Titip Salam

Titip Salam
Mencoba Move On



#133


Mencoba Move On


 


“Jika menggapaimu begitu sulit maka merelakanmu jauh lebih sulit. Tapi aku harus melakukannya.” Willy bermonolog dalam hati.


Sebuah ungkapan hati yang terlalu dalam untuk remaja seusia Willy. Terdengar konyol namun itulah masa menuju kedewasaan. Penuh dengan kobaran semangat dalam pencarian jati diri yang begitu berapi-api.


Willy hanya bertengger di atas sepeda gunungnya, menatap Diana yang sedang tertawa bersama Mario di depan gerbang sekolah. Sungguh pemandangan yang membuat hatinya tercubit.


“Sepertinya tidak ada yang perlu dicemaskan.”


Willy memutar balik sepedanya dan mengayuh pedalnya untuk kembali menuju bengkel om Rudi.


Willy memang tak ada niatan untuk mendekat meskipun hanya untuk sekedar menyapa. Ia hanya memastikan kalau foto yang ditunjukkan oleh Lala tadi tak lantas membawa masalah baru yang mungkin membuat Diana dalam kesulitan.


Foto itu dapat terwujud juga karena skenario yang ia buat dengan Mario agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Oleh karenanya, Willy juga akan merasa bersalah bila Diana mendapat masalah dari kejadian pada hari itu.


“Balik-balik kok mukanya asem?” Cibir om Rudi yang mendapati keponakannya itu dengan raut wajah yang ditekuk.


“Gara-gara cuaca panas om,” Jawab Willy beralasan. Cuaca memang begitu panas, sepanas hatinya saat ini.


“Gak usah bohong. Om tau kamu lagi gak enak hati kan? Ditolak cewek ya? Hahaha...” Ledek Om Rudi yang sontak membuat Willy tersenyum kecut.


“Move on lah.. Masa tampang ganteng, bintang basket, ditolak cewek langsung asem gitu.”


Willy akhirnya bereaksi. Tak tahan juga mendapat ledekan bertubi-tubi dari om-nya satu ini.


“Siapa yang ditolak sih om? Sok tau! Seorang Willy gak akan patah hati hanya karena satu cewek.” Ucap Willy dengan penuh percaya diri yang justru membuat om Rudi terkekeh geli. Pubertas memang masa-masa yang terlihat konyol bila disaksikan oleh mereka yang sudah pernah mengalaminya.


Mengenai move on, Willy jadi teringat gadis manis yang ia temui di galeri seni waktu itu. Nomor kontak yang belum ia tengok sedikitpun setelah ia menyimpannya. Ah, mungkin ini saatnya mengenal seseorang yang baru.


Willy mengeluarkan ponselnya dan mencari nama kontak gadis itu. Sofia.


Lama ia terdiam di depan layar kosong hanya untuk mencari kalimat pembuka sebelum mengetiknya. Willy merasa bingung harus memulai dari mana. Ia tidak biasa untuk berkenalan lebih dulu dengan seseorang melalui cara seperti ini.


Willy kembali teringat caranya berkenalan dengan Diana. Semua dimulai dengan menitipkan salam, mengiriminya sepucuk surat, dan hadiah-hadiah kecil sebelum akhirnya benar-benar berkenalan secara langsung. Tidak sesulit yang dibayangkan bukan?


*Hai, cantik


Masih ingat aku?


Aku Willy, cowok yang di galeri seni kemarin.


Boleh kenalan? (emoticon senyum lebar berderet tiga)


 


Kirim.


 


Willy tersenyum geli membaca pesan yang ia tulis. Apa tidak terkesan terlalu genit?


“Habis manyun, sekarang senyum-senyum sendiri. Lama-lama Om ngeri sama kamu Wil.. Kayaknya Om kudu lapor mama kamu deh biar dijadwalkan konsultasi ke psikiater.” Celetuk om Rudi melihat perubahan tingkah Willy.


“Rese banget sih Om.. Emang aku ada gangguan jiwa apa?” Willy mencebikkan bibirnya.


“Sekilas kelihatannya kayak gitu. Hahaha...”


“Eh, mau kemana lagi kamu?”


“Mau pulang. Males di sini ada yang nyinyir mulu.” Ucap Willy yang dihadiahi lemparan kain lap kumal dari om Rudi.


