Titip Salam

Titip Salam
Everything



#77


Everything


Di sebuah kamar yang sudah temaram oleh lampu tidur, Diana masih terjaga diatas ranjang susun sisi bawah, memegang benda kecil seukuran dua ibu jari ditangannya. Benda dengan layar kecil menyala berwarna biru yang terlilit kabel headset.


Benda itu ia dapatkan dari seorang pemuda yang sering membuatnya kesal, namun Diana menikmati rasa kesalnya itu. Yah, Diana jadi sering tersenyum sendiri ketika otaknya mereka ulang tiap keusilan pemuda itu.


Siang hari sepulang sekolah, Mario menghadangnya di dekat gang yang biasa ia lewati menuju titik tunggu angkot bersama teman-temannya. Mario berhasil menculiknya menuju halte dengan sedikit drama adu mulut namun akhirnya Diana kalah juga karena teman-temannya yang justru berpihak pada Mario. Baiklah Diana, saatnya senam jantung.


"Maaf kalau kemarin-kemarin bikin kamu kesel." Ucap Mario setelah mereka berdua duduk di bangku panjang halte.


"Iya, gak apa-apa." Ucap Diana sambil memainkan kakinya yang menggantung.


"Maaf juga kalau berita yang beredar tentang kedekatan kita malah bikin kamu susah." Lanjut Mario.


Diana menatap Mario yang berucap sambil menunduk lesu disampingnya. Dia merasa ada yang aneh dengan pemuda di sampingnya itu. Biasanya Mario selalu usil dan tengil. Ada saja tingkahnya yang membuat Diana kesal.


Tapi kali ini berbeda. Ini tidak seperti Mario yang ia kenal. Beberapa menit yang lalu sikapnya masih biasa saja.


"Jangan-jangan dia kesurupan." Batin Diana sambil sedikit demi sedikit menggeser posisi duduknya menjauh dari Mario.


"Aku baru tau tentang apa yang dilakukan Stefi ke kamu." Ucap Mario yang masih menunduk sambil memainkan jemarinya.


"Ah, pasti Rosa yang cerita. Padahal aku sudah bilang jangan sampai ada yang tau." Batin Diana.


"Hmm, itu udah berlalu." Ucap Diana.


"Maaf Di, aku gak nyangka kalau dia sampai berani main fisik." Lanjut Mario dengan nada sendu.


"Haishh, kamu baru tau kalau fans kamu banyak yang sinting?" Umpat Diana dalam hati.


"Aku minta maaf."


Diana mengerutkan keningnya semakin dalam. "Mario beneran kesurupan kayaknya." Diana menggeser semakin jauh sampai ujung. Setidaknya jarak yang kurang lebih satu meter ini bisa memberinya kesempatan kabur kalau-kalau Mario tiba-tiba mengamuk akan menerkamnya.


"Aku yang salah. Aku selalu diam dan tidak menyangkal gosip aneh-aneh tentang kita. Aku gak berpikir kalau semuanya akan berdampak buruk pada kamu. Maafin aku ya-" Mario dengan tulus meminta maaf.


Mario mengernyitkan keningnya ketika mengetahui Diana sudah berpindah duduk sangat jauh.


"Kamu ngapain mojok kesana?"


Diana meringis malu-malu. Otaknya berusaha mencari alasan yang tepat untuk menutupi pemikiran konyolnya tadi.


Mario tiba-tiba menggeser duduknya mendekat yang sontak membuat Diana terkejut. Diana sudah tidak dapat bergerak. Duduknya sudah berada paling ujung sampai bahunya menempel pada tiang besi penyangga atap halte.


"Kamu kenapa ketakutan gitu?" Ucap Mario heran melihat Diana yang tampak menciut di pojokan bangku.


"Kamu gak lagi kesurupan kan?" Ucap Diana akhirnya.


"Hah?" Mario mengerutkan keningnya semakin dalam mendengar pertanyaan aneh dan tidak masuk akal dari Diana.


"Diana.. Ngapain kamu nanya Mario kesurupan? Be go..." Umpat Diana dalam hati.


"Lupain aja, hehehe." Ucap Diana malu sendiri.


"Oh iya, mana tangan kamu?" Mario mengulurkan tangannya meminta telapak tangan Diana.


Nah kan, nah kan..


"Tangan? Buat apa?" Tanya Diana sambil menggenggam erat menyembunyikan tangannya sendiri.


Mario merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda mungil seukuran dua ibu jari dengan kabel headset yang melilitnya, sebuah mp3 player.


"Nih, dengerin dirumah." Ucapnya menyerahkan benda itu.


