
Hera, satu dari dua belas dewa dewi utama olimpus dalam mitologi Yunani kuno. Terlepas dari baik dan buruk kisahnya, Hera merupakan ratu olimpus, yakni ratu para dewa yang berparas cantik. Begitulah nama Hera menjadi begitu apik dan diabadikan menjadi nama yang indah hingga saat ini.
Hera. Bernama lengkap Marisa Herawati. Gadis sederhana berparas rupawan yang dikenal baik hati dan banyak teman. Dia adalah murid yang rajin dan berprestasi di sekolah. Dia selalu menduduki peringkat pertama. Benar-benar membanggakan.
Kehadirannya yang telah dinantikan selama bertahun-tahun oleh ibunya Nilam dan ayahnya Surya. Ibunya adalah perias pengantin dan ayahnya seorang TNI Angkatan Laut. Kehidupannya berjalan normal. Hidup berkecupan dan mengenyam pendidikan yang baik.
Suatu hari sepulangnya dari ekskul pramuka, dia biasa turun dari angkot sedikit agak jauh dari rumahnya karena ingin mampir ke pedagang gerobak yang berjualan bubur kacang ijo di persimpangan jalan. Dia biasa membeli es bubur kacang ijo yang berada di arah jalan pulangnya itu.
"Pak, beli satu dibungkus. Es batu nya sedikit aja ya pak.." Kata Hera memesan es bubur kacang ijo kesukaannya.
Dengan cekatan abang penjual itu pun segera meracik pesanan pelanggannya. Kelihaiannya meracik bubur kacang ijo sudah seperti gaya bartender meracik menuman. Ditambah sedikit atraksi menggoyang-goyang kaleng susu kental manis.
"Ini mbak.." abang pedagang itu menyerahkan pesanan dalam kantong plastik.
Hera merogoh saku kemejanya.
Kosong?
Kemudian dia merogoh saku roknya juga sama. Keringat mulai mengembun di dahinya.
"Sebentar ya pak," Katanya sambil tersenyum menutupi rasa cemas yang sulit ia sembunyikan.
"Iya mbak," Kata abang penjualnya sambil melayani pembeli yang lain.
Hera mengacak-acak barang di tasnya mencari rupiah yang mungkin terselip disana. Tapi nihil.
"Hera, ini uang kamu jatuh." Kata seseorang yang entah dari mana datangnya.
Hera terdiam sesaat menatap sebuah tangan yang menggenggam uang pecahan sepuluh ribu. Dia mendongak menatap sosok yang sepuluh sentimeter lebih tinggi darinya.
"Ini uang kamu jatuh." Katanya mengulangi lagi karena tidak mendapat respon dari lawan bicaranya.
Hera yang masih terpaku. Dia berusaha mencerna apa yang sedang dimaksud oleh orang tersebut.
"Bukan, itu bukan uang aku." Jawab Hera kemudian.
Tangan itu meraih tangannya dan meletakkan pecahan sepuluh ribu itu langsung ke tangannya tanpa menunggu ijin darinya.
"Iya, bener kok. Ini uang kamu jatuh." Ujarnya sekali lagi meyakinkan dan kemudian berbalik untuk menyeberang jalan. Pergi menjauh meninggalkan Hera yang masih terpaku dalam kebingungan.
"Eh, iya pak. Ini uangnya." Kata Hera menyerahkan uang sepuluh ribu tadi.
"Ini kembaliannya, makasih mbak."
Hera menatap uang kembalian yang ada di telapak tangannya. Dia menyimpannya dalam saku dan mulai melangkah. Matanya menyusuri ke segala arah.
Disana!
Dia hanya berjalan menatap ke sebuah warung kopi pinggir jalan. Nyalinya terlalu ciut untuk menuju kesana. Akhirnya dia memilih kembali melangkah dan pulang. Mungkin nanti, tidak sekarang.
Hera berjalan dengan senyum yang entah apa artinya. Tangannya menyentuh saku kemeja letak uang kembalian tadi berada.
"Makasih, Abdul." Gumamnya.
Dia benar-benar terselamatkan dari rasa malu dan tidak enak apabila sampai mengembalikan bungkusan bubur yang sudah bercampur dalam plastik karena tidak jadi membelinya. Dia terlalu malu mengakui uangnya telah hilang. Dia juga terlalu malu untuk mengucapkan terimakasih pada Abdul yang telah membantunya karena kondisi warung kopi yang cukup ramai.
Rasa malu-malu yang begitu ia rasakan mentupi seauatu yang mulai berdenyut entah apa namanya. Sesuatu yang normal sebagai tanda menuju kedewasaan. Sesuatu itu adalah rasa yang baru. Dia tidak mengenalinya hingga ia tidak menyadarinya.
Dia hanya merasa tersentuh oleh kebaikan hati seorang teman yang tidak begitu akrab dan sekarang membuatnya berbunga-bunga.
...
Author's cuap:
Settingnya kok banyak warung kopi sih thor?
FYI, kota Gresik merupakan kawasan wisata religi sekaligus surganya warung kopi dari dulu banget bahkan sebelum ngopi se-hipe seperti saat ini. Mulai dari warung kopi biasa sampe yang banyak tambah tambahnya (ups). Tapi sekarang udah lebih tertib dong, udah gak ada tambah-tambahnya lagi.
Ngopi di warung kopi sudah menjadi budaya warganya. Jaman sebelum ada sosmed dan kecanggihan internet warkop ibarat google. Apa aja ada disana. Pengetahuan, berita, sampe gosip tetangga semua diperbincangkan.
Kalau jaman dulu warkop umumnya berpenghunikan kaum pria. Tapi sekarang sudah banyak warkop modern dengan pengunjung tanpa batas gender dan usia dengan menu yang kreatif dan variatif menjadikan kota Gresik tempat nongkrong yang asik.
Gak percaya? Mampir yuk,
Eh, jempol dulu dong.. ππΌππΌππΌπ