
#105
Sal-Ting
Diana benar-benar kurang tidur. Alhasil matanya sungguh sulit diajak kompromi pagi harinya. Beruntung ia tidak sampai terlambat karena sang Ayah yang mengantarnya tadi.
Hoaaaam..
Diana menyerah dan membenamkan wajahnya dalam lipatan tangan di atas meja.
"Di, jajan yuk.." Hera menggoyang-goyangkan pundak Diana.
"Enggak ah Her, aku mau merem bentar. Ngantuk banget nih.." Ucap Diana tanpa beranjak dari posisinya.
"Justru karena ngntuk, kita cari es yang seger, jajan yang pedes, biar mata melek."
"Ayo Di.. Zahra sama Rida udah jalan duluan, aku males kalau jalan sendirian.. Temenin yah, " Hera merengek sambil menyeret-nyeret lengan Diana.
"Hmmm... iya iya.."
Mau tak mau Diana pun mengalah. Kebawelan sang dewi satu ini satu ini tak sanggup ia lawan. Menyerah adalah pilihan terbaik.
Hera yang bersemangat menggandeng lengan Diana yang berjalan lesu sambil menyeret langkahnya.
"Kita beli macaroni pedas di kios ujung aja, buat camilan diam-diam kalau kita ngantuk pas pelajaran fisika nanti." Ucap Hera memberikan ide brilliant nya.
"Gak usah cari perkara Her, kemarin aku sampai disuruh ngerjain soal di papan tulis gara-gara kriuk-kriuk macaroni pedes kamu." Ucap Diana dengan matanya yang masih sayu.
"Hihihi.. Salah kamu sendiri ngunyahnya terlalu bersemangat. Hahaha.."
Sepanjang jalan Diana terus menguap. Dia akan memborong banyak permen karet nantinya. Yah, salah satu metode ampuh untuk mempertahankan konsentrasi belajar bagi Diana adalah dengan diam-diam mengunyah permen karet. Itu dirasa lebih aman dari pada mengunyah macaroni.
"Hera.. Diana.."
Seorang pemuda melambai pada dua gadis yang berjalan beriringan itu.
Hera tampak antusias membalas lambaian tangan itu.
"Ini nih, yang seger seger bikin melek Di.." Bisik Hera di telinga Diana.
Huh..
Diana mendengus pelan. Sahabatnya yang satu ini benar-benar sudah tak canggung lagi. Bahkan ia kini terang-terangan menunjukkan antusiasnya bila bertemu dengan pemuda satu itu. Abdul.
Sepertinya Hera sudah lupa dengan ekspresi paniknya ketika melihat ada Abdul beberapa waktu lalu.
"Tunggu! Abdul?" Batin Diana.
Mata Diana yang semula sayu sayu mengantuk mendadak mekar melebarkan pandangan. Apa yang ia cari?
Diana tahu betul kalau Abdul sangat jarang beredar sendirian. Dia selalu satu paket seperti halnya dirinya dan Hera. Siapakah paketan komplit yang melengkapi Abdul? Siapa lagi kalau bukan Mario.
Deg,
Diana mulai panik ketika mendapati sosok Mario yang berada tak jauh dari Abdul. Mario tampak mengantri di depan kios bu Ida yang berada di tengah. Sementara kios yang akan dituju oleh dirinya dan Hera berada paling ujung sana.
Mario menoleh ketika mendengar nama Diana diteriakkan oleh Abdul.
"Gawat! Dia noleh kesini." Batin Diana yang mulai berkeringat.
Hanya dipandangi saja Diana sudah seperti tersengat listrik. Baru dipandang, belum sampai tahap dilempar senyum, bahkan di sapa.
"Her," Diana menarik tangannya yang digelayuti oleh Hera.
"Kenapa?"
"Emm.. Aku ke toilet dulu ya, kebe let pi pis. Kamu jajan duluan aja ya.." Diana buru-buru kabur menuju toilet di dekat sana untuk bersembunyi.
Hera melihat perubahan tiba-tiba dari reaksi Diana ketika menemukan Mario yang berada tak jauh dari Abdul.
Hera berjalan mendekat ke arah Abdul dan Mario berada. Tatapannya lurus menatap kedepan.