"Gak mau. Harganya pasti mahal. Lagian kamu gak usah lah ngasih sesuatu lagi ke aku. Nanti dikiranya aku cewek matre."


Eh, eh,


Mario menarik tangan Diana dan langsung meletakkan benda itu di tangan Diana.


"Siapa yang mau ngasih kamu? Aku cuma nyuruh kamu dengerin di rumah." Ucap Mario.


Diana memanyunkan bibirnya. "Kumat lagi tengilnya!" Umpat Diana dalam hati.


"Mau aku antar pulang?"


Dan wajah tengil itu membuat Diana tersenyum seorang diri ketika membayangkannya saat ini.


"Aku kok malah jadi hepi kalau dapat keisengan dari kamu?" Batin Diana sambil tersenyum menatap mp3 player yang berada di tangannya.


Suara seseorang berbicara disana. Yah, itu suara Mario.


*Hai Diana,


Ini beberapa koleksi lagu yang aku suka dengerin.


Bedanya, semua lagu yang ada disini bikin aku teringat sama kamu ketika lagu-lagu ini aku putar.


Semoga kamu juga suka.


Kalau perlu kamu hafalkan ya..


"Haishh, kemarin bukunya dibuat pr suruh baca. Sekarang, nyuruh hafalin lagu." Gerutu Diana seolah menjawab Mario yang sedang berbicara di depannya.


Lagu pertama, "Everything - Michael Buble." Ucap Diana mengeja tulisa yang muncul pada layar kecil benda tersebut.


Diana yang tidak begitu memahami lagu tersebut hanya mendengarkan saja sambil ber hmm-hmm ria. Diana memang belum pernah mendengarkan lagu-lagu seperti ini.


"Enak juga lagunya, apa ya artinya? Besok cari tau liriknya ah," Ucap Diana mulai penasaran.


Diana mulai menguap merasakan kantuk. Lama kelamaan Diana mulai terhanyut dengan irama musik yang ia dengarkan, dibawah pohon yang rindang, bersama seorang pemuda yang duduk memainkan gitar klasik dan tersenyum ke arahnya.


*And in this crazy life, and through these crazy times


It's you, it's you, you make me sing


You're every line, you're every word, you're everything


Diana benar-benar meleleh mendapat perlakuan seperti itu. Seorang pemuda tampan dengan wajah penuh kelembutan dan tersenyum riang menyanyikan lagu dengan gitar ditangannya, tepat di depan matanya.


Benar-benar sebuah lagu yang dinyanyikan khusus untuk dirinya karena tidak ada siapapun lagi disana selain dirinya.


Diana tidak begitu mengerti apa maksud dari lagu berbahasa asing itu. Namun yang jelas lagu tersebut dinyanyikan dengan begitu manis dan menyentuh hati.


"Apa itu lagu cinta?" Batin Diana sambil mata yang tidak dapat lepas dari pemuda dihadapannya itu.


Lagu pun berakhir, dan ditutup oleh perkataan manis dan lembut pemuda itu. Seuntai kalimat yang membuat Diana semakin memompa jantungnya begitu cepat.


"Aku menyukai kamu, Diana."


Diana merasakan angin segar menerpa wajahnya. Diana tersenyum senang mendengarkan kalimat itu terucap dari bibir pemuda itu.


"Terimakasih, Mario. Terimakasih untuk semua yang sudah kamu lakukan buat aku. Aku sebetulnya,-"


Belum sempat Diana menjawab, pemuda itu kembali berkata..


"Diana, anterin pipis dong."


"Hah?" Diana merasa kaget. Suasana yang terbangun begitu manis berubah menjadi aneh.


"Pipis?"


"Mbak, bangun.. anterin pipis.."


Diana mengerjapkan matanya.


"Mbak Di bangun, anterin pipis." Ucap Tania berdiri tepat disamping ranjang Diana sambil mengapit-apit kakinya.


Diana melihat sekelilingnya, pemandangan yang familiar karena memang itu adalah kamarnya, kemudian melirik jam yang menunjukkan pukul dua pagi.


Diana mengusap kasar wajahnya. "Astaga! Cuma mimpi?" Gumam Diana.


"Ayok mbaaak." Tania mulai merengek.


"Iya, iya," Diana bangun dengan malas-malas.


"Bisa-bisanya aku sampe mimpiin Mario?" Gumam Diana.


...


Author's cuap:


Lagunya merasuk sampai mimpi ya...


Padahal belum tau arti lagunya,,


Kalau udah tau makna dari lagunya, waduuuuh...


Bang Willy... Mario satu langkah dibdepanmu nih..