Titip Salam

Titip Salam
Titik Awal Perseteruan



#33


Malam sudah berganti hari. Sepasang mata di tengah temaram cahaya lampu sedang mencoba terpejam. Namun hanya beberapa detik mata itu kembali terbuka.


Willy gelisah sepanjang malam. Tubuhnya memeluk guling menghadap arah kiri lalu beberapa menit berputar ke arah kanan, seakan tidak menemukan posisi yang nyaman.


Peristiwa sore tadi berputar-putar di ingatannya.


Ketika dia yang sengaja melewati jalur dekat halte menunggu keberuntungan dapat memandang bunga musim semi yang sedang mekar. Itu adalah perumpamaan untuk seorang Diana.


Benar saja, Willy dapat menemukannya. Diana dan seorang temannya berjalan menuju gang itu. Gang dimana Willy yang akhir-akhir ini sering melewatinya karena alasan yang sama.


Diana.


Namun ada yang lebih menarik disana. Seseorang mengikuti mereka.


Mario.


Willy mulai mengintai lebih dalam lagi, ingin tau mengapa Mario mengikuti Diana?


Hingga terjadilah peristiwa itu. Peristiwa yang begitu membakar amarah Willy. Entah mengapa Willy merasa murka menyaksikannya.


"Lancang sekali Mario! Berani-beraninya dia berbuat seperti itu." Gumam Willy penuh kekesalan.


Selanjutnya, kata-kata Mario yang terus terngiang ditelinga Willy.


"Aku suka sama dia."


Willy menggertakkan giginya. Dia begitu geram mendengar pernyataan Mario.


Panas di hatinya seolah menguap ke seluruh ruangan. Kamarnya terasa panas.


Tangannya meraih kunci motor yang tergeletak di atas meja belajar, memasang jaket kulit, dan berjalan keluar dari kamar.


Willy memacu kuda besi kesayangannya. Mencari angin segar ditemani terangnya lampu jalanan.


Malam ini mama Willy sedang mendapat giliran kerja shift malam. Willy bisa bebas keluar rumah bahkan hingga fajar menyingsing. Namun tidak setiap kesempatan seperti itu Willy pergunakan untuk kelayaban malam-malam. Hanya saja malam ini dia membutuhkannya.


Willy membiarkan jaket kulitnya terbuka. Membiarkan angin malam menyentuh kaos tipisnya, menembus dadanya, mendinginkan hatinya yang tengah berkobar.


"Aku cemburu, Diana." Gumam Willy dalam kesunyian malam.


Motornya berhenti di pinggiran kota. Tepat di mana arena balap liar sering digelar. Menonton kuda besi berpacu adalah pilihannya.


"Hei, lama gak kelihatan." Sapa seseorang di sana.


"Sekalinya turun dan langsung mengalahkan red fire, tau-tau langsung menghilang." Timpal seorang lainnya.


Willy hanya tersenyum menanggapi mereka. Mereka adalah Feri dan Dani, kenalan Willy di arena ini.


"Aku cuma beruntung waktu itu." Jawab Willy.


"Kamu gak di apa-apain kan sama mereka?" Tanya Feri pada Willy.


Willy mengerti apa yang dimaksud Feri. Ini tentang Mario dengan motornya yang dijuluki red fire di arena ini. Hampir semua yang ada diarena ini mengenal Mario. Mario adalah salah satu anggota club motor yang menaungi balapan di arena ini, dan juga Mario dikenal sebagai pembalap yang handal. Tentu saja, semua ilegal.


Teman-temannya itu pasti tau betul watak Mario. Kesombongannya pasti tidak dapat menerima kekalahan waktu itu. Namun Willy memilih untuk menutupinya saja. Dia tidak ingin memperpanjang masalah. Karena sejujurnya dia hanya penikmat balapan ini. Bukan untuk turun ke arena.


(Flash back ON)


Malam itu Willy duduk di atas motor menyaksikan seorang anak muda seumurannya sedang dikerumuni oleh teman-temannya. Sorak sorai terdengar riuh menyambut kemenangannya.


Ini sudah ke-tiga kalinya sang idola sirkuit masih tak terkalahkan. Red fire, begitulah mereka menyebutnya. Motor berwarna merah itu seolah membara ketika berpacu di jalanan.


