Titip Salam

Titip Salam
Menepati Janji Ketemuan



#42


"Ssst.. siapa tuh yang lagi di pinggir lapangan. Kayaknya doi sengaja tuh mau nontonin kamu latihan." Bisik Abdul pada Mario.


Mario mengedarkan pandangan mencari siapakah seseorang yang dimaksud Abdul. Tangan Abdul memegang kepala Mario agar menhadap pada satu arah. Disana di depan mereka, tepat searah jari Abdul menunjuk, seorang gadis berambut sebahu tampak duduk bersilah membelakangi mereka menghadap ke arah lapangan.


Mario berjalan mendekatinya lalu menepuk pelan pundaknya.


"Kamu kok disini? Sengaja ya, mau nontonin aku latihan bola." Ucap Mario dengan rasa percaya diri yang tinggi mendekati titik kesombongan.


"Hei, kak Mario." Ucapnya sambil mendongak kemudian berdiri mensejajarkan dengan Mario.


Teot..


"Aku kan emang selalu nontonin kakak latihan, ya kan?"


Wajah Mario yang semula sumringah berubah masam. Ternyata gadis itu bukan seseorang yang ia perkirakan. Dia adalah Stefi.


Rasa bahagia karena menyangka itu adalah Diana mbuatnya lupa bahwa Stefi juga memiliki gaya rambut yang sama dengan Diana. Entah Stefi sengaja atau tidak menyama-nyamakan gaya rambutnya dengan Diana. Yang jelas, hal itu sudah membuatnya terkecoh hari ini.


Mario melirik Abdul yang berada di sebrang lapangan sedang terpingkal menahan tawa. Dia pasti tau bahwa Mario telah salah sasaran.


"Sial, kampret banget tuh bocah. Ketawa lagi.." Batin Mario sambil melotot pada Abdul.


"Sorry aku salah orang." Ucap Mario jujur dan langsung pergi menuju tempat dimana Abdul duduk.


Stefi yang semula tampak hepi langsung terlihat kesal. Belum sempat membalas perkataan Mario, namun dia ditinggalkan begitu saja.


Tenggelam dalam emosi yang dirasakannya, sebuah tepukan di bahu membuatnya terlonjak.


"Berusaha nyama-nyamain diri ya, sama Diana?" Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang.


Zahra disana menampakkan senyum mengejeknya. Stefi yang sudah dibuat badmood pun berusaha meredam emosinya.


"Maksudnya gimana ya mbak?" Ucap Stefi berusaha santai.


"Emangnya kamu kira aku gak paham sama maksud kamu potong rambut dengan gaya yang sangat mirip dengan rambut Diana?" Ucap Zahra dengan sorot mata mengintimidasi.


"Gak usah sok tau! Ini emang gak sengaja. Lagian gak usah ikut campur urusan orang." Cerca Stefi.


"Terserah deh apa alasan kamu. Saran dari aku sih, gak usah berusaha jadi orang lain. Gak baik. Be your self aja. Kamu gak mikir Mario malah makin risih dengan kamu yang kayak gini." Zahra kemudian berlalu menjauh menuju kerumunan di sisi yang lain.


Stefi semakin kesal dibuatnya. Namun dia merenung sejenak mencerna ucapan Zahra barusan. Dia menyadari tidak bisa melakukan apapun pada Diana karena mengingat dia bukan tandingan untuk jagoan bela diri seperti Diana. Mario? ah, entahlah mengapa tak sedikitpun melirik ke arahnya dan malah lebih memperhatikan gadis biasa seperti Diana.


Stefi mulai berkesimpulan mungkin Mario lebih menyukai gadis berambut pendek. Dia merelakan rambut panjang indahnya untuk dipangkas demi menarik perhatian cowok gebetannya itu. Namun hasilnya nihil. Mario masih tampak acuh. Bahkan sapaan tadi bukan diperuntukkan dirinya. Karena Mario menyangka dirinya adalah orang lain.


Stefi mulai menyetujui perkataan Zahra padanya. Menjadi orang lain bukan jawaban. Atau mungkin Stefi lebih baik move on. Tapi hatinya masih sulit menerima mengingat dia telah berjuang cukup lama.


...


"Di, kamu jadi ketemuan sama cowok itu?" Bisik Rosa.


"Aku lupa Ros," Jawab Diana sambil menatap Rosa.


"Kebiasaan penyakit pikunnya."


"Tapi dia kan gak bilang jamnya. Emangnya dia tau kita balik latihan jam berapa, ya kan? Males banget kalau harus bengong nungguin. Siapa tau dia cuma niat ngerjain aku."


"Hush, gak boleh berprasangka buruk gitu Di. Dari tampangnya sih, cowok itu kayaknya anak baik-baik deh."


