
#69
Peluk dan Cium
Matahari dengan panasnya yang menghangatkan di pagi ini, mengiringi dua anak manusia dalam deru suara motor dan angin sepoi-sepoi diatas motor dengan kebisuan.
"Di, kemarin kamu dimarahin Ayah kamu gak gara-gara kita ketahuan pegangan tangan?" Ucap Willy membuka percakapan.
"Enak aja bilang kita pegangan tangan, kan kamu yang pegang tangan aku." Jawab Diana.
Willy terkekeh mendengar jawaban Diana yang sedikit nyolot.
"Bener juga sih, Hehehe.. Maaf aku gak sengaja. Terus, Ayah kamu marah?"
"Bukan marah sih, cuma kaget aja. Pas nyampe rumah baru deh aku dinasihatin macem-macem gitu."
Willy benar-benar merasa tidak enak. Sepanjang malam dia sulit tidur kepikiran wajah Ayah Diana yang sedikitpun tak memberikan senyum untuknya malam itu. Benar-benar berbeda seperti saat pertama kali berjumpa di bengkel.
"Maaf ya, aku kepikiran banget semalem. Pengen nelpon kamu, tapi takut malah bikin kamu dimarahi Ayah kamu." Ucap Willy.
"Kamu takut aku dimarahin ayah aku, atau takut Ayah aku yang angkat telpon kamu?"
"Dua-dua nya sih.. Hehehe"
Jalanan yang mereka lewati tampak lengang. Willy sengaja memilih melewati jalanan yang teduh oleh pepohonan dengan pemandangan kawasan pergudangan dan industri yang hijau dan lengang untuk memperoleh suasana nyaman nengendarai kuda besi hitam dengan gadis yang telah memporak-porandakan perasaan dan pikirannya belakangan ini.
Tawa pun mulai menghiasi wajah mereka. Motor yang berjalan lambat membuat mereka semakin asyik berbagi kisah sembari menikmati perjalanan.
"Kamu kok gak pernah titip salam lagi sih sekarang?" Ucap Diana iseng menanyakannya.
"Kenapa? Kamu suka kalau dapat salam dari aku?" Balas Willy menggodai gadis itu.
Pundak Willy pun menjadi jawabannya. Tepukan yang sebetulnya tidak keras namun efek setruman yang terasa itu membuat dada Willy terus berdebar.
"Oh ya, mama kamu kok bisa jadi perawat Eyang sih?"
"Kata Mama, dulu waktu Eyang pernah dirawat, Mama aku yang kebetulan bertugas. Dari situ mama aku yang menawarkan membantu untuk rutin kontrol kondisi tekanan darah Eyang kamu. Sekalian silaturrahmi karena kebetulan kami satu komplek."
Willy yang bercerita panjang lebar tentang mamanya tiba-tiba teringat sesuatu.
"Astaga! Mama!"
Ciiit...
Ban depan si item berdenyit memekakkan telinga akibat rem mendadak yang dilakukan Willy, sementara ban belakang sedikit terangkat akibat tekanan rem dari ban depan.
Bruk,
Tumbukan tak lenting sama sekali itu pun tak dapat terelakkan. Punggung Willy merasakan hangat tubuh Diana yang terjungkal sampai menempel seperti tokek di dinding akibat rem mendadak yang dilakukan oleh Willy.
Willy menelan salivanya. "Aduh, ke-peluk?" Gumam Willy.
Ini benar-benar arus tistrik tegangan tinggi yang membuat Willy meleleh dalam kenyamanan yang sulit diungkapkan.
Plak,
"Aw," Willy mengaduh kesakitan mendapat hantaman telapak tangan di helmnya oleh peraih medali emas beladiri tingkat Kabupaten tahun ini.
"Kok kamu pukul aku sih?" Ucap Willy sedikit kesal karena dentuman dikepalanya menimbulkan nyeri sekaligus gema yang cukup memekakkan ditelinganya.
"Kamu yang ngapain ngerem mendadak? hidung aku sakit tau!" Ucap Diana yang sewot sambil mengelus hidungnya yang tampak memerah.
Willy yang panik langsung turun, mendongkrak motornya, untuk melihat keadaan gadis dibelakangnya itu.
Kedua telapak tangan Willy memegang sisi kiri kanan helm Diana, mendongakkan wajah gadis yang masih terduduk bertengger di atas motor itu.
Deg,
Diana merasa begitu berdebar mendapat perlakuan Willy yang seperti itu. Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat deru nafas pemuda itu dapat ia rasakan menyapu pipinya yang menghangat.
"Kok hidung kamu bisa merah gitu?" Tanya Willy bingung sekaligus panik.
Plak,
Telapak tangan gesit Diana mendarat di lengan Willy.
"Aw," Rasa panas seketika menjalar di bekas sentuhan dengan tekanan dahsyat itu.
"Gila nih cewek, bar-bar banget kalau lagi marah." Batin Willy setelah mengetahui sisi galak Diana.
