Titip Salam

Titip Salam
Es Krim Rasa Durian



#61


Es Krim Rasa Durian


Langit masih kelabu. Angin yang bertiup pun terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma hujan mulai terendus mengusik tiap indera penciuman.


Beberapa orang lebih memilih menikmati minuman hangatnya disuasana yang seperti ini. Namun tidak bagi dua anak manusia yang sedang duduk berhadapan dibawah teduhnya pohon mangga.


Mereka berdua masih saling diam menatap gundukan es krim berbagai rasa dibadapan mereka.


"Katanya gak suka durian?" Ucap Diana mulai meraih sendoknya.


"Aku ngalah aja deh, biar kamu seneng. Tapi kamu cepet habisin duriannya dulu ya. Biar gak nyampur ke yang lainnya." Ucap Mario yang ikut mengambil sendok miliknya.


Diana nampak menahan senyumnya. Dia senang sekali berhasil menang dari pemuda di depannya itu.


"Lagian kamu ngapain pesen es krim yang kayak gini. Kenapa gak beli satu satu aja sih? Mau traktir kok nanggung banget." Gerutu Diana sambil mulai menyendok es krim yang rasa durian favoritnya.


"Biar romantis tauk.." Batin Mario yang merasa kesal dengan sikap Diana yang tidak peka.


"Aku pingin aja ngerasain makan es krim couple bareng seseorang. Habisnya kalau aku pesen buat sendirian gak seru. Gak habis juga karena porsinya banyak banget." Ucap Mario yang masih memegang sendoknya menunggu Diana menghabiskan es krim duriannya.


"Kenapa gak ngajak pacar kamu aja?" Celetuk Diana asal.


"Gak punya." Jawab Mario tegas.


"Masa?" Tanya Diana tidak percaya.


"Kalau aku punya pacar ngapain aku ngajak kamu. Malah bikin pacar aku jealous."


"Hihihi.. Iya juga ya.. Emm, kalau gebetan?" Diana mulai tertarik main tebak-tebakkan tentang pribadi Mario. Dia berharap bisa menemukan titik lemah alias aib atau rahasia besar dari pemuda didepannya itu. Dia akan pegang kuat titik lemah itu dan akan menjadikannya senjata, mengancam akan menyebarkannya, agar pemuda itu tak berani macam-macam padanya.


Ketika menggunakan otot hanya akan meninggalkan bekas yang akan mengotori tanganmu, maka gunakanlah senjata lain dalam menyerang musuhmu yaitu dengan memegang rahasia besar miliknya. Anggap itu sebuah kartu As.


"Gebetan? Hmm ada sih.." Jawab Mario.


Diana melebarkan pendengarannya. "Siapa?" Ucapnya.


"Kamu."


Deg,


Klutik.. Sendok itu terlepas dari tangan Diana, terjun bebas ke kolong meja.


Suara sendok yang berdenting mengembalikan fokus Diana. Dia pun sontak gelagapan mencari sendoknya ke kolong meja. Dadanya berdegup kencang yang membuatnya salah tingkah.


Brak,


"Aw," Diana muncul dari bawah meja sambil mengusap kepalanya.


Kepala Diana membentur sisi bawah meja, hingga mengeluarkan suara yang begitu keras. Kegaduhan yang ia buat menjadikannya pusat perhatian beberapa pengunjung yang berada disekitar mereka.


Malu? Andai wajah ini bisa dilepas, Diana pasti sudah menyembunyikannya di dalam saku bajunya.


Mario berusaha menahan tawa. Dia benar-benar merasa gemas melihat Diana yang tampak salah tingkah.


"Yah, kotor." Keluh Diana setelah melihat jelas penampakan sendoknya setelah terjatuh.


"Ehem, kamu sengaja ya jatuhin sendoknya biar kita makan satu sendok yang sama?"


Bug,


"Aw,"


Kini giliran kaki Mario yang menjadi sasaran. Telapak kakinya pun terasa panas setelah diinjak.dengan tekanan yang cukup kuat oleh kaki mungil Diana.


Tanpa rasa bersalah, Diana memilih bangkit, berjalan menuju meja kasir untuk meminta sendok yang baru.


Mario berusaha menahan segala umpatan keluar dari mulutnya mengingat ini adalah tempat umum. Apalagi, ada Hendra, kakak sepupunya, selaku pemilik kedai ini. Dia harus menjaga sikap.


Tak lama, Diana kembali dengan sendok baru dan tanpa rasa bersalah langsung melahap kembali es krimnya.


Diana mencuri pandang pada Mario yang tidak bersuara sejak dia kembali.


