
#86
Jebakan Berencana!
Hmm.. hmm.. hmm..
Mila menatap heran pungung gadis yang tengah berdiri di dapur sambil mencuci piring tersebut. Pasalnya, dirumah ini tak pernah ia mendengar seseorang yang bersenandung kecuali suara merdunya.
"Tumben anak ini cuci piring gak pake di suruh? Pake nyanyi nyanyi pula. Kayaknya lagi seneng." Gumamnya.
Yah, perasaan gadis itu tengah berbunga-bunga. Dia melalui hari yang tak akan ia lupakan.
Ketika itu, saat lagu kedua yang dibawakan oleh Fire Freeze band selesai, semua personil band turun dari panggung, kecuali Mario yang kembali naik ke panggung dengan dua buah stool yang ia letakkan sejajar di atas panggung kemudian meletakkan satu mic di atas stool yang kosong dan satu lagi ia jepit pada tiang penyangga mic dihadapan stool yang lainnya. Setelah itu berbalik ke belakang, ia meraih gitar yang ada disana, duduk manis di atas stool yang telah ia siapkan sambil mengatur tinggi tiang penyangga mic.
Semua penonton yang ada di sana pun tampak bingung dengan apa yang akan dilakukan Mario. Mereka tampak bisik-bisik menerka-nerka kejutan apa yang akan dilakukan Mario.
Mario mencoba memetik gitar dan mic yang ada di hadapannya. Setelah semua dirasa pas, ia mulai buka suara.
"Nungguin ya?" Ucapnya sambil cekikikan.
Semua penonton riuh mendapat keisengan dari cara Mario menyapa.
"Aku mau kasih satu bonus lagi buat kalian semua. Tapi aku gak akan sendirian di atas sini."
Penonton mulai riuh jimprak-jimprak histeris mendengar apa yang disampaikan Mario.
Diana yang duduk berteduh dari panas matahari di pinggir lapangan hanya mengernyit heran tidak mengerti.
"Ngapain sampai histeris gitu sih? Lebay banget anak-anak jaman sekarang." Gumam Diana.
"Aku akan mengundang seseorang yang istimewa."
Gemuruh bisik-bisik penonton pun bagai dengung ribuan lebah yang mengitari sarangnya.
"Seseorang yang paling sangar di sekolah ini, setelah pak Jamal tersayang tentunya."
Pak Jamal yang namanya dibuat bahan bercandaan tampak mengepalkan tangan dari tempatnya berdiri sambil tertawa. Mario menangkupkan tangannya sebagai tanda permohonan maaf atas gurauan yang ia lontarkan. Yah, hanya gurauan yang masih dalam.batas toleransi.
"Ada yang bisa menebak siapa dia?"
Diana tampak merengut bingung. "Siapa ya? Pak Samsul (sang guru olagraga)? Pak Supri (satpam.sekolah)?" Gumam Diana.
"Clue-nya, dia adalah seorang perempuan."
Deg,
Diana membulatkan matanya, menelan salivanya. "Kok feeling aku gak enak ya?"
Mendengar kata "..perempuan.." sontak dengungan para kerumunan penonton semakin riuh.
"Dari pada kelamaan penasaran, langsung saja kita undang ke atas panggung, gadis tersangar dan tertangguh di SMP 15 tahun ini.."
Diana semakin dag dig dug mendengarkan tiap kata yang keluar dari mulut pemuda itu. Semoga saja apa yang ada dipikirannya saat ini tidak akan benar-benar terjadi.
"..Peraih medali emas cabang beladiri putri tingkat kabupaten tahun ini, Diana Shandy kelas 3A.. " Ucap Mario sambil menoleh ke titik di mana Diana duduk menepi.
Zahra dan Hera yang berada di tengah kerumunan penonton sontak berteriak paling lantang mendengar nama temannya itu disebutkan.
"Loh, kok gak ada?" Batin Mario ketika mendapati titik itu kosong tak berpenghuni.
"Mam pus! Kalau sampai Diana gak naik, bisa malu banget aku." Batin Mario.
Mario tak habis akal. Dia mulai mengajak penonton bersorak memanggil nama Diana bersama-sama.
Sementara dimana Diana?
Diana membawa gelas kosong yang ia pinjam dari kantin tadi untuk mengembalikannya sekaligus kabur dari panggilan riuh para penonton yang menyebut namanya.
"Dasar gila! Sinting! Sakit jiwa si Mario itu. Seenaknya aja ngundang orang ke atas panggung gak pake di breefing dulu. Sialan bocah tengil kampret satu itu." Ucap Diana tak ada habisnya mengumpati Mario sambil berjalan ke arah kantin.
Grep,
Sebuah telapak tangan meraih lengan Diana dari arah belakang.
"Kamu mau kemana Di?"
Diana tersentak kaget ketika lengannya ditarik paksa untuk kembali menuju lapangan depan.
"Silvi, lepasin! Aku gak mau ke sana.. Aku malu.." Diana bersusah payah untuk melepaskan diri.
"Jangan gitu dong Di.. Kamu bakal lebih malu kalau gak mau naik panggung. Semua orang udah manggil nama kamu.." Ucap Silvi berusaha membujuk Diana sambil terus menarik lengan gadis itu.
"Eh, Rosa sini! Bantuin.." Ucap Silvi yang melihat Rosa dari arah kantin.
"Iya.. iya.." Rosa langsung berlari dan ikut atraksi tarik-tarikan.
"Oke, oke! Aku naik. Lepasin dulu, aku bisa jalan sendiri." Ucap Diana sambil menghentakkan lengannya yang telah dicengkeram oleh Silvi dan Rosa.
"Aku mau balikin gelas bu Ida dulu." Ucap Diana menunjukkan gelas kosong yang ada ditangannya.
