
Author's cuap:
Penasaran ama kelanjutan ceritanya?
Langsung next...
9
Pacar Masa Depan
(Masih Pov. Diana)
Loh,
Itu bukannya cowok yang dikeroyok gengnya Mario kemarin malam? Kok bisa kebetulan sekali ketemu dia lagi.
Kulihat wajahnya masih terlihat memar jejak-jejak peristiwa semalam. Syukurlah ternyata dia baik-baik saja. Ternyata benar aku saja yang semalam terlalu berlebihan memikirkannya. Sampai-sampai tadi hampir saja kesiangan karena semalam terlambat tidur.
Tapi aneh sekali. Sepertinya sejak kejadian semalam, aku selalu saja dipertemukan oleh orang-orang yang terlibat peristiwa itu. Padahal selama ini aku tidak pernah bertemu dengannya di bengkel ini atau melihatnya disekitaran sini saat melewati daerah ini. Seperti berputar dalam lingkaran yang tiba-tiba selalu terkait.
Kalau sekarang saja aku tiba-tiba bisa bertemu dengan cowok ini, ya Tuhan jangan sampai besok di sekolah pun aku semakin sering dipertemukan dengan Mario. Mendadak aku merasa lingkaran ini menjadi lingkaran setan. Tidaaaak!
Meskipun aku satu sekolah dengan Mario, sejujurnya kami tak saling mengenal. Sepertinya ketika besok di sekolah, aku cukup bersikap normal seperti biasanya seolah tidak terjadi apa-apa. Tetap tidak perlu mengenal atau terlibat sesuatu yang berkaitan dengan Mario. Yah, aku tidak perlu terlalu khawatir.
Menjauh dari bengkel itu, aku teringat lagi kejadian konyol dimana cowok yang kutolong itu tampak mematung menatap kepergianku. Apa sekarang dia melakukan hal yang sama? Aku masih merasa yang dilakukannya saat itu terbilang aneh. Kalau sampai dia mengulangi lagi menatapku terus dari kejauhan, mungkin dia diam-diam naksir padaku? Hahaha.. aku terlalu percaya diri sepertinya. Penasaran, dan akhirnya aku mencoba menengok lagi ke belakang.
"Eh kok,"
Ternyata benar. Dia masih memandang kearahku. Aduh malunya aku. Itu artinya aku juga ketahuan menatapnya dong? Kenapa harus terpancing rasa penasaran yang membuatku melakukan hal memalukan. Kalau dia jadi berpikir aneh-aneh tentangku gimana? Dikiranya aku naksir.
Aku hanya tersenyum ke arahnya untuk menutupi rasa malu. Semoga tidak usah berjumpa lagi dengannya. Malu sekali..
...
Sesampainya di rumah..
"Tau gak Di, apes banget mama tadi dorong motor panas-panas, jauuuh sekali." Kata mamaku.
Beliau begitu antusias menceritakan kejadian ban bocor yang dialaminya. terutama bagian cowok yang entahlah aku lupa siapa namanya.
"Untung saja ada anak laki-laki di bengkel tadi yang tiba-tiba menhampiri mama, trus bantuin dorong.” Ucap mama yang terus asik bercerita.
“Anak yang tadi di bengkel itu masih kelas tiga smp lho.. Sama kayak kamu."
"Informasi penting kah itu ma?" Gumamku.
Fix, aku yakin banget sepertinya yang membuat mereka berkelahi benar-benar karena rebutan pacar deh. Haduh, gak banget. Tapi cewek seperti apa ya yang mereka perebutkan? Hmm.. kenapa aku jadi penasaran? Lebih baik aku tidak ikut campur lagi tentang hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa semalam. Aku tidak mau kecemplung terlalu dalam.
"Jaman sekarang masih ada anak muda yang mau membantu pekerjaan orangtua nya, apalagi yang kotor-kotoran gitu. Udah gitu kerjanya cekatan dan rapi."
Dan bla bla bla..
Mamaku terus saja masih semangat bercerita tentang cowok itu sambil kesana kemari di dalam rumah membereskan belanjaan. Aku yang duduk santai di ruang tengah menikmati sebotol air dingin pun seolah dipaksa terlibat dalam percakapan mama. Seperti biasa, mama adalah radio berjalan paling canggih di dunia.
“Kamu kok diem aja sih Di. Kamu dengerin gak sih kalau mama lagi cerita?” Ucap mama mulai kesal karena tidak mendapat respon apapun dariku.
“Iya ma.. Diana dengerin kok..” Jawabku seadanya.
"Kamu kalo cari pacar yang kayak gitu Di, yang pekerja keras. Gak manja."
“Loh, kok arah pembicaraannya jadi kesana ma?” Batinku. Aku menegakkan posisi dudukku. Menoleh penuh heran menatap mama yang masih ribet di dapur.
"Wah, berarti Diana boleh punya pacar dong ma?" eaaa' pertanyaan jebakan untuk mamaku.
"Eh, gak boleh lah. Kamu itu masih sekolah. Maksud mama besok-besok kalau kamu udah dewasa cari pacarnya.
Tapi kalau mulai dipikirkan mulai dari sekarang gak apa-apa. Biar kamu bisa memilah-milah tipe laki-laki yang baik untuk besok-besok kalau mau dijadikan pacar" Sanggah mamaku dengan panjang lebar.
Aku hanya meringis-meringis mendengar ucapan mamaku. Mamaku memang selalu memberikan wejangan pada
anak-anaknya agar tidak pacar-pacaran dulu. Beliau tidak ingin anaknya sampai lalai dalam pendidikannya karena hal-hal yang tidak penting. Apalagi kalau sampai terjerumus ke dalam pergaulan bebas.
Aku berjalan mengambil handuk hendak mandi. Lebih baik aku segera meninggalkan mamaku yang masih bersemangat dalam bercerita agar segera disudahi, dari pada topiknya berubah menjadi siraman rohani untukku. Maklum mamaku kalau sudah diajak ngobrol, radio saja sampai minder karena kalah saingan jam siarannya. Hahaha..
Peace ya ma..
😁✌🏼
...
Author's cuap:
Terimakasih teman-teman udah baca episode ini sampai habis.
Jangan lupa buat ikutin terus kelanjutan ceritanya ya...
Terakhir jempolnya dong sebagai bentuk support kamu untuk karya aku
Komen juga uneg uneg kritik dan saran yang membangun supaya karya ini bisa lebih baik lagi.
Vote juga dong..
Baca, baca, baca..