
#108
Penolakan Pertama
"Pokoknya aku antar, titik!"
Siang ini adalah hari pertama latihan untuk persiapan POR Prov bagi Diana. Belum saja sampai tiba waktunya, drama perdebatan sudah dimulai.
Mario bersikeras mengantar Diana sepulang sekolah nanti. Sementara yang seharusnya sangat berterimakasih mendapatkan tumpangan khusus yang pastinya membuat iri banyak gadis lainnya, malah cemberut kesal.
"Kalian ini kalau ketemu udah kayak kucing sama anjing ya, berantem mulu." Ucap Hera yang juga ada di sudut kantin sana.
"Iya, dia tuh an jingnya." Ucap Diana sambil mengarahkan telunjuknya pada wajah Mario.
"Sialan aku dikatain an jing. Okeh! Biar aku gigit sekalian kamu. Rrooaarr.." Ucap Mario sambil menunjukkan ekspresi menerkam yang sontak membuat Diana berjingkat mundur.
"Hahaha... Kalian mending duel dilapangan belakang aja sekalian. Biar makin seru." Ucap Abdul yang tak tahan menahan gelitik di perutnya karena ulah dua orang itu. Tak hanya Abdul, Hera, bahkan Zahra dan Rida yang juga berada di sana turut terpingkal sambil geleng-geleng kepala sedari tadi.
"Dul, Mario mana berani nantangin Diana duel. Coba deh kalo diingat berapa kali dia kalah adu otot sama Diana?" Ucap Rida yang membuat mereka semua yang sudah tau kisah sebenarnya lantas tertawa.
"Diam kamu Rid!" Mario semakin bersungut kesal karena tidak ada yang mendukungnya.
"Aku heran deh, kenapa kalian gak jadian aja sih? Secara romantisnya kalian itu udah ngalah-ngalahin yang usah pacaran tau gak? Aku yang jomblo jadi baper mulu lihatnya." Sungut Zahra yang tiba-tiba merengut kesal.
"Atau jangan-jangan kalian udah jadian tapi sengaja nutup-nutupin dari kita semua?" Sambung Rida.
Diana sontak melotot pada teman-temannya yang berspekulasi semena-mena.
"Bisa jadi tuh, gara-gara takut dimintain pajak jadian kali.." Lanjut Abdul yang semakin membakar suasana.
"Heh, kalian semua jangan bikin gosip aneh-aneh ya.." Jawab Diana yang mulai merasa jiwanya terancam di sana.
Melihat Diana yang mulai tersulut membuat Mario bersemangat untuk semakin membuat suasana makin berkobar.
Mario melingkarkan tangannya di pundak Abdul yang duduk bersebelahan dengannya sambil berkata "Dul, kamu kan kenal aku udah lama. Masak iya pajak jadian aja diumpetin." Ucapnya sambil melirik Diana yang sudah mengerutkan kening dan menatap ke arahnya.
"Kalo aku udah jadian pasti aku bakal traktir kalian semua. Mau makan apa? Di mana? Resto? Cafe? Kalian yang pilih."
Semua mata sontak berbinar mendengar sang Sultan berkata.
"Tapi sayangnya, aku ditolak. Hiks.." Ucap Mario sambil menyandarkan kepalanya di pundak Abdul dan membuat suara seolah menangis. Abdul pun memberikan reaksi pura-pura iba dengan menepuk-nepuk kepala Mario yang bersandar di pundaknya. Jujur, mereka terlihat menggelikan.
"Yah.. " Begitulah suara kekecewaan yang kompak terdengar. Kekecewaan dari sebuah kesempatan bisa makan enak mendadak lenyap.
"Kok ditolak sih Di? Mario kurang apa coba? Udah ganteng, populer, pinter, romantis, hmmmph pacar idaman banget." Ucap Zahra tanpa kontrol.
"Tuh, denger Di.. Pertimbangkan dulu kek, main tolak tolak aja. Sakit tau rasanya." Ucap Mario kembali bersandar pada pundak Abdul.
Diana hanya melengos sambil cemberut merasa tersudut seorang diri. Dia sangat heran mengapa tidak ada dari teman-temannya yang mendukung keputusannya.
Kala itu, saat pulang sekolah menjelang waktu bimbingan tambahan.
Kedekatan mereka yang sudah bukan menjadi rahasia membuat Mario semakin berani untuk menghampiri Diana secara langsung. Dia dengan terus terang mengajak Diana makan siang di depan teman-temannya.
Ah, langkah yang sangat berani dan begitu tepat karena teman-teman Diana sudah dipastikan sangat mendukungnya dan kompak membujuk Diana ketika Diana menolak ajakan Mario.
"Es krim couple." Ucap Mario dengan memberi penekanan di kata terakhirnya yang sontak membuat Hendra sang pemilik kedai sekaligus kakak sepupu Mario itu tersenyum.
"Udah couple beneran?" Tanya Hendra seolah mengejek tak percaya.
"Hampir Kak, hehehe.." Ucap Mario sambil berbisik namun masih dapat didengar oleh Diana, namun kali ini Diana lebih memilih tidak berkomentar. Dia hanya berdecak kesal ketika Mario terkekeh.
