
6
Kucing-Kucingan
(pov. Willy)
"Wil, mama mau belanja ke supermarket, kamu mau ikut?" Ucap seseorang dari balik pintu kamarku. Tentu saja beliau adalah seorang perempuan berusia empat puluhan yang masih cantik rupawan bernama Lina, mamaku.
Saat ini kami hanya tinggal berdua dirumah. Kakak perempuanku Santi sedang keluar kota beberapa hari untuk urusan daftar ulang di kampus barunya, dan sebentar lagi dia pun akan menetap di Kota tersebut hingga pendidikannya selesai.
Sementara papaku, pria jangkung kharismatik bernama Catur, merupakan seorang kontraktor yang pekerjaannya nomaden alias berpindah-pindah ke seluruh pelosok negeri menurut lokasi proyek yang beliau kerjakan. Secara fisik, papa memang tidak berada di dekat kami, tapi berkat kecanggihan teknologi saat ini, hampir setiap hari kami dapat terhubung melalui panggilan jarak jauh untuk saling berkabar. Kini, jarak tak lagi benar-benar memisahkan kami.
"Wil?" Panggil mamaku lagi.
Merasa tidak ada jawaban, beliau membuka pintu dan menengok ke dalam. Aku sebetulnya sudah terbangun dari pagi tadi. Tapi aku tidak berani keluar kamar karena takut bertatap muka dengan mamaku. Aku belum siap diberondong bermacam pertanyaan ditambah wejangan-wejangan dan diakhiri dengan hukuman kalau beliau melihat bekas-bekas pengeroyokan semalam.
"Wil, kamu sakit nak?" Beliau mendekat dan memegang keningku.
Aku memosisikan diriku memunggungi beliau dan semakin meringkuk memeluk guling seperti anak kucing yang sedang tidur untuk menyembunyikan wajahku.
"Aku gak apa-apa mah, cuma lagi agak capek aja, masih pingin tidur" Jawabku dengan suara yang dibuat parau dan malas-malas.
"Ya udah mama pergi sendiri aja. Kamu mau nitip sesuatu?"
"Enggak ma, makasih."
Mamaku tampak terdiam beberapa saat. Dadaku berdebar-debar taku kalau mamaku menaruh curiga.
"Oke deh, mama berangkat ya, sarapannya ada di meja. Nanti kalo masi ngerasa capek atau gak enak badan gak usah latihan basket dulu ya. Istirahat aja dari pada malah sakit."
"Iya mah."
Huh, Selamat..
Tak berselang lama kudengar suara pintu ditutup. Akupun bisa bernapas lega. Setelah kudengar suara motor mama menjauh, aku baru berani keluar dari kamar. Maaf ya ma.. sementara waktu kita harus kucing-kucingan main petak umpet dulu.
Aku harus segera bersiap-siap keluar rumah sebelum mama pulang belanja. Nah, karena nanti mama dapat giliran kerja shift sore, aku akan kembali ke rumah selepas mama berangkat kerja. Jadi untuk hari ini aku bisa aman dari tatap muka dengan mamaku. Cerdas.
...
Setelah mandi dan sarapan aku menyiapkan peralatan latihan basket dan baju ganti seperti rutinitasku di hari Minggu. Tapi karena jadwal latihannya masih nanti sore, sebaiknya pagi ini aku kebengkel Om Rudi saja dulu sambil menunggu waktu latihan tiba.
Om Rudi adalah adik mamaku. Dia memiliki bengkel kecil yang tidak begitu jauh dari sekolahku. Biasanya aku menitipkan motorku di bengkelnya, dan berganti sepeda gunung milikku yang sengaja kuletakkan disana untuk lanjut berangkat ke sekolah. Aku tidak bisa memarkirkan motorku di dalam gedung sekolah karena peraturan sekolah yang melarang muridnya membawa kendaraan bermotor. Maklum, karena kami memang masih SMP dan pastinya belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan bermotor karena belum memiliki surat izin mengemudi secara legal.
Sebetulnya mamaku juga melarangku membawa motor sendiri ke sekolah. Tapi karena aku memaksa dengan alasan malu kalau harus diantar jemput, dan kebetulan juga jalan kawasan perumahantempat aku tinggal tidak dilewati oleh angkutan umum. “Mama gak kasihan anaknya pulang sekolah capek, panas-panas, jalan kaki dari pintu komplek.” Begitulah kata-kata manisku sehingga meluluhkan hati sang ibundaku.
