
#88
Gara-Gara Bobo Kurang Siang
Cekrek,
Hihihi...
Cekrek,
Hmpft...
Willy berusaha keras menahan tawanya melihat hasil bidikan dengan kamera ponselnya.
"Sekali lagi ah," Gumamnya.
Cekrek,
Tiba-tiba terjadi pergerakan pada objek fotonya. Willy pun cepat-cepat menyimpan ponselnya dan berpura-pura mencari remot untuk menonton televisi.
Willy sedang berada di rumah Eyang Siti untuk menemani sang Mama tercinta belajar membuat kue bersama Bude Tatik, anak sulung Eyang Siti atas inisiatifnya sendiri.
Yah, Willy begitu bersemangat untuk mengantar Mamanya karena dirinya tau bahwa cucu perempuan Eyang Siti yang selalu membayangi pikirannya itu sedang turut berkunjung kesana. Ternyata ada udang dibalik bakwan goreng.
Sang Mama yang baru mengetahui alasan mengapa putranya begitu bersemangat menemaninya langsung menjewer kuping Willy.
"Aaaw, sakit Ma," Keluh Willy.
"Pantes aja semangat sekali kamu. Sejak kapan anak Mama suka modus kayak gini Hmm.. Jaga sikap kamu kalau di rumah orang ya, jangan malu-maluin." Ucap sang Mama memperingatkan.
Willy hanya mengangguk sambil menggosok telinganya yang panas.
"Ayo, langsung ke dapur. Tapi maaf dapurnya kotor Sus," Ucap bude Tatik menyambut tamunya.
"Ah, gak masalah. Saya yang minta maaf kalau ngerepoti." Jawab Lina.
"Ah enggak lah Suster, kan saya yang undang duluan. Saya malah seneng Suster mau mampir lama-lama. Mumpung saya lagi gak ada pesanan juga." Lanjut Bude Tatik.
"Kok sepi ya? Eyang Siti kemana?"
"Ibu ikut pengajian bulanan di Balai RW. Nak Willy tunggu di ruang tengah aja ya. Biar bisa nonton tipi. Ada Diana juga, tapi lagi tidur. Saya bangunin ya, biar nemenin nak Willy."
"Eh, gak usah Bude. Biarin aja tidur. Siapa tau dia lagi capek." Ucap Willy.
"Halaaah, anak muda kok pake capek. Tadi katanya mau ikutan buat kue. Eh, malah ketiduran di depan tipi." Balas Bude Tatik.
"Ayo, Mari masuk."
Dan disanalah Willy, duduk selonjoran di tepi karpet sambil bersandar di dinding. Sementara sang Cucu yang disebutkan tadi, Diana, dia sedang meringkuk tertidur pulas menghadap ke arah Willy di sisi lainnya.
Diana tampak menggeliat mengusap pipinya yang sedikit basah karena air liur, lalu berputar memunggungi pemuda itu.
"Ish, jorok banget!" Ucap Willy sambil berusaha menahan cekikikannya.
"Ayaaah.."
Willy langsung gelagapan mendengar Diana menyebut kata Ayah. Matanya langsung celingukan mencari kalau-kalau ada sosok yang disebut Diana.
"Ah, rupanya dia mengigau." Gumam Willy.
Buk,
Eh,
Willy kembali tersentak ketika punggung gadis itu tiba-tiba sudah berpindah tempat sampai menempel pada kakinya.
"Aduh, gawat nih.." Batin Willy sambil menggeser duduknya sedikit menjauh.
"Garukin Yah.." Ucap suara parau Diana sambil tangannya seolah memberi contoh gerakan menggosok punggungnya.
Glek!
Willy menelan salivanya. Dia bingung harus berbuat apa.
"Huh, diturutin apa enggak ya?" Batin Willy.
Takut-takut dilihat orang lain, Willy bergerak lebih menjauh sampai duduk di lantai.
