Titip Salam

Titip Salam
Perpisahan - Kejutan (Part 3)



Perpisahan - Kejutan (Part 3)


#144


The Last Perform, Mario dan Diana yang diiringi musik oleh guru vokal sekolah akan menyanyikan lagu See you Again yang dipopulerkan oleh Wiz Khalifa ft Charlie Puth.


Beruntung Diana mendapatkan part yang dinyanyikan oleh Charlie Puth. Sementara Mario yang sudah biasa manggung mendapatkan tantangan lebih untuk membawakan bagian rap.


"Santai aja Mar, meskipun kamu salah lirik rap nya, mereka gak bakal tau. Kamu ngomong no smoking no smoking aja mereka bakal percaya kalau itu bener, hahaha.." Ledek Diana ketika Mario kesulitan melafalkan lirik rap dalam bahasa asing tersebut. Lidah Mario seperti terkilir ketika pertama kali latihan.


Meskipun Mario harus menyanyi dengan membaca teks, namun kini ia benar-benar siap tampil.


Semua berjalan lancar hingga bait rap ke-2 yang tiba-tiba masuk suara rapper barritone namun sangat terasa groovy. Pak Jamal.


Dapat dibayangkan betapa riuhnya suasana perpisahan yang sebelumnya penuh haru, menjadi heboh dengan teriakan histeris dari penonton ketika sang kepala sekolah bergabung di tengah panggung menyanyi rap? Bahkan ini juga menjadi kejutan untuk Mario dan Diana. Sungguh tak sekalipun Pak Jamal berlatih vokal bersama mereka karena hadir saat latihan pun tidak. Namun, sang kepala sekolah benar-benar fasih dengan sedikit dance ala rapper yang super keren.


Beberapa siswa tampak mendekat ke panggung dan berjoget bersama layaknya menonton konser. Mereka juga berebutan untuk mengabadikan momen langka tersebut dengan ponsel mereka. Tepuk tangan, sorak-sorak, dan kebersamaan ini akan menjadi kenangan manis tak terlupakan.


Perpisahan berakhir dengan keseruan dan riang gembira berkat kejutan dari sang kepala sekolah. Pak Jamal, kau akan selalu dicintai oleh anak didikmu.


...


"Ayah, aku boleh gak main dulu sama teman-teman? Teman-temanku belum pada pulang, sebentar aja ya?" Diana memasang wajah penuh harap pada Ayahnya yang sudah siap mengajaknya pulang.


"Main ke mana?" Arman akhirnya luluh melihat wajah memelas putrinya itu.


"Paling mau foto-foto di sekitaran gedung, trus cari bakso di dekat sini. Boleh ya Ayah... Aku janji gak akan kesorean pulangnya.." Diana terus merengek pada Ayahnya. Diana masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temannya hari itu karena esok mereka sudah akan sibuk dengan peesiapan tes seleksi ke Sma.


"Ya sudah, janji jangan pulang terlalu sore. Nanti kalau mau pulang telpon Ayah saja, biar Ayah jemput. Disini kan angkutan umum agak susah." Arman mengusap kepala putrinya yang terlihat senyum kegirangan. Rupanya ada kesejukan ketika melihat putrinya bahagia seperti itu hanya dengan sebuah ijin untuk bisa berkumpul dengan teman-temannya?


Tiba-tiba ada sebuah tangan melingkar di pundak Arman, dan pemilik tangan itu berkata "Man, gak usah repot-repot jemput. Biar putri kamu ini diantar anakku saja pulangnya. Kebetulan dia bawa motor sendiri tadi."


Jefri.


"Bukannya om ini papanya Mario?" Batin Diana yang berusaha mengenali seseorang yang terlihat sangat akrab dengan Ayahnya itu.


"Anak kamu belum punya SIM, kenapa sudah kau beri ijin mengemudi motor sendiri? Bapak macam apa kau ini? Kau pikir aku mengizinkan putriku dibonceng pengemudi ilegal? Gak lah! Itu tidak aman!" Jawab Arman yang merasa keberatan.


"Jangan terlalu keras Man, sebentar lagi juga usianya sudah cukup. Kau dulu juga sudah berkelana sebelum punya SIM. Tenang saja, anakku itu bertanggung jawab. Putrimu pasti aman sampai rumah. Lebih baik kita lanjut ngopi dulu. Kan sudah lama kita gak ketemu."


