
#113
Kompetisi - Dukungan Ayah (part1)
Lapangan indoor di sebuah Gedung Olahraga Terbesar di Jantung Provinsi Jawa Timur telah dipadati oleh banyak pengunjung. Lokasi ini yang menjadi pusat kompetisi POR Prov yang akan berlangsung kurang lebih dua pekan lamanya.
Banyak peserta berseragam beladiri sudah bersiap di bangku peserta dan berkerumun pada kontingen daerah masing-masing menunggu gilirannya berlaga.
Diana juga turut berada di sana. Ini adalah pengalaman pertamanya turut serta dalam kompetisi yang lebih besar. Dia merasa benar-benar gugup dan berdebar. Apalagi tiap peserta kali ini adalah yang terbaik dari daerahnya masing-masing. Ini pasti akan sengit.
"Di, kamu perhatikan cewek yang dari kubu kanan?" Ucap Putri, teman sekamar Diana sekaligus salah satu perwakilan dari kontingen yang sama dengan Diana.
"Iya, hebat banget yah.." Jawab Diana yang kagum pada sosok yang dimaksud oleh Putri.
"Bukan hebat. Tapi ngeri! Coba perhatikan lebih jeli lagi Di.."
Diana mengernyit heran. Lebih jeli seperti apa? Apa yang dimaksud oleh Putri sebenarnya?
Putri merangkul pundak Diana agar jarak mereka semakin dekat. Ia berbisik pelan seolah tidak ingin orang lain mendengar percakapan mereka.
"Lihat deh, cewek di kubu kiri terpukul mundur padahal pukulan cewek di kubu kanan belum benar-benar sampai mengenai lawannya." Ucap Putri sambil memelankan suaranya.
"Ah, masak sih?" Diana memicingkan matanya mengamati dengan begitu fokus pada pertandingan di depan.
Diana melongo kaget ketika melihat peserta dari kubu kiri terpelanting begitu keras oleh tendangan kaki kiri peserta dari kubu kanan. Dia hanya melihat itu tapi tidak dapat membuktikan perkataan Putri karena pergulatan di arena berlangsung begitu cepat.
"Aku yakin ada sihir di sana." Lanjut Putri.
"Sihir gimana? Maksud kamu ada orang semacam Harry Pottet yang mengendalikan permainan dengan tongkat sihirnya dari jarak jauh?" Ucap Diana berspekulasi.
Putri tampak mendengus sebal. Pemikiran temannya ini terlalu berfantasi.
"Di, kejauhan kalau Harry Potter. Di negara kita juga ada ahli sihir yang gak kalah keren dari Harry Potter."
"Oh ya? Siapa?" Diana tampak antusias. Dalam benaknya ia membayangkan seorang pemuda keren berkulit eksotis indonesia dengan jubah sihir dan topi blangkon membawa tongkat sihir. Ah, pasti keren.
"Mbah Dukun." Bisik Putri.
Diana lantas menoyor pundak Putri. Ternyata fantasinya terlalu jauh.
"Kenapa gak to the point aja bilang mbah dukun. Pake acara bahas sihir lah, Harry Potter lah, pikiran aku udah jauh banget tau gak?
Putri terkekeh melihat Diana yang menggerutu kesal.
"Eh, tapi serius lho.. Beberapa peserta ada yang pakai magic." Wajah Putri mendadak beribah serius lagi.
"Aku udah mengamatinya dari taun kemarin. Seperti peserta yang duduk di arah jam tiga, yang rambutnya cepak." Ucap Putri menunjuk titik yang dimaksud dengan dagunya.
Mata Diana berkeliling mencari sosok yabg dimaksud oleh Putri. Seorang peserta perempuan dengan rambut cepak yang sedang fokus memperhatikan jalannya pertandingan.
"Dia peraih perunggu tahun kemarin." Lanjut Putri.
"Medali emas tahun ini, diperkirakan akan diraih olehnya, karena peraih perak dan emas tahun kemarin sudah masuk range usia senior. Dia pasti ambisi banget bisa dapat emas."
Diana memandang takjub pada tiap analisa Putri. Gadis ini benar-benar luar biasa. Layaknya seorang detektif dengan analisa yang cukup detail dari tiap peserta yang mengerikan. Hal ini membuat Diana seperti gadis polos yang masuk kandang ribuan singa. Diana benar-benar semakin gugup.