Willy berjalan mendekat. Dia ingin melihat lebih dekat penampakan red fire itu.


Maaf, bukan pengemudinya, tapi motornya.


Willy tertarik pada otomotif. Dia memperhatikan mesin dan segala aksesoris tiap motor yang ada di sana. Tak terkecuali red fire.


Willy benar-benar terpesona.


"Sangat cantik." Gumam Willy.


Willy dapat memperhitungkan pemilik motor ini pasti sudah nerogoh kocek begitu dalam untuk modifikasi mesin dan lain-lainnya.


"Ayo siapa lagi yang berani nantang sang red fire?" Ucap Mario dengan sombongnya.


Tepuk tangan riuh mengiringi kesombongan seorang pemuda itu, menjadikannya semakin arogan dan rendah sportifitas.


"Sebaiknya istirahatkan dulu. Mesinnya sudah terlalu panas. Kalau dipaksakan, mesinnya gak akan mampu." Tukas Willy tiba-tiba.


Semua mata menuju pada sumber suara. Seseorang yang sedang berjongkok memandangi mesin motor sang juara.


"Heh, gak usah sok tau. Kalau berani kamu aja yang maju." Tantang Mario.


"Maaf, aku cuma ingetin aja. Sayang banget kalau sampai mesinnya rusak karena terlalu dipaksakan." Jawab Willy dengan sopan.


"Bilang aja takut. Dasar cemen!" Ucap seseorang disana.


"Motor aku tuh tangguh banget. Bahkan sepuluh kali tanding pun, pasti sanggup menang. Jangan meremehkan motorku. Kalau kamu mau coba, ayo balapan!" Ucap Mario dengan angkuhnya.


"Maaf, aku gak bisa balapan. Aku cuma-" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, seseorang menepuk pundak Willy.


"Arena ini bukan tempatnya orang cupu. Mending kamu turun, dan buktikan omongan kamu tadi bener." Dia adalah Alex. Salah satu senior club motor di sana.


"Udah, mending terima aja Ngek. Udah terlanjur panas nih.." Bisik Feri yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.


"Oke." Ucap Willy akhirnya.


Semua bertepuk tangan mendengar persetujuan dari Willy. Balapan akan segera dimulai.


Willy berjalan mendekati motornya, dan menuntunnya menuju garis start.


Kerumunan terbelah menjadi dua memberi jalan si item, kuda besi antik body 80an dengan mesin yang sudah dimodifikasi.


Ada senyum meremehkan dari Mario menatap motor butut Willy. Bila dibandingkan dengan motornya yang merupakan keluaran terbaru, motor Willy ibarat rongsokan yang baru dipoles. Namun kekuatannya boleh diadu.


"Motorku gak akan sanggup mengalahkan motormu jika kondisi motormu sedang prima. Sedangkan saat ini, mungkin motorku bisa beruntung." Ucap Willy kemudian mengenakan helmnya.


"Kita lihat aja nanti." Balas Mario sedikit tersinggung dengan ucapan Willy barusan.


Ini adalah titik awal perseteruan Willy dan Mario.


(Flash back OFF)


"Cong, kenapa kamu nolak ajakan Dion buat gabung club motornya?" Dani menepuk pundak Willy, membuyarkan Willy dari lamunannya.


"Sialan, cang cong cang cong. Emang aku bencong?" Celetuk Willy.


"Hahaha.. Becanda Cong. Lagian kamu ngelamun aja. Mikirin cewek ya?" Tukas Dani yang membuat Willy sedikit salah tingkah.


"Kalo urusan cewek, konsultasilah sama abangmu ini." Lanjut Feri sambil menepuk dadanya.


"Yaelah Fer, jomblo seumur hidup pakai ngomongin cewek. Hahaha.." Balas Dani sambil tertawa keras.


Mereka pun tertawa bersama. Menertawai lucunya nasib mereka yang sebelas dua belas. Para jomblo bahagia.


"Hei Ngek, apa kabar?" Sapa seseorang yang tiba-tiba menghampiri mereka.


"Hei bang, " Sapa mereka hampir bersamaan.


