Titip Salam

Titip Salam
Mario pada Diana



#56


Mario pada Diana


(Pov. Mario)


Pesan pertama dari nomor +62 81xx


"Hai Mario apa kabar? Besok ada waktu gak?"


Pesan kedua dari nomor berbeda,


"Mario bsk plg brg yuk,"


Pesan ketiga dari nomor lain lagi,


"Mario mlm minggu jalan yuk, aku traktir deh,"


Dan masih banyak pesan-pesan berupa ajakan untuk ketemuan, nongkrong bareng, makan bareng, dan lain-lainnya seolah mereka berharap sekali bila aku menerima ajakannya. Namun sungguh aku tidak menanggapinya. Hanya permintaan maaf yang akan aku ketik sebagai balasannya. Begitupun saja kelihatannya mereka tidak kecewa bahkan merasa senang pesannya mendapat respon.


Begitulah kesibukan ponselku setiap harinya. Banyak nomor baru yang tiba-tiba menyapa akrab. Mencoba melakukan panggilan yang selalu aku tolak.


Sombong? Mungkin mereka akan berpikir seperti itu. Namun aku tidak bermaksud seperti itu.


Menjadi populer tidak selamanya manis-manis saja. Semakin kita dianggap hebat maka akan semakin sulit pula menemukan sebuah ketulusan yang sebenarnya. Itulah yang kurasakan.


Aku tidak suka mereka yang berusaha akrab denganku karena aku yang hebat. Karena kehebatan aku tidaklah abadi. Suatu saat ada kalanya kehebatanku ini akan meredup oleh kehebatan pendatang baru. Dan mereka yang mencintaiku karena kehebtanku akan perlahan berpaling meningglkanku.


Oleh karena itu, aku tidak mudah akrab dengan banyak orang, yang berakibat memberi kesan bahwa aku bersifat angkuh dalam benak mereka. Anehnya meskipun begitu, mereka tetaplah mengidolakanku.


Teman-temanku tidaklah banyak. Namun dari sedikit orang yang aku katakan teman tadi, aku merasakan mereka sungguh tulus berteman denganku.


Terkadang aku merasa sangat tinggi hati bahkan terlalu percaya diri kalau semua orang pasti akan sangat senang bila dapat merasa akrb denganku. Mario yang tampan, anak band yang keren, dan berprestasi di lapangan. Terutama mereka kaum hawa yang bahkan terang terangan berusaha untuk mencuri perhatianku.


Huh, Apa salah bila aku menjadi terlalu percaya diri?


Yah, ternyata salah besar! Setelah aku bertemu dengannya. Diana.


Diana yang tidak pernah membalas senyumku, berlari kabur ketika mendengar sapaanku, dan terang-terangan sorot matanya selalu berusaha menantangku.


Sebuah jaket abu-abu milik seseorang yang telah lancang ikut campur urusanku, berani menendang perutku sampai membuatku terjungkal malam itu, membuatku penasaran dan selalu mencoba mencari tau siapa pemiliknya. Kenyataan yang membuatku tercengang ketika seorang anak laki-laki, siswa di sekolah yang sama denganku, mengatakan bahwa pemiliknya adalah seorang perempuan. Diana.


Sejak itu aku mulai mengawasinya.


Diana yang tampak biasa saja benar-benar tidak menonjol diantara ratusan murid di sekolahku. Pantas saja sedikitpun aku tidak mengenalnya. Dia seolah titik buta yang kehadirannya tidak kelihatan. Mana mungkin dia, gadis yang tampak lemah yang mampu menendang begitu keras padaku malam itu?


Aku mulai mengikuti kesehariannya dan menemukan fakta bahwa dirinya adalah anggota ekskul beladiri. Baiklah, bisa jadi benar dia adalah pemilik jaket abu-abu itu.


Aku mulai tertarik pada tiap keunikan dirinya. Mencari tau dari teman terdekatnya, berusaha mengikis jarak dengan menitipkan salam padanya, untuk dapat mengenalnya lebih dekat.


Bayang-bayang rasa ingin balas dendam akibat tendangan keras diperutku malam itu, mendadak lenyap berganti rasa takjub pada kesederhanaan gadis itu.


Yah, dia gadis satu-satunya yang selalu berusaha menjauh ketika aku berusaha mendekat. Bukan karena dia takut padaku, karena aku tidak pernah menemukan ketakutan pada sorot matanya. Entahlah mengapa dia selalu ingin kabur ketika ada aku. Membuatku semakin penasaran.


Dia mulai terasa istimewa. Seperti ada kobaran semangat yang ia bawa, membuatku menjadi gila, terutama saat pertandingan final sepak bola kemarin.


