Titip Salam

Titip Salam
Sudut Lorong



#79


Sudut Lorong


SMP 15 merupakan salah satu percontohan sekolah adiwiyata. Piala adipura pun pernah diberikan sebagai penghargaan. Foto Pak Jamal sang Kepsek tersenyum memamerkan sederet gigi putihnya bersalaman dengan bapak presiden tercetak besar di dalam ruangan beliau. Gosip yang beredar, pak Jamal sampai melakukan perawatan kumis di barbershop ternama di Kota ini demi menghadiri pertemuan penting itu. Totalitas yang sangat membanggakan.


SMP 15 berdiri di lahan yang cukup luas, dengan bangunan yang paling tinggi hanya berlantai dua di blok bagian depan. Oleh karenanya SMP 15 dapat memiliki banyak area untuk taman, green house, kebun praktikum, selasar yang hijau, dan memiliki dua lapangan yang cukup luas.


Kota Gresik yang merupakan Kota Industri menjadi kota yang menyumbang cukup banyak polusi untuk bumi. Oleh karenanya, pemerintah berusaha membuat banyak area hijau guna menyeimbangkan dampak polusi yang terjadi. Dan, salah satu lahan yang dijadikan sebagai area hijau adalah SMP 15 ini.


Pohon-pohon rindang berdiri kokoh membuat suasana teduh dengan angin sejuk yang membuat suasana belajar mengajar dikelas terasa begitu nyaman. Bahkan terdapat sebuah pohon terbesar dan tertua yang mungkin telah ada jauh sebelum sekolah ini berdiri masih kokoh memayungi sebagian area parkir sepeda dan selasar kantin. Sebuah Pohon beringin tua di dekat sumur yang ketika sore hari seperti saat ini akan tampak begitu menyeramkan.


"Tunggu!" Rida menghentikan langkahnya tiba-tiba.


Sayup-sayup terdengar suara seseorang bersenandung dari lorong arah kiri yang sepi.


Hmm hmm hmm


"Di, kamu denger sesuatu gak?" Bisik Rida berhenti di dekat persimpangan lorong.


"Denger juga sih, tapi siapa ya yang nyanyi-nyanyi di sana? Kayaknya sepi banget." Jawab Diana yang mulai begidik ngeri mengingat lorong sisi kanan itu banyak pohon rindang yang membuat pencahayaan matahari tampak teduh namun suram. Salah satunya, pohon beringin tua yang sudah nampak sebagian dari tempat mereka berdua berdiri.


"Liat yuk,"


Diana sontak menggeleng. "Gak mau," Ucapnya.


Suara itu masih terus terdengar seolah semakin membangkitkan rasa penasaran Rida. Diana memang sangat penakut untuk hal-hal yang berbau hantu. Sebisa mungkin dia menghilangkan istilah itu dari pikirannya agar tidak ada sugesti horor dari otaknya. Namun suasana sore dan sepi saat ini, ditambah suara yang entah asal muasalnya dari mana, benar-benar membangkitkan suasana horor yang membuat Diana merasa ngeri.


"Kamu nih, jago silat tapi penakut. Ayok lah, aku penasaran." Rida langsung saja menarik tangan Diana untuk berbelok menyusuri lorong gedung blok kelas dua.


"Rid, sepi banget. Kita lewat blok kelas satu aja." Ucap Diana yang berjalan menempel-nempel pada Rida.


"Suaranya makin jelas Di," Ucap Rida yang semakin membuat Diana merinding.


"Kayaknya dari samping gedung koperasi siswa." Ucap Rida yang mulai celingukan ke titik yang ia sebutkan.


Diana mencengkeram lengan Rida kuat-kuat sambil berjalan menunduk tidak berani menghadap ke depan.


Ketika sampai di ujung lorong gedung koperasi siswa, tiba-tiba sesuatu melompat ke arah Rida dan Diana.


Aaaaa...


Aaaaa...


