
#103
Gengsi yang Mengalahkan Kejujuran
Sepeninggal sang kakak pelatih dari sebuah warung makan, meninggalkan dua anak manusia yang sedang menikmati makan siangnya sambil mengobrol. Namun obrolan mereka sedikit membuat berisik sekitarnya karena ada urat-urat emosi yang turut nampak ketika salah satunya bersuara, lalu satunya lagi akan menimpali tiada habisnya.
"Kamu kenapa sih Mar, gak sopan banget di depan Kak Ari tadi. Aku kan jadi gak enak. Tau gitu mending aku jalan kaki sendiri aja tadi kesininya." Gerutu Diana sambil melahap nasi gorengnya.
"Aku tuh cemburu, kamu gak peka banget sih. Haem..." Sendok yang menyuapkan nasi goreng ke dalam mulut Mario sampai berdenting ketika beradu dengan gigi karene Mario menggigit sendoknya begitu keras.
"Hahaha.. cemburu? Sama Kak Ari? Dia itu pelatih ekskul aku Mar."
"Tetep aja! Meskipun pelatih kamu, dia itu tetep laki-laki, masih muda, ganteng, eh gantengan aku sih..." Ucap Mario dengan mode ngambeknya. Mario benar-benar yakin pelatih yang Diana panggil sebagai kak Ari itu diam-diam menyukai Diana. Diana saja yang belum menyadarinya.
"Haish.. Lagian kamu gak ada sungkan-sungkannya ngaku cemburu terang-terangan?" Diana tertawa lepas. Dia benar-benar tak habis pikir, beberapa minggu kemarin pemuda ini menghilang dan menghindar, tapi sekarang mengapa jadi sangat posesif dan kekanakan?
"Aku tuh orang yang apa adanya. Gak kayak kamu yang suka gak jujur sama perasaan sendiri."
Deg,
"Maksud kamu?" Ucap Diana pura-pura tidak mengerti maksud perkataan Mario. Rasa gengsinya terlalu mahal untuk sebuah kejujuran yang selalu ia berusaha tutupi. Malu.
"Siapa yang tadi pagi di lorong belakang nangis-nangis?"
"Kamu jangan mati Mario.. Kamu jangan ninggalin aku.." Ledek Mario sambil menirukan Diana yang sedang sesenggukan kala itu.
Wajah Diana memerah bak kepiting rebus. Dia merasa sangat malu. Dia benar-benar tidak dapat mengontrol emosinya kala itu. Rasa cemas dan takut kehilangan menguasai pikirannya. Bahkan matanya sampai sembab ketika kembali ke kelas yang menimbulkan banyak pertanyaan dari teman-temannya.
Mario mendekatkan wajahnya kemudian berbisik "Segitu sayangnya ya sama aku?" Mario menaik turunkan alisnya menggodai Diana yang sudah meringsut mundur.
Diana semakin cemberut dibuat malu. Bibirnya terus mengunyah cepat-cepat tanpa berkata apapun. Hidungnya kembang kempis karena nafas yang tidak teratur akibat emosi, kesal, dan rasa malu yang beradu menjadi satu.
Tak ada sanggahan sama sekali dari mulut Diana membuat Mario cekikikan bahagia.
Sendokan terakhir Diana lahap dan ia kunyah cepat-cepat. Segelas es teh manis yang baru berkurang sedikit itu pun langsung ia sruput habis menyisakan bongkahan es batu yang belum sempat mencair.
Brak!
Diana meletakkan gelas dengan keras, lalu bangkit menuju gerobak tempat sang penjual yang berada di ujung warung yang tak begitu luas tersebut.
Mario sampai gelagapan karena saking terkejutnya ketika bunyi gelas yang menggebrak meja terdengar menggema. "Untung gak pecah." Gumam Mario sambil menglus dada. Namun dia benar-benar merasa geli melihat Diana yang salah tingkah seperti ini. Rasanya ia ingin mencubit dua pipi merona yang mengembung karena cemberut itu.
"Berapa pak?"
"Mau bayar sendiri-sendiri apa semuanya sekalian?" Tanya penjaga warung yang juga sibuk mengaduk-aduk nasi goreng di penggorengan besarnya.
"Sendiri-sendiri."
"Semuanya."
Ucap Diana dan Mario berbarengan yang sontak membuat keduanya berpandangan.
Bapak penjual nasi goreng hanya tersrnyum menanggapi dua anak muda yang memang sedari tadi sudah membuat berisik warungnya solah warungnya penuh oleh pengunjung.
"Kalau sendiri-sendiri lima belas ribu. Kalau semuanya jadi tiga puluh ribu." Jawab sang penjual dengan sabarnya. Mereka berdua seolah mengingatkan masa mudanya dulu. Penuh semangat dan gejolak.
"Ini Pak," Diana cepat-cepat menyerahkan uang pas pada sang penjual lalu segera berlalu dari sana.
Mario menghela nafas beratnya sambil menyerahkan uang pecahan seratus ribu pada sang penjual.
"Pacarnya galak ya mas?" Ucap Sang penjual senyum-senyum sambil mencari uang kembalian untuk Mario.
"Belum jadi pacar pak." Jawab Mario sambil menggaruk tengkuknya.
"Oh, kalau gitu semangat ya.. Cewek galak itu dapetinnya susah. Tapi sekalinya dapet pasti setia." Ucap sang penjual yang masih mengaduk-aduk laci uangnya.
