
#106
Terbongkar
Mario bertengger di atas motornya sambil memainkan jemarinya. Sesekali ia mengu lum senyum ketika pikirannya melayang pada kejadian di kantin tadi.
Dia sudah biasa menemukan gadis yang salah tingkah bila kebetulan bertatapan dengannya. Tapi untuk yang satu ini kenapa terkesan
sangat berbeda?
Tingkahnya lebih kepada ekspresi takut dan malu yang bercampur menjadi satu. Ah, sangat menggemaskan. Rasanya sudah tidak sabar untuk melihat rona merah di pipi gadis itu lagi. Melamunkannya hanya membuat Mario semakin rindu.
"Habis kamu apain tuh anak gadis orang?" Tanya Abdul ketika mendapati Mario yang baru kembali dari kantin kala itu.
"Apain gimana?"
"Udah ngaku aja. Kemaren siang kalian habis keluar bareng kan? Ngapain aja? Kok sampai Diana salting parah waktu ada kamu?" Ucap Abdul sambil menyenggol-nyenggol pundak Mario.
"Kampret, gak usah senggol-senggol gitu, geli!" Mario mengusap-usap pundaknya sambil begidik jijik.
"Ayolah Mar, cerita. Penasaran banget aku."
Mario hanya menghela nafas pelan. Dia bukannya tidak mau cerita, tapi dia sudah terikat janji lebih dulu dengan Diana.
"Kalian jadian ya?" Tebak Abdul.
"Hmm.." Jawab Mario sambil tersenyum dan mengunyah permen.
"Pegangan tangan ya?" Abdul masih berusaha meraba-raba rahasia apa yang disembunyikan Mario.
"Hmm.." Lagi-lagi jawaban yang sama keluar dari mulut Mario yang membuat rasa penasaran Abdul semakin membuncah.
"Ci pok an ya?"
Mario sontak menoyor kepala Abdul dengan wajah kesal.
"Astaga Dul, pikiran kamu kotor ya? Sialan kamu!" Umpat Mario yang membuat Abdul malah terkekeh geli.
"Bayangin aja ya, waktu aku cium keningnya aja hidung aku ditonjok sampai mimisan. Apa lagi nyip- Haish.." Mario benar-benar bersungut kesal.
"Hahaha.." Abdul tertawa lepas kala mengingat kisah Mario waktu itu.
"Trus kenapa Diana bisa sampai kabur kayak gitu?" Abdul benar-benar penasaran apa yang membuat Diana sampai terlihat panik tadi.
"Ya mana ku tahu? Dia gak kuat ngelihat aura kegantengan aku kali ya?" Ucap Mario penuh percaya diri.
"Sialan! Ayolah cerita.. Kamu sendiri yang cerita Diana sampai nangis-nangis waktu tau kamu mau pergi jauh yang dia kira kamu mau mati. Itu fix banget dia ada hati sama kamu." Analisa Abdul dengan wajah serius.
"Iya aku tahu."
"Nah, berarti kalian pasti jadian kemarin?" Akhirnya Abdul menyimpulkan dengan penuh semangat.
"Hmm.." Jawab Mario.
"Sialan! Jawab yang bener kampret!" Ucap Abdul sambil menoyor pundak Mario yang cekikikan.
"Aku udah ngikutin cerita kamu dari awal kalian musuhan, dan tinggal kli maks nya kamu gak mau cerita Mar? Sadis kamu!" Kini giliran Abdul yang merengut kesal.
Siang ini matahari bersinar dengan penuh semangat. Panasnya yang berkobar seirama dengan perasaan bahagia Mario yang masih duduk diatas motornya sambil tersenyum seorang diri. Yah, yah, cinta memang terkadang membuat inangnya terlihat sinting dimata orang lain.
Mario melihat jam ditangannga. Sudah setengah jam ia menunggu tapi yang ditunggu belum juga nampak.
Mario tertawa pada dirinya sendiri. Gadis ini benar-benar menguji kesabarannya, namun itulah yang membuatnya semakin menarik.
"Oke, kamu sendiri yang mulai Di.."
Red fire mulai memanas ketika tuas kuncinya diputar dan mesin dinyalakan. Mario memacu kuda besi kesayangannya itu beranjak dari persembunyiannya.