"Mau rasa apa?" Tanya Hendra yang mulai bergeser ke freezer dengan berbagai warna warni es krim berbagai rasa.
Mario beralih menatap Diana yang berdiri disampingnya. "Yang mana?"
"Terserah." Jawab Diana.
Hendra tertawa lepas ketika melihat Mario mengerutkan kening saat Diana mengtakan kata yang dianggap paling menyeramkan bagi kaum adam ketika sang hawa mengatakannya.
"Kenapa ketawa kak?" Tanya Mario yang masih tidak mengerti situasi mencekam yang menyelimuti dirinya saat ini.
"Enggak kenapa-kenapa kok." Jawab Hendra sambil berusaha menahan sisa tawanya.
"Okeh aku aja yang pilih ya, kalau gitu rasa durian,"
"Gak usah durian. Kan kamu gak suka." Potong Diana masih dalam mode juteknya.
Mario tersenyum senang. Meskipun mood Diana sedang terlihat kesal ternyata gadis itu masih peduli padanya.
"Kalau gitu rasa vanila,"
"Jangan vanila, wanginya gak suka." Potong Diana lagi.
Mario mulai menghela nafas namun masih bersabar. "Coklat aja kalau gitu ya?"
"Jangan coklat, terlalu biasa."
Aaarrrggghhh..
Mario menggeram dalam hati hingga hembusan nafas kasar yang akhirnya keluar dari hidungnya yang mulai kembang kempis.
"Bakalan lama nih.." Batin Hendra yang terus saja berusaha menahan tawa.
"Katanya terserah, giliran aku yang pilih kamunya gak ada yang suka." Ucap Mario berusaha selembut mungkin.
"Ya udah deh terserah kamu aja. Aku minta air putih juga ya, botol minum aku tadi gak kebawa. Aku tunggu di sana aja." Ucap Diana menunjuk bangku paling ujung di bawah pohon yang rimbun.
"Sabar Mar, hihihi.." Akhirnya tertawa lepas juga.
"Ya udah kamu aja yang pilih deh Kak," Akhirnya Mario menyerah juga.
"Oke deh, rasa oreo, ketan hitam, capuccio, aku kasih bonus satu scoop rasa blue berry." Sebetulnya Hendra juga mersa bingung dilempar masalah oleh sepupuny itu. Tapi ya sudahlah, dari pada pelanggan yang dibelakang Mario komplain karena terlalu lama.
Mario datang dengan mangkuk yang penuh es krim dan sebotol air mineral.
"Kamu kok cemberut mulu sih Di?" Tanya Mario yang sudah tidak tahan lagi dengan ngambeknya Diana.
"Akutuh kesel sama kamu." Ucap Diana yang meraih sendok dan mulai melahap es krim. Mario berusaha menahan bibirnya untuk tidak terkekeh ketika melihat Diana yang lahap menyendok es krim meakipun sedang dalam keadaan ngambek.
"Aku gak suka kalau kamu keseringan ngajak aku keluar kayak gini. Apalagi ngajaknya di depan teman-teman aku. Akutuh malu Mar, mereka ciye ciye in aku melulu.." Jawab Diana panjang lebar.
"Ya udah biarin aja gak usah dipusingin." Jawab Mario santai.
"Aku tuh orangnya pemikir, gak bisa kayak gitu."
"Oke deh, maaf. Lain kali kita ketemunya sembunyi-sembunyi lagi, gimana?"
Diana menoyor pundak Mario. "Ya gak gitu juga. Udah lah, gak usah keluar bareng lagi kayak gini. Biasain aja kayak kemarin-kemarin sebelum kejadian siang itu."
"Gak bisa gitu Di, aku hepi banget setelah tau kamu juga suka sama aku. Gak tau kenapa aku jadi gak bisa bersikap biasa aja. Pingin deket mulu sama kamu." Jawab Mario sambil tersenyum riang yang membuat Diana melotot heran.
Mario terlihat menghela nafasnya seolah menata susunan oksigen di dalam rongga dadanya guna mempersiapkan diri untuk mendengar sebuah jawaban dari apa yang ia sampaikan.
"Di, kamu tau kan aku suka sama kamu. Bahkan aku juga bilang kalau aku sayang sama kamu, itu jujur."
Mendengar nada bicara Mario yang mulai berubah serius dan membawa-bawa ungkapan perasaan membuat Diana mulai berdebar. Wajahnya pun tak berani terangkat untuk menghindari tatapan mata Mario.
"Diana, jadian yuk.. Kamu mau gak, jadi-"
"Gak mau." Jawab Diana spontan.
Mario terkejut mendengar jawaban instan berupa penolakan dari gadis yang ia yakini juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
"Belum juga selesai ngomong Di, kamu udah nyamber aja. Gak mau pikir-pikir dulu gitu?" Kini Mario yang ganti merengut kesal. Susah payah ia mengondisikan emosi dan jantungnya demi sebuah rangkaian kata yang seharusnya bukan jawaban yang Diana katakan tadi.
"Enggak."
