Titip Salam

Titip Salam
Spiritbooster Gak Tuh?



#44


Willy menenggak habis air dalam botolnya. Sesekali dia mengusap peluhnya dengan handuk kecil miliknya dengan fokus pada pelatih yang sedang menjelaskan taktik untuk babak kedua.


Poin tim Willy memang unggul namun begitu tipis dengan poin lawan. Kesempatan menang masih fifty fifty. Apapun bisa terjadi pada babak kedua.


"Okeh, semangat! Kita akan berjuang sampai akhir." Pelatih mengakhiri pidato panjangnya dengan bersama-sama seluruh tim menyatukan telapak tangan dang bersorak melepaskannya ke udara.


"Sst bro, liat tuh arah jam tiga." Bisik Salim sambil menepuk pundak Willy.


"Apaan?" Tanya Willy sambil mengedarkan pandangan sesuai petunjuk Salim.


Lapangan itu penuh dengan penonton yang mengelilinginya. Willy merasa kesulitan menemukan apa yang Salim maksud.


"Ada apaan sih Lim? Kamu jangan iseng disaat kayak gini dong." Willy mendengus kesal.


"Ck, lu keburu emosi. Tuh, di sebelah sana ada sekelompok cewek lagi jalan kesini. Salah satunya Silvi, temen bimbel aku yang jadi kurir cinta kamu. Ada yang pake baju bela diri juga tuh.." Lanjut Salim menunjuk pada satu titik agak jauh diluar lapangan.


Willy menemukannya. Senyumnya pun mulai terbit manakala melihat Diana yang nampak berjinjit berusaha menengok dari balik penonton lainnya.


"Salah satunya cewek inceran kamu bukan?" Tanya Salim lagi.


"Iya, yang pake jaket abu-abu." Balas Willy.


Salim manggut-manggut tanda dia pun mengerti siapa yang dimaksud oleh Willy.


Diana tampak masih celingukan dari belakang penonton yang berjubel. Ketika matanya menyusuri satu persatu wajah para pemain, dia menemukan seseorang yang sedang balik menatapnya, tersenyum, dan melambaikan tangan.


Diana membalas senyumnya. Dia mengepalkan tangannya tinggi-tinggi sambil bibirnya melafalkan kata "Se-ma-ngat" tanpa ada suara yang keluar.


Willy meletakkan tangan kanan di pelipisnya seperti posisi memberi hormat sembari bibirnya melafalkan kata "Si-ap" tanpa bersuara seperti yang Diana lakukan.


"Ciye yang dapet spiritbooster.." Goda Salim menyenggol bahu Willy.


"Udah ah, ayok masuk." Ucap Willy sambil merangkul pundak temannya itu agar bersama berlari masuk ke arena pertandingan.


Willy seperti merasakan angin sejuk menerpa pipinya yang hangat. Peluit panjang telah ditiup. Pertandingan babak kedua sekaligus penentu kejuaraan basket antar SMP tingkat Kabupaten tahun ini dimulai.


Willy? Jangan ditanya lagi. Seolah mendapat suntikan dopping, hingga dia pun menggila di lapangan.


"Sumpah Di, keren banget tuh cowok." Bisik Rosa kagum melihat aksi Willy dari tempat mereka berdiri.


"Yang mana sih Congek itu?" Tanya Hera masih celingukan.


"Tuh, yang pake ikat kepala warna biru, yang tadi ngasih bunga sama boneka ke Diana waktu di tribun itu loh.." Jawab Zahra.


"Ooooh.."


Diana tidak bergeming sedikitpun seolah tersumbat telinganya mendengar kebisingan teman-temannya. Matanya begitu fokus menatap Willy yang dengan lincahnya bergerak menguasai lapangan.


"Di.."


"Eh, iya."


Diana pun terlonjak kaget mendapat tepukan dipundaknya yang cukup keras.


"Ya ampun Di, kita panggil-panggil gak nyahut. Sampe capek manggilnya." Ucap Rida yang juga ada disana.


"Tauk nih, fokus amat nontonnya sampe kita gak dianggep." Lanjut Silvi yang sewot.


"Maaf, habis seru banget." Diana meringis malu malu.


"Yang seru pemainnya apa pertandingannya?" Goda Hera.


"Kamu masih mau nonton? Aku balik duluan ya Di, udah sore nih.." Ucap Rida.


"Kalau kesorean ntar gak ada angkot lewat lagi. Mana kita harus jalan dulu ke perempatan. Lumayan jauh loh." Lanjut Zahra.


"Aku juga sudah dijemput ayah aku di depan gerbang." Timpal Silvi.


Diana nampak masih enggan beranjak. Entah dia sedang menikmati serunya pertandingan atau fokus menatap Willy yang tengah berlaga. Jika menilik mata Diana yang selalu mengikuti arah sang bintang lapangan, sepertinya jawabannya pilihan yang kedua.


"Ya udah, kita pulang aja. Tapi tungguin ambil barang-barang aku dulu ya, yang tadi titip di meja panitia." Jawab Diana akhirnya.


Diana menoleh lagi ke belakang, menatap Willy yang masih terus berlaga. Dalam hati dia berdoa untuk kemanangan Willy sebelum akhirnya beranjak dari sana.


...


"Temen-temen aku duluan ya.." Silvi melambaikan tangan dan menghampiri ayahnya yang sudah menunggunya di depan gerbang.


"Gimana kalau kita naik becak aja. Aku udah capek banget." Keluh Zahra.