Sementara di sudut kelas seorang gadis meringkuk dibangkunya berusaha menikmati istirahat siangnya sebentar sebelum les tambahan dimulai. Rasa kantuk yang sudah tidak terbendung lagi bahkan membuatnya lupa janji yang ia buat semalam, membuat seseorang yang berbisik padanya tadi benar-benar dibuat menunggu lama.
Diana, seharusnya kamu tidak melakukan hal ceroboh itu. Karena berurusan dengan Mario, kau tau sendiri lah nanti.
Sepuluh menit sebelum les tambahan dimulai Diana masih tampak terlelap dalam lipatan tangannya. Bahkan suara berisik dari teman-teman sekelasnya tak bisa mengalahkan lem perekat yang melumasi kelopak matanya, benar-benar lengket.
"Ngapain kamu kesini?"
Begitulah suara berisik yang ditangkap oleh indera pendengaran Diana. Suara sahabatnya Hara.
"Mau ketemu Diana."
Jawab dari sang lawan bicara. Suara seorang pemuda yang sangat familiar.
"Suara Mario?" Begitu pikir Diana yang masih antara sadar dan tidak.
"Ciye.. ciye.."
Kali ini sura berisik lain yang saling sahut-sahutan. Seperti suara Zahra dan Rida.
"Ngapain pake nyariin Diana?" Suara Hera tampak tidak bersahabat seperti biasanya.
Puk, puk,
Diana merasa bahunya ditepuk dan dikoyak dengan cukup kuat.
"Di, bangun. Ada yang nyariin." Bisik Rida agar Diana segera terbangun.
Diana mulai menggeliat karena gangguan yang mengusiknya.
"Hmm.. Udah mulai lesnya?" Ucap Diana sambil mengerjapkan mata.
"Belum.. Tapi itu tuh.." Rida menunjuk tiga orang yang membuat berisik, Hera, Zahra, dan satu lagi Mario.
Diana langsung menegakkan duduknya pada sandaran kursi sambil merapikan rambutnya ketika melihat pemuda yang sedang tersenyum dan berucap dengan lembut menjawab setiap cercaan dari Hera. Bahkan Diana sendiri sampai heran melihat Hera yang seperti begitu tidak menyukai Mario.
"Di.."
Senyum itu, ah lagi-lagi Diana terserang panik. Rasa kantuk yang menguasainya tadi mendadak lenyap karena sengatan arus listrik dahsyat dari jantung yang tiba-tiba memacu begitu cepat.
"Aku nungguin kamu lama banget loh, tapi kamu gak muncul. Makanya aku langsung kesini." Ucap Mario begitu santai yang bertolak belakang dengan reaksi Diana.
"Ah sial! Aku lupa." Batin Diana.
"Ma-af ya, aku lupa." Ucap Diana cengar cengir menatap wajah yang kini memperhatikannya satu-persatu.
"Aku ketiduran, hehe.."
Mario melemparkan senyum manisnya yang membuat Diana semakin panas dingin.
"Gak apa kok sayang,"
Deg,
Mata Diana membelalak sempurna.
"What? Sayang?" Ucap Hera setengah berteriak yang sontak membuat seisi kelas mulai memperhatikan mereka.
Zahra dan Rida sudah kehilangan kata-kata. Mereka benar-benar terkejut sampai membekap mulutnya sendiri.
"Aku bawain roti buat kamu." Ucap Mario yang tetap tenang sambil meletakkan bungkusan plastik di hadapan Diana.
"Ehem, for your information ya Mario, sebenernya Diana itu lebih suka jajanan pentol korea, ya kan Di?" Rida mulai bersuara.
"Aku tau kok. Sebentar lagi Diana kan mau ikut POR Prov, jadi buat jaga kondisi sebaiknya mengurangi jajanan yang berminyak apalagi banyak micinnya. Makanya sengaja aku pilihkan roti. Dimakan ya,"
"Ya ampun, kamu perhatian sampe segitunya ya? So sweet banget.." Ucap Zahra sambil memegangi kedua pipinya.
Rida sudah menoel-noel lengan Diana sambil terus berkata "Ciye.." yang membuat semburat merah yang begitu dirindukan Mario itu mulai menampakkan diri.