Tanpa sempat Arman beralasan lagi, Jefri sudah memanggil putranya yang berada tak jauh dari mereka.


Diana yang keheranan melihat tingkah Ayahnya dengan Jefri hanya bisa terdiam dengan kening berkerut semakin dalam. Dua pria dewasa ini terlihat kekanakan sekali ketika adu argumen.


"Boy, nanti kamu tolong antarkan teman kamu ini pulang, bisa kan?" Ucap Jefri sambil mengedipkan sebelah matanya pada Mario yang baru menghampiri mereka.


Mario terdiam beberapa saat mencerna sinyal yang diberikan papanya.


"Bisa kok pa, nanti biar Diana saya yang antar pulang Om," Jawab Mario setelah sembuh dari mode buffering-nya.


"Hei, Diana ini putriku. Kenapa jadi kalian yang mengatur dia pulang bersama siapa?" Arman merasa tak terima hak nya direnggut oleh orang lain.


"Udah, gak usah debat. Ayo kita ngopi aja." Jefri mengacungkan jempol pada putranya, kemudian langsung merangkul pundak Arman untuk berbalik dan segera pergi dari sana.


"Thanks pap," Batin Mario dengan busur kecil yang tersungging di bibirnya.


"Ayah kita lucu ya Mar.. Kalau ngumpul bisa lebih kekanakan dari kita. Hehe..."


"Kita? Jadi aku dan kamu sudah jadi kita?"


Diana melirik jengah pada lelucon yang sama sekali tak lucu itu.


"Ingat ya, aku yang menang. Jadi aku punya dua permintaan ajaib. Kau tidak amnesia kan?" Ledek Diana sambil berlalu meninggalkan Mario.


Mario menatap punggung gadis itu menjauh dengan takjub. Kini, berkali-kali penolakan tak sedikitpun menyurutkan tekat Mario. Ia dibuat semakin tertantang dan terpikat pada pesona gadis itu.


"Kenapa harus dia?" Padahal banyak gadis lain yang akan lebih mudah ia taklukkan?


Mario berkacak pinggang sambil menertawai dirinya dan perasaan yang begitu konyol ini. Otaknya yang berusaha berpikir logis tapi tak dapat berkutik ketika hatinya selalu tertuju pada gadis itu.


Mereka sangat berbahagia melepas masa putih biru mereka dengan mengabadikan kebersamaan dalam potret yang akan selalu mereka kenang.


Ada pertemuan, ada perpisahan, namun perpisahan itu tak akan pernah memutus kekuatan rasa pertemanan, persahabatan, dan cinta.


"Kenapa kamu ngasih helm kamu?" Diana merasa heran ketika menerima helm milik Mario. Pasalnya di motor Mario hanya ada satu helm, dan kalau helm itu untuknya, lalu bagaimana dengan Mario?


"Keamanan kamu lebih penting Di, jadi kamu aja yang pakai helm."


Aw, "Sakit Di,"


Mario mengusap pipinya yang terasa panas setelah mendapat cubitan pedas dari Diana.


"Habisnya kamu ngegemesin banget. Hahaha.." Diana tertawa puas melihat Mario yang cemberut kesal.


"Kalau gemes itu dicium bukan dicubit."


"Idih.. Ngarep banget kamu, hahaha.. Nih, aku balikin helmnya. Ayah udah nitipin helm aku di pos scurity depan. Ayok lah pulang. Udah hampir sore."


Red fire pun melaju perlahan membelah keramaian jalanan kota. Bukan tanpa alasan kuda besi merah yang selalu menggila dijalanan itu kini menjadi sangat jinak karena sang joki ingin mengulur waktu lebih lama bersama sang tuan putri. Kelakuan anak muda.


"Emangnya aku bau ya Di?"


Diana yang mendapat pertanyaan aneh itu spontan menajamkan indera penciumannya.


"Enggak kok! Emangnya kenapa?"


"Ya habisnya kamu duduknya mundur banget. Maju dikit lah, tangannya pegangan. Ntar kalau kamu tiba-tiba jatuh trus gak ketahuan pula, kan bahaya. Punggungku nyaman kok buat bersandar."


