
#32
Mario berjalan mengarungi lengangnya sore. Kakinya terus melangkah menyusuri gang yang panjang dan berkelok.
Kata-kata Willy masih terngiang di telinganya. Kata-kata peringatan untuk tidak menyakiti Diana. Wajah Willy begitu serius mengucapkannya.
"Huh, memangnya dia bisa apa?" Gumam Willy.
Rasa angkuh telah menguasai hatinya. Tetapi selanjutnya dia teringat wajah gadis itu. Wajah Diana. Wajah yang memucat dan menitikkan air mata. Dia mengatai Mario jahat.
"Apa aku menyakiti Diana tadi?" Tanya Mario dalam hati.
Mario merasa tidak enak setelahnya. Dia tidak menyangka reaksi Diana akan seperti itu. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang begitu dalam. Semua itu karena ulahnya. Mario merasa bersalah.
Mario memang anak yang susah diatur. Suka berkelahi, berbuat sesuka hati, dan jahil disana sini.
Namun dia tidak suka melihat air mata kesedihan. Apalagi bila itu karena ulahnya.
Dari kejauhan dia melihat dua gadis sedang duduk di pinggir trotoar. Itu adalah Rosa dan Diana.
Mario berjalan mendekat. Samar-samar dia mendengar senggukan salah satu diantara mereka.
"Itu pasti Diana. Rupanya dia masih menangis." Gumam Mario.
Mario merasa sangat bersalah mendengar Diana yang tampak duduk meringkuk. Dia tidak menyangka Diana tampak begitu terpukul. Padahal dia hanya berniat mengerjai gadis itu.
"Kenapa hanya dicium kening saja sampai menangis seperti itu? Bukankah itu terlalu berlebihan?" Batin Mario.
Mario benar-benar merasa heran. Karena prestasi dan wajah yang rupawan, membuat Mario digandrungi oleh banyak perempuan. Mereka selalu berebut mencuri perhatiannya.
Hanya dengan berjabat tangan dengan Mario saja mereka senangnya bukan main. Mereka akan histeris tatkala Mario melemparkan senyum manis apalagi menyapa mereka.
Begitulah para fans yang menggilai Mario. Bahkan diantara mereka ada yang sampai meminta dicium pipinya oleh Mario. Menurut Mario itu terlalu berlebihan. Mario malah merasa risih. Namun hal tersebut membuat Mario menarik kesimpulan bahwa semua perempuan akan senang mendapat perhatian dari laki-laki.
Dari awal Mario tidak pernah berpikir untuk membalas perbuatan Diana malam itu. Sebaliknya, Mario malah dibuat kagum dengan keberanian Diana. Mario dibuat penasaran dan terus memperhatikan sosok Diana yang semula hanya butiran debu yang lolos dari pandangan Mario.
Sore itu Mario hanya ingin menggertak Diana. Dia ingin mengerjai gadis itu. Mendatanginya, mengungkit kejadian malam itu seolah ingin balas dendam, dan diluar perkiraan harus diakhiri dengan adegan romantis yaitu menghadiahi ciuman dikeningn Diana.
Mario memprediksi Diana hanya akan ketakutan mendapat gertakan balas dendam. Tapi diluar rencana, entah apa yang dipikirkan Mario sampai ia berani mengecup kening gadis itu. Mungkin ia memberikana kesan bahwa ia memaafkan perbuatan Diana malam itu. Lalu mereka akan berbaikan, berteman, dan menjadi dekat. Perempuan mana yang tidak menginginkan menjadi teman Mario?
Mario tak menyangka tindakannya ternyata terlalu ekstrim bagi Diana.
Kenyataan yang terjadi tidak seindah espektasi yang Mario rencanakan. Diana menangis. Diana mengatainya jahat. Dia merasa dirinya terlalu percaya diri menganggap Diana seperti gadis-gadis yang dengan mudah beramah tamah hanya dengan senyum manis Mario.
Yah, Diana berbeda.
Mario mendadak menghentikan langkah. Dia terpaku mematung di tempat, menajamkan telinga mendengarkan pembicaraan Rosa dan Diana.
"Ros, aku takut."
"Takut kenapa Di?"
"Kalau aku hamil gimana Ros.."
Mario mengernyitkan alis.
"Mereka ngomongin apa sih? Hamil?" Gumam Mario.
Mario terus mengikuti perbincangan dua gadis tersebut tanpa diketahui keduanya. Muncul senyum misterius di bibirnya. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang menarik.
Mario mulai tertarik untuk terus mengusik gadis ini.
"Apa? Hamil?" Mario tiba-tiba masuk dalam pembicaraan mereka.
Mario melihat Diana terkejut dengan mata sembab dan pipi yang basah.
