
#73
Mario atau Willy?
Kota Gresik tidak memiliki musim gugur. Tapi daun-daun ini berguguran memenuhi area hijau di pelataran GOR Kota memberi kesan musim gugur saat kemarau di kota ini.
Diana duduk termenung di sebuah bangku taman dekat pintu keluar lapangan indoor di area GOR tempat berlangsungnya acara tadi. Tangannya memainkan daun kering yang berguguran disekitarnya dengan pikiran yang traveling kemana-mana.
"Dicari kemana-mana ternyata di sini." Ucap Willy ketika mendapati gadis yang ia cari duduk termenung di sana.
Willy langsung mengambil duduk di samping Diana, memandangi gadis yang tidak memberi respon apapun dengan kehadirannya.
Willy menepuk pelan pundak Diana. "Di," Ucapnya sambil mengguncangkan pundak itu.
Diana yang terkejut sontak mencengkeram pergelangan tangan Willy kemudian memutarnya seratus delapan puluh derajat membuat Willy meringis kesakitan.
"Di, ini aku Di.." Ucap Willy.
"Eh, maaf maaf." Diana yang tersadar langsung melepaskan cengkeramannya.
"Percaya deh, yang dapat medali emas beladiri. Sigap banget." Ucap Willy mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
"Maaf Wil, sakit ya?" Ucap Diana merasa sangat bersalah.
"Sakit sih, tapi lebih sakit lagi saat melihat kamu sama dia." Ucap Willy dengan raut wajah yang dibuat-buat seolah sangat tersakiti.
Plak,
"Aw,"
Diana malah memukul lengan Willy sambil tersipu.
"Kamu tuh kayak sambal kecap Di. Manis tapi pedes. Bar-bar banget tau gak sih.." Ucap Willy mengusap lengannya yang terasa panas.
"Udah ah, pulang yuk. Udah hampir sore."
"Yuk,"
Mereka berdua pun segera beranjak dari sana berjalan menuju area parkir motor.
"Tunggu, Diana!" Seseorang berteriak dari arah belakang membuat langkah Diana dan Willy terhenti mencari tahu asal suara tersebut.
Mario berlari menghampiri dua anak manusia yang tengah berjalan beriringan itu.
Mario menatap pada Willy. Pandangan tidak suka, pandangan yang seolah berkata "Ngapain masih di sini? Pergi kamu!"
Willy yang peka pada tatapan mengusir Mario akhirnya memilih mengalah saja saat ini. Toh, dirinyalah pemenangnya.
"Aku tunggu di motor ya," Willy pamit, memberi senyum pada Mario. Sebuah senyum kemenangan.
Setelah Willy menjauh,
"Kamu ngapain sama Congek?" Ucap Mario kesal.
"Ya mau pulang!" Diana yang tau-tau mendapati pertanyaan yang menyulut emosi dengan mudah ikut terbawa suasana yang panas.
"Kenapa harus sama Congek? Kamu kan bisa bilang ke aku." Mario masih merasa kesal dirinya kalah langkah kali ini.
"Kenapa aku harus bilang ke kamu?"
Kepolosan Diana yang tidak mengerti bahwa pemuda di depannya tengah terbakar cemburu seolah semakin menyulut emosi Mario.
Mario menghembuskan nafasnya berusaha meredam emosinya.
"Aku aja yang antar kamu pulang ya?" Mario merendahkan intonasi suaranya.
"Maaf Mario, gak bisa. Aku tadi berangkat sama Willy. Pulangnya bareng dia juga." Jawab Diana yang semakin membuat Mario membelalakkan matanya lebar-lebar dan kembali meninggikan suaranya.
"Apa? Kamu tadi bareng dia?"
Diana mengangguk pelan. "Kok aku ngerasa bersalah sih?" Batin Diana yang melihat guratan kekecewaan di wajah Mario.
Berkali-kali Mario mengusap wajahnya. "Aku tau kalau aku bukan siapa-siapa Diana. Tapi kenapa rasanya aku sangat kesal dengan keadaan ini?" Batin Mario.
Mario meletakkan kedua tangannya menyentuh bahu Diana. Diana tersentak mendapatkan guncangan kecil di bahunya.
"Kenapa kamu gak hubungi aku aja Di? Aku pasti bersedia banget ngantar kamu. Sekarang biar aku yang antar kamu pulang!"
Diana yang belum selesai dengan rasa terkejut dengan goncangan di bahunya oleh tangan.Mario, semakin dibuat terkejut ketika Mario meraih pergelangan tangannya.
"Kenapa?" Antara kesal kecewa sedih, itulah yang dirasakan Mario.
"Karena yang minta Willy ngantar aku tadi Mama dan Eyang. Mereka juga minta tolong Willy buat sekalian antar pulang aku. Itu semua karena Mama aku gak bisa antar tadi. Maaf ya?" Ucap Diana sambil meremas tangannya.