Abdul merasa heran ketika Hera tak menanggapi sapaannya dan melewatinya begitu saja karena tujuan Hera kali ini adalah Mario. Entah mendapat keberanian dari mana gadis yang ceria, manja, dan berhati lembut itu mendadak jadi semenyeramkan saat ini.
"Kamu apain lagi teman aku?" Tanya Hera dengan nada yang sangat tegas dan penuh penekanan.
Mario mengedikkan bahunya. "Aku gak ngapa-ngapain Her,"
"Trus kenapa dia langsung pergi waktu liat ada kamu?"
Abdul mendekat dan menengahi keduanya karena obrolan mereka mulai menarik perhatian seisi kantin. Kalau dibiarkan terus bisa terjadi kegemparan yang berakhir di ruang BP.
"Udah Her, kita omongin baik-baik aja ya.. Jangan adu mulut disini, gak enak sama teman-teman yang lain, okey.."
Tatapan Hera berpindah pada Abdul yang memberikan senyum meneduhkan.
"Teman kamu nih cari gara-gara." Sungut Hera yang terus menyalahkan Mario.
Belum sempat Mario membuka mulut telapak tangan Abdul lebih dulu menepuk dadanya mencegah Mario berkata sepatah katapun.
"Udah, itu kan urusan mereka. Mending kita cari es buah di kios ujung yuk," Abdul buru-buru menarik tangan Hera agar menjauh dari Mario.
Hera sempat menunjukkan kepalan tangannya tepat di wajah Mario sebagai bentuk ancaman sebelum ia akhirnya berlalu mengikuti langkah Abdul. Entah apakah Hera akan sampai berani benar-benar melayangkan kepalan tangan itu pada Mario nantinya? Yang jelas ini adalah salah satu bentuk solidaritas yang ditunjukkannya untuk membela sahabatnya.
Sementara di dalam toilet, Diana mengutuki dirinya sendiri karena kebodohannya. Tak seharusnya ia bersikap panik dan salah tingkah seperti tadi yang dapat memicu kecurigaan Hera nantinya. Lagi pula apa yang dilakukannya tadi pasti terlihat konyol dimata Mario.
"Aaarrgghh.. bodoh sekali mau Diana.." Begitu gumamnya untuk dirinya sendiri.
Cukup lama dia berdiam di toilet. Bahkan bel yang menunjukkan berakhirnya waktu istirahat sudah berdering beberapa saat lalu. Suasana kantin sudah sepi ketika Diana keluar dari toilet.
"Bu, beli permen karetnya dua ribu." Ucap Diana yang menyempatkan mampir di kios terdwkat sebelum kembali ke kelas.
Mendadak hawa dingin dirasakan olehnya. "Kok merinding ya?" Batin Diana sambil menyentuh tengkuknya yang tertutup oleh rambut.
"Nanti aku tunggu di belakang gapura samping sekolah. Jangan lama-lama."
Glek!
Diana menelan salivanya sambil menahan nafasnya. Jantungnya memompa lebih cepat membuat hawa panas merayap memunculkan semburat merah dipipinya yang mulai menetralisir sensasi dingin di seluruh indera perabanya.
Suara itu berbisik tepat ditelinga Diana yang diakhiri terpaan angin yang sengaja ditiupkan oleh sang sumber suara.
"Bu, pas ya.." Ucap sosok yang berbisik tadi ketika menggenggam beberapa permen dan meninggalkan uang di atas toplesnya.
Diana membeku di tempatnya. Bahkan urat lehernya tak berani menengok untuk memastikan siapakah sumber suara berbisik itu.
Ah, siapa lagi memangnya?
"Ada yang mau dibeli lagi mbak?"
"Udah ini aja bu, terimakasih." Ucap Diana yang gelagapan. Dia segera berbalik untuk kembali ke kelas.
Dia berjalan perlahan sambil menatap punggung seorang pemuda yang sangat ia kenal sedang berjalan santai beberapa langkah di depannya.
"Kenapa rasanya deg deg an sekali sih? Dan gimana caranya dia bisa santai kayak gak terjadi apa-apa? Aduh, kenapa jadi ribet gini sih?" Diana terus menggerutu dalam hati.
...
Author's cuap:
Saltingnya keterlaluan gak sih?
Hahaha..
Sumpah yaaa si Mario ini, Diana udah deg degan parah masih aja godain.