Titip Salam

Titip Salam
Inikah yang namanya Cemburu?



#51


Inikah yang namanya Cemburu?


(Pov. Willy)


Benar dugaanku, Diana pasti datang buat nonton pertandingan final sepak bola sore ini. Tapi yang masih menjadi misteri di pikiranku, Diana datang untuk mendukung sekolahnya, atau khusus untuk menyaksikan Mario bertanding?


Dari sekian banyak penonton, entahlah bagaimana caranya Tuhan dapat membuatku dapat menemukan Diana. Seperti begitu mudahnya aku dapat mengenalinya. Padahal yang tampak dari posisiku duduk saat ini hanya punggung yang tidak terlihat sempurna karena terhalang penonton lainnya, dan rambut sebahu miliknya.


Dia duduk disana celingukan menyapu wajah para penonton d tribun atas, tampak tak menemukan kenyamanan. Kenapa dia tidak duduk santai saja menikmati pertandingan? Memangnya dia sedang mencoba menemukan wajah siapa? Apa dia berusaha mencari aku? Hahaha, memangnya dia tau kalau aku akan datang? Karena sejujurnya tidak ada alasan aku harus menonton pertandingan ini.


Yah, memang bukan tim dari sekolahku yang berlaga saat ini. Aku menyempatkan datang kemari hanya untuk mencoba peruntungan kalau-kalau bisa bertemu dengannya. Bertemu Diana.


Dan keberuntungan berpihak padaku. Diana ada di sana, duduk di dekat pagar pembatas deretan bangku area VVIP. Bagaimana bisa dia mendapat keistimewaan disana? Mungkinkah dia memiliki kenalan salah satu orang penting?


Ah, sudahlah.


Mengapa aku harus terlalu mempermasalahkannya? Seharusnya yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana cara mendekatinya dan menyapanya. Tuhan, ku mohon beri aku kesempatan mengobrol sebentar saja dengannya.


Pertandingan sudah berlangsung sepuluh menit yang lalu. Namun entah mengapa, sedikitpun aku tidak berminat mengalihkan pandanganku ke lapangan hijau disana.


Mataku tidak beralih pada titik itu, hingga aku melihat pergerakannya seperti mengarah padaku. Aku pun melambaikan tangan mencoba memberi kode padanya agar menemukan posisiku.


Yes!


Dia membalas lambaian tanganku dan mulai berjalan mendekatiku. Senang, senang, senang sekali rasanya.


Tangan ini spontan merapikan rambut dan kaos oblong yang ku kenakan. Apakah perlu berusaha terlihat sempurna?


"Hai, Wil. Maaf ya kemarin gak bisa nonton sampai akhir. Udah kesorean." Sapa Diana yang langsung mengambil duduk di sampingku.


"Gak apa Di. Makasih udah sempetin nengok kemarin. Aku yang minta maaf gak nonton kamu tanding. Habisnya, aku gak tau kalau kamu ikutan kompetisi juga. Aku baru dapat infonya pas udah jalan kamu masuk final." Jawabku jujur, merasa menyesal melewatkan menonton pertandingannya.


"Gak masalah Wil. Malah kamu orang pertama yang ngasi aku hadiah kemenangan. Makasih ya.."


Syukurlah, Diana senang dengan hadiah yang aku berikan. Tidak sia-sia aku bergegas membeli hadiah dan melewatkan breefing sebelum pertandingan.


"Oh ya, kemarin hasilnya gimana? Dapet juara berapa?" Tanya Diana.


"Coba tebak?"


"Kalau dari wajah kamu yang sumringah banget, pasti kamu berhasil menang kemarin, ya kan?"


"Kelihatan banget ya kalau aku lagi hepi?"


Sepertinya Diana mulai merasa akrab denganku. Caranya mengajakku bicara sudah tidak terkesan malu-malu dan canggung.


Mataku menangkap sesuatu yang begitu familiar melekat di pergelangan tangan kirinya. Yah, jam tangan itu. Jam tangan yang serupa dengan yang aku pakai saat ini. Mungkin bila orang lain melihatnya, mereka akan berpikir kita adalah pasangan. Hehehe..


Andai saja Mario juga tau perihal jam tangan couple kami, aku penasaran bagaimana tanggapannya.


Dari pergelangan tangan aku beralih menatapnya. Aku ingin sepuas hati manatapnya saat ini.


"Sebenarnya, aku hepi bukan cuma karena kemarin berhasil menangin pertandingan."


-


"Karena ketemu kamu di sini."


Diana tampak sedikit terkejut dengan ucapanku. Dia menoleh menatapku membuat pandangan kami bertemu. Astaga, ini benar-benar seperti adegan di film. Dan jantungku, semoga hanya aku yang dapat mendengar betapa jantung ini sedang berdetak begitu kencang.