Rida yang terkejut langsung lari tunggang langgang meninggalkan Diana yang terpelanting membentur dinding karena terdorong oleh tubuh Rida yang menyerobot tubuh Diana yang hilang kestabilan karena berjalan sambil memejamkan mata.


Diana menutup wajahnya dengan kertas naskah yang ada di tangannya dan terisak dengan tubuh yang gemetar.


"Ampun om pocong, om genderuwo, tante kunti, dedek tuyul, dan teman-teman setan lainnya. Hiks, hiks," Dalam hati Diana mengumpati Rida yabg tega meninggalkannya di sana.


Sebuah telapak tangan mencengkeram bahu Diana dan sontak membuat Diana semakin histeris.


"HWAAAAA..."


"Hihihihi..." Suara cekikikan pun menggema di sana.


"HWAAAAA..."


"Woi, woi, Diana. Ini aku."


Suara yang begitu familiar membuat Diana terdiam dan pelan-pelan mengintip dari balik kertas yang menutupi wajahnya.


Plak, plak, plak,


Kertas naskah yang terdiri dari beberapa lembar itu pun berubah fungsi menjadi senjata sampai kusut tak berbentuk.


"Aw, aw, sakit Di!"


"Kamu jahat banget. Aku sudah gemeteran takut setengah mati. Mario SIALAAAN!!!" Umpat Diana masih terisak namun tangannya begitu gesit menghajar Mario yang tengah mengerjainya.


Mario menangkap pergelangan tangan Diana dan mencengkeramnya agar gadis itu berhenti memukulinya.


"Maaf Di. Aku gak ada maksud nakut-nakutin kamu. Aku lagi pasang sepatu di sini. Kalian yang bikin aku kaget datang tiba-tiba." Ucap Mario menjelaskan namun disusul dengan tawa geli yang masih tersisa.


Plak,


"Aw," Mario mengusap-usap kepalanya.


"Kamu ngapain pasang sepatu ditempat-tempat sepi gini?" Ucap Diana yang masih berusaha mengatur napasnya karena ketakutan tadi.


"Aku habis dari toilet. Yah sekalian pasang sepatunya di sini." Jelas Mario.


"Terus ngapain pake nyanyi-nyanyi?" Diana terus saja mencari kesalahan pemuda itu.


"Ya suka-suka aku lah."


Diana masih cemberut kesal. Dia benar-benar ketakutan tadi. Rasanya belum puas dia menghajar pemuda usil di depannya.


"Oh iya, kebetulan ketemu di sini." Ucap Mario mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan menyerahkannya pada Diana.


"Apa ini?" Diana menerima beberapa lembar kertas yang diserahkan oleh Mario.


"Ngapain sih nambah-nambahin kerjaan aku?" Ucap Diana membolak balikkan tiap halaman kertas itu.


Mario hanya tersenyum tanpa menjawab. Entah apa yang direncanakannya. Namun sekilas ia tadi sempat melihat Diana yang tampak menikmati lagu dari mp3 yang ia pinjamkan sambil memejamkan mata dan tersenyum seorang diri di selasar kelasnya. Misi Mario sudah menampakkan hasil.


"Kamu masih mau lama-lama.disini? Biar nanti ditemenin om pocong, om genderuwo, tante kunti, dedek tuyul, dan teman-temannya, Hihihi.." Ucap Mario mengulangi perkataan Diana saat meringkuk ketakutan tadi.


Plak,


"Aw," Mario mengusap lengannya yang mendapatkan hempasan telapak tangan panas sang gadis galak.


Diana langsung balik badan dan pergi meninggalkan Mario yang masih cekikikan.


"Di, tunnguin dong! Jangan tinggalin aku. Nanti kalau aku diculik tante kunti gimana? Hihihi..." Ucap Mario berjalan mengekor Diana.


"Tunggu sebentar!" Diana menghentikan langkahnya dan berbalik menatap curiga pada Mario.


"Kamu tadi pakai toilet mana?" Tanya Diana.


Mario meringis malu-malu menunjuk toilet yang berada di dekat sana.


