Titip Salam

Titip Salam
Isi Hati Kakak Pelatih?



Sekarang adalah hari Minggu. Langit masih mendung seperti hari kemarin-kemarin. Hari libur dengan suasana yang mendukung untuk bangun siang.


Tapi tidak untuk Diana. Dia ada jadwal ekskul seperti biasa. Sebetulnya dia sedikit malas untuk berangkat. Namun, hari ini adalah seleksi untuk memilih kandidat yang akan ikut perlombaan bela diri tingkat kabupaten.


Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini karena tahun kemarin dia harus melewatkan seleksi karena sakit.


Diana melirik Tania yang masih meringkuk dalam.selimut. Dia menghembuskan nafasnya sembari menunjukkan wajah iri. Enaknya..


"Ayo Diana, sarapan dulu. Berangkat bareng mana aja. Sekalian mama mau ke pasar."


"Iya mah.."


Mama tampak mencatat barang-barang belanjaan sementara Diana menikmati nasi goreng dan segelas teh hangat.


"Nanti sepulang belanja mama ke rumah bude dulu. Mama mau ambil resep obat nenek. Sekalian nanti ada perawat yang kontrol tensi nenek. Jadi, mungkin mama gak bisa jemput kamu." Kata mama menjelaskan.


"Yah, gak bisa beli pentol korea banyak banyak dong." Keluh Diana.


"Kamu jangan kebanyakan jajan gituan. Banyak micinnya. Lagian kebersihannya juga gak terjamin nak.."


"Mama udah di kode gitu, masak gak ditambahin uang jajannya." Diana semakin cemberut gara-gara mama tidak peka.


"Oh, jadi kamu mau uang jajannya ditambah?" Ucap mama yang masih sibuk dengan hitungan belanjanya.


Kata Diana langsung berbinar mendengar ucapan mamanya. Dia tidak menyangka hari ini mamanya benar-benar murah hati.


"Serius boleh ma?"


"He-em boleh,"


Wah, Diana bersorak girang. Sepertinya mamanya sedang dapat arisan.


Tunggu! Mama ternyata belum selesai bicara.


"Tapi nanti ya kalau sudah SMA. Sabar.."


GUBRAK!!!


Senyum riang itu seketika sirna. Terbang tinggi bersama bayang-bayang rupiah yang ikut melambung tinggi. Kecewa itu menyakitkan.


"Yah, mama.."


...


"Farah dengan Diana. Silahkan."


Diana berdoa dalam hati kemudian melangkah menuju arena bertanding yang dikenal dengan istilah gelanggang. Dia menunduk memberi salam pada lawannya dan begitupun sebaliknya.


"Ingat peraturannya, tetap junjung sportifitas, dan mulai!"


Diana memasang kuda-kuda. Farah maju dan melangkah dengan cepat memberikan serangan pada Diana. Respon Diana begitu cepat dengan menangkis serangan kaki itu dan membalas dengan tendangan balik yang mengenai penggang Farah.


Begitu alot pergulatan itu terjadi, hingga babak pertama hampir usai dengan Diana yang memimpin skor.


Baik Diana dan Farah mulai tampak lelah. Serangan demi serangan yang dilancarkan Farah berhasil ditangkis oleh Diana dan Farah pun dibuat kualahan dengan serangan balas dari Diana.


Teknik dan respon yang dikuasai Diana cukup bagus. Sementara Farah lebih mudah terpancing emosi sehingga konsentrasinya mudah buyar.


Pada detik-detik akhir tampak Farah memberikan tendangan yang mengarah pada wajah Diana. Itu seharusnya tidak boleh.


Diana mencoba menyingkir namun kaki itu akhirnya mengenai telinga Diana. Diana terjatuh hingga kakinya terkilir.


"Au," Rintih Diana untuk sakit ditelinga, kepala, dan kaki yang nyeri.


"Farah, kamu didiskualifikasi."Ucap kak Ari dengan tegas.


"Maaf kak, saya tidak sengaja." Jawab Farah sambil menunduk merasa bersalah.


"Kamu tau dimana kesalahan kamu?"


"Tau kak, saya menyerang bagian kepala."


"Bagus, jangan kamu ulangi lagi. Terima keputusan dengan sportif." Kak Ari pun mempersilahkan Farah keluar dari gelanggang.


Diana mencoba bangkit untuk berdiri. Kepalanya masih terasa keliyengan. Diana tak mampu menahan beban dirinya sendiri hingga ambruk kembali. Namun sebelum sampai ia terjatuh ada tangan yang menahan punggungnya dan memegang lengannya.


Kak Ari!


Diana benar-benar terkejut mendapat bantuan dari kakak pelatih yang ganteng ini. Waaah, dia pasti membuat iri banyak peserta perempuan yang mulai riuh bersorak. Au, au, au.


