
#141
Akhirnya Mama Tau
"Kok bisa sampai keserempet motor sih Di?" Willy tampak begitu cemas ketika melihat lutut Diana yang berbalut perban.
"Ya bisa lah.. Aku kan cuma manusia biasa.." Jawab Diana sambil mengunyah pentol korea buah tangan dari Willy yang sengaja mengunjunginya siang itu.
"Dasar kamu nih, malah bercanda.." Ucap Willy sambil mencubit pipi gadis itu.
"Aw, aw, aw.. Sakit tau!!" Diana cemberut sambil mengusap pipinya yang terasa panas.
Sudah lama sekali rasanya Willy tak mengusik gadis ini. Ada rindu yang terbayar sudah. Meskipun hanya duduk mengobrol beberapa saat saja, Willy sudah merasa senang. Mungkin benar kata Salim, kalau ia belum sepenuhnya move on dari gadis ini. Masih ada beberapa persen untuk menyimpan setitik harapan di sana.
Ketika Willy mendengar Diana sedang berada di rumah Eyang Siti, tanpa banyak berpikir ia langsung meluncur dengan sebungkus jajanan kesukaan gadis itu.
"Trus Mario gimana? Kamu semalam cerita kalau dia sampai pingsan?"
Willy merasa ada kelegaan tersendiri ketika tak ada lagi rasa kesal ketika ia menyebut nama rivalnya itu. Bahkan semalam ketika menelpon gadis itu, dan gadis itu banyak bercerita tentang nama Mario, ia dapat santai menyikapinya.
"Iya, konyol banget kan? Aku yang kecelakaan tapi dia yang pingsan. Sampai-sampai dia dijemput sama ibunya waktu pulang sekolah."
Diana jadi teringat wajah kesal Mario ketika dijemput oleh mamanya. Bibirnya cemberut dan bersi keras tidak mau ikut mamanya. Tapi ketika Diana mencoba membujuknya, pemuda itu dengan mudah menurutinya, dan berani-beraninya dia mencubit hidung Diana di depan mamanya?
"Kita telpon Mario yuk, aku jadi kepikiran sama keadaannya."
Willy langsung melakukan panggilan video melalui ponselnya sebelum Diana sempat mencegahnya. Diana semakin panik ketika panggilan itu langsung mendapat respon cepat dari Mario.
Entah apa yang membuatnya panik. Apakah Diana takut dua pemuda itu akan ribut ketika tahu dia sedang bersama Willy? Atau ia ingin menjaga sebuah hati?
"Ngapain kamu telpon pake video segala? Mama bukan, pacar bukan, kan geli tau!" Suara jawaban dari sebrang sana.
"Astaga munyuk.. Angkat telpon tuh kasih salam kek, malah ngomel-ngomel."
"Kemarin katanya habis pingsan? Trus sekarang gimana keadaan kamu?"
Diana sungguh takjub melihat dua pemuda itu berbincang santai seolah masa lalu mereka baik-baik saja. Syukurlah bila mereka benar-benar bisa berbaikan.
"Gabung sini lah, pacaran kalau cuma berdua gak seru, gak ada obat nyamuknya." Ucap Willy sambil mengarahkan layar pada gadis disebelahnya.
"Kampret kamu ya Ngek! Jangan mulai ya.. Itu pacar aku!" Mario langsung panik ketika melihat Diana yang tiba-tiba muncul di layar ponselnya.
"Pacar? Wah... Ada yang jadian tapi gak ada traktirannya nih?" Puas rasanya Willy mengerjai Mario. Pemuda itu pasti kesal bukan main.
"Enggak kok, pacar apaan sih? Jangan mengada-ngada ya.." Diana tak bisa menahan tawanya ketika melihat Mario yang langsung pontang panting disana.
"Masa kamu lupa sih Di? Kita kan udah resmi jadian kemarin? Di mimpi aku.."
Willy tak kuat menahan tawanya. Ia bahkan sampai memegangi perutnya. Konyol sekali melihat tingkah Mario yang uring-uringan di sana.
Mimpi? Ah, Diana jadi teringat kembali mimpinya semalam. Entah itu adalah kategori mimpi indah atau mimpi buruk, sebab ada sensasi mengerikan namun menyimpan rasa senang ketika ia ingat kembali.
"Congek, awas kamu macem-macem ya... Diana udah dulu ya, nanti aku telpon lagi. Aku harus pergi nganterin mama. Da..." Mario melambaikan tangan dan mengedipkan mata pada Diana yang membuat gadis itu merasa sangat malu. Pasalnya ada Willy yang melihat itu.
"Yang telpon kan aku, kenapa yang disalamin Diana sih?" Willy sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan Mario yang frontal seperti itu. Mario seperti ingin menegaskan padanya kalau gadis itu sudah ia tandai sebagai miliknya.
"Bodo amat.." tut..tut.. (panggilan terputus)
"Siapa yang pacaran sih?" Jawab Diana kesal karena pemuda itu termakan omongan Mario.
"Udah lah Di.. Sampai kapan sih mau nutupi perasaan kamu sendiri? Aku aja bisa lihat jelas kalau kamu tuh juga suka sama dia, ya kan? Kalau urusan Ayah Arman, nanti aku bantuin deh.." Ucap Willy sambil berbisik di kalimat terakhirnya.
