
#39
"Bro," Ucap Salim pada seseorang yang sedang duduk di depannya. Willy.
Willy yang sedang membaca buku sambil mengenakan headphone sontak menoleh.
"Kenapa?" Tanya Willy.
Salim tidak menjawab pertanyaan tersebut. Salim malah tersenyum sambil menaik turunkan alisnya seperti sedang menggodai Willy.
"Apaan sih? Geli tau gak!" Willy merasa heran dengan tingkah temannya itu.
"Gak usah sewot gitu dong Ngek. Nih.."
Salim menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna hitam yang begitu familiar.
"Akhirnya setelah sekian lama, kamu dapat cash back." Ucap Salim dengan memasang wajah yang terus menggodai temannya itu.
"Cash back, cash back, emangnya belanja dapat cash back. Feed back kali.." Ucap Willy sambil terkekeh pelan.
"Yaelah Ngek, beda tipis juga. Pokoknya yang back back gitu lah."
Willy menerima kotak itu dengan perasaan campur aduk. Dia menghembuskan nafas pelan membuang resah yang tiba-tiba melanda dirinya. Bagaimana tidak, kotak itu adalah kotak yang sama dengan kotak hadiah yang dia titipkan melalui Salim agar diberikan pada Diana melalui teman bimbelnya. Hanya saja sebelumnya dia tambahkan beberapa lapis kertas pembungkus.
"Kenapa dikembalikan?" Batin Willy.
Salim sudah celingukan seperti cacing kepanasan menunggu Willy membuka kotak itu.
"Apaan sih isinya?" Salim benar-benar penasaran.
Salim sudah merasa gatal ingin membukanya dari kemarin ketika benda itu sampai di tangannya. Tapi dia tidak berani lancang. Salim benar-benar menjaga amanah dengan baik.
Dia hanya mendapat kisi-kisi dari Silvi, teman bimbelnya. (Kisi-kisi, udah kayak soal ujian aja pake ada kisi-kisinya. Hehehe..) Kata Silvi "Isinya tuh bikin melting, meleleh pokoknya."
Salim bingung dibuatnya. "Masak isinya setrika? Tapi kok kotaknya kecil. Apa mungkin korek api ya? Tapi kan Congek gak ngerokok. Ngapain dikasi korek api?" Gumam Salim dalam hati.
Willy membuka segel selotip pada plastik bening transparan yang membungkus kotak itu. Dengan dada yang berdebar kotak itu dibuka perlahan.
Willy tersenyum pahit. Wajahnya menunjukkan kekecewaan setelah mengetahui isi kotak itu. Ternyata kotak dengan isian yang sama. Barang itu sengaja dikembalikan rupanya.
"Wah.. Jam tangan." Salim tampak antusias.
Sesaat kemudian alisnya tampak mengkerut melihat ada keganjilan disana.
"Tapi kok bentuknya kecil kayak jam tangan cewek." Lanjut Salim.
"Emang jam tangan cewek Lim.." Ucap Willy menyentuh isi dari kotak itu.
Tidak ada yang berubah pada isi kotak itu. Masih sama persis seperti ketika dia membungkusnya untuk pertama kali sebelum diserahkan pada Diana.
"Masak sih dia gak tau kalau ini jam tangan buat cewek? Kan bisa nanya ke penjualnya kalau gak ngerti jam tangan cowok kayak gimana." Salim juga ikut kecewa jadinya. Namun sudut pandang kekecewaan Willy berbeda.
"Bukan gitu Lim. Ini emang jam tangan cewek yang sengaja aku beli buat dia."
"Maksudnya hadiah kamu kemarin dibalikin sama dia?" Tanya Salim yang dibalas anggukan lemah oleh Willy.
Wajah Salim seketika menjadi iba. Tangannya menepuk pelan pundak temannya itu. Salim merasa perasaan temannya sudah tidak disempurnakan alias bertepuk sebelah tangan.
"Apa maksudnya kamu ditolak?"
"Gak tau." Jawab Willy dengan lemas.
"Sabar sob.. Kamu harus menghargai keputusan dia. Mungkin dia udah punya pacar atau gebetan."