"Dia imut banget kalau lagi malu-malu" Begitu yang dipikirkan Mario.
"Jadi kalian udah baikan?" Tanya Hera sambil menatap Mario dan Diana bergantian.
Belum sempat salah satu dari Diana dan Mario menjawab Zahra sudah memotong dengan pertanyaan baru. "Atau bahkan udah jadian?"
Ah, Diana sudah tidak tahan lagi. Ia segera bangkit dan cepat-cepat kabur dari sana.
"Aku ke toilet dulu ya, mau cuci muka."
Diana lari terbirit-birit keluar kelas meninggalkan tiga wajah kebingungan dan satu wajah yang tersenyum puas.
"Sial! sial! sial!" Umpat Diana sambil membasuh wajahnya.
"Teman-teman pasti ngeledekin melulu habis ini. Aduh, malu banget.." Diana merengek seorang diri.
"Kampret si Mario. Gak ada bosen-bosennya bikin gara-gara sama aku. Tau gitu aku tinggalin aja dia kemarin, gak usah kasih jawaban apapun. Aaaarrrgghh..."
Diana keluar dari toilet dengan wajah yang lebih segar. Puas ia mengutuki ulah Mario di dalam toilet sana.
Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Pikirannya harus benar-benar jernih dan tenang untuk menghadapi berjuta pertanyaan yang pasti akan dilayangkan oleh teman-temannya.
Ketika hendak berbelok pada tikungan lorong ia dikejutkan oleh sesosok yang bersandar di dinding. Pemuda itu sengaja menunggunya.
"Kamu ngapain disini? Mau ngintipin toilet cewek lagi?" Ucap Diana yang kembali merasa kesal. Dia bahkan sampai lupa bahwa dirinya tak lagi terserang panik karena saking jengkelnya pada ulah Mario dikelasnya tadi.
"Mendingan kamu nunggu sampai guru masuk kelas kalau belum siap menjawab pertanyaan dari teman-teman kamu."
"Gara-gara kamu nih, pakai panggil-panggil sayang. Apaan maksudnya hah?" Ucap Diana sambil melayangkan cubitan bertubi-tubi di lengan Mario.
"Kamu kan udah janji gak akan bilang siapa-siapa Mario!"
Mario hanya cekikikan sambil berusaha menghalau cubitan Diana.
"Kamu sendiri yang duluan gak nepatin janji. Aku sampai jamuran nungguin kamu." Jawab Mario dengan wajah yang merengut.
"Aku kan udah minta maaf tadi. Aku ngantuk banget gara-gara semalem gak bisa tidur." Ucap Diana yang akhirnya sedikit merasa bersalah.
"Gak bisa tidur kenapa?"
Diana hanya melotot sambil menggeram kesal.
"Apa karena emoticon titik dua strip bintang?"
Deg,
Pipi Diana kembali merona mengingat emoticon mengecup yang dikirim Mario semalam. Hanya sebuah emoticon namun benar-benar menggetarkan hatinya.
"Apa kamu mau coba versi nyata?"
Diana melotot dan spontan membekap mulutnya. Ah, puas sekali Mario menggodai gadis ini. Lunas sudah kekesalannya karena tak jadi makan siang bersama.
Melihat Mario yang cekikikan senang membuat Diana makin geram. Ia hentakkan kakinya tepat di atas telapak kaki Mario.
"Aw, sakit Di.." Mario melompat-lonpat sambil memegangi telapak kaki yang menjadi korban amukan Diana.
"Jangan coba-coba ya kamu Mario!" Ucap Diana sambil menunjukkan kepalan tangan tepat di depan hidung mancung pemuda itu.
"Oh ya, makasih rotinya." Ucap Diana yang kemudian berlalu meninggalkan Mario yang masih kesakitan.
...
Author's cuap:
Uji nyali Mar???
Hahaha...
Baru diucap tuh Mar, belum sampe kejadian beneran.
Bisa-bisa sekalian bapaknya datang bawa samurai
hahahaha...
Makasih udah baca
jangan lupa supportnya ya..
Kalau gak ngerepotin, boleh lah ya sharing cinta pertama kalian di kolom komentar.
Kepo akutuh...
Hihihi