"Tau gitu aku bawa aja batu akik sakti dari Ayah kalau tau banyak peserta yang pakai main dukun kayak gini." Batin Diana.
"Kalau mereka pakai dukun, harapan menang buat kita jadi tipis dong?" Tanya Diana dengan polosnya.
Puk,
Putri menepuk bahu Diana. "Kamu harus percaya kekuatan Tuhan lebih dari apapun. Jadi jangan lupa berdoa terus dalam hati. Hindari tatapan mata." Ucapnya.
Diana merangkul balik pundak seorang teman yang belum lama ia kenal itu. Secara teknik Diana mungkin sedikit lebih diatasnya, namun untuk hal analisa gadis itu adalah juaranya.
Diana dan Putri pernah bertemu dalam satu arena, dan tidak ada dendam setelahnya. Menurutnya ia telah memperkirakan kekalahannya bila bertemu di final dengan Diana ketika POR Kab kemarin.
"Maaf ya Di, aku sempat berdoa kamu kalah di semi final waktu itu agar tidak perlu bertemu kamu di arena final POR Kab kemarin. Aku pasti kalah teknik. Dan kali ini aku sekali lagi berdoa agar tidak sampai bertemu lagi di satu arena dengan kamu. Hehe.."
Mereka berdua terkekeh bersama. Semoga Tuhan mempermudah jalan kalian untuk meraih kemenangan. Amin..
...
"DIANAAA SEMANGAAAT... " Teriak Arman sambil mengepalkan tangan tinggi-tinggi dari tribun penonton ketika melihat putrinya berjalan memasuki arena.
Teriakannya yang begitu dahsyat menggema dan menarik perhatian penonton lain yang tampak duduk tenang.
Arman terlihat begitu bersemangat. Berkali-kali ia tampak mengepalkan tangan memberi semangat ketika putrinya menoleh dan melambaikan tangan ke arahnya.
Berbeda dengan sang suami, Mila yang turut hadir disana tampak komat-kamit mengucap doa. Dirinya yang biasanya paling berisik di rumah mendadak diam dan penuh kecemasan. Ini adalah kali pertama pula baginya menonton putrinya bertanding. Ia benar-benar tidak menyangka putrinya bisa melangkah sejauh ini.
Sementara Tania, dia hanya duduk manis menikmati snack dan minuman dingin tanpa ada kehebohan sama sekali.
"Ayo pukul.. Tendang.. Iya bagus begitu.." Ucap Arman kala melihat sang putri tampak memimpin.
"Woi wasit.. Tuh anak aku dipukul.. Dispisahon dong.. Aaah, curang itu.. " Begitu teriaknya kala melihat Diana sedang terdesak.
Beberapa pengunjung di sekitarnya tampak mulai bisik-bisik dan tertawa melihat aksi Arman. Tania yang semula terlihat masa bodo akhirnya tak tahan juga.
"Ayah, jangan norak dong.." Bisik Tania.
"Ah, kamu ini harusnya ikutin Ayah, dukung kakak kamu juga.. " Ucap Arman kesal.
"Ayah, kalau Ayah teriak-teriak dan sampai mengganggu jalannya pertandingan nanti diseret keluar sama security, mau?" Mila pun akhirnya mulai bereaksi.
Arman mendengus kesal. Semangatnya begitu membara untuk terus meneriakkan nama putrinya, kini ia harus redam. Padahal ia sudah mempersiapkan pita suaranya dengan rajin meminum air hangat agar bisa nyaring kala meneriakkan nama putrinya.
Arman bereskpektasi tribun akan ramai dengan penonton yang saling bersorak mendukung jagoannya layaknya pertandingan bola. Rupanya ia keliru. Semua penonton tampak tenang dan hanya sesekali bertepuktangan. Tidak ada teriakan dan sorakan yang seperti ia bayangkan. Alhasil, hanya suaranya yang menggema di dalam gedung yang begitu luas itu sekaligus memancing hasrat pengunjung lain untuk menggunjingnya.
Diana, kau sangat beruntung memiliki seorang Ayah yang penuh totalitas dalam mendukung putrinya.
...
Author's cuap:
Ayaaaah Arman...
Jempol telunjuk jari tengah jari manis kelingking semua untukmu...
eh, yang udah baca, jempolnya buat author jangan lupa ya..