"Kok diem aja? Kenapa?" Ucap Diana tanpa memberikan kesan lemah lembut sedikitpun.


Hening tak ada jawaban.


Diana meletakkan sendoknya dan menatap Mario yang ternyata sedang memperhatikannya sambil memasang wajah cemberut.


"Katanya ngajak aku kesini mau ngomong sesuatu, apaan? Waktu kamu tinggal lima menit." Ucap Diana mengingatkan.


"Kamu gak liat aku lagi ngambek?" Jawab Mario.


"Hah?" Diana mengernyit tidak mengerti.


"Suapin dulu, baru aku mau ngomong."


Lipatan di kening Diana semakin dalam seiring semakin bertingkahnya Mario.


"Oke.. aku kerjain sekalian. Biar kapok." Batin Diana.


"Iya deh, buka mulutnya, aaa..." Ucap Diana seolah akan menyuapi anak kecil.


Betapa girangnya hati Mario mendapat respon Diana yang langsung menurut tanpa ada perdebatan dan.kekerasan. Mario yang sangat antusias lantas membuka lebar mulutnya.


"Aaaa.."


Hap,


Satu sendokan penuh es krim rasa durian mendarat di lidah Mario. Diana tampak menahan tawa menunggu respon dari pemuda didepannya itu.


Benar saja, selang beberapa detik wajah Mario yang semula sumringah berubah jelek pipi menggembung menahan mual akibat rasa durian yang menyentuh indera perasanya.


"Enak kan?" Ucap Diana. "Ups, aku lupa itu radi rasa durian. Kamu kan gak suka ya.." Lanjut Diana dibuat seolah menyesal.


Mario berusaha sekuat tenaga untuk menelannya. Wajahnya sampai memerah menahan agar es krim durian dalam mulutnya tidak sampai termuntahkan.


Diana yang mulanya terpingkal menjadi tidak tega melihat ekspresi tersiksa seorang Mario.


"Minum dulu," Ucapnya sambil menyodorkan tumbler berisi air putih miliknya.


Mario langsung menyambar botol itu dan menenggak isinya sampai habis.


"Kalau gak suka kenapa gak dimuntahin aja sih?" Ucap Diana menepuk pelan punggung Mario bermaksud agar Mario merasa lebih baik.


Mario menghela napas lega setelah mulutnya bersih dari sisa rasa yang ditinggalkan oleh es krim durian yang sengaja disuapi ke mulutnya oleh Diana.


"Itu suapan pertama dari kamu. Meskipun aku tau kamu sengaja ngerjain aku. Tapi aku gak memuntahkannya dan menyia-nyiakannya. Karena belum tentu kamu mau ngulanginnya lagi. Ya kan?"


Pipi Diana nampak merona. Jujur, dia meleleh juga mendengar penuturan Mario.


"Gak, gak, gak! Gak boleh mudah luluh kayak gini Diana.." Batin Diana menguatkan dirinya sendiri agar memperoleh kesadarannya kembali.


"Ya udah, kamu mau ngomong apa sih?" Ucap Diana berusaha merubah topik.


"Gak ada yang penting sih, aku cuma mau bilang kalau aku udah nyiapin kejutan buat kamu di acara undangan dari bapak Bupati hari Minggu besok." Ucap Mario sambil mulai menyendok es krim agar aroma durian dimulutnya segera hilang oleh aroma rasa es krim yang lainnya.


"Kalau ngasih kejutan ngapain dikasih bocoran? Ntar jadinya gak terkejut lah.." Diana pun turut menyuap es krim rasa lain setelah es krim rasa.duriannya habis.


"Ya gak apa-apa. Biar kamu penasaran. Oh ya, kamu udah nemuin bingkisan di meja kamu beberapa hari lalu?"


Diana mengangguk pelan sambil terus menyuapi es krim ke dalam mulutnya.


"Kamu udah tau berapa kode kuncinya?"


Kali ini Diana menggeleng.


"Kamu gak mau tau berapa kodenya sampai-sampai kamu mengabaikan catatan di dalam bingkisan itu?"


"Yah, aku pensaran sih sebenernya.." Jawab Diana singkat.


"Beberapa hari kemarin aku selalu nungguin kamu di halte. Tapi kamu jahat banget gak muncul disana. Minimal kamu kan bisa kasih tau ke aku kalau emang kamu gak peduli dan gak mau datang." Mario pun akhirnya meluapkan kekesalannya.


"Maaf Mar, jangan marah dong." Ucap Diana yang mulai menciut karena sesaat dia merasa kalah galak.


