Titip Salam

Titip Salam
Menang Banyak



#98


Menang Banyak


Diana berjalan mendekati teras rumah. Sayup-sayup terdengar suara yang salah satunya begitu ia kenal. Suara tawa sang Ayah.


"Ah, mereka terdengar akrab sekali?" Batin Dian yang merasa heran karena selama ini Ayahnya tak pernah menunjukkan tawa hangatnya di hadapan pemuda itu.


Ketika sampai di bibir pintu, Diana dibuat takjub dengan pemandangan dua pria berbeda era itu sedang bersenda gurau.


"Ini kopi buat Ayah, yang ini jus nya buat Willy. Sengaja aku kemas di gelas plstik biar kamu bis bawa pulang." Ucap Diana.


"Makasih ya Di, jadi enak kalau gini. Hehe.." Jawab Willy cengengesan.


"Tumben sekali kamu bikinin Ayah kopi tanpa di suruh?" Ucap Arman smbil menyeruput kopi hitam panas buatan putrinya itu.


Tentu ada harga yang harus dibayar untuk secangkir kopi. Sebuah goresan pena berupa tanda tangan yang sangat Diana harapkan.


Diana tampak lesu melihat amplop coklat yang terselip tertindih papan catur belum tersentuh sama sekali. Namun ia tetap meletakkan pulpen disamping amplop itu.


Diana merengut sedih melirik ke arah Willy. Willy hanya mampu mengedikkan bahunya.


"Dia beneran bantuin aku gak sih? Kok diem aja." Batin Diana.


"Kapan kamu berangkat karantina?" Tanya sang Ayah.


"Makanya Ayah baca dulu dong surat di amplop tadi. Aku pingin banget ikut Yah.. Boleh ya.. Unas kan masih jauh juga." Ucap Diana merayu manja sang Ayah dengan memasang wajah memelas.


Ayah Arman menyerahkan pulpen kembali pada Diana tanpa berkata apapun. Diana semakin merengut lesu. Izin sang Ayah adalah mutlak. Mau tidak mau Diana hanya bisa patuh dan menurut.


"Nih amplopnya sekalian." Ucap Sang Ayah.


Diana begitu kecewa. Bahkan Ayahnya tak berminat mempertimbangkan sebentar saja. Sekilas dia melihat buah catur yang tak beraturan. Sedikit banyak dia paham bahwa Ayahnya kalah telak dengan raja milik Ayahnya dikepung dari segala sudut.


"Kayaknya Ayah makin bad mood karena kalah main caturnya. Resek Willy! Bukannya bantuin malah bikin makin gak ada harapan." Maki Diana dalam hati sambil melirik tajam pada Willy.


"Kenapa muka kamu malah merengut begitu?" Cibir Arman pada putrinya.


Diana tak menjawab. Dia benar-benar gondok saat ini. Kakinya segera bangkit dan pergi menghilang di balik pintu.


Arman beralih menatap Willy. Keningnya terlipat, alisnya bertaut, dan menatap tajam pada pemuda yang keheranan di depannya.


"Kau apakan putriku?" Tanya Arman.


"Mana saya tahu Om, kan saya dari tadi di sini sama Om." Ucap Willy yang menciut.


Bluk, bluk, bluk,


Terdengar gemuruh langkah kaki mendekat. Diana setengah berlari, muncul dari balik pintu sambil berurai air mata.


Dia berlari dan langsung memeluk sang Ayah. Ayah dan Willy sontak terkejut dan bingung. Ayah Arman bahkan sampai hampir terjungkal karena mendapat pelukan tiba-tiba dari putri sulungnya itu.


Willy berusaha menahan tawanya melihat drama mengharukan nan menggelitik itu.


Hei, hei, kamu kenapa sih? Gak malu apa, sudah segede gini masih nangis." Ucap Ayah Arman sambil menepuj-nepuk punggung putrinya.


Diana duduk dan menghapus air matanya. Bibirnya masih merengut dan sesenggukan.


"Ayah kok gak bilang kalau sudah tanda tangan?" Ucap Diana yang masih cemberut karena merasa sedang di prank sang Ayah.


"Emang Ayah bilang kalau gak mau tanda tangan?"


Bbbfftthhh..


Willy semakin tergelitik yang sontak membuat Diana melirik tajam padanya.


"Maaf ya, Ayah merasa egois kalau sampai tidak memberi kamu kesempatan."


"Makasi ya Yah.. Diana akan berlatih keras dan berusaha buat Ayah bangga."


Arman membelai kepala Diana. "Makasih juga sama Willy. Dia yang udah bikin Ayah sadar kalau Ayah seharusnya mendukung potensi putri Ayah satu ini. Jangan lupa belajar juga tapi.."


Diana beralih menatap Willy yang sudah tersenyum sambil menaikturunkan alisnya.


"Makasih ya Will," Ucap Diana.


"Sama-sama," Jawab Willy yang terus menyunggingkan senyum sumringahnya. Entah mimpi apa dia semalam, hari ini dia mendapat banyak keberuntungan.


Ayah bangkit membawa serta semua peralatan pancingnya.


