Titip Salam

Titip Salam
Terlambat!



Author's cuap:


Episode ini masih dalam rangkaian episode yang pernah hilang. Karena ada revisi penulisan jadilah makin puuwwwaaanjaang dari pada sebelumnya.


Selamat membaca..


----


#29


Matahari perlahan merayap bergeser sedikit ke arah Barat. Namun teriknya masih terus memancar menghangatkan Bumi.


Beberapa murid berseragam bela diri bersiap untuk memulai sesi latihan seolah tak gentar melawan terik yang masih cukup untuk membuat seragam mereka dari kering menjadi basah oleh peluh dan lelah. Semangat mereka begitu besar untuk layak beekompetisi di ajang bela diri tingkat Kabupaten yang memang diadakan setiap tahunnya.


Diana sudah bersiap-bersiap di pinggir lapangan. Perutnya sudah cukup terisi oleh jajanan dan air putih yang memang setiap hari dia bawa dari rumah.


"Diana, pakai ini di kaki kamu yang cidera kemarin agar tidak terlalu banyak pergerakan dulu di sana." Seseorang datang dan langsung menyerahkan biocrepe, pembalut coklat elastis pada Diana.


Dia adalah kak Ari, pelatih bela diri nan tampan, muda, dan kharismatik ini entah mengapa seperti ada perhatian khusus pada Diana. Entah Diana menyadarinya atau tidak.


Rosa yang duduk di samping Diana sampai dibuat tercengang oleh drama yang ia saksikan di hadapannya.


"Gak usah kak, terimakasih. Saya sudah punya sendiri. Ini mau saya pakai." Kata Diana sambil menunjukkan biocrepe miliknya.


Benar, itu adalah biocrepe pemberian dari Congek yang dibawakan melalui Silvi kemarin.


"Owh, baguslah kalau kamu sudah punya. Pakai terus sampai cidera kamu benar-benar sembuh." Ucap kak Ari sambil memasukkan kembali biocrepe miliknya ke dalam tas.


Rosa melihatnya. Ada raut kecewa di wajah kak Ari. Sekali lagi, niat baik kak Ari tidak bisa sampai pada Diana. Dia kalah start kali ini.


"Di, kak Ari perhatian banget sama kamu." Ucap Rosa selepas kak Ari yang menjauh.


"Apaan sih Rosa. Biasa aja kayaknya." Jawab Diana.


"Apa kak Ari bakalan perhatian juga kalau aku yang cidera ya?" Tanya Rosa sambil mengkhayal.


"Ya iyalah Ros, kita kan sama-sama muridnya. Pasti dia akan memperlakukan kita sama." Jawab Diana dengan entengnya.


"Kok aku gak yakin sih.."


Diana menatap heran.pada Rosa. Sebetulnya dia juga merasa demikian. Namun, dia selalu berusaha menepis semua pikiran-pikiran itu. Takutnya nanti dia malah yang ke-ge'er-an.


Latihan pun dimulai. Ini adalah persiapan untuk kompetisi sebelum akhirnya mereka akan diseleksi lagi.


Sepuluh orang putra dan sepuluh orang putri akan disaring lagi menjadi tiga orang putra dan tiga orang putri.


Pemanasan dilalui dengan waktu yang lebih lama dengan panas yang masih menyengat. Tentu saja rasanya bukan pemanasan melainkan kebakaran.


Seragam mereka pun mulai nampak basah oleh keringat.


Pemanasan selesai dan dilanjutkan dengan materi jurus-jurus baru. Mereka harus segera menguasainya agar sebelum kompetisi, mereka benar-benar mumpuni dan sejajar dengan peserta lain dari berbagai sekolah se Kabupaten.


"Paraaaah.. Capek banget Di.. Latihan kali ini yang tersuper deh pokoknya.." Keluh Rosa seusai latihan sambil kipas-kipas karena gerah.


"Iya Ros, namanya juga buat kompetisi." Balas Diana yang tak kalah lelahnya.