Diana yang terlelap nampak mengendus-endus aroma harum yang mengusik indera penciumannya.
"Hmm aroma kue, dan hmm ada aroma parfum Willy." Begitu yang Diana pikirkan antara sadar dan tidak.
"Loh, ada nak Willy. Kok duduk di lantai?" Ucap Eyang Siti yang baru masuk dari arah luar.
"Hmm.. Ada Willy?" Gumam Diana sambil menggeliat kembali memutar tubuhnya yang membuat hidungnya hampir menempel paha kaki Willy yang sedang duduk selonjoran.
Aroma parfum dari baju pemuda itu semakin tercium begitu nyata. Aroma parfum yang masih benar-benar Diana ingat betul di pikirannya.
"Eh, Eyang Siti.." Ucap Willy yang hendak berdiri akan menyalami Eyang. Namun gerakannya sontak terhenti karena sebuah telapak tangan menyentuh betisnya yang tidak tertutup celana karena ia sedang memakai celana sebatas lutut.
Willy yang terkejut jadi terpaku manatap telapak tangan itu sambil merasakan sensasi geli di kakinya.
"Apa ini? Kok berbulu?" Batin Diana yang masih terpejam setengah sadar.
Tangan Diana tiba-tiba merayap bergerak naik dari betis ke lutut dan terus merayap naik sampai ke paha membuat Willy sontak berteriak.
"Waa.."
Diana langsung membelalakkan matanya mendapati seorang pemuda di hadapannya dengan tangannya yang berada pada paha pemuda itu.
"Waaaaaa..." Diana terlonjak bangun langsung berteriak.
Semua orang bergerak mendatangi ruang tengah karena kegaduhan yang terjadi.
"Ada apa?" Tanya Bude Tatik yang tergopoh-gopoh datang karena kaget mendengar teriakan Willy dan Diana.
"Willy ada apa?" Tanya Lina yang juga tak kalah terkejutnya.
Willy tampak linglung karena bingung harus menjelaskan apa. Sementara Diana juga tampak celingukan melihat sekitar memandangi semua wajah yang ada disana sembari mengumpulkan kesadarannya.
"Gak ada apa-apa. Nih buat kalian.." Jawab Eyang Siti sambil menyerahkan bungkusan plastik berisi bungkusan kotak kue ke pangkuan Diana.
Willy pun segera bangkit dan menyalami Eyang Siti.
"Lumayan Eyang, " Jawab Willy.
Lina pun bergerak mendekat menyalami perempuan sepuh itu.
"Willy pingin nemenin saya belajar buat kue. Biar bisa nyicipin anget-anget katanya. Eh, taunya ada Diana juga." Ucap Lina.
Diana yang sudah benar-benar sadar langsung turut bangkit menyalami Lina dan Eyangnya.
"Cuci muka sana! Tuh ilernya nempel. Anak perawan kok jam segini sudah tidur lagi." Ucap sang Eyang.
Diana hanya cemberut kesal mengusap pipinya. Apalagi dia melihat Willy sedang menahan cekikikan mengejek dirinya.
"Iya habisnya ngantuk banget Eyang. Aku gak sengaja bobo siangnya. Orang aku cuma tiduran nonton tipi tadi." Gerutu Diana sambil bergerak menuju kamar mandi.
"Bobo siang kok kepagian. Ya udah, Eyang ke kamar dulu ya, mau ganti baju."
"Iya Eyang,"
"Iya Bu,"
Tinggallah Lina dan Willy di sana karena Bude Tatik sudah langsung kembali ke dapur lebih dulu.
"Heh," Ucap Lina sambil mencubit lengan anaknya.
"Aw, saki Ma.." Keluh Willy sambil mengusap bekas cubitang sang Mama.
"Kamu apain anak orang?" Cecar Lina pada putranya.
"Gak ngapa-ngapain Ma.. Kan Mama lihat sendiri tadi Willy duduk di sini Diana tidur di ujung sana." Ucap Willy sambil menunjuk posisinya semula.