"Om masuk dulu ya, dari pagi belum sarapan. Lain kali kalau senggang kita mancing bareng ya, sambil main catur." Ucap Arman yang tampak begitu santai mengajak Willy mengobrol.


"Siap Om, kabari aja nanti Om," Jawab Willy.


Diana menatap heran pada dua laki-laki yang tampak hangat hanya dalam waktu kurang dari satu jam.


"Kok kamu bisa seakrab itu sama Ayahku? Kayaknya tadi pas kamu datang mukanya masih sangar?" Tanya Diana penasaran.


Deg,


Pipi Diana terasa menghangat. Dadanya bergemuruh. Dia tersenyum kikuk.


"Pa-car?"


Diana masih benar-benar mengingat kesepakatan yang ia buat dengan Willy. Awalnya Diana hanya sedikit terpancing emosi karena saking pesimisnya dirinya kalau sang Ayah akan luluh dan memberi izin.


Entah apa yang dikatakan Willy, tapi sang Ayah berhasil melunak dan langsung membubuhkan tanda tangannya pada formulir yang bahkan terlihat tak disentuh awalnya.


"Gimana caranya Ayah aku bisa langsung melunak gitu? Kamu ngomong apa aja sama Ayah aku?" Ucap Diana berusaha mengalihkan topik.


"Ada deh, mau tau aja. Yang penting kan udah berhasil di-acc Ayah kamu. Tinggal bayar kesepakatannya aja." Ucap Willy yang sontak membuat Diana salah tingkah.


Willy tersenyum puas berhasil menggodai gadis yang cengar cengir malu-malu di hadapannya. Pipinya yang merona benar-benar membuat tangan Willy gatal ingin mencubitnya.


"Kabari aku waktu senggang kamu kapan. Nanti aku bakal ajak kamu keliling pinggiran Kota. Tempatnya bagus banget. Kamu pasti suka." Willy sudah berangan-angan jauh. Rasanya sudah tidak sabar.


"Emang nanti kita mau jalan kemana?" Tanya Diana malu-malu.


Willy begitu girang mendengar kata "..kita.." tersemat di ucapan Diana.


"Rahasia dong, biar penasaran." Jawab Willy yang sontak membuat Diana cemberut.


Willy mendekatkan wajahnya dan berkata sambil berbisik "Dandan yang cantik ya sayang,"


Diana melotot tajam. Seolah ada sengatan listrik mendengar kata "..sayang," yang ditujukan padanya.


Diana mendorong wajah Willy dengan telapak tangannya. Pipinya benar-benar semerah tomat. Willy benar-benar tergelitik melihat Diana yang semakin malu-malu salah tingkah.


"Sial! Sekarang aku jadi bingung gimana izin ke Ayah kalau mau jalan sama Willy. Masak pamitan mau kencan? Bisa gak dikasih uang jajan aku." Batin Diana.


"Nak Willy, ini pesanannya sudah selesai." Mila muncul dari balik pintu sambil membawa bungkusan besar yang berisi kue-kue pesanan Mama Willy.


"Terimakasih Tante," Willy menerima bingkisan itu.


"Yang ini buat kamu sama Mama. Bonusnya,"


Willy menerima lagi bungkusan kecil yang bahkan masih terasa hangat.


"Wah, makasih banyak Tante. Sering-sering bagi bonusnya ya Tan.. Hehehe" Gurau Willy.


"Sering-sering juga order kuenya ya," Balas Mila.


"Kamu bisa bawanya? Mau dibantu Diana?"


Diana sontak melotot ke arah Mamanya. Mamanya selalu kebiasaan bertitah sesuka hati tanpa meminta persetujuan pihak yang disangkut pautkan.


"Sebenarnya aku udah bawa tali sih Tante," Jawab Willy.


Diana bernapas lega. Entah mengapa dia jadi merasa gugup jika berlama-lama di dekat pemuda itu.


"Tapi kalau Diana mau ikut, sekalian jalan-jalan mungkin?"


Eh,


"Ah, iya kamu ikut aja ya Di, sekalian Mama nitip martabak manis dekat pasar ya.. Boleh kan nak Willy?"


Lah?


Wajah Diana kembali terkejut. Bagaimana bisa sang Mama dengan mudahnya membiarkan saja putrinya pergi dengan seorang pemuda hanya karena ingin nitip martabak manis?"


"Ayolah Di, mama pingin banget dari kemarin. Rasa ketan hitam ya.. Gak apa kan nak Willy?" Ucap Mila beralih menatap Willy.


"Siap tante.. Gak masalah," Ucap Willy yang sumringah merasa tak terbebani sedikitpun.


"Bentar ya Wil, aku ganti baju dulu." Diana berjalan gontai menuju kamarnya.


"Sebentar ya nak Willy, duduk aja dulu."


"Iya Tante."


Willy terus saja tersenyum riang. Ini benar-benar hari keberuntungannya. Sekali mendayung tak hanya dua tiga pulau terlampaui, tapi meluncur sampai ke bulan.


Yes.. yes..


Ingin rasanya ia jimprak-jimprak kegirangan saat ini.


Author's cuap:


Aduh.. gak sabar up next nya..


perjalanan senja yang sempat tertunda nih jadinya...


Selamat buat Willy yang udah menang banyak kali ini..