Mario mendengus pelan. Sekalinya ia mengungkapkan perasaannya dan mengajak jadian seorang gadis tapi langsung ditolak. Ah, malangnya..
"Kenapa alasannya?"
"Ngerepotin tau gak sih? Kapan hari itu ada teman sekelas aku yang nangis-nangis di kelas gara-gara diselingkuhi pacarnya, terus beberapa hari kemudian nangis-nangis karena putus. Repot banget kan?" Jawab Diana sambil berusaha mengendalikan gemuruh di dadanya dengan menyendok es krim banyak-banyak.
Mario meraih tangan kiri Diana dan menggenggamnya. "Aku gak akan selingkuh Di," Ucap Mario begitu yakin.
Kini Diana yang berbalik menggenggam tangan Mario dan mencengkeramnya dengan kuat. "Semua juga awalnya pasti ngomong gitu." Ucap Diana yang kemudian menarik tangannya dan menyembunyikannya di bawah meja. Ia dapat merasai tangannya terasa begitu dingin saat ini.
"Lagian belum sampai jadian aja aku udah digampar sama fans fanatik kamu. Gimana kalau udah jadian?" Ucap Diana lirih.
Semenjak kedekatannya dengan Mario terendus khalayak umum, Diana beberapa kali mendapat pesan teror dari nomor tak dikenal yang berisi umpatan dan kalimat-kalimat yang mengatakan kalau dirinya tidak pantas jadi pacar Mario.
*Aku bukan pacarnya Mario.
Jawaban itu yang dikirim Diana sebelum akhirnya ia memblokir nomor tersebut.
Diana sengaja mengabaikan saja teror-teror itu dan tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Biarkan saja itu berlalu. Toh mereka hanya berani berucap dan tak akan ada nyali menyentuh Diana langsung. Karena semuanya sudah tau setangguh apa gadis itu.
"Selama aku masih di sini, aku akan melindungi kamu. Gak usah takut." Ucap Mario yang sudah meletakkan sendoknya. Ia sudah tidak berselera lagi menikmati es krim itu.
Kata-kata itu terdengar begitu manis. Hati Diana semakin bergetar ketika melihat wajah Mario benar-benar serius mengatakannya. Namun tak berapa lama Diana tertawa lepas karena teringat satu hal.
"Kamu mau lindungi aku?" Ucap Diana setelah menghabiskan tawanya.
Mario merasa semakin kesal seolah Diana sangat meremehkannya.
"Siapa ya, yang ditendang cewek aja sampai jungkir balik? Hahaha.."
Ah, Mario semakin merengut melipat wajahnya. Hal itu membuat Diana semakin tertawa lepas. Dia terlihat sangat menggemaskan.
"Itu sih dasar ceweknya aja nendangnya kayak kesurupan kuda lumping." Mario masih cemberut kesal, namun yang dikatakan Diana memang benar adanya.
"Kamu ngatain aku kuda lumping? Kalau aku kuda lumping, terus kamu apa? Reog nya?" Ucap Diana sambil menyendok es krim dan menyodorkannya pada Mario yang sudah cemberut sambil melipat tangannya di dada.
"Bukan lah, aku dukun pawangnya yang menaklukkan kuda lumpingnya. Haem.." Ucap Mario yang kemudian membuka mulut dan melahap suapan dari Diana. Tapi terlambat, sebelum sendok itu masuk ke dalam mulutnya, Diana sudah melahapnya lebih dulu. Candaan klasik yang selalu berhasil membuat korbannya semakin cemberut kesal.
Hahaha...
Diana tertawa puas sampai menitikkan air mata.
Hap,
Hmmph..
Satu sendokan besar penuh es krim masuk dalam.mulut Diana menggunakan sendoknya.
"Mario! Itu kan sendok kamu.." Ucap Diana setelan menelan habis es krim dimulutnya.
"Kenapa? Jadi makin manis ya es krimnya?" Mario terkekeh melihat wajah Diana yang mulai kesal. Bahkan ketika Diana hendak membuka mulut akan menjawab perkataannya dengan cepat ia menyendokkan es krim lagi ke dalam mulur Diana sampai belepotan.
"Mario!"
Mario meraih tisu dan mengusap lembut bibir yang belepotan oleh es krim karena perbuatannya sambil berbisik, "Itu balasannya karena kamu udah nolak aku." Ucap Mario kemudian melahap kembali es krim yang mulai meleleh itu.
Diana terdiam dengan mulut terkunci. Semburat merah dipipinya menampakkan diri kala menerima perlakuan manis yang bahkan sangat manis baginya.
Hati Diana benar-benar meleleh seperti semangkuk es krim yang kini berubah menjadi cairan manis.
"Aku masih punya banyak waktu untuk mengulangi pertanyaan yang sama. Kamu bisa pikirkan selagi aku belum bertanya lagi."
Bersambung..
...
Author's cuap:
Gombalannya klasik dan sarat unsur kearifan lokal ya..
Hehehe..
Adem adem gerimis gini digombalin bkin anget kali ya..
Hahaha..
Yang abis baca,
Jempol komennya yaaa