"Ma ri o,-" Ucap Diana tergagap.
"Mario kamu mau apa lagi sih? Belum cukup bikin Diana nangis kayak gini? Apa tonjokan tadi masih kurang? Mau ditambah lagi?" Ucap Rosa sambil menyingsingkan lengan bajunya.
Rosa mulai menunjukkan wajah kesal pada seseorang yang tiba-tiba muncul tersebut.
Mario mendekat menghampiri mereka. Tanpa rasa malu dia langsung mengambil duduk di samping Diana. Reflek Diana bergeser mendesak ke arah Rosa agar ikut bergeser dan memberi jarak dengan Mario.
"Diana, kalau kamu hamil aku pasti tanggung jawab." Ucap Mario bersungguh-sungguh.
Mata Diana melotot seperti mau lepas. Air matanya yang mengering mulai mengembun lagi di pelupuk matanya.
"Atau kita menikah sekarang?" Kata Mario begitu memancarkan keseriusan.
Diana langsung berdiri mendengar kata-kata itu dengan mudahnya keluar dari mulut Mario. Begitu lancar bagaikan kulit belut yang sangat licin. Hatinya bergemuruh dan sesak. Diana benar-benar pada batas kemurkaan.
"Mario, kamu gila atau sinting?" Kata Rosa yang langsung terbangun dari duduknya juga tak kalah terkejut.
Diana nampak mengepalkan tangannya dan langsung melemparkannya sekali lagi ke wajah Mario.
Eits,
Namun kali ini Mario berhasil menangkisnya. Dia memegang pergelangan tangan Diana. Tawanya pecah seketika.
Hahahaa..
"Apanya yang lucu?" Ucap Diana sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Mario.
Mario tertawa sambil memegangi perutnya.
"Yah, kalian berdua yang lucu. Hahahaa.." Mario masih terus tertawa.
"Maksud kamu?" Rosa ikut bingung.
"Gak mungkin Diana bisa hamil. Ciuman itu gak bisa bikin hamil. Apalagi cuma cium di kening. Hahaha.." Terang Mario masih sambil tertawa.
Dua gadis yang begitu polos langsung diam seketika. Ternyata Mario sedang mengerjai mereka. Terutama Diana.
Sudah terlanjur kesal, Diana langsung menginjak kaki Mario begitu keras.
"Au, au, au, sakit Di.." Keluh Mario sambil memegangi telapak kakinya.
"Rasain! Dasar cowok sinting!" Umpat Diana dan pergi meninggalkan Mario.
Ada kelegaan diwajahnya. Kesedihan yang dirasakannya tadi berganti kekesalan yang benar-benar memuncak diubun-ubun.
"Tunggu!" Mario langsung menyela langkah Diana.
Sekali lagi Rosa disuguhi drama yang luar biasa. Rasanya dia ingin mengambil pop corn dan duduk manis menikmati tiap alur ceritanya.
"Apa lagi?" Kata Diana kesal.
Mario menatap dalam wajah Diana yang tengah memelototinya. Dengan gentle dia mengulurkan tangan.
"Aku minta maaf." Ucap Mario.
Seketika wajah tengilnya menghilang. Alisnya menajamenunjukkan kesungguhan.
"Meskipun aku sudah tau kamu yang menendangku malam itu, tapi sedikitpun tidak ada niatan membalas kamu." Mario mengatakannya dengan penuh ketulusan.
"Maaf Diana, aku udah ngerjain kamu. Maaf juga sudah lancang mencium kening kamu."
Ketulusan Mario tidak dapat menembus benteng hati Diana. Diana sudah terlanjur kesal oleh manusia satu ini.
"Diana, mari berteman.." Mario memberikan senyum manisnya.
"Enggak! Gak mau."
Diana menampik tangan Mario lalu kembali berjalan melewati Mario. Tangan terulur itu tidak dibalas dengan jabatan lembut.
Rosa berjalan mendekat dan menepuk pelan pundak Mario.
"Berjuanglah, semangat!" Bisik Rosa dan berlalu menyusul Diana.
Ada rasa kesal karena diabaikan, namun ada rasa penasaran yang jauh lebih besar. Mario merasa tertantang. Ini lebih mendebarkan dari balap motor liar tengah malam.
"Setebal apa bentengmu Diana? Aku pasti akan meruntuhkannya." Gumam Mario memandang punggung berjaket abu-abu itu.
...
Author's cuap :
Jadi guys,,
pendidikan *** sejak dini itu penting.
Tapi yang sesuai umur..
Okeeey..
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya...
Like 👍
Comment 😘
Jadikan karya aku favorit kamu ❤️ kalo kamu suka ama alur ceritanya..
Vote juga boleh.. 🙏