"Kamu gak nyadar kalau hidung aku nyium helm kamu gara-gara kamu ngerem motor mendadak?" Ucap Diana sewot.
Bukannya menyesal, Willy malah dibuat terpingkal namun sekuat tenaga ia tahan.
"Aku dapat pelukan, dia dapat ciuman. Tapi dicium pakai helm. Hahaha.." Batin Willy.
"Lagian kamu ngapain kok ngerem mendadak gitu?" Tanya Diana masih sambil menggosok hidungnya yang nyut-nyutan.
Belum sempat Willy menjawab, "Ooow, jangan-jangan kamu modus aja ya? Kamu sengaja biar aku peluk kamu gitu ya?" Mata Diana membalalak lebar sambil jemarinya bergerak memberikan cubitan pedas bertubi-tubi pada Willy.
"Aw, aw, sakit Di.." Willy pun berusaha menghalau tangan Diana yang bergerak terus menyakiti lengan kanan, lengan kiri, bagian manapun yang dapat ia jangkau.
Dalam geli-geli kesakitan, sejujurnya Willy merasa sangat senang.
"Ampun Diana.. Sumpah aku gak sengaja." Ucap Willy yang malah semakin merasa gemas dengan ulah Diana itu.
Lama-lama bekas cubitannya terasa semakin panas. Willy yang sebelumnya hanya meringis-meringis geli mulai mengernyit kesakitan.
"Stop Di!"
Tangan Willy meraih masing-masing pergelangan tangan Diana agar gadis itu menhentikan serangannya.
"Sumpah Di! Aku gak sengaja! Aku lupa mau ngasih dokumen mama yang ketinggalan. Ini penting." Ucap Willy sambil menunjukkan amplop coklat dalam tas kecil yang melingkar di dadanya.
Diana masih manyun karena kesal.
"Kita balik ke rumah Eyang kamu dulu ya." Ucap Willy memohon.
"Ya udah, gak apa-apa. Tapi kamu jangan ngerem dadakan gitu lagi. Aku kan kaget. Hidung aku jadi korban kan." Ucap Diana menggerutu.
"Iya maaf, maaf," Ucap Willy sambil mencubit pelan hidung Diana sebelum menaiki motornya. Dia benar-benar tidak tahan saking geregetannya pada gadis yang kini semakin memonyongkan bibirnya itu.
"Apaan sih, kok hidung aku malah dicubit." Ucap Diana sambil mengusap hidungnya.
Willy sedikit memundurkan kepalanya sambil sedikit menolehkan kepalanya, kemudian berkata "Habisnya, kamu ngegemesin banget kalau lagi manyun gitu." Ucap Willy sambil berbisik.
"Apaan sih Willy," Ucap Diana sambil menepuk pelan bahu Willy.
Tak dipungkiri wajah Diana benar-benar merona malu-malu. Hidungnya kembang kempis berusaha sekuat tenaga menahan senyuman karena kata-kata manis pemuda yang menjadi joki tampannya saat ini.
Diam-diam Willy mengintip Diana yang merona dari kaca spion yang sengaja ia putar mengarah pada gadis di belakangnya itu.
Diana tau ia sedang diperhatikan. Sedikitpun ia tak berani menatap kaca spion yang menampakkan wajah pemuda yang hanya terlihat matanya itu karena tertutup helm. Pemuda yang ia namai Willy si Congek Cakep di kontak hapenya itu.
"Wil," Ucapnya.
"Apa?" Jawab Willy dengan nada suara begitu lembut.
"Fokus nyetirnya, jangan ngeliatin aku mulu!" Ucap Diana salah tingkah.
"Dih, ge-er banget sih. Siapa juga yang ngeliatin kamu." Jawab Willy sambil cekikikan.
Diana memicingkan matanya mengarah pada spion yang sengaja mengarah padanya. Dilihatnya mata Willy menyipit di sana. Entah ekspresi wajah sedang senyum atau tertawa cekikikan disana.
Willy kembali memundurkan kepalanya dan berkata "Kamu manis sih,"
Aw aw aw
Diana benar meleleh dimanjakan oleh kata-kata manis yang membuat pipinya semakin merona.
"Gak usah nge-gombal kamu. Gak mempan di aku." Ucap Diana sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
Willy tau Diana berbohong. Rona malu-malu itu yang menjawabnya. Gadis itu benar-benar tersentuh.
"Pegangan yang erat, aku mau ngebut." Ucap Willy memperingati Diana sebelum menambah kecepatan motornya perlahan.
Diana masih meringkuk menyembunyikan wajahnya dengan malu-malu sambil jemarinya mulai bergerak menggenggam jaket Willy.
Motor melaju cukup kencang. Deru angin membawa aroma parfum maskulin lembut Willy menelisik indera penciuman Diana. Aroma harum yang membuat Diana semakin merona.
Diana, kamu akan sangat mengingat aroma ini.
...
Author's cuap:
Aduh, baper banget jadinya,,
Mas pacaaar..
Boncengan yuk..
Hahaha..
Jangan senyum-senyum yah kaliaaan..
Wkkk