Tampak dari kaca spion sebelah kiri yang sengaja mengarah pada gadis di belakangnya itu, Diana mencebik kesal. Diana tampak tetap duduk nyaman pada posisinya tanpa bergeser sedikit pun. Pupus sudah harapan naik motor romantis dengan pelukan nyaman dan terpaan angin yang sejuk.


Jangan ditanya mengapa Mario tak mencoba jurus rem mendadak? Karena sekali ia lakukan, dan tangan gesit Diana langsung memukul helmnya, ia sudah tak berani melakukannya lagi.


Sampailah mereka pada perempatan kota dengan lampu merah terpanjang. Mario bersyukur bisa terjebak lampu merah di sana.


"Jadi apa yang akan kamu minta? Please jangan aneh-aneh ya.." Mario mulai cemas dengan hadiah taruhan yang akan diminta Diana. Dua permintaan ajaib bisa saja menjadi sebuah petaka untuknya kalau Diana terpikir untuk mengerjainya.


"Hmm... Ada satu permintaan yang akan sangat merepotkan. Jadi siap-siap aja ya, hahaha.."


Sudah Mario duga. Ini tidak akan sederhana seperti gadis menginginkan sebuah barang. Pasti Diana sudah terpikir hal usil apa yang harus Mario lakukan nantinya. Sungguh, ia harus ketar ketir sekarang.


Satu per satu kendaraan mulai memadati marka pembatas untuk mengantre melewati persimpangan. Mereka bersama-sama dengan Mario dan Diana menanti lampu berubah menjadi hijau.


Ketika kendaraan berhenti maka saatnya para pengais rezeki di persimpangan bergerak mendekat. Mulai dari penjaja makanan ringan, minuman, mainan, pengemis, pengamen dengan beragam kreatifitas mereka, dan lain-lain.


"Mbak.." Seseorang mengarahkan kardus kecil menyapa Diana.


Diana terperanjat kaget pada apa yang dilihatnya. Ia berteriak dan langsung memeluk pinggang Mario.


Mario membeku beberapa saat ketika ia merasakan tangan yang melingkar erat dipinggangnya dan tubuh hangat yang bersandar di punggungnya. Seperti ada sengatan listrik yang membuat otaknya tumpul seketika.


"Mario cepetan jalaan..."


Kesadaran Mario seketika kembali ketika tubuhnya dikoyak sampai motornya hampir hilang keseimbangan.


"Apaan sih Di? Kita hampir jatuh tau!"


Namun tak kalah terkejutnya seperti Diana ketika Mario menemukan penyebab gadis itu ketakutan sampai memeluknya terlampau erat, seorang dengan kostum hantu urban legend berkain putih dengan ikatan simpul di kepala sedang membawa kardus yang sudah berisi beberapa lembar rupiah.


"Maaf mas, pacarnya kaget." Seseorang itu tersenyum sambil berpindah mengarahkan kardusnya pada Mario.


"Oh, iya gak apa mas.." Mario merogoh kantongnya dan memasukkan satu lembar rupiah ke dalam kardus itu.


"Terimakasih mas.." Ucap orang tersebut ketika melihat warna lembaran yang masuk ke dalam kardusnya.


"Saya yang terimakasih banyak mas. Besok kalau bawa pacar saya lewat sini lagi ya.. xixi" Ucap Mario dengan nada berbisik.


"Mario cepetan jalan!" Ucap Diana sambil mengguncang tubuh yang dipeluknya itu.


"Sabar Di, masih lampu merah nih," Jawab Mario sambil berusaha menyeimbangkan motornya. Tak dapat disangkal kalau tenaga Diana benar-benar kuat bahkan Mario sampai kuwalahan dalam menjaga keseimbangan motornya.


"Kamu jangan goyang-goyang dong! Gak lucu dong kalau nih motor guling dan kita berdua jatuh. Kamu yang tenang, bentar lagi lampu hijau kok," Ucap Mario sambil turut menggenggam punggung tangan yang melingkari perutnya.


Beberapa pasang mata mulai memperhatikan ulah dua anak muda yang begitu berisik di barisan terdepan. Apalagi posisi mereka yang benar-benar merapat berpelukan membuat setiap yang berada di sekitar mereka akan tertarik untuk menggunjing. Semoga saja tak terulang kembali tragedi foto yang menggemparkan kala itu.


Ayah Arman, kalau kau akhirnya mengetahui tentang hal ini, apa yang akan kau lakukan?