“Sialan! Sama orang tua gak ada sopan santun. Masa om sendiri dikatain nyinyir.” Kini ganti om Rudi yang merengut kesal dan berhasil membuat Willy cekikikan penuh kemenangan.


“Tumben ngaku tua Om? Hahaha...” Willy pun menambah panas suasana.


“Pulang sana! Aku aduin ke mama kamu nanti ya..” Ucapan Om Rudi yang hanya di balas juluran lidah oleh sang keponakan.


Willy pun pamit dan tak lupa mencium punggung tangan om Rudi sebagai bentuk penghormatan pada orang yang lebih tua sesuai didikan kebiasaan adab berperilaku yang diajarkan orang tuanya. Meskipun tangan om Rudi tampak kotor oleh bekas oli dan debu mesin motor, tapi Willy tak segan mencium punggung tangan itu karena sudah menjadi kebiasaannya.


Om Rudi bangkit dan berdiri mensejajarkan dirinya dengan Willy agar keponakannya itu dapat menyalaminya dengan mudah. Keponakan yang sudah seperti putranya sendiri itu tak terasa sudah berperawakan setinggi dirinya. Apalagi gelagat pubertas dan tanda-tanda kedewasaan mulai nampak pada pemuda akil balig itu.


“Sekarang keponakan kecil om udah gede ya?” Om Rudi menyikut lengan Willy setelah keponakannya itu berpamitan padanya. Willy sempat cemberut mendapat sebutan sebagai ponakan kecil. Ia lantas membalas dengan menyikut balik lengan om kesayangannya itu sambil tertawa.


Willy pun berlalu melajukan kuda besinya menuju rumah. Fisik dan hatinya terasa begitu lelah. Ia benar-benar butuh istirahat.


Sementara di sisi lain, Mario sedang tersenyum dengan mengendarai sang red fire. Matanya terus terus tertuju pada angkot yang berada di depannya. Sesekali ia kedipkan matanya ketika seorang gadis yang duduk di deretan paling belakang dekat jendela di dalam angkot tersebut menoleh ke arahnya. Diana di sana.


Melihat Mario yang mengikuti angkot yang ia tumpangi membuat Diana merengut heran. Ia sudah menolak ajakan pemuda itu untuk mengantarnya pulang, namun yang dilakukan pemuda itu kini adalah mengawalnya pulang. Benar-benar manis tapi menyebalkan.


Diana pun dibuat semakin tersipu malu ketika sesekali ia mendapat kedipan mata ketika melirik ke arah belakang. Ia harus menyembunyikan senyum yang samar-samar terbit mengingat kondisi angkot yang penuh dengan penumpang.


Diana merasa terintimidasi dengan situasi yang membuat dadanya bergemuruh hebat. Pasalnya ia merasa banyak pasang mata yang sedang memandanginya dan Mario yang berada di sisi luar angkot bergantian. Hal tesebut membuat Diana hanya mampu menundukkan kepala menyembunyikan rona di pipinya dan mengendalikan dirinya agar bersikap wajar tidak terlihat salah tingkah.


Mario terus membuntuti angkot yang ditumpangi Diana sampai Diana turun dan menghilang melalui gang sempit untuk meneruskan perjalanan menuu rumahnya. Mario bahkan sengaja menunggu beberapa saat di bibir gang ketika Diana berjalan semakin dalam di gang yang padat hunian tersebut.


“Ayo dong, noleh ke belakang Di..” Batin Mario sambil bertengger di atas motornya.


“1.. 2.. 3..”


“1.. 2.. 3..”


Berkali-kali Mario menghitung namun hitungannya selalu meleset karena langkah Diana hanya lurus ke depan. Ada hembusan kekecewaan dan terabaikan yang di rasakan Mario.


Namun mendekati ujung dari gang tersebut, Mario melihat gadis itu menoleh ke belakang. Beberapa detik yang membuat Mario kegirangan bukan main.


Ia memacu kembali red fire setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Raut kebahagiaan terpancar dari balik helm yang sengaja ia biarkan kaca penutupnya terbuka lebar. Manikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, sambil bernyanyi-nyanyi mengarungi teriknya jalanan kota.


Nikmati saja Mario, waktu kamu untuk dekat bersamanya akan segera berlalu.


.


.


Author’s cuap:


Hati-hati ya..


Jatuh cinta itu bikin kita jadi sinting di mata orang lain.


Hahaha..