"Kelamaan! Biar aku aja yang balikin. Rosa kawal Diana sampai naik panggung ya.." Silvi segera merenggut gelas itu untuk mengembalikannya pada pemiliknya.
"Ayo, buruan!" Ucap Rosa sambil menarik pergelangan Diana agar gadis itu segera mengambil langkahnya.
"Iya, iya Ros.. Gak usah kayak gini juga. Kayak nangkep buronan aja.." Diana menggerutu kesal.
Sampailah Diana di ujung tangga sebelum naik ke panggung.
"Buruan naik.." Rosa mendorong pelan punggung Diana agar segera naik ke panggung. Rupanya Rosa benar-benar amanah melaksanakan titah dari Silvi untuk mengawal Diana sampai benar-benar naik ke panggung.
Mario tersenyum lega melihat Diana datang dan duduk di stool yang telah ia siapkan. Sementara Diana harus memaksakan bibirnya tersenyum malu-malu.
"Terimakasih Diana, sudah bersedia naik ke panggung ini." Ucap Mario menyambut kedatangan Diana.
Suara sorakan, ciye-ciye, siul-siul, tepuk tangan riuh, menggema bagai dengungan yang bukannya membuat Diana semakin bersemangat, tapi justru ketegangan yang ia rasakan.
"Mario, aku gak bisa nyanyi.." Bisik Diana pada pemuda yang menjebaknya itu.
"Gak apa-apa, kamu duduk manis aja disitu." Jawab Mario sambil berbisik.
Diana memanyunkan bibirnya, namun kembali tersenyum ketika menatap penonton.
Banyaknya penonton yang memandang ke arahnya membuatnya semakin berdebar hebat. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bergulir dari pelipisnya. Ketika penampilan drama yang ia perankan tadi, penontonnya tidak sebanyak seperti saat ini. Diana seperti terserang demam panggung.
Mario mulai memetik dawai dan melodi pun mulai menggema.
"Kamu gak usah lihat ke penonton. Lihat aku aja.."
Deg,
Hati Diana berdesir mendengar ucapan Mario. Namun ia benar-benar melakukannya. Dia hanya menatap pada pemuda itu. Pemuda yang telah menjebaknya dalam situasi ini, namun dirinya pula yang memberi sedikit ketenangan pada Diana hanya dengan memandangnya.
Mario terus memetik gitarnya, tersenyum sambil sesekali menatap gadis yang tampak nervous di sampingnya.
...(Mario voice..)...
...Terakhir.....
...Kutatap mata indahmu...
...Di bawah bintang-bintang...
...Terbelah hatiku, antara cinta dan rahasia...
Diana mengenal lagu ini. Lagu ini juga ada dalam.daftar playlist Mario.
"Sial! Rupanya dia nyuruh aku menghafal lirik lagu-lagu yang ia berikan untuk jebakan ini?"
...(Masih suara Mario,)...
...Kucinta padamu...
...Namun kau milik sahabatku...
...Dilema, hatiku...
...Andai ku bisa berkata sejujurnya.....
Diana menyetel mode on pada mic yang sedari tadi ia pegang.
...(Suara Mario)...
...Ja--...
...(Suara Diana)...
...Jangan.. kau pilih dia...
Mario menoleh terkejut pada Diana. Dia tak menyangka gadis itu akan turut mengambil bagian dari bait lagu yang ia mainkan.
...(Suara Diana)...
...Pilihlah aku...
...Yang mampu mencintamu...
...Lebih dari dia...
Diana tersenyum melirik Mario yang terkejut seolah matanya berkata "Kamu nantangin aku? Aku jabanin Mario!"
...(Suara Diana)...
...Bukan, ku ingin merebutmu...
...Dari sahabatku...
...Namun kau tahu...
...Cinta tak bisa, tak bisa kau salahkan...
...Cinta dan Rahasia - Yura Yunita ft Glenn Fredly...
Entah dari mana keberanian dan rasa percaya diri tiba-tiba merasuk pada diri Diana sehingga ia dapat benar-benar menjadi teman duet sang bintang.
Tepuk tangan riuh menggema mengiringi berakhirnya lagu itu.
"Lagi.. Lagi.. Lagi.." Teriak salah satu provokator di tengah kerumunan. Suaranya begitu familiar.
"Zahra..." Gumam Diana mengeratkan giginya.
Dan semua pun turut menyahut "Lagi.. lagi.."
Mario menoleh pada para host dan Pak Jamal yang sudah berada di dekat tangga. Mereka menggerakkan tangan seolah memberi persetujuan satu lagu lagi untuk memuaskan para penonton yang rela berjemur di bawah teriknya matahari demi keseruan acara PENSI.
Pandangan Mario beralih pada lawan duetnya. Diana tampak menggeleng pelan pertanda dia sudah tidak sanggup berlama-lama lagi di atas panggung.
Apa yang dilakukan Mario? Dia kembali memetik gitarnya.
Diana melotot tajam ke arah pemuda yang sudah dipastikan ia sumpah serapahi di dalam hati.
Ekspresi Diana yang seperti itu malah membuat Mario semakin bersemangat. Dia sangat tau setangguh apa gadis itu. Diana tidak akan dengan mudah mengaku kalah.
Lagu berikutnya dimulai..
Everything - Michael Buble (mode on)
"Aduh, kok de javu rasanya.." Batin Diana.
...
Author's cuap:
Hmm leleh meluberr gak tuh,,
Mau dong di genjrengin juga bang Mario...
Hihihi..
Makasih udah baca..
readers ku sayang jgn lupa supportnya ya..
like comment vote
Ditunggu nih cuap2 kalian di kolom komentar ya..
gemessshhh gitu bacanyaaa