Titip Salam

Titip Salam
First Kiss



#140


First Kiss


Mario sedang menari-nari di atas awan. Nilai ujian yang sangat memuaskan membuatnya keluar sebagai pemenangnya.


"Gimana? Sudah mau mengaku kalah?" Mario tersenyum menyeringai sambil memamerkan selembar kertas yang berisi nilai ujian kelulusannya.


Diana tampak kesal dan tak terima. Namun kesepakatan tetaplah hutang yang harus dibayar. Ia tak menyangka bisa kalah telak dari pemuda yang ia kira tak akan mampu lebih unggul nilai pelajarannya dibandingkan dengannya. Sungguh, es krim coklat yang begitu manis dan seharusnya dapat membangkitkan hormon kebahagiaan yang sedang ia lahap seolah terasa hambar bahkan pahit di mulut Diana.


"Kamu gak boleh kesel gitu dong Di.. Kan kamu sendiri yang mau taruhannya dilanjutkan."


Diana menghela nafas berat. Ternyata dirinyalah yang terlalu percaya diri. Mario benar-benar tak bisa diremehkan.


"Oke, aku ngaku kalah." Ucap Diana sambil melahap penuh satu sendok es krim ke dalam mulutnya.


"Nah gitu dong... Jadi sesuai kesepakatan, kalau aku menang berarti kita ja... ja..."


"Ja...jan" Diana merasa enggan meladeni Mario yang sudah ingin ia cabik-cabik karena wajah tengilnya.


Kini giliran Mario yang bersungut kesal karena jawaban nyeleneh Diana. "Serius dong Di! Kok jajan sih?"


Dengan penuh keberanian, Mario meraih tangan Diana dan menggenggamnya begitu erat. Diana sangat terkejut sampai-sampai ia membeku tak berkutik.


"Aku sangat berusaha keras untuk semua ini Di," Mario menatap mata gadis itu dengan sungguh-sungguh.


"Kalau kamu merasa aku menjebak kamu, jawabannya iya memang aku sedang menjebak kamu dalam taruhan ini. Tapi aku menang secara fair. Aku sangat bersungguh-sungguh."


Diana tak mampu berkata-kata lagi. Ia tahu betul kegigihan pemuda itu.


"Aku benar-benar suka sama kamu Di.. Aku sayang sama kamu." Suara Mario mulai melemah namun sarat akan kesungguhan dan kejujuran.


Diana benar-benar bergetar oleh tiap kata yang diucapkan pemuda itu. Hatinya benar-benar meleleh yang membuat embun mulai menggenangi matanya.


"Aku tahu kamu juga merasakannya Di. Please, kamu jujur tentang perasaan kamu."


Yah, kamu memang kalah Diana. Kamu kalah untuk taruhan itu dan benar-benar kalah untuk menyembunyikan perasaanmu. Akuilah dengan lapang dada.


Diana meletakkan telapak tangannya yang lain pada tangan yang sudah menggenggamnya dengan sangat hangat. Menepuknya secara perlahan.


"Aku mengaku kalah Mario. Aku juga mau minta maaf kalau aku susah untuk jujur tentang perasaan aku karena aku malu." Ucap Diana dengan lirih.


"Kenapa harus malu? Kamu kan juga tau kalau aku juga suka sama kamu?" Mario terus berusaha meyakinkan gadis itu tentang kesungguhannya.


"Aku merasa kamu terlalu tinggi untuk aku gapai. Kamu yang di idolakan banyak orang sementara siapalah aku yang cuma remah-remah dan bukan siapa-siapa." Setetes air meluruh dari sudut mata Diana.


Dengan sigap Mario menghapus lelehan air mata itu dengan ibu jarinya. Sangat manis.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu. Kamu itu istimewa. Kamu spesial buat aku. Jangan merendahkan diri kamu seperti itu lagi. Kamu hanya perlu lebih percaya pada diri kamu sendiri."


"Ya udah deh, gak usah pakai aroma bawang sedih-sedih. Terserah kamu mau alasan apapun, sekarang kamu sudah kalah, berarti kita jadian. Kamu jadi pacar aku. Titik!" Ucap Mario langsung pada poin agar tak ada air mata lagi yang terjatuh. Mario tidak mau menjadi lemah dan mengalah. Ia sudah menang dan harus mendapat hadiahnya.


"Gak bisa ditawar kita jadiannya lulus kuliah aja gitu?" Diana masih berusaha untuk negosiasi ulang.


"Gak bisa!" Jawab Mario dengan tegas.


"Ya udah deh kalau gitu.." Diana akhirnya pasrah pada keadaan.


"Jadi, kita jadian? Kamu mau jadi pacar aku?" Mario tampak sangat berbinar. Akhirnya.. Akhirnya.. Setelah beberapa kali penolakan, hari ini ia bisa melumpuhkan benteng yang selama ini dibangun oleh Diana.


Diana mengangguk perlahan. "Ya memang harus mau kan?" Jawabnya yang kemudian tersenyum malu-malu.


"Yes!!" Mario melompat dan berteriak saking senangnya. Ia sampai lupa kalau mereka tak sedang sendiri di sana. Bahkan Bang Hendra sang pemilik kedai yang berada jauh dari meja mereka sampai geleng-geleng dibuatnya.