"Lah kok tadi bisa mepet-mepet gitu?" Cecar Lina merasa tidak puas dengan jawaban putranya.
"Ya gak tau Ma, aku juga kaget. Aku aja sampe geser-geser ke lantai."
Lina memicingkan matanya mencari celah kebohongan pada putranya. Willy sudah dag dig dug menciut mendapat tatapan mengintimidasi seperti itu.
"Awas ya kalau macem-macem. Mending kamu pulang aja deh, kalau bikin rusuh." Ucap Lina.
"Macem-macem apaan sih Ma,"
"Ya udah, mama lanjut ke dapur. Baik-baik disini."
Willy mengangguk patuh lalu kembali duduk di karpet sambil bernapas lega.
"Mama nih, mikir apa cobak ke anak sendiri. Ckckck.."
Willy sekali lagi membuka hapenya, melihat foto-foto hasil bidikannya tadi sambil berusaha menahan tawa.
"Lucu banget sih," Batin Willy menertawai apa yang baru saja ia alami.
Sementara Diana yang sedang berada dikamar mandi memandangi telapak tangan yang tadi tidak sengaja ia gunakan untuk menyentuh kaki Willy.
"Kok bisa sih aku gre pe gre pe dia? Aduh, malu banget.." Rengek Diana.
Berkali-kali ia mencuci tangannya dan membasuh mukanya.
"Tadi ngiler gak ya?" Diana mengusap lagi pipinya dengan sabun.
"Haaah.." Diana mencium bau nafasnya, dan akhirnya memilih menggosok giginya agar tidak ada sisa nafas naga saat berbicara.
Begitu banyak persiapan sebelum keluar kamar mandi membuat Diana begitu berlama-lama di dalam. Sebetulnya dia masih ingin berlama-lama, kalau perlu sampai Willy pulang saja.
"Kok lama banget sih dikamar mandinya?" Ucap Willy ketika Diana baru duduk di sisi karpet lainnya.
"Suka suka aku lah.." Ucap Diana yang masih cemberut.
Dua anak manusia itu duduk berjauhan tampak seperti sedang tidak akur.
Willy dapat melihat Diana yang masih tampak canggung karena merasa malu.
"Aku besok mau ke rumah kamu lagi." Ucap Willy tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
"Ngapain?"
"Mau ngadu ke Ayah kamu, kalau kamu udah berani gre pe gre pe kaki aku."
Buk,
Sebuah bantal menghantap wajah Willy. Willy pun dibuat terkekeh.
"Ih, ini kan bantal kena iler kamu tadi." Ucap Willy sambil menyingkirkan bantal itu dengan ekspresi pura-pura jijik.
"Dasar Congek resek!!!" Diana yang kesal malah menghujani pemuda dengan cubitan bertubi-tubi.
"Ampun Di, sakit.. sakit.."
Dan kegaduhan kembali terjadi membuat semua orang kembali berdatangan.
Meskipun sampai harus terkena ceramah panjang sang Mama setelah sepulangnya mereka ke rumah, Willy tetap merasa berbunga-bunga.
Hal tersebut berimbas pada rasa kantuk yang tak kunjung menghampirinya hingga pukul dua dini hari.
Willy terus saja tersenyum seorang diri menggeser geser galeri foto hapenya melihat hasil bidikannya siang tadi. Beberapa foto gadis itu yang meringkuk tidur seperti bayi.
"Wah, kalau dia tau aku foto waktu ngiler gini, pasti ngamuk, xixixixi.." Gumam Willy.
Nikmati saja kenangan itu Willy...
Karena semua itu belum tentu akan terulang kembali.
...
Author's cuap:
Ciye Congek, auto sinting deh senyum2 sampe pagi
Hahahha
Cuzzz gasss poll supportnya yaa
Terimakasih sudah membaca