"Masak sih pak?" Tanya Mario antusias.
"Saya mah udah banyak pengalaman mas, hehe.. Eh, kembaliannya gak ada. Tunggu ya, saya tukar ke warung sebelah dulu."
"Gak usah deh pak, buat bapak aja kembaliannya. Doain saya aja pak, biar bisa taklukin doi." Ucap Mario sambil segera berlalu menyusul Diana.
"Loh.. loh.. Mas.. Wah, udah lari aja." Ucap sang penjual berusaha mengejar sampai depan pintu masuk.
"Anak muda sekarang banyak uang ya? Rejeki.. rejeki.."
Mario melangkah cepat sambil celingukan mencari sosok Diana yang tak ia temukn dalam pandangannya.
"Masak sih udah ilang aja? Cepet banget?" Gumam Mario yang merasa heran sudah tak melihat bayangan Diana di depan sana. Dalam perhitungannya, meskipun Diana berlari ia seharusnya masih dapat menemukan punggung gadis itu di depan sana, kecuali ia benar-benar berniat lari sprint secepat kilat.
Pandangan Mario berkeliling. Ia menangkap sebuah kaki bersepatu kets hitam yang ia kenal sedikit bergerak merapat-rapat di belakang gapura sebuah gang.
"Ah, itu rupanya.." Gumam Mario tersenyum simpul. Apa yang ia rencanakan?"
"Huh.." Diana menghela napas sambil mengelus dadanya seolah pengungkapa sebuah kelegaan.
Tiba-tiba dua telapak tangan menepuk pundak kiri dan kanannya.
"Ba..."
"Hwaaa.." Diana berteriak lalu menoleh pada sumber suara di belakangnya, yang mana Mario cekikikan sambil memegangi perutnya di sana.
Plak, plak, plak,
Tangan Diana memukuli pemuda itu pada segala arah sambil komat kamit mengumpat karena kesal.
Sementara Mario berusaha menghalau dengan telapak tangannya sambil terus cekikikan.
Grep,
Mario meraih dan menggenggam kedua pergelangan tangan Diana yang tiada habis menyerang dirinya.
"Udah dong, bisa bonyok aku kalau kamu pukul terus-terusan." Ucap Mario yang masih mencengkeram pergelangan tangan itu meskipun pemiliknya sudah berontak.
"Kamu ngapain pake ngagetin aku?" Ucap Diana dengan nada tinggi.
"Lah kamu sendiri ngapain pake ngumpet?"
"Siapa yang ngumpet?" Diana menghentakkan pergelangan tangannya hingga akhirnya terlepas juga.
"Udah deh Di, kamu jangan suka ngeles. Tuh jerawat kamu mulai nongol gara-gara kamu suka gak jujur."
Khawatir yang dikatakan Mario benar, Diana langsung meraba pipinya. "Ah, gak ada jerawat kok.." Gumam Diana.
"Di, sekali aja aku pingin denger dari mulut kamu sendiri kalau kamu suka sama aku, please..." Ucap Mario dengan mata memohon.
"Gak!" Ucap Diana sambil berbalik akan pergi.
Mario bergerak cepat menghadang langkah Diana.
"Coba kamu tatap mata aku dan bilang kalau kamu gak suka sama aku." Wajah Mario benar-benar penuh kesungguhan.
Sungguh Diana merasa lemah saat ini. Hatinya meleleh melihat sorot mata keseriusan pemuda di depannya. Dadanya bergemuruh hebat. Bulir-bulir keringat nampak di dahinya.
Dalam hati Mario tersenyum melihat reaksi gugup Diana.
"A- Aku.." Lidah Diana terasa kelu. Berkali-kali ia menelan ludah membasahi kerongkongannya yang terasa tercekat.
"Kenapa aku jadi ga gu gini?" Batin Diana. Ah, gadis ini benar-benar tak sanggup berkata.
"Gak bisa?" Mario tersenyum bangga. Ternyata adegan-adegan seperti ini yang pernah ia tonton di tivi berkali-kali itu benar-benar berhasil.
Diana berusaha mendapatkan kontrol atas dirinya yang sempat terhipnotis oleh tatapan tajam Mario. Berkali-kali ia mengedipkan mata dan mengatur nafas. Hingga akhirnya dalam satu tarikan nafas dalam, membuka lebar-lebar matanya, dan menatap pemuda itu penuh keberanian.
"Aku gak suka sama kamu."
Wew?
"Kok?"
Senyum Mario mendadak hilang. Rasa percaya diri yang berkobar beberapa detik lalu mulai goyah.
Diana segera membuang muka. Mengucapkan satu kalimat saja rasanya sangat melelahkan.
"Udah kan? Aku balik ke sekolah, sebentar lagi les tambahannya dimulai." Ucap Diana sambil memandang ke sudut lain tak berani lagi menatap Mario yang masih tampak mematung.
Mario masih membeku ketika Diana melewatinya begitu saja. Dia dalam dilema yang mendalam. Apa yang harus ia percaya sekarang? Reaksi awal gadis itu? Atau kalimat yang baru saja ia dengar?
"Sialan! Kok gak mempan?"
Aaarrrggghhhh...
...
Author's cuap :
Ketipu sinetron ye bang???
Xixixi..
Yang abis baca..
jempolnya woooy...
Jangan lupa digoyang dong