Sesampainya di bengkel om Rudi aku membuat pesan singkat (sms/short message service) kepada mamaku agar beliau tidak khawatir ketika tidak menemukan putra tampannya tidak ada di kamar. Aku sudah terbiasa melapor wajib tiap aktivitas pergerakanku pada mama. Lebih baik seperti itu dari pada kebebasan dan semua fasilitasku dicabut. Yah, sekali dua kali mungkin kelolosan. Misalnya ketika aku jalan-jalan malam menonton balap motor pinggir Kota ketika mama mendapat giliran kerja shift malam. Maafkan putramu ini ma, terkadang jiwa anak muda ini sangat menyukai kebebasan.
"Astaga *cung, kok muka kamu bisa bonyok-bonyok gitu?" Kata om Rudi yang terkejut melihat wajahku.
*cung adalah panggilan untuk anak laki-laki di daerah Gresik.
"Yah, anak laki om, biasa." jawabku sambil cengar cengir.
"Berantem ama siapa kamu?"
Plak,
“Aw,” Pukulan yang sebetulnya tidak begitu sakit sebetulnya mengenai bahu kiriku.
"Makanya, kan om sudah peringatkan! Boleh kamu main modif utak atik motor, tapi jangan pake balapan. Bukan cuma masalah resiko di jalannya, tapi anaknya resek suka emosi kalo kalah." ujar om Rudi menasihatiku.
"Aku cuma nonton om, dia nya yang nantangin duluan. Yah karena dia sok, songong, sombong, ngaku tak terkalahkan, jadinya kan aku kepancing juga. Sekalian penasaran juga pengen ngetes ketangguhan si item motorku sayang." Jawabku sambil mengusap-usap motor kesayanganku itu.
"Trus, gak diomelin sama mama kamu?"
"Mama belum tau om, jangan bilang mama ya om.. Please.." Rayuku dengan muka memelas.
"Waduh, kalo udah kayak gini mama kamu juga jangan sampe tau kalo om sudah tau muka kamu bonyok-bonyok. Bisa dapet bagian semburan beracun ntar dari mamamu."
"Santai om, semoga aja besok bekasnya udah gak keliatan"
"Udah diobatin belum tu?"
"Udah om, semalem sudah dikompres trus tadi diolesin salep."
Dengan adanya om Rudi dapat mengobati kerinduanku pada papa dan seolah menjadi pengganti sosok papa. Om Rudi juga memperlakukanku seperti anaknya sendiri.
Eits, bukan berarti hubunganku dan papa tidak baik. Kami sering melakukan panggilan melalui telpon maupun panggilan video. Kami sangat intens dalam berkomunikasi. Hanya saja kadang aku sering merindukan ayahku secara fisik yang hanya bisa berjumpa sekitar dua atau tiga bulan sekali. Kadang aku perlu sosok dewasa yang menepuk bahuku secara langsung, menyemangatiku, dan memberikan solusi secara laki-laki untuk setiap permasalahanku yang tak dapat aku bagi dengan leluasa dengan mamaku.
Om Rudi-lah jawabannya. Dengan adanya om Rudi seperti ada sosok papa yang melindungiku dari dekat. Karena mamaku juga tentu sangat mengenal om Rudi dengan baik, beliau tidak risau dan merasa yakin om Rudi turut dapat menjagaku, membimbingku, dan mengarahkanku pada hal yang positif.
Kami memiliki hobi yang sama yang membuatku nyaman untuk saling berdiskusi mengenai hobi kami. Apalagi kalau bukan tentang motor. Sebetulnya beliau jugalah yang mengenalkanku pada dunia otomotif ini.
Kami benar-benar kompak. Terutama untuk hal kucing-kucingan dengan mamaku seperti ini. Beliau benar-benar dapat diandalkan dalam berbagi rahasia.
Om, you’re the best..
...
Bersambung...
Author's cuap:
Teman-temanku pembaca tersayang..
Terimakasih sudah setia mengikuti tiap episode karyaku yang masih sangat amatir ini.
Sebelum next episode, Jangan lupa jempolnya dong...
Biar author makin semangat nulisnya..
Semoga kalian semua suka ama jalan ceritanya.
Jangan lupa komen kritik dan saran yang membangun agar karya author lebih baik lagi.
Terimakasih...