Botol minum ukuran besar yang semula penuh terisi air mineral yang ia bawa dari rumah itu pun sudah kering, habis ia minum. Perutnya pun sudah mulai berisik lagi meminta asupan nutrisi.


Jajanan pentol korea yang ia beli tadi hanya mengganjal sesaat saja. Energi yang dihasilkan pentol korea itu tidak sebanding dengan yang Diana keluarkan untuk latihan yang cukup berat ini.


"Pulang yuk Di.." Ajak Rosa.


"Ya udah ayok.. Aku juga laper banget. Tadi buru-buru berangkat lagi. Jadi gak sempat makan siang dulu." Keluh Rosa sambil ikut mengelus perutnya.


"Ntar dulu ya Ros, aku mau ke kamar mandi. Aku mau ganti jaket dulu. Risih basah keringat."


"Okey, Aku tunggu sini ya.."


Diana segera ke kamar mandi di dekat sana, melepas seragam bela diri yang bau dan basah keringat dengan jaketnya yang baru saja dikembalikan oleh Rian tadi pagi.


Beberapa menit kemudian diana keluar dengan setelan jaket abu-abu miliknya.


Dari arahnya berdiri, Diana dapat melihat lorong panjang dengan pintu kelas berderet memanjang hingga area halaman belakang sekolah. Dia melihat beberapa murid laki-laki berjalan dari arah halaman belakang. Mereka mengenakan setelan jersey bola sambil menenteng sepatu.


Sepertinya di lapangan belakang juga sedang ada latihan bola. Kompetisi olahraga tingkat Kabupaten memang akan segera dimulai. Otomatis sekolah akan menambah jam latihan dalam berbagai cabang ekskul olahraga sebagai persiapan kompetisi. Salah satunya bola.


Secara, sudah dua kali sekolah ini meraih juara pertama, maka tahun ini mereka tentu tidak ingin lengah yang menyebabkan tropi itu berpindah ke sekolah lain. Karena mempertahankan lebih sulit dari pada meraih. Betul tidak?


Diana tertegun beberapa saat. Wajahnya mulai menunjukkan kecemasan.


"Astaga, pasti Mario juga ada di sana." Gumam Diana.


Diana merasa enggan bila harus berjumpa lagi dengan Mario. Sudah cukup Mario membuatnya uring-uringan tadi siang.


Diana memutuskan untuk segera pergi dari situ. Dia cepat-cepat berjalan menuju tempatnya semula dimana Rosa menunggunya dan segera pulang.


Terlambat!


Tanpa Diana sadari, sepasang mata telah menemukannya. Mario sudah berdiri di sana. Menatap punggung dengan setelan jaket yang ia kenal.


Meskipun jaraknya cukup jauh, mata Mario masih sangat sehat untuk mengenalinya. Mario pun dibuat mematung beberapa saat. Menatap punggung itu berjalan cepat dan semakin menjauh.


Matanya fokus hingga tak berkedip sedikitpun. Jaket itu, jaket abu-abu yang sama dengan jaket abu-abu yang dipakai oleh seseorang di malam itu. Seseorang yang telah melawannya dengan menendang perutnya begitu keras di depan teman-temannya.


Mario ingin menyangkal apa yang dia lihat. Otaknya seolah masih tidak dapat menerima bahwa yang menendangnya waktu itu ternyata seorang perempuan.


Ternyata anak laki-laki yang dihadangnya beberapa waktu lalu itu berkata jujur. Jaket itu adalah milik Diana.


Mario telah menemukannya. Apa yang akan dia lakukan kemudian pada Diana? Apa Mario akan membalasnya? Membalas dengan menendang balik seorang perempuan?


...


Author's cuap:


Setelah ditulis ulang dengan beberapa revisi, ep #28 yang ilabg kemarin malah jadi dua bab.


Gak apa apa ya...


Semoga dag dig dug emosi nya tetep nyampe ke imajinasi kalian.


Terimakasih banyak yang udah baca sampai selesai,


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, comentnya


👍🏼


Kalau kamu suka banget karya aku, jadikan favorit kamu dan vote juga..


🙏🏻😘