Dion datang menyapa Willy. Sebuah kehormatan Willy bisa disapa langsu.g oleh senior di sana.


Willy adalah salah satu dari segelintir orang yang berhasil mengalahkan Mario. Otomatis nama Willy langsung semerbak di telinga para penikmat balap liar di sana. Ralat, bukan sebagai Willy, tapi dengan sebutan Congek.


Melihat potenso dalam.diri Willy, Dion dengan mudahnya merentangkan tangan menawari Willy masuk clubnya tanpa syarat. Namun dengan sopan Willy menolaknya. Begitu banyak pihak yang menyayangkan keputusan Willy tersebut. Terutama Feri dan Dani, kawan Willy di arena ini.


"Mau turun lagi gak?" Ajak Dion pada Willy.


"Sorry bang, aku gak balapan. Aku nonton doang." Jawab Willy.


"Kamu boleh pakai motorku kalau motormu gak sanggup. Sayang banget punya potensi kalau dianggurin." Ucap Dion yang masih berharap Willy mau balapan lagi.


"Maaf banget bang. Aku sudah janji sama orang tuaku untuk gak ikut balapan. Kalau enggak, kuda besiku bisa diganti kuda beneran." Jawab Willy setengah bercanda.


"Oke gak masalah kalau itu prinsip kamu. Kalian boleh kok nongkrong ngumpul di sana." Ucap Dion sambil menunjuk gerombolan anggota club nya.


Feri begitu antusias dengan tawaran Dion. Begitupun dengan Dani. Mereka berdua sangat mendambakan dapat bergabung mengenakan jaket club motor seperti Dion dan kawan-kawan. Namun apalah mereka yang hanya biji kapas. Keras nampak diluar menutupi kerapuhan yang terbungkus rapi.


Willy menatap ke arah yang ditunjuk oleh Dion. Ada seseorang disana yang sedang balik menatapnya.


Mario, dia disana.


Willy ingin sekali menolak. Namun melihat teman-temannya yang begitu antusias, dia menjadi tidak tega.


"Boleh bang, tapi saya gak bisa lama." Ucap Willy yang disambut tepukan bahagia kedua temannya itu.


Dia berjalan di belakang Dion bersama teman-temannya menuju kelompok anak muda yang mengenakan jaket club kebanggaan mereka.


Willy menyeringai ke arah Mario. Entah apa maksudnya, Mario hanya menatapnya dengan tidak suka.


Beberapa orang di club itu menyambut Willy dengan jabat tangan lelaki. Willy, Feri, dan Dani nampak membaur meskipun tanpa jaket club. Mereka berbincang masalah otomotif yang sedikit banyak Willy memahaminya dari seringnya dia nongkrong di bengkel om Rudi.


Tidak lama, Willy memutuskan untuk pamit. Dia merasa tidak nyaman sebetulnya. Willy tau, beberapa diantara mereka pasti ada yang tidak suka dengannya. Terutama wajah-wajah yang ia lihat di malam itu. Mereka semua ada di sini.


Willy kembali mengendarai motornya menuju area perbukitan. Dia menikmati kopi panas dalam gelas plastik yang sengaja dibelinya dari warung pinggir jalan dekat sana.


Matanya menyapu gemerlap bintang darat yang begitu indahnya. Disinilah Willy biasa termenung menyendiri. Mencari ketenangan ditemani segelas kopi dan kawanan nyamuk yang menyanyikan dengungan merdu. Hingga kopi itu diseruput habis meninggalkan ampas yang mengendap untuk dibuang ditempat semestinya.


"Kamu pasti suka pemandangan ini, Diana." Begitulah khayal Willy.


...


Author's cuap:


Bukit bintang ini ada beneran loh di Kota Gresik.


Beberapa tahun terakhir malah semakin rame dengan kafe dan warkop kekinian yang instagramable banget pokoknya..


Gak bosen-bosen akutuh ingetin kalian juga kalau habis baca tinggalik jejak ya,,


Komen dan dukung karya aku dengan Like 👍🏼, bagi-bagi bunga 🌹 dan Vote


Biar makin sumringah up nya..


Terimakasih.. 🙏🏻