuh cewek saudara kamu Ngek? Mau kencan aja pakai mahar NOS segala."
"Bukan bang, panjang deh ceritanya. Kamu minta ceritain Mario aja deh. Takut salah bicara aku." Jawab Willy.
"Jangan bilang kalau kalian sama-sama naksir tuh cewek, terus tabung NOS ini jadi tumbal biar si Congek ngalah sama Mario?" Tebak Dion yang mulai membaca situasi.
"Kepo amat sih," Ucap Mario yang merasa sangat tersindir.
"Cih, kalian ini. Kayak gak ada cewek lain aja." Cibir Dion pada dua anak muda di depannya.
"Namanya juga perasaan orang bang, pinginnya sih dia gak usah ikutan naksir gebetan aku." Ucap Mario menyikut pelan perut Willy.
"Tapi inget ya, kalian harus jadi cowok terhormat. Jangan sampai kalian berantem gara-gara cewek. Udah ah, aku mau lanjut kerja." Dion berlalu meninggalkan Willy dan Mario yang saling terdiam.
Mario mengulurkan tangannya pada Willy sambil berucap "Benar kata bang Dion. Kita gak boleh beranten cuma karena cewek. Aku mau ngucapin terimakasih sama kamu."
Willy menatap telapak tangan itu kemudian membalasnya. Jabat tangan antara dua laki-laki dengan genggaman dan hentakan ala laki-laki.
"Gak usah terimakasih, aku ngelakuin ini bukan buat kamu, tapi buat dia. Aku tau dia suka sama kamu. Aku harap suatu saat kamu juga bisa melakukan hal yang sama kayak yang aku lakuin. Melihat orang kita sayang bahagia itu akan lebih baik dari pada memaksakan sesuatu menurut ego kita." Ucap Willy sambil menepuk bahu Mario yang terdiam mencerna perkataan Willy.
"Kalau gitu aku mau ngucapin terimakasih karena kamu lebih memikirkan kebahagiaan Diana dari pada perasaan kamu sendiri." Ah, Mario benar-benar merasa takjub pada pemuda yang pernah ia pukul babak belur ini.
"Motor kamu boleh juga Ngek, besok aku pinjem turun ke arena boleh kan? Mesin kamu ditambah NOS aku pasti lebih ngeri dari pada motor aku sebelumnya."
Willy melempar kunci motornya pada Mario. "Gak usah nunggu besok, cobain aja sekarang."
"Matahari masih terang benderang gini, kamu mau muka aku jadi headline koran besok pagi? Pelajar kelas tiga SMP berparas tampan kejar-kejaran dengan polisi di jalanan Kota? Auto batal kencan seumur hidup Ngek.." Mario melempar kembali kunci motor itu pada Willy.
"Terserah kamu aja dah Mar.. " Willy hanya menggelengkan kepala untuk tingkat kepedean Mario yang diatas rata-rata.
"Ngomong-ngomong, foto di halaman sosmed kamu yang sama Diana itu dimana? Kok kalian bisa jalan berdua?" Tanya Mario yang sudah lama menahan rasa penasaran ingin menanyakannya. Namun rasa malu dan gengsi yang begitu ia junjung tinggi membuatnya memendam rasa penasarasn itu begitu saja.
"Ih, stalking sosmed aku ya? Hahaha.. Kenapa? Jealous?" Willy puas menertawai wajah Mario yang memerah karena malu.
"Makanya Mar, belajar main catur buat ngalahin bapaknya."
Mario membelalakkan matanya. Ternyata Willy benar-benar berusaha sampai sejauh itu dan melepas kesempatan kencan seharian hanya dengan tabung NOS selama satu bulan?
Tidak. Kini Mario benar-benar yakin bahwa Willy benar-benar peduli pada Diana. Perasaan pemuda itu pada Diana jauh lebih besar dari apa yang Mario rasakan saat ini.
"Ngek, terimakasih. Aku gak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan ini." Gumam Mario yang merasa segan atas pengorbanan yang Willy lakukan.
...
Author's cuap:
Wil, boleh dong diajak tes drive balapan motornya..
Willy : Jangan thor, kalo bawa author ntar motornya gak kuat lari.
Hmmmph..
Ngambek ah ma Willy,