Memastikan dia berada disekitarku seolah merupakan sumber energi dan titik konsentrasiku. Menggenggam tangannya kala itu, seolah menyalurkan daya listrik yang mencharger full energiku.


Sebenarnya bagaimana bisa seperti itu? Atau lebih tepatnya apa yang telah terjadi padaku?


Dia gadis satu-satunya yang selalu berusaha menolak pemberian dariku. Sampai-sampai aku harus sembunyi-sembunyi ketika memberinya sesuatu. Kalau penggemarku tau, mungkin Diana akan menerima banyak caci maki karena selalu jual mahal padaku.


Namun itu yang semakin membuatku penasaran.


Aku menunggunya cukup lama di halte selama beberapa hari terakhir, sesuai pesan singkat yang aku tulis pada secarik kertas dalam bingkisan itu. Namun hingga siang sepulang sekolah kemarin, dirinya tak muncul disana.


Apa dia belum membacanya? Atau bahkan hadiah itu tak sampai padanya? Atau juga dia lebih memilih untuk mengabaikannya.


Dia pasti merasa sedang merasa bersalah padaku. Akhirnya, aku mulai bisa menyentuh hatinya. Bongkahan es dalam dirinya mulai luruh.


"Hahaha.. Kena kau Diana!" Tawaku dalam hati.


Aku akan menyiapkan waktu menunggu gadis itu berkata maaf nantinya. "Ternyata hatimu memang tidak sanggup mengabaikanku." Aku pun tertawa penuh kemenangan dalam hati. Aku tidak tau kenapa aku merasa sangat senang?


Selanjutnya aku harus bagaimana?


Detik demi detik berlalu, mendengarkan pak Kepsek yang berbicara dan membagikan undangan dari bapam Bupati untuk kami yang berada diruangannya.


Aku sedikit melirik jam dinding. Jarum pendek yang menunjuk deretan titik-titik menuju angka dua belas.


"Sial! pe-er-ku belum selesai." Ucap Mario mulai panik mengingat aktivitasnya yang menyalin jawaban pe-er mapel sejarah milik Abdul tadi, ia tinggalkan begitu saja, dengan keadaan buku yang berserakan dibangkunya, sebelum pergi memenuhi panggilan bapak kepsek. Aku tidak mengira pertemuan mendadak ini berlangsung cukup lama. Gawat.


Ketika bapak kepsek menutup perjumpaan, aku segera berdiri untuk bersalaman dengan beliau, bermaksud segera kembali ke kelas untuk melanjutkan menyalin pe-er karena sebentar lagi harus segera dikumpulkan.


Tanganku yang terulur pertama kali lantas tidak mendapat sambutan sama sekali dari pak kepsek. Ternyata pak kepsek sengaja menyisakanku paling akhir, karena beliau akan sedikit berbincang nanti.


Setelah berhasil keluar dari ruangan pak kepsek, aku sangat terkejut mendapati Diana masih di sana.


"Stop Mario, cukup dulu untuk urusan Diana. Kamu harus segera kembali ke kelas dan melanjutkan menyalin pe-er sejarah yang terbengkalai." Batinku.


Aku bisa merasakan Diana menatap ke arahku. Namun aku sekuat hati memerangi keinginan untuk ikut berada di sana sebentar. Minimal bertegur sapa dan bertanya "Kenapa kamu gak dateng?"


Sayang, itu semua hanya keinginan yang terpendam. Pe-er ku adalah prioritas saat ini. Meskipun aku hanya menyalin jawaban, tidak perlu memakai otak untuk berpikir dalam menyelesaikannya, atau lebih tepatnya menyontek. Kalau sampai pe-er Abdul sudah dikumpul duluan, aku tidak bisa nyontek lagi dan terpaksa harus dihukum mengerjakan pe er menggunakan otakku sendiri diluar ruangan. Tidak, tidak, aku sungguh sedang malas. (Jangan ditiru ya..)


Tanpa menoleh, aku terus berjalan cepat kembali ke kalas, berharap masih ada waktu menyelesaikan tugas itu.


"Maaf ya Di, mungkin lain kali." Batinku.


Aku terus berjalan menekan rasa rindu untuk menyapa dan mengusili gadis itu. Nanti saja.


...


Author's cuap:


Hayo.. siapa yang pernah ngerjain pe.er mepet2 jam pengumpulan langsung nyontek.punya temen?


Kayak si Mario gitu..


Fix,masa sekolah kamu ruaaarrr biyasaaah


Hahaha


Aku juga pernaaah..


(Ups, Bukan hal membanggakan ya..)


Hahaha


Readers sayang, ingat yah..


Jangan cuma like, tapi dibaca juga dong ceritanya..


dan jangan cuma dibaca, tapi di support juga dengan,


Like


Comment


Vote


Hadiaah hadiaaah


Terimakasih..