
#37
Terangnya lampu ruangan berganti kuning temaram. Seorang gadis sudah tertidur pulas disana, sedangkan satu lagi sedang menutup jendela-jendela dunia yang berserakan di atas meja untuk kemudian disimpan dalam tas.
Kini giliran alat tulis. Satu persatu pensil dan pulpen mulai tergenggam dan bersama-sama masuk dalam kotaknya.
Beberapa kertas coretan yang tidak penting akan diremas membentuk bola bola kertas dan tenggelam dalam keranjang sampah. Sementara kertas dan benda lain yang masih berguna akan segera masuk tersimpan rapi dalam laci.
Tunggu!
Mata Diana menangkap sebuah benda asing dalam lacinya.
"Bingkisan itu.."
Tangan Diana meraihnya dan meletakkannya di atas meja. Ada rasa gusar dalam hatinya.
Pikirannya melayang pada bayangan Mario tadi siang. Mario mengulurkan tangan memberikan ucapan selamat padanya.
"Apakah itu termasuk perlakuan spesial?" Tanya Diana dalam hati.
Jujur, Diana sulit mempercayai Mario. Dia tidak dapat menebak apa yang diinginkan Mario sebenarnya. Apa maksud semua perlakuan Mario yang menurut fansnya dapat dikategorikan spesial terhadap dirinya.
Diana merasa berbuat salah pada peristiwa pengeroyokan itu pada Mario. Seharusnya Mario menaruh dendam dan berusaha membalas perbuatan Diana malam itu.
Tapi Mario sendiri berkata tidak ada maksud balas dendam dan malah memberikan perhatian lebih pada Diana. Baik berupa titipan salam melaui teman-teman Diana, ucapan selamat, tanya-tanya kabar, bahkan sekarang ada bingkisan yang langsung diberikan oleh Mario sendiri untuknya.
Diana merasa takut terbawa perasaan senang karena merasa diistimewakan. Dia sekuat tenaga menepis semua rasa ge-er yang timbul dalam hatinya.
Ada ketakutan ini adalah trik Mario yang pura-pura menyentuh hati Diana, lalu nantinya dia akan mengacuhkannya seperti yang terjadi pada Stefi. Diana tidak ingin sampai patah hati. Apalagi bila patah hati untuk laki-laki seperti Mario. Sungguh tidak layak menurut Diana.
Tapi bingkisan itu sudah beberapa hari dia acuhkan begitu saja dalam laci. Hingga akhirnya dia mulai penasaran apa isinya saat ini.
Diana membuka lapis demi lapis bungkusan yang memnyembunyikan sesuatu di dalamnya.
"How to Say Sorry?" Ucap Diana memlafalkan tulisan yang ia baca.
Begitulah yang tertulis di atas secarik kertas tebal yang menjadi selimut kertas-kertas lain dibaliknya. Cover sebuah novel.
Diana membolak balik cepat tiap halamannya. Hingga pada halaman terakhir ada secarik kertas terjatuh.
Diana meraihnya. Ada seutas senyum tersungging di bibirnya.
Aku belum membacanya,
kapan-kapan ceritakan saja
bagaimana isinya.
Baca sampai habis ya..
Anggap ini pr buat kamu.
Semoga kamu suka.
Begitulah yang tertulis disana.
"Idih, ngasi pr? Enak aja. Kalo gini namanya bukan hadiah. Tapi nambah beban." Gumam Diana sambil tertawa.
Diana melihat ada tinta merah di pojok bawah pada lembar polos dalam novel itu.
Aku gak tau cara meminta maaf yang benar.
Diana, mari berteman.
Mario.
Diana merasa bergetar. Jantungnya berdetak tidak normal. Hatinya tersentuh, namun logikanya berusaha menolak.
Haruskah Diana berdamai?
...
Keesokan harinya.
"Diana, nih.."
Silvi datang dan menyerahkan sebuah bingkisan.
"Ya ampun Di, kok kamu jadi sering dapat hadiah sih?" Hera nampak antusias melihat sebuah kotak kecil di atas bangku Diana.
"Iya nih, lama-lama aku kasih tarif ongkir ya.." Canda Silvi.
"Buruan buka Di.." Rida ikut bersemangat.
"Maaf ya Sil, aku jadi gak enak sama kamu. Kamu tolak aja lain kali." Ucap Diana.