"Bukan karena Ayah Wil, mungkin aku belum siap. Oh iya, selamat ya nilai ujian kamu keren banget. Aku jadi penasaran banget sama nilai aku. Satu angkatan kena prank pak Jamal deh gara-gara nilai ujiannya dibuat surprize saat acara wisuda perpisahan besok."
Yah, sungguh menjengkelkan hari pengumuman ketika pak Jamal hanya mengatakan "Semua siswa SMPN 15 dinyatakan lulus 100%. Tapi nilainya akan diumumkan nanti saat acara perpisahan saja ya, biar surprize. Hehehe.."
Mario adalah salah satu siswa yang paling kecewa hari itu.
"Masih lama gak ma?" Ini adalah pertanyaan ke-5 dari Mario pada mamanya.
"Kamu buru-buru mau kemana sih? Acara geladi bersih kan masih nanti sore?"
Mario kembali terdiam sambil memandangi layar ponselnya. Tak ada notifikasi balasan dari Diana membuatnya semakin kalang kabut.
"Kamu lagi kepikiran.."
"Aku gak mikirin Diana kok ma.." Jawab Mario spontan yang justru membongkar sendiri isi pikirannya. "Aduh keceplosan.." Batinnya.
"Oh, namanya Diana. Cewek yang kemarin nasihatin kamu itu ya? Hmm manis ya?" Mega, mamanya Mario pun jadi menggodai putranya itu.
"Hmm.. Baby boy mama udah mulai naksir cewek ya... Kamu yakin masih mau ke Jakarta? Nanti kalau kangen sama Diana gimana?"
"Ma..." Mario semakin meringkuk cemberut.
Mega membelai lembut kepala Mario, putra semata wayangnya itu, dan akan selalu menjadi putra tunggalnya selamanya.
Suatu peristiwa kelabu yang membuatnya tidak akan bisa memiliki keturunan lagi, ketika ia mengalami pendarahan hebat dan harus kehilangan janin sekaligus pengangkatan rahimnya.
Namun yang lebih memilukan baginya, adalah trauma yang dialami Mario kecil. Bocah itu mengalami kecemasan yang begitu hebat ketika melihat ibunya yang berdarah-darah antara hidup dan mati, menyebabkan ia mengalami phobia pada darah hingga sampai saat ini.
"Hasil tesnya menunjukkan tidak ada masalah pada syarafnya. Jadi keluhan yang dialami putra ibu kemungkinan adalah pada kecemasan yang berlebihan. Bila hal itu dirasa cukup mengganggu dan mengkhawatirkan, saya bisa buatkan surat pengantar bila ingin dilakukan terapi penanganan ke psikolog." Ucap laki-laki berjas putih yang duduk dihapan Mega dan putranya Mario.
"Tidak usah Dok, saya baik-baik saja kok." Jawab Mario sebelum mamanya sempat berkomentar.
"Kok kamu mengambil keputusan sesuka hati seperti itu? Boy, kamu kemarin sampai pingsan loh waktu lihat teman kamu lututnya berdarah di uks. Biasanya kamu cuma mengeluh pusing itu pun kalau melihat darah dalam jumlah banyak. Mama gak mau kalau phobia kamu makin parah kalau tidak ditangani, mau diterapi ya?" Ucap Mega berusaha negosiasi dengan anaknya.
"Terapi itu gak sehari dua hari ma.. Sebentar lagi aku kan berangkat ke Jakarta. Lagi pula aku baik-baik saja kok.." Mario tetap pada pendiriannya. Ia hanya berpikir tidak mau menghabiskan sisa waktunya yang tinggal beberapa minggu lagi di kota ini dengan bolak balik ke rumah sakit untuk konsultasi.
"Begini saja, kalau seandainya terjadi lagi kecemasan yang sampai menyebabkan pingsan seperti kemarin, usahakan minimal konsultasi. Mungkin kejadian kemarin selain faktor trauma, juga karena kondisi badan kamu yang kurang fit. Belum sarapan misalnya.." Ucap sang dokter menengahi antara ibu dan anak dihadapannya.
"Betul kata dokter. Kalau sampai pingsan lagi, kamu harus janji mau ikut terapi ya.." Akhirnya Mega yang mengalah. Mario pun lebih baik menyanggupi saja dari pada terus berdebat dengan sang mama yang akan selalu menjadi alfa female pada anaknya.
"Jaga pola makan dan kesehatan supaya sistem kerja otak juga bisa lebih terkontrol. Atau jangan-jangan temannya yang lututnya luka itu pacarnya ya? Makanya langsung panik sampai pingsan?" Dan sang dokter pun turut menggodai pemuda yang sedang akil baligh itu.
"Apa betul yang kecelakaan Diana?" Mega pun bertanya dengan spontan.
"Ma, gak usah sebut merk juga dong.."
Mendengar nama perempuan yang dipertanyakan oleh Mega, rupanya menjawab dugaan sang dokter. Suasana ruang dokter mendadak pecah oleh tawa sang dokter dan Mega yang membuat Mario meringis malu. Dapat ia bayangkan hal ini akan menjadi bahan ledekan sang mama seumur hidupnya.
...