"Hehehe.. Bisa aja kamu."


Diana tersipu, manisnya..


Priiiit..


Suara peluit membuyarkan obrolan kami. Sepertinya terjadi pelanggaran disana. Beberapa pemain nampak berkerumun pada satu titik.


Tak berapa lama kerumunan itu mulai buyar, dan tampaklah seorang pemain sedang dipapah oleh pemain lainnya untuk di dudukkan di luar lapangan.


"Itu Mario?" Ucapku.


"Iya kayaknya. Aku balik ke bawah lagi ya Wil.." Ucap Diana pamit.


"Iya," Jawabku setengah hati.


Diana pun berdiri, mulai beranjak untuk kembali ke tempat duduknya semula.


"Apa kamu begitu mencemaskannya?" Batinku.


Aku membuang napas membiarkan rasa kecewa ikut terhembus bersama karbon dioksida agar menguap dari dalam tubuh ini, menguapkan pula rasa gembira yang tadi membuncah, menyisakan sesak di dada.


Diana, aku ingin sekali mengobrol lebih lama lagi.


Mata ini seolah masih begitu merindukan sosok gadis itu. Selepas raganya yang menjauh, pandangan ini tak rela melepaskannya begitu saja.


Aku masih terus menatapnya, mengikuti pergerakannya dengan perasaan yang bercampur aduk. Apalagi ketika dirinya mengikuti temannya yang telah berjalan lebih dulu untuk turun ke bawah.


"Untuk apa kamu turun kesana Diana? Apa kamu ingin melihat keadaan Mario? Apakah Mario kini menjadi penting bagimu?" Dan banyak lagi pertanyaan yang hanya akan berputar-putar dipikiranku.


Aku masih setia duduk di tempat yang sama sambil terus mengawasi apa saja yang dilakukan Diana di bawah sana.


Diana tampak berbincang dengan seseorang di bawah sana. Mungkin itu salah satu guru di sekolahnya.


Beberapa saat kemudian, dada ini terasa semakin sesak. Ada rasa panas yang mulai menjalar membuat hati ini semakin berkecamuk.


Mario berjalan mendekati Diana. Mereka sedang berbincang berdua di pinggir lapangan. Apa yang mereka bicarakan? Mengapa aku ingin marah rasanya?


Tak ada yang bisa aku lakukan. Hanya menatap mereka dari kejauhan. Mengepalkan tangan berusaha meredam amarah tanpa sebab.


Yah, aku hanya mampu uring-uringan di dalam hati.


Jika sesak, kesal, dan amarah ini adalah bentuk penjabaran dari sebuah kata yang bernama cemburu, benarkah kini aku tengah cemburu? Apa aku benar-benar menyukai gadis itu? Yang jelas rasa ini benar-benar menyiksa.


Mario adalah sosok yang populer. Banyak sekali penggemar yang begitu mengaguminya. Bahkan sebagian besar dari mereka adalah perempuan. Aku yakin banyak diantara penggemarnya itu tidak tulus mengaguminya saja, tapi benar-benar jatuh hati pada Mario. Dan dari sekian banyak gadis yang mengejar-ngejar Mario, kenapa dia harus menargetkan Diana?


Sorot mata Mario kala itu tampak begitu serius ketika berkata dirinya menyukai Diana. Dirinya seolah siap berperang untuk bisa memperoleh hati gadis itu.


Priiit..


Peluit tanda akan segera dimulainya babak kedua telah ditiup.


"Bagus, pergilah Mario. Pergilah menjauh dari Diana secepatnya!" Gumamku pelan.


Sepersekian detik kemudian, dadaku dibuat bergemuruh hebat. Dada ini begitu sesak seolah petir dewa Zeus menghujam tepat disana.


Apa?


Pemandangan apa itu?


Mario meraih tangan Diana, menggenggamnya erat di ribuan pasang mata yang menyaksikannya.


Sakit, Diana. Kenapa aku merasa begitu sakit?


Kepalaku mulai terasa pening seiring hatiku yang begitu panas. Aku tidak sanggup lagi berada di sini.


"Sepertinya kita menginginkan hal yang sama, Mario. Kita lihat saja siapa yang akan Diana pilih nantinya."


Aku segera berdiri, berbalik, dan berjalan mencari pintu keluar. Lebih baik aku pergi sebelum aku bertindak konyol meluapkan emosi di tengah keramaian.


"Item, ayo kita cari angin segar."


...


Author's cuap:


Sabar ya bang Willy,


Jangan ngebut2an ya d jalan..


Nih, author pinjemin bahu buat bersandar..


puk, puk,