"Jadi kodenya berapa?" Tanya Diana akhirnya.


"Gak mau kasih tau."


Kejahilan Mario mulai kambuh lagi. Diana merasa geregetan ingin mencabik-cabik manusia di depannya itu. Dia menyesal telah merendah dan minta maaf.


"Iya, iya.. kodenya hari ultah aku." Ucap Mario yang ikut kesal karena Diana yang tak berusaha untuk membujuknya sedikitpun.


"Iya, iya, jadi berapa kodenya? Emangnyahari ultah kamu tuh kapan?"


"Kenapa kok kamu pingin tau? Kamu mau ngasi surprize buat aku?"


Aaaarrrgghhh..


Diana menggeram kesal. Mario lantas terkekeh. Dia benar-benar senang bila berhasil membuat Diana kesal.


"Lima belas menitnya habis. Aku mau pulang!" Ucap Diana yang langsung berdiri dari duduknya.


Grep,


Lagi dan lagi pergelangan mungil itu dalam genggaman tangan Mario.


"Tunggu dulu dong Di, abisin es krimnya dulu. Kan sayang kalau gak habis."


"Ya udah, tapi cepet dikit makannya." Diana pun turut menyendok kembali es krim itu ke dalam mulutnya. Jujur, dia juga merasa sayang banget kalau es krim seenak ini terbuang percuma.


"Besok hari ulang tahun aku." Ucap Mario mulai membuka perbincangan sambil terus menyendok es krim lembut yang akan meleleh setelah masuk ke dalam mulut.


"Hmm.." Hanya itu tanggapan dari Diana. Matanya terfokus pada es krim, namun telinganya tetap tajam mendengar tiap kata yang Mario ucapkan.


"Kamu gak ada niatan ngasih aku sesuatu?" Tanya Mario memberi umpan. Kini, apalagi sisasat usilnya?


"Enggak!" Jawab Diana dengan entengnya.


"Kalau aku yang minta sesuatu dari kamu, gimana?"


"Apa?" Diana masih tak mengalihkan pandangannya dari es krim yang sudah mulai menipis akibat sendokan bar-bar dari kedua anak manusia tersebut.


"Yakin mau tau?" Mario tetap pada jalurnya, usil tengil dan jahil.


"Apa?" Ucap Diana sedikit bercampur emosi meladeni perang kata-kata dari Mario. Matanya melotot tajam menunjukkan bahwa dirinya mulai kesal.


"Okey, ini aja deh.." Ucap Mario sambil tersenyum, menunjuk pipi kanannya dengan telunjuk.


Diana semakin melebarkan matanya setelah menangkap maksud licik dari gerakan Mario tersebut.


"Kenapa pipi kamu? Minta ini?" Jawab Diana sambil menunjukkan kepalan tangannya.


Mario sontak memundurkan wajahnya. "Hehehe.. Becanda, becanda.. Serius amat sih," Mario tertawa cengengesan. Menghadapi gadis galak plus jago beladiri memang harus hati-hati. Salah ucap dikit bisa auto bonyok.


Suapan terakhir milik Diana, membuat Diana merasa lega juga akhirnya dapat menghabiskan semangkuk es krim jumbo tersebut dan segera pulang.


"Makasih ya Di. Kamu udah mau nemenin aku makan es krim ini. Buat aku, ini udah jadi kado yang manis dari kamu. Padahal ultah aku masih besok." Ucap Mario sambil melahap suapan terakhirnya.


"Terserah deh. Ayoklah pulang. Aku udah telat banget nyampe rumah." Diana mulai membereskan botol minumnya dan menggendong tas ranselnya bersiap meninggalkan kedai tersebut.


"Oh ya, satu lagi!" Mario pun turut menggendong tasnya, karena tentu dirinya juga harus pergi mengantar Diana.


"Apa lagi?" Ucap Diana sudah hilang kesabaran.


"Es krimnya manis banget ya.. Apalagi setelah sendok yang kamu pakai tadi, kamu pake buat nyuapin es krim kemulut aku. Kayaknya bekas mulut aku nambah manis rasa es krimnya deh.."


Deg,


Diana benar-benar tidak menyadarinya. Sendok yang ia pakai menghabiskan es krim tersebut tentu telah terkontaminasi air liur Mario setelah ia gunakan untuk kejahilannya menyuapi Mario es krim rasa durian tadi.


Aaarrrrggghhh..


Diana sontak mengusap-usap mulutnya. Dalam hati dia menjerit kesal, marah, malu, atas kecerobohannya sendiri.


