Titip Salam

Titip Salam
Misteri Sebuah Jaket



Pagi hari yang mendung. Awan-awan kelabu yang menyelimuti bumi membuat penghuninya semakin meringkuk memeluk guling atau merapatkan selimut semakin dalam. Mungkin mentari sedikit lelah pagi ini. Suasananya sejuk dan begitu dingin.


Titik-titik air mulai berjatuhan. Sedikit demi sedikit hingga membasahi kulit bumi yang merupakan berkah bagi setiap makhluk yang menghuninya.


Ini adalah hujan pertama. Andai semua orang dapat menikmatinya dengan berlarian bersama dalam guyuran hujan, bermain-main air, dan tertawa ria penuh kebahagiaan.


Tapi tidak. Ini adalah pagi yang cukup sibuk. Rutinitas harus berjalan seperti biasa. Hujan tak boleh menjadi penghalang.


Diana mengenakan jaketnya mencegah hawa dingin menembus pori-pori kulitnya sambil menegakkan payung bersiap menembus hujan sebentar sembari menunggu angkot menuju ke sekolahnya.


"Diana gak mau bareng ayah aja?" Tanya ayah yang sambil menikmati sarapannya.


"Gak usah yah, ayah masih makan gitu. Nanti Diana telat." Jawab Diana sambil mencium tangan kedua orang tuanya.


"Kalau hujannya deras sepatunya masukin kantong plastik aja Di, ntar di kelas baru dipasang." Ucap mama.


"Iyah ma, Diana berangkat."


"Mbak Di, payungin sampe becak ya mbak. Becaknya udah dateng tuh didepan." Kata Tania yang baru selesai bersepatu.


"Ayok cepet."


Dan kakak beradik itupun melangkah dalam satu payung. Namun hanya sebentar saja karena Tania hanya perlu diantar sampai menuju becak antar jemputnya.


Diana melanjutkan perjalanan, mendapatkan angkot, dan kembali berjalan beberapa meter hingga sampai di sekolah.


Kondisi kelas masih lengang. Mungkin beberapa murid akan kesiangan karena hawa dingin akan membuat mereka meringkuk ke dalam selimut lebih lama.


"Rian, baju kamu sampai basah gitu. Emang gak pake jas hujan?" Ucap Diana menyapa temannya yang sudah datang lebih dulu.


"Iya Di. Aku gak punya jas hujan. Tadi udah ngebut naik sepedahnya waktu belum deres hujannya. Tapi tetep aja basah."


"Nih, pake jaket aku aja. Dari pada masuk angin." Kata Diana sambil menyerahkan jaket yang semula ia pakai.


"Wah, gak apa-apa nih? Makasih ya.." Rian pun tidak menolak bantuan Diana karena memang badannya mulai merasa kedinginan.


Keadaan kelas perlahan mulai semakin ramai. Beberapa ada yang mengobrol dan ada pula yang sedang menyelesaikan pr.


Hujan berangsur-angsur reda. Debu-debu halus tersapu bersama aliran air, menyisakan udara bersih yang menyejukkan rongga dada setiap mahluk yang menghirupnya.


Murid-murid dengan riang gembira menyambut dering bel sebanyak tiga kali pertanda sekolah telah usai. Pedagang jajanan siap menyambut rupiah dari kantong-kantong generasi muda yang tengah lapar akan dagangan mereka.


Sebagian dari mereka ada yang menyempatkan untuk nongkrong sebentar dengan teman-teman, ada yang melanjutkan jadwal ekskul, dan yang lainnya lebih memilih segera pulang.


Bagaimana dengan murid yang bernama Mario, salah satu icon SMPN 15 itu?


Dia tipe anak yang bebas. Dia biasa nongkrong sebentar di warung kopi sebelum pulang ke rumah. Menikmati secangkir kopi dan beberapa gorengan.


Merokok? Mario bisa dibilang bersih sebagai perokok aktif. Menurutnya, merokok dapat menurunkan stabilitas kinerja paru-parunya yang akan membuatnya cepat lelah di lapangan. Betul sekali pola pikirmu Mario.. πŸ‘πŸΌ


Mario tampak menyeruput kopi panas yang baru saja tersaji di warkop dekat sekolah langganannya. Sesekali dia melambaikan tangan bila mendapat sapaan dari kawan yang mengenalnya.


Tak seperti biasanya, dia mendadak meraih kunci motor, pergi memacu motornya yang selalu diparkir disana sebelum kopinya habis. Tampak raut wajah yang tegang dan penuh emosi.