Diana membulatkan matanya, dan..


Plak,


"Aw," Satu pukulan kembali mendarat di lengan Mario.


"Ngapain kamu pakai toilet cewek HAH???" Diana berkacak pinggang persis seperti emak-emak yang mengomeli anaknya yang ketahuan mencuri mangga tetangga.


Mario menggaruk-garuk kepalanya "Habisnya udah mules banget. Mau muter ke toilet cowok kejauhan. Hehehe.." Ucap Mario cengar cengir.


"Lagian kan udah sepi juga Di. Jangan melotot gitu dong. Ntar mata indah kamu lepas loh.."


Plak,


"Aw," Satu lagi serangan tiba-tiba di lengan Mario.


"Awas ya kalau diulangi lagi. Aku laporin guru BP. Biar di jemur di lapangan sambil bawa tulisan Mario tukang ngintip."


"Sadis banget sih Di." Kini giliran Mario yang merengut.


"Tadi kan darurat. Lagian kondisi sepi. Jangan bilang siapa-siapa ya, please..." Ucap Mario menangkupkan kedua telapak tangan di dadanya. Jujur dia benar-benar merasa malu.


Seperti memperoleh kartu As dari seorang Mario, Diana tidak boleh menyia-nyiakannya.


"Ada syaratnya!" Ucap Diana tersenyum licik.


"Apa?" Mario tidak menyangka situasi ini akan dimanfaatkan oleh Diana. Ini semakin menarik.


"Kamu harus mengabulkan satu permintaan aku." Ucap Diana.


"Oke! Selama itu bukan menjauhi kamu, pasti aku turutin kok.."


Plak,


"Aw," Mario mengusap kepalanya.


"Gila ya! Berapa menit ketemu kamu udah berapa kali tangan kamu bikin bekas di badan aku!"


Diana cuma cekikikan dan meng-iyakan dalam hati.


"Rasain! Bocah tengil usil bandel kayak kamu tuh harus sering-sering dikasih pelajaran. Biar kapok!" Ucap Diana sambil menunjukkan kepalan tangannya tepat di depan wajah Mario.


"Gak ada yang berani mukulin aku kayak gini. Cuma kamu Di-a-na cewek galak yang jago silat tapi takut setan hahaha.." Mario mundur beberapa langkah berusaha menghindar kalau-kalau Diana menyerang lagi.


"Kenapa? Kamu mau bales, hah? Atau mau ngadu ke Mama kamu?" Diana berkacak pinggang mengancam.


"Iya! Aku bakal ngadu ke Mama aku! Biar sekalian kita dijodohin. Hahahaha.." Ucap Mario yang langsung kabur mengambil langkah seribu sebelum mendapat raungan sang singa betina.


"MARIOOOO..." Diana pun ikut berlari mengejar pemuda yang ia sebut bocah tengil itu sambil terus mengumpat dalam hati.


Sebetulnya alasan lain Diana memilih segera berlari mengejar Mario yang kabur duluan adalah, karena Diana masih ngeri kalau sendirian di sana.


...


Author's cuap:


Suasana horor kadang tercipta karena sugesti dari pikiran kita sendiri. Kadang itu yang bikin kita entah benar-banar melihat yang tak kasat mata atau hanya halusinasi kita.


Buat orang yang kayak Author nih, yang sama sekali gak ada ke-peka an terhadap yang tak kasat mata, biasanya suka kepikiran-kepikiran horor karena pola pikir sendiri. (Mohom maap klo cuapan author berbau sok tahu)


Makanya nih, sebisa mungkin buat yang penakut macam author nih, kalau pas lagi ngerasa merinding disco gitu, bayangin yang lucu lucu aja.


Misalnya bayangin meluk doraemon sambil ubek2 kantongnya nyari alat yang bisa bikin kaya raya mendadak gitu.. hahahhaa


Makasih udah baca...


Jangan lupa support nya yaaa


Hmm betewe, brapa kali sih tadi Diana plak, plak, plak, ke Mario?