Eh,
Salim menepuk-nepuk mulutnya dengan telapak tangan melihat perubahan wajah Willy yang semakin murung.
"Sorry sorry Ngek, mulut aku emang remnya blong. Aku gak ada maksud bikin kamu sedih.." Ucap Salim yang merasa tidak enak.
"Apaan sih Lim. Gak usah melow gitu dong. Santai aja.." Willy jadi terkekeh pelan melihat reaksi temannya.
"Yah habis muka kamu langsung ditekuk gitu. Aku kan jadi gak enak. Lagian kenapa gak ngejar yang pasti-pasti aja sih?" Ucap Salim.
"Maksud kamu?" Willy pura-pura bertanya. Padahal dia sudah tau arahnya akan kemana.
"Yah gak tau Lim. Namanya perasaan gak bisa dipaksain. Aku gak ada rasa sama Lala. Biasa aja." Ucap Willy sambil memainkan jam tangan di tangannya itu.
"Aku jadi penasaran cewek yang kamu taksir itu kayak gimana sih?" Tanya Salim pada dirinya sendiri.
"Mending gak usah tau, ntar kamu ikutan naksir."
"Sialan, aku gak mungkin makan temen Ngek.. Karena kamu udah kekeuh sama cewek pilihan kamu, boleh gak kalau aku usaha ngejar Lala nih?"
"Terserah! Udah buruan balik kelas sana. Bentar lagi bel istirahat habis." Willy mengusir halus temannya itu sebelum pembicaraannya melantur kemana-mana.
"Yaelah Ngek, ngusirnya nyakitin tau. Tapi soal Lala serius ya? Jangan nyesel ya?" Salim masih terus menggodai Willy.
"Iya terserah kamu aja. Gak usah ijin juga ke aku."
"Thanks ya bro. Hahahaaay.." Salim melompat kegirangan sambil berjalan meninggalkan kelas Willy.
Willy hanya menggelengkan kepala menatap energi kebahagiaan yang meletup-letup dari temannya itu.
Sesaat kemudian mata Willy kembali beralih memandang jam tangan yang ia mainkan sedari tadi.
"Huh, kenapa dibalikin Di? Apa kamu lebih memilih Mario?" Gumam Willy.
Willy mengembalikan jam tangan itu dalam kotaknya lagi. Matanya menangkap ada sesuatu yang berbeda disana. Note itu.
Willy meraih secarik kertas kecil yang bertuliskan kata-kata dengan tinta biru hasil tulisan tangannya, dan dibaliknya ada deretan kata-kata yang ditulis dengan tinta hitam.
"Kalau kamu bukan pengecut,
serahkan barang ini
dengan tanganmu sendiri."
Begitulah yang tertulis disana. Begitu rapi dan cantik. Namun kata-kata yang tertulis terkesan pedas dan tidak ramah. Tulisan tangan Diana.
Aneh! Willy malah sangat menyukai gaya bahasa yang lugas seperti itu. Entah karena gaya bahasanya, atau karena yang menulis adalah Diana? Entahlah, yang jelas mood Willy yang melempem kini kembali bersemangat.
"Jadi, kamu mau aku yang datang sendiri? Oke!" Begitu ucap Willy pada benda mati didepannya kemudian meletakkannya kembali dalam kotak.
Willy menghembuskan nafasnya pelan. Bibirnya menyunggingkan senyum.
"Aku akan kejar kamu Di, terserah bagaimana nanti akhirnya."
...
Author's cuap:
Be a gentleman Willy,
Terkadang perempuan lebih suka yang nyata dan terus terang.
Gak usah kucing-kucingan
to the point ajaaah
Ya gak sih...
Makanya nih, buat cowok-cowok yang mau deketin cewek, biar gak kosongan alias bego-bego amat, baca dulu "Diktat Dasar-Dasar Tentang Perempuan"
Wah, Dijamin belum khatam bacanya, ceweknya udah keburu digebet orang.
Hahaha..
Becanda..
Yang gak becanda tuh, dukungan kalian readers tersayang..
Klik like 👍🏼 komen juga ya..
Kalau poinnya banyak boleh dong bunga 🌹 kopi ☕ nya..
Vote juga yaa..
Terimakasih..