Senang? Senang sekali. Mario tertawa puas melihat ekspresi lucu dari Diana yang panik, salah tingkah, dan malu-malu.


Tetes tetes air dari langit mulai berjatuhan. Beberapa pengunjung yang duduk di area terbuka mulai berpindah memadati area yang beratap, dan beberapa memilih segera pulang sebelum hujan semakin lebat.


"Yah, hujan.. Ayo buruan Mar! Nanti keburu deras." Diana mulai panik. Diana menarik tangan Mario agar bergegas menuju motornya terparkir.


Mario tersenyum memandang tangannya diseret begitu saja oleh gadis itu. Dadanya berdegup kencang dengan bunga-bunga yang seolah bermekaran di dalamnya.


"Anterin sampai perempatan depan aja. Aku naik angkot aja sisanya." Ucap Diana sambil berjalan tergesa-gesa menyeret Mario agar segera mengantarkannya ke tempat yang ia tuju.


Tak ada jawaban dari Mario. Dirinya masih terlarut dalam kebahagiaannya sendiri.


Terlambat!


Hujan turun begitu lebat. Langit seolah tak memberi kesempatan mereka berpisah secepat itu.


Cepat-cepat Mario yang berganti menarik tangan Diana untuk berteduh di mini gazebo yang tak jauh dari jangkauan mereka.


"Kita berteduh sebentar aja ya. Biasanya kalau hujan yang langsung deres kayak gini gak akan lama. Aku gak mau kamu kehujanan. Nanti kamu sakit." Ucap Mario pada Diana.


Ought!


Itu sangat manis.


Diana menatap Mario yang sedang balik menatapnya. Jujur hatinya benar-benar meleleh mendengar kata-kata manis terucap untuknya.


"Benarkah dia mengkhawatirkan aku? Bukannya kalau aku kehujanan, dia pasti juga kehujanan. Huh, sepertinya dia hanya membual." Batin Diana berusaha mencari alasan logis lainnya.


Cepat-cepat Diana kembali menundukkan kepalanya. Pikirannya boleh menampik semuanya, tapi pipinya yang merona benar-benar tak mampu menyembunyikan dirinya yang mulai dilemahkan. Yah, dinding baja dihatinya sudai mulai runtuh. Sungguh, dia tersentuh.


Diana duduk melipat kakinya di tepian lantai bambu mini gazebo tempat mereka berteduh. Dia terdiam menatap gemericik air hujan yang jatuh menerpa tanah.


"Pakai ini, biar kamu gak kedinginan."


Mario mengeluarkan jaket yang masih terbungkus plastik dari dalam tasnya. Setelah mencopot label brand yang menggantung dijaket tersebut, tangannya kemudian bergerak memasangkannya pada gadis yang sedari tadi duduk diam disampingnya. Jaket berwarna biru navy yang senada dengan yang ia kenakan dengan ukuran yang sedikit lebih kecil.


Diana tak sanggup untuk tidak menoleh dan menatap dalam pada mata Mario. Diana merasakan hangat menjalar keseluruh tubuhnya.


"Mario, aku telah kalah. Aku benar-benar meleleh dengan sikap manis kamu ini." Batin Diana.


"Mario, kamu jangan bersikap manis gini lagi ke aku." Ucap Diana lirih.


"Kenapa?" Ucap Mario menatap semakin dalam mata jernih gadis itu.


"Aku takut sakit hati." Diana meringkuk membenamkan wajahnya yang bersemu merah pada kedua lututnya.


Mario menghela napasnya. Dirinya memberanikan diri agar tangan itu menyentuh kepala Diana. Membelai lembut rambut gadis yang tengah meringkuk malu-malu disampingnya.


"Gak akan ada yang nyakitin kamu Diana." Ucapnya lembut sembari merasakan kesejukan yang menyelimuti rongga dadanya. Ada kelegaan luar biasa yang sedang ia rasakan.


...


Author's cuap:


Aw aw aw.. meleleh mencair deh..


Author yang nulis ikut baperrr..


Semoga aura baperr nya bisa nyampe juga ke kalian ya guys..


Amin..


Aku seneng banget deh nulis episode ini.. Bikin aku senyum-senyum sendiri..


Lebay gak sih???


Kalo kalian gimana??


Please, comment di bawah ya..


Bersemangat banget akutuh pingin tau reaksi kalian.


Gak bosen bosen aku ingetin kalian untuk,


Gak cuma nge-like tapi dibaca juga ya..


Dan jangan cuma dibaca tapi di support juga


like comment vote ya..


Terimakasih..


...