Kak Ari tampak mengambil tas miliknya dan mengeluarkan benda seperti salep dari dalam tas itu.


"Oles ini di kaki kamu yang terkilir. Salep ini lumayan ngurangin rasa sakitnya."


Diana menerima salep itu dan mengoleskannya pada bagian pergelangan kaki. Salep itu terasa sejuk dan cepat meresap. Dia memberikan sedikit pijatan berharap nyerinya bisa berkurang.


Pertandingan terus berlanjut. Entahlah Diana akan terpilih atau tidak. Dia sudah tidak mungkin bertanding lagi untuk hari ini.


"Ciye Diana, gimana rasanya dipapah sama kak ganteng?" Bisik Rosa, teman Diana di ekskul beladiri ini.


"Ya sakit. Namanya juga keseleo." Ucap Diana.


"Bukan itu maksudnya. Emang kamu gak ngerasa hepi gitu?" Rosa menggoda dengan menyenggol-nyenggol pundak Diana.


"Biasa aja. Kamu nih yang jadi temen aku bukannya tadi bantuin berdiri, malah nonton doang." Diana malah balik mencerca temannya itu.


"Maaf Di, respon aku kalah cepet sama kak Ari. Hehehee"


Begitulah percakapan bisik-bisik mereka berlanjut hingga proses seleksi usai.


...


Diana berdiri dan mencoba berjalan. Dia masih merasakan nyeri di pergelangan kakinya, namun tidak separah tadi. Memang ini perlu di pijat urut lagi dengan benar.


"Kamu bisa jalan sendiri Di?" Tanya Rosa yang sedikit khawatir melihat Diana masih tertatih-tatih.


"Bisa, udah agak mendingan kok. Aku balikin ini dulu ya." Jawab Diana sambil menunjukkan salep pereda nyeri milik kak Ari tadi.


"Ya udah aku anter deh."


Mereka pun berjalan mendekat ke arah dimana kak Ari berada.


"Kak, ini salepnya saya kembalikan. Terimakasih." Ucap Diana sambil menyerahkan barang yang dari tadi di genggamnya itu.


"Buat kamu aja gak apa. Aku masih ada lagi kok."


"Gak usah kak, saya juga punya di rumah." Padahal Diana tidak yakin ada salep seperti itu di rumah. Dia cukup menghafalkan merk dan bentuk kemasannya, dan meminta ayahnya membelikan bila memang perlu.


"Ya udah kalo gitu." Kata kak Ari yang akhirnya menerima salep itu dan memasukkannya dalam tas.


"Kaki kamu udah gak apa-apa? Kamu pulang naik apa?"


Rosa merasa terkejut mendengar pertanyaan kak Ari pada Diana. Dia tidak menyangka temannya ini cukup dekat dengan kakak pelatihnya. Dia dapat menebak pertanyaan berikutnya seperti apa. Dia jadi senyum-senyum sendiri membayangkannya.


"Udah agak mendingan kok kak, makasih salepnya mujarab."


"Kalau kamu gak dijemput, pulang bareng aku aja. Aku bawa helm lebih nih." Kak Ari menyerahkan helm pada Diana.


"Waaah.." Diana yang mendapat tawaran, tapi Rosa yang sumringah. Kejadian seperti ini mirip sekali dengan yang ada di tivi.


Diana yang melihat reaksi Rosa langsung menyenggol pundak temannya itu.


"Gak usah kak, aku bisa naik angkot sendiri. Ini tinggal di urut aja dikit pasti langsung sembuh. Sekali lagi terimakasih. Duluan ya kak," Ucap Diana menolak halus tawaran kak Ari.


Kak Ari tersenyum menyembunyikan sedikit rasa kecewanya. Sudah dua kali Diana menolak ajakannya untuk pulang bareng.


"Kalian jaga kondisi ya, kalian kan terpilih jadi sepuluh kandidat terbaik, latihan kalian juga ditambah selasa dan kamis sore. Minggu depan bakal disaring lagi. Terutama Diana, usahakan kaki kamu udah sembuh."


"Iya kak, kita duluan ya.." Diana menarik tangan Rosa untuk segera pergi.


"Loh Di, kok gak jadi bareng kak Ari." Kata Rosa dengan suara yang cukup keras.


Rosa yang sedari tadi sibuk dengan fantasinya tidak menyadari temannya itu menolak ajakan pelatihnya itu. Sontak terdengar kak Ari terkekeh di belakang. Diana semakin cepat menarik tangan Rosa meskipun sambil terseok-seok menahan nyeri di kaki sebelum Rosa berulah semakin membuatnya malu.


...


Author's cuap:


Kira-kira menurut kalian kak Ari tuh naksir Diana gak?


Komen di bawah ya..


Jangan lupa like nya juga ya...


Makasih..