"Santai aja Di. Aku gak masalah kok. Malahan aku yang selalu nungguin ada titipan apa lagi buat kamu. Hehehe.." Ucap Silvi jujur.
"Ya udah buka. Keburu jam istirahatnya habis." Ucap Rida.
Tidak tahan dengan desakan teman-temannya, Diana pun membuka bingkisan itu. Sebetulnya dia pun ikut penasaran dibuatnya.
Sebuah jam tangan merk Daniel Wellington berbentuk bulat kecil warna perak dengan tali bahan kulit warna coklat, begitu manis dalam kotaknya.
Ada sebuah catatan kecil disana.
Aku harap kamu mau menerimanya.
Begitu yang tertulis disana. Tidak ada nama pengirim atau minimal tanda tangan. Hanya ucapan itu saja.
Diana merasa tidak pantas menerima hadiah ini. Menurutnya ini sudah terlalu berlebihan. Apalagi dia tidak mengenal siapa pengirimnya dan ada maksud apa mengirimkan hadiah seperti ini.
"Aku tau." Ucap Hera tiba-tiba.
"Tau apaan?" Tanya Rida.
"Jam tangan ini mungkin saja ada pasangannya." Ucap Hera dengan penuh keyakinan.
"Maksud kamu?" Tanya Diana bingung.
"Iya, jam tangannya couple alias ada sepasang. Jadi kamu dikasih jam yang cewek. Nah, yang cowok ada sama dia." Terang Hera.
Semua manggut-manggut sambil menyerukan huruf "Ooo.."
"So sweet banget ya.." Ucap Rida.
"Hu-ump.." Silvi mengangguk menyetujui.
Diana sebaliknya. Dia tidak merasa senang. Dia tertegun melihat hadiah itu.
"Sepertinya akhir-akhir ini aku sering mendapat bingkisan." Batin Diana.
Zahra, tiba-tiba datang setengah berlari menuju kerumunan gadis gadis yang masih terkagum memandang sebuah jam tangan cantik di depan mereka.
"Guys, tau gak kalian?" Ucap Zahra dengan terengah-engah.
"Ya gak tau lah. Ada apa sih?" Sambar Rida.
"Napas dulu Za. Kayak habis dikejar setan aja." Sahut Silvi.
"Iya nih, minum dulu." Hera memnyerahkan botol minum miliknya.
Zahra langsung menyambar botol itu dan meminum beberapa teguk hingga nafasnya mulai normal.
"Si Stefi.." Ucap Zahra sedikit berbisik.
"Hah? Stefi kenapa?" Hera meninggikan suaranya tampak begitu panik.
Zahra menekan telunjuknya di bibir memberi tanda agar Hera memelankan suaranya.
Melihat reaksi Hera, Diana langsung memiliki firasat buruk. Apalagi Zahra datang memberi kabar dengan tergopoh-gopoh.
"Ya Tuhan.. Apa jangan-jangan Stefi kena musibah? Atau jangan-jangan Stefi bunuh diri karena patah hati?" Batin Diana.
Diana mulai terbawa suasana yang tegang. Seketika hawa dingin menyelimuti tubuhnya.
"Stefi anak kelas dua? Yang ngejar-ngejar Mario itu?" Tanya Silvi yang dijawab anggukan oleh Zahra.
"Kenapa dia?" Tanya Rida mengulang pertanyaan Hera.
Diana menjadi cemas. Dia terdiam. Telapak tangannya terasa dingin. Dia benar-benar takut apa yang dia pikirkan adalah benar.
Seketika bayangan Stefi yang sedang memandang kesal ke arahnya di sudut gerbang siang itu terlintas dipikirannya.
"Stefi.. Apa sungguh harus sampai sejauh itu?" Batin Diana.
...
Author's cuap:
Aduh.. Klo patah hati harus tetap waras ya..
Syedih boleh, tapi jangan sinting.
INGAT WOY..
Kita punya TUHAN dan Orang-orang yang menyayangi kita..
Dan terakhir,
Masih ada MBAH DUKUN yang siap mensupport kisah cintamu yang tidak sempurna.. (Hahahaha.. becanda ya guys,, biar gak tegang..)
Eits, jangan lupa jugaaa
Like, Vote, Bunga Kopi nya ya...
๐๐ผโค๏ธ๐๏ธ๐นโ
Komen juga dong
Biar makin greget..
Terimakasih
๐๐ป๐๐ป