"Kok bisa Mama dan Eyang kamu minta tolong ke Congek?"
"Panjang ceritanya Mar. Kamu kenapa marah-marah gitu? Emangnya aku salah apa?" Diana merasa heran pada situasi aneh yang menimpanya. Dirinya tidak mengerti letak kesalahannya dimana? Tapi dia merasa sangat tidak enak pada Mario.
Melihat wajah Diana yang menciut seperti itu membuar Mario tidak tega. Jujur, dia sedikit terhibur melihat wajah penyesalan Diana. Mario menjadi semkin yakin kalau perlahan dirinya sudah berhasil masuk dalam hati gadis itu.
Mario tidak bisa menahan jemarinya untuk mengusap kepala gadis yang tengah tertunduk di depannya itu. Seperti ada bisikan alam bawah sadar yang menggerakkan tangannya begitu saja, berusaha membuat gadis itu lebih tenang, tepat seperti saat mereka berdua yang terjebak hujan di kedai kopi dan es krim COBE beberapa hari lalu.
"Ya udah, tapi nanti aku telpon kamu, jangan di riject ya.. Maaf kalau aku marah-marah. Kamu seharusnya ngerti kenapa aku kesal tadi." Ucap Mario yang kini merasa bersalah telah uring-uringan pada Diana.
Diana menatap Mario, memandangi pemuda yang baru saja berani membelai kepalanya itu masih dengan perasaan bersalah yang dia juga tidak mengerti mengapa perasaan bersalah itu muncul.
"Maaf ya." Ucapnya sekali lagi.
"Oh ya, terimakasih kejutannya. Tapi lain kali jangan kayak gitu lagi ya, malu. Hehehe.." Ucap Diana berusaha mencairkan keadaan.
"Gak apa, biar pipi kamu merah kayak tomat. Hahaha.." Mario pun turut tertawa akhirnya.
"Ya udah, Aku pulang dulu ya. Da..." Diana pun melambaikan tangan berjalan menjauh.
Mario masih menatap kepergian gadis itu dengan rasa kesal yang masih di sana.
"Entah kamu sadar atau tidak Di, tapi aku tahu betul bunga musim semi yang dimaksud Congek adalah kamu. Semoga saja kamu tidak tersentuh." Gumam Mario.
Dari tempatbya berdiri, Mario dapat melihat gadis itu menghampiri Willy yang tengah bertengger di atas motornya.
Diana terlihat tersenyum, memasang helmnya, kemudian naik ke atas motor hitam mengkilat yang pernah sekali saja menjadi pesaingnya di arena.
"Congek, aku tunggu kamu di arena sekali lagi. " Gumam Mario yang kemudian berbalik dan pergi.
-
"Udah?" Tanya Willy ketika Diana datang meraih helmnya.
"Kamu gak di apa-apain kan sama Mario?" Tanya Willy sekali lagi.
"Kamu kira aku gak tau kalau kamu ngeliatin terus aku sama Mario yang lagi ngobrol dari sini?" Ucap Diana sambil berkacak pinggang.
"Hehehe, kelihatan ya?" Willy ketawa cengengesan. Padahal ia sudah berusaha tidak begitu menapakkan kalau dirinya mengawasi Diana dan Mario dari jauh.
Willy melajukan motornya meninggalkan kawasan GOR Kota dengan perasaan hambar.
Beberapa menit yang lalu dia merasakan bahagia namun sesaat kemudian hatinya kembali sendu melihat Diana yang tertunduk sedih di depan Mario yang tampak kesal kala itu.
"Aku tau Diana, Mario sudah berhasil masuk ke hati kamu. Tapi aku juga yakin kalau aku juga sudah memiliki tempat di hati kamu." Gumam Willy menatap kaca spion yang mengarah pada wajah gadis dibelakangnya.
"Di, perut kamu masih ada ruang gak?" Ucap Willy sedikit berteriak.
"Hah? Ada ruang gimana maksudnya?" Tanya Diana balik.
"Aku tau tempat penjual pentol korea paling enak. Bahkan lebih enak dari pada langganan kamu yang dekat halte."
Willy mengintip perubahan wajah Diana dari kaca spionnya. Wajah yang sedari tadi hanya diam membiarkan angin menerpa bebas setiap pori wjahnya, menatap kiri kanan, berubah ceria ketika jajanan favoritnya disebut.
"Mau..."
Willy tersenyum puas. Dia sangat tau gadis ini akan sulit menolak camilan kesukaannya.
Motor melaju cukup kencang membelah keramaian kota yang sedang disinari mentari yang mulai merayap ke Barat.
"Willy, bagaimana kamu bisa tau banyak hal tentang aku?" Ucap Diana yang kini bisa sumringah kembali.
Willy mencondongkan kepalanya kebelakang sambil berkata "Karena aku tercipta untukmu,"
Plak,
"Aw,"
...
Author's cuap:
Nitip satu Ngek, aku juga mau...