Diana berpikir sesaat dan akhirnya mengambil keputusan yang dirasa paling bijak.


"Ya udah kita lihat aja dulu. Kalau anaknya gak ada kita titip pesen sama abang pentol korea duruh bilang kalau kita udah balik. Oke gak?" Ucap Diana.


Rosa mengacungkan jempolnya tanda setuju.


"Di, tunggu!"


Diana menoleh ke sumber suara yang terdengar tak asing baginya.


"Zahra, ngapain kamu hari Minggu di sekolah?" Tanya Diana.


Diana nampak membulatkan bibirnya. "Pantas aja tadi kayaknya banyak anak-anak keluar masuk sekolah." Batin Diana.


Diana nampak celingukan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut lapangan upacara, lokasi biasanya latihan beladiri berlangsung.


"Cari siapa? Mario? Dia masih di belakang. Kayaknya lagi ngobrol sama cewek-cewek fansnya. Ada Stefi juga loh.. Kamu mau nengok?" Ajak Zahra.


"Apaan sih, siapa juga yang nyari Mario. Udah ah, ayo balik." Ucap Diana sedikit salah tingkah.


"Halah, ngeles tuh." Cibir Zahra yang diikuti cekikikan oleh Rosa.


...


Willy menikmati jajanan pentol korea yang kelihatannya menjadi langganan Diana. Dia duduk di bangku halte yang teduh dengan pepohonan tinggi di pinggir jalan. Dia sedang menunggu.


Sudah sekitar setengah jam dia disana. Lebih baik dia yang menuggu, karena dirinya tak yakin Diana mau menunnguinya. Toh dia yang berkepentingan. Bukan Diana.


Penantiannya tak sia-sia. Samar-samar dari tempatnya duduk, dia melihat seseorang menggunakan jaket abu-abu yang dia kenal sedang berjalan mendekat bersama dua orang lainnya.


Willy berdiri dengan senyum merekah melihat Diana datang menepati janjinya. Dia berjalan mendekat.


"Di, kita duluan aja ya, da.." Rosa segera pergi menarik tangan Zahra yang tampak enggan pergi.


"Loh, kok aku ditinggalin sih.."


Diana masih menatap kepergian teman-temannya berbelok masuk gang yang biasa mereka lewati.


"Maaf, kamu jadi ditinggalin teman-teman kamu." Ucap Willy mengembalikan fokus Diana padanya lagi.


"Ya udah, ada apaan?"


"Aku cuma mau kasih ini buat kamu."


Willy menyerahkan sebuah paperbag kecil pada Diana. Diana tak lantas menerimanya. Mata Diana lebih terfokus pada jam tangan yang digunakan di tangan kanan Willy.


Diana bukannya memperhatikan kebiasaan aneh Willy yang memakai jam tangan di tangan kanan, melainkan jam tangan itu sendiri yang tampak familiar.


"Kamu terima ya.." Lanjut Willy.


"Ini untuk apa?" Tanya Diana setelah menerima paperbag dari tangan Willy.


"Ini ucapan terimakasih karena kamu sudah menolong aku waktu itu." Jawab Willy.


"Gak apa-apa kok, aku cuma gak sengaja lewat disana. Gak usah pakai ngasih beginian juga.." Diana mengulurkan kembali paperbag yang sudah ia terima.


"Tapi gak semua yang lewat bakalan berani bantuin aku kayak yang kamu lakauin. Terimakasih sudah berbuat baik malam itu. Kalau kamu gak bantuin aku, mungkin gak cuma aku yang babak belur, tapi motor aku juga bisa jadi korban. Kamu terima ya, anggep aja hadiah pertemanan." Tutur Willy panjang lebar.


"Ya udah aku terima. Makasih ya.." Ucap Diana kemudian.


"Kalau udah selesai aku balik duluan ya, mau ngejar temen-temen aku. Kayaknya mereka belum jauh." Pamit Diana kemudian melambaikan tangan.


Willy belum sempat berkata apapun tapi Diana sudah berlalu meninggalkannya. Sebetulnya dia masih berbincang sedikit lebih lama. Mungkin Diana masih merasa malu karena mereka belum akrab.


"Tidak apa, yang penting aku sudah melakukan yang kamu inginkan. Menyerahkannya langsung dengan tanganku."


Willy pun beranjak dari tempatnya, kembali menuju bengkel om Rudi sebagai persinggahan sembari menunggu jam latihan basketnya.


"Diana, semoga kamu suka." Gumam Willy.


...


Author's cuap:


Be a gentleman bang Willy,,


buat readers jangan lupa supportnya ya..


terimakasih..