"Mario, jangan berisik dong.. Malu tau! Kita dilihatin orang-orang." Bisik Diana yang berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Maaf, habisnya aku seneng dan lega banget. Makasih ya sayang.."


"Apa?" Ada getaran aneh di dada Diana ketika mendengar kata terakhir dari Mario.


Mana mungkin Diana lupa. Itu adalah salah satu hari terindah yang tak akan pernah Diana lupakan.


"Sayang, aku boleh minta sesuatu gak?"


Tak dipungkiri ada rasa senang tapi malu bercampur menjadi satu. Sepertinya Diana harus mulai terbiasa dengan panggilan itu.


"Minta apa?"


"Aku boleh gak cium kening kamu? Aku mau menghapus kenangan pertama kali cium kening kita dulu, yang aku curi karena aku yang ingin ngerjain kamu, tapi sekarang aku ingin menggantinya dengan perasaan sayang yang tulus. Boleh ya?"


Mario benar-benar menantang nyalinya. Baru saja ia mendapatkan hati, sekarang sudah ingin lebih?


Diana memandang sekeliling. Tak begitu banyak pengunjung di sana. Apalagi posisi meja mereka cukup jauh dari pengunjung lainnya.


Diana memberi anggukan sebagai jawaban. Wah.. Bagaikan ada angin segar menerpa wajah Mario. Ia menang banyak hari ini.


"Sekarang ya?" Ucap Mario sambil merapatkan duduknya untuk lebih mendekat dan menghapus jarak di antara mereka.


Mario sangat berdebar untuk memulainya. Ia tak menyangka gadis itu akan dengan mudahnya memberikan izin padanya.


Mario mulai mengusap lembut kening yang tertutup poni itu. Kening yang pertama kali ia cium itu, yang membuatnya dihadiahi sebuah hantaman tepat dihidungnya, namun ia yakin kali ini ia akan mendapatkannya tanpa ada hadiah mengerikan lagi setelahnya. Ia telah memintanya dengan seizin pemiliknya.


Mario mengatur nafasnya ketika gadis itu mulai memejamkan mata. Ditatapnya wajah tenang Diana yang tengah terpejam.


Namun, pandangan Mario tak lagi terpusat pada kening gadis itu. Ada titik lain yang lebih menarik fokus mata Mario. Bibir tipis gadis itu. Bibir yang selalu pandai bersilat lidah, bibir yang selalu menggemaskan ketika ia mengerucut, bibir yang selalu menawan ketika tersenyum malu-malu.


"Apa boleh aku mencurinya? Mencicipinya sedikit saja?" Bisik Mario dalam hati. Ia berusaha mengumpulkan nyali untuk pikiran nekatnya itu.


Mario semakin mendekatkan wajahnya sampai ia dapat merasakan hembusan nafas yang keluar perlahan dari hidung gadis itu.


Mario mengumpulkan semua keberaniannya, merasakan perasaan kasih sayang yang begitu dalam agar dapat tersampaikan pada gadis itu, memilih sebuah resiko yang luar biasa.


Ia mulai memejamkan mata dan bergerak perlahan semakin mendekat, mengikis jarak semakin tipis, semakin dekat, hampir sampai..


Gubrak!


"Aduuuuh.."


Mario mengeluh kesakitan mengusap kepala dan pinggangnya yang terbentur lantai.


"Sial! Cuma mimpi!" Mario mengumpat sambil melempar guling yang ikut menggelinding jatuh ke lantai bersama dengannya.


"Ya Tuhan.. Kenapa Engkau tidak memberiku waktu beberapa detik saja lebih lama?" Mario merasa kesal karena ia harus terbangun terlalu cepat dari mimpi indahnya.


"Apa Tuhan membangunkan aku lebih cepat agar aku bisa segera mewujudkannya?" Mario tersenyum menyimpan harapan indahnya.


Tak lama, senyum itu redup ketika mengingat sakit di hidungnya yang menjalar sampai ke ubun-ubun ketika mendapat tonjokan dari gadis itu, bahkan ia tak hanya mengingat kejadiannya, tapi juga rasa sakitnya.


"Sepertinya aku belum punya keberanian sebesar itu."


Sementara di sudut ruang lain, Diana pun terbangun dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.


Dengan panik ia mengusap kasar bibirnya berulang-ulang.


"Astaga! Mimpi apa aku ini? Apa aku lupa baca doa?" Diana menatap jam dinding di kamarnya, masih pukul setengah empat pagi.


Diana meraih guling dan kembali membaringkan tubuhnya. Ia masih enggan untuk memejamkan matanya. Ketika ia kembali mengingat tentang mimpinya, lagi-lagi ia mengusap bibirnya. Rasanya sangat malu meskipun itu hanya sebuah mimpi.


Namun diam-diam ada senyum yang perlahan terbit di sana.


Entahlah bagaimana dapat menggambarkannya, gadis itu pun tak mengerti pada reaksi aneh pada dirinya sendiri.


...


First kiss kalian di dunia mimpi atau dunia nyata nih?