"Ya udah, kamu naik becak bareng aku aja. Ntar kamu turun aja di perempatan buat oper naik angkot. Aku mau lanjut naik becak sampai rumah." Ucap Rosa.


"Trus Hera sama Diana gimana?" Tanya Zahra.


"Oke, tapi tuh becaknya cuma satu. Biar Zahra sama Rosa aja duluan. Kita jalan kedepan dikit aja gak apa-apa kan Her? Mungkin disana ada becak lagi." Ucap Diana yang dibalas anggukan oleh Hera.


Kawasan tribun tersebut memang tidak dilalui angkot. Jadi kendaraan umum yang ada hanya becak yang banyak mangkal disekitar sana. Mereka pun kembali terpecah. Zahra dan Rosa mendapatkan becaknya lebih dulu sementara Diana dan Hera berjalan kaki mencari becak yang lainnya.


Tin tin..


Bunyi klakson motor itu mengagetkan dua gadis yang sedang berjalan di trotoar jalan.


"Hei, kok jalan kaki sih? Mau bareng gak?"


Seseorang pengendara motor tiba-tiba menghadang Diana dan Hera. Diana tampak bingung siapa orang dibalik helm teropong itu. Dari suaranya seperti begitu familiar. Namun berbeda dengan Hera. Dengan mudah dia mengenali siapa laki-laki itu.


"Gak usah Dul, terimakasih. Masak kita bonceng tiga. Nanti bisa ditilang sama pak polisi." Ucap Hera menjawab ajakan laki-laki itu.


"Siapa sih Her? Kok kamu kenal?" Bisik Diana.


"Abdul Di.." Jawab Hera ikutan berbisik.


"Kalian bisik-bisik apa sih?"


Laki-laki itu lantas membuka helmnya memperlihatkan wajah Abdul seperti yang dikatakan oleh Hera.


Diana nampak terkejut Hera langsung mengenali Abdul dengan keadaan wajah yang masih tertutup helm. Sepertinya hubungan mereka semakin dekat setelah terjebak dalam lomba karya tulis ilmiah dalam beberapa hari terakhir.


"Oh ya Diana, selamat ya.. Kata Mario kamu menang ya.." Abdul mengulurkan tangan memberi selamat pada Diana.


"Iya, makasih Dul," Jawab Diana membalas uluran tangan itu.


"Kamu ngapain disini? Final bola kan masih besok sore?" Tanya Hera pada Abdul.


Lagi-lagi Diana dibuat terkesima. Hubungan Hera dan Abdul memang terlihat sangat sangat sangaaat dekat.


Hal tersebut begitu nampak dari Hera yang sudah tidak canggung lagi berbicara pada Abdul. Apa karena sudah saking akrabnya? Diana semakin yakin Hera dan Abdul memang ada apa apa.


"Tadi nonton bola doang. Biar tau lawan kita besok sekuat apa. Kalian besok nonton ya.."


"Iya, diusahain ya Dul."


Diana seperti tersesat diantara dua nyamuk yang beterbangan. Rasanya ingin sekali memanggil cicak, dan hap lalu ditangkap.


Eits, ternyata benar-benar kejadian. Ada cicak datang siap meng-hap dua nyamuk yang sudah bising membuat Diana terasingkan.


Tetapi dimata Diana yang datang bukanlah cicak imut nan menggemaskan, melainkan buaya. Buaya darat.


"Dul, katanya buru-buru mau pulang. Eh, taunya malah disini." Ucap pengendara motor lain dari arah belakang.


"Pas banget ada Mario. Diana biar bareng Mario aja." Ucap Abdul dengan entengnya.


"Iya bener Di. Kamu bareng Mario aja.. Aw," Hera meringis kesakitan mendapat cubitan kecil dilengannya.


"Gak usah makasih. Hera kalau bareng Abdul ya udah bareng aja. Aku jalan sendiri gak apa kok." Ucap Diana.


"Yah, jangan gitu dong Di. Aku kan jadi gak enak." Hera menatap Diana setengah merengek. Matanya menyiratkan dia begitu ingin pulang diantar Abdul tapi dia tidak tega meninggalkan sahabatnya itu berjalan sendirian. Hera mengedip-ngedipkan matanya isyarat memohon pada Diana.


Diana menangkap isyarat itu. Dia menghela napas. "Kok aku merasa terjebak gini sih.." Batin Diana.


"Tauk nih, masak yang juara jalan kaki." Timpal Abdul.


"Udah bareng aku aja. Aman aman.. Aku gak bakal macem-macem kok. Udah cukup sekali aja dapet tendangannya. Kapok!" Ucap Mario sambil terkekeh.


Diana dibuat melotot tajam menatap Mario.


"Tandangan?" Abdul mengernyit heran.


"Ya udah, sampe perempatan aja." Potong Diana sebelum ada perbincangan lanjut perihal tendang menendang itu.


Hera nampak tersenyum kegirangan. Mulutnya berbisik "Makasih Di," tepat ditelinga Diana kemudian buru-buru naik ke atas motor Abdul dan melambaikan tangan sebelum Diana berubah pikiran.


Tinggallah Mario dan Diana di sana.


...


Author's cuap:


Kalo ada yang nanya "Thor, katanya SMP kok boleh bawa motor."


Ya udah lah ya, gak.usah bawel. Tuh anak muda emang pada bandel gak taat aturan. Atau rumahnya kagak dijangkau angkutan umum.


Biarin aja ya, ntar juga kalau ditilang emaknya yang dateng sidang.


Yang penting jangan ditiru ya..


(Biar ada pesan moralnya gitu ya.. hehehe..)