Titip Salam

Titip Salam
Titipan Salam



Aktivitas mingguan umumnya diawali pada hari Senin. Bagi sebagian orang hari Senin adalah hari yang menyeramkan. Bagaimana tidak, hari Senin biasanya akan menjadi hari yang paling sibuk. Bagi para pekerja hari Senin selalu disibukkan oleh meeting mingguan, deadline laporan, bahkan inspeksi mendadak. Bagaimana dengan para pelajar?


Sebetulnya masa belajar dibangku sekolah adalah masa-masa yang paling indah. Masa dimana beban paling berat hanya berupa hari Senin yang diawali dengan mata pelajaran matematika. Sedikit agak sial bila ditambah dengan adanya pr dan quiz dadakan. Hmm..


Itulah yang saat ini dialami oleh murid-murid kelas 3A SMP N 15 Gresik.


Ditengah-tengah ketegangan para murid menghadapi quiz, seseorang dengan tergesa datang dan mengetuk pintu.


"Maaf bu, saya tadi dihukum karena terlambat. Apa saya boleh masuk?" Ujar seorang siswi di depan pintu pada guru yang sedang berada di dalam kelas itu.


"Haduh, lain kali jangan terlambat ya. Cepat masuk." Jawab sang guru.


"Oh, iya pr nya langsung kumpulkan di meja dan segera kerjakan soal di papan tulis. Waktunya tinggal lima belas menit." Lanjut sang guru dengan senyum.


Sepertinya beliau tau siswi ini hampir tidak pernah terlambat. Dengan senyum yang diberikan, tampaknya beliau memaklumi sekali keterlambatan yang mungkin tidak dia sengaja.


Siswi itu adalah Diana. Dia segera mengumpulkan lembaran pr yang sudah ia kerjakan semalam dan langsung mengeluarkan kertas untuk mengerjakan soal quiz yang ditulis di papan tulis. Dia harus segera menyelesaikannya karena hampir kehabisan waktu.


Kriiiiing...


(Bel pergantian pelajaran berdering.)


"Ayo kumpulkan jawaban kalian." Kata bu Diah guru matematika tersebut yang diikuti dengan riuhnya para murid mengumpulkan lembar jawaban dari soal yang beliau berukan.


"Aduh, tadi tinggal satu hitungan lagi, gak sempet." Keluh Diana yang langsung berkeringat karena kelelahan.


"Yah kamu sih, lama banget masuk kelasnya." Sahut Hera menimpali.


"Eh Diana, kamu tadi waktu dihukum barengan ama Mario ya? Aku tadi liat kamu di kantin sama Mario waktu aku mau ke toilet. Kamu deket sama Mario?" Kata Zahra yang duduk di depan Diana.


"Deket? Di kantin sama Mario? Kan ada Abdul juga disana. Kita satu tim dihukum mungutin sampah." Jawab Diana menjelaskan.


"Oh, jadi kamu sama Abdul juga?" Ucap Hera dengan raut wajah sumringah.


Sontak Diana, Zahra, dan Rida teman sebangku Zahra terkejut melihat reaksi Hera. Hera yang ditatap tajam oleh tiga orang temannya menjadi salah tingkah.


"Kenapa?" Ucapnya sambil cengengesan.


"Kok kamu jadi bersemangat dengar nama Abdul disebut?" Kata Rida menimpali.


"Apaan sih Da, biasa aja kok." Hera mulai tampak tersipu.


"Masak sih..." Sahut Diana dan Zahra bergantian.


Suasana di bangku paling ujung menjadi riuh. Namun semua itu tidak berlangsung lama karena guru mata pelajaran berikutnya telah memasuki ruang kelas.


...


Kriiiiing... Kriiiiing...


(Bel istirahat berdering)


Seseorang tergopoh-gopoh masuk ke dalam kelas 3A yang tampak baru saja mengakhiri pelajaran. Dia adalah Silvi teman sebangku Diana ketika kelas 2. Namun sekarang mereka berbeda kelas. Silvi berada di kelas 3B.


"Diana, kamu sudah punya pacar ya?" Tanya Silvi langsung pada poinnya. Pertanyaan Silvi sontak menarik perhatian Hera, Zahra, dan Rida.


"Pacar apaan? Gak ada kok." Jawab Diana dengan wajah bingung.


"Kemarin waktu di tempat *bimbel, temen aku bilang ada titipan salam buat Diana."


*bimbel adalah kependekan dari bimbingan belajar (kali aja ada yang gak tau)


"Ciye..." Ledek Hera, Zahra, dan Rida kompak.


"Diana anak kelas 3 di SMP 15 ya cuma kamu kan?" Kata Silvi meyakinkan.


"Emang salam dari siapa?" Tanya Hera penasaran.


"Temenku lupa nama aslinya siapa. Dia cuma bilang salam dari Congek anak SMP 10."


"Congek? Hahaa.." Kata Rida yang diikuti tawa yang lainnya.


"Kok gak sekalian daki, upil, hahahaa.." Lanjut Hera yang ikut tertawa.


"Kasi cotton bud biar gak Congek lagi." Timpal Zahra sambil ikut tertawa.


"Emangnya Congek siapa sih Di? Kok kamu sudah punya pacar diem diem aja. Takut kita mintain traktiran ya?" Kata Silvi yang ikut meledek.


"Enggak. Pacar dari mana? Bisa digantung mamaku kalo aku punya pacar." Jawab Diana dengan wajah bingung.


"Ya udah backstreet aja Di, jangan sampe ketahuan." kata Hera menimpali.


"Emang si Congek itu ganteng gak Sil?" Tanya Zahra pada Silvi.


"Mana ku tau. Tanya aja Diana sendiri. Jadi, Congek itu temennya temen bimbelku." Jawab Silvi menjelaskan dan diiringi tatapan dari tiga teman yang lain pada Diana.


Diana merasa bingung dan terpojok mendapat tatapan tajam dari teman-temannya seolah meminta jawaban.


"Apa? Aku gak kenal sama yang namanya Congek." Jawab Diana.


"Serius gak tau?"


"Masak sih gak tau? Jangan bohong kamu."


"Sama kita-kita gak usah pake sembunyi-sembunyian deh.."


"Sumpah!" Kata Diana.


Dicerca pertanyaan bertubi-tubi membuat Diana mulai risih. Dia nampak memikirkan sesuatu agar keluar dari ketidak nyamanan ini.


"Eh, ada Abdul lewat.." Kata Diana sambil menengok ke arah pintu.


"Mana? mana?" Tiba-tiba Hera berdiri celingukan melihat ke arah luar.


"Ciye, Hera.." Kata Diana balik meledek sahabatnya dan diikuti teman-teman lainnya.


"Diana.. Jahat banget kamu.."


Dalam tawa Diana tampak masih berpikir keras.


"Congek siapa ya?" Gumamnya dalam hati.


...


Author's cuap:


Jempolnya dong guys.. 👍🏼 biar author makin semangat up nya.


Komen juga kritik dan saran kamu agar karya author lebih baik lagi..


Maap kalo masih typo typo..


Ikutin terus kelanjutan ceritanya ya..


Terimakasih 🙏🏻😘