Dia mempercepat laju motornya. Semakin cepat dan semakin cepat hingga tiba-tiba menghadang seorang pengendara sepeda.


"Hei, turun kamu!" Ucapnya pada seorang anak laki-laki pengendara sepeda itu.


"Ada apaan?" Jawab anak itu heran.


Mario mendekat dan langsung mencengkram kerah baju anak itu.


"Ternyata kamu yang nendang perut aku malam itu? Kamu udah ikut campur urusan aku ditambah bikin masalah sama aku." Kata Mario dengan penuh amarah.


"Gak usah pura-pura kamu. Jawab jujur atau kamu mau babak belur?" Ancam Mario sambil memperkuat cengkeramannya.


"Sumpah aku gak ngerti maksud kamu Mario." Anak itu tampak mulai gemetaran melihat Mario mulai mengepalkan tangannya.


"Heh, Aku gak buta. Aku inget betul jaket ini. Jaket yang kamu pake waktu nendang aku malam itu kan? Kamu udah cari masalah ama aku. Rasain ni.." Mario mengangkat tinggi tangannya hendak memukul wajah anak itu.


"Stop! Stop! Tunggu Mar! Ini bukan jaket aku, sumpah! Ini jaket temen aku. Tadi aku dipinjami karena baju aku basah kehujanan. Ampun Mar, sumpah aku gak tau apa-apa."


Mario menghentikan aksinya. Dia benar-benar masih mengingat kejadian itu. Seseorang datang dengan berjaket abu-abu yang memiliki noda kehitaman di lengan kanannya yang mungkin terkena cat atau luntur ketika dicuci. Persis sekali dan tidak salah lagi. Jaket yang dilihatnya ini adalah jaket yang sama.


Namun mustahil anak penakut ini adalah orang itu. Dia yakin orang yang menendangnya itu sangat pemberani dan kuat terasa dari tendangannya yang begitu keras. Apakah mungkin anak ini hanya berpura-pura lemah?


"Trus, ini jaket siapa?" Tanya Mario kemudian.


"Jaket temen aku Mar. Aku cuma dipinjami." Jawab anak itu dengan terbata-bata dan kaki gemetar.


"Iya, siapa?" Bentak Mario semakin keras.


"Diana Mar,"


"Diana siapa?"


"Diana 3A."


Mario tampak berpikir keras. Dia seperti tak asing dengan nama itu. Dia mulai mengendurkan cengkeramannya sebelum akhirnya melepaskannya.


"Awas kamu kalau sampe bohong. Siapa nama kamu?"


"Rian 3A Mar, sekelas sama Diana. tapi sumpah aku gak tau apa-apa" Jawab anak itu yang mulai sedikit lebih tenang namun masib belum bisa menyembunyikan raut ketakutannya.


"Kalau sampai kamu bohong. Habis kamu." Kata Mario yang kemudian menaiki motornya.


"Satu lagi. Jangan bilang siapa-siapa tentang masalah ini. Awas saja kalau sampai ada yang tau." Kata Mario memperingatkan dan setelah itu pergi meninggalkan anak itu yang terlihat masih ketakutan.


"Diana 3A, kayak pernah denger."


Otaknya berpikir keras mengobrak abrik memori dari sebuah nama yang sepertinya tidak asing baginya. Tiba-tiba matanya membulat lebar.


"Owh iya... Cewek bawel yang terlambat waktu itu. Masak sih? Apa mungkin? Cewek? Jadi, yang nendang aku waktu itu cewek?"


Mario melajukan motornya menyusuri jalanan. Wajahnya tampak serius memikirkan sesuatu. Fakta yang dia temukan tidak seperti apa yang dia duga selama ini. Benarkah orang yang mencari masalah dengannya waktu itu seorang cewek? Dia masih tidak percaya. Namun dia pasti akan mencari tau kebenarannya.


...


Author's cuap:


Aduh, ikut deg degan nih,


Babang Mario udah tau nih tu jaket Diana..


Kasi tau Diana gak ya kalo Mario udah tau kalo dia yang nendang waktu itu?


Tapi kalao ntar author ditonjok ama babang Mario, temen2 readers pada lindungin ya...


janji...


Okeh,, kalo gitu.. Jangan lupa jempolnya juga ya readers tercintaaah..


πŸ‘πŸΌπŸ˜˜πŸ™πŸ»


Deal ya..