Titip Salam

Titip Salam
Bertemu Rival



#26


Titipan salam adalah hal sakral yang memiliki makna kental dan terasa lebih spesial dan menyentuh hati dari pada menerima ungkapan langsung melalui panggilan atau pesan jarak jauh.


Titipan salam dari kerabat bisa menjadi signal bahwa sejauh apapun jarak, sesempit apapun waktu untuk bersua, namun ternyata orang tersebut masih mengingat kita. Melalui titipan salam, dapat dirasakan bahwa silaturrahmi tidak terputus.


Titipan salam dari lawan jenis merupakan langkah awal sebagai rambu apakah sebuah perasaan akan berbalas? Apakah sebuah perasaan layak diteruskan?


Dengan titipan salam yang gigih pula, sebuah benteng perasaan yang kokoh dapat meleleh bak lilin yang melebur oleh kobaran api.


Begitulah makna menitipkan salam yang menjadi budaya lokal, yang hampir punah tergerus oleh kecanggihan bentuk komunikasi lainnya.


Pernahkah kamu mendapat titipan salam?


...


Mendapatkan kelas di lantai atas dan cukup jauh dari ruangan para guru terkadang menjadi berkah tersendiri. Karena guru memerlukan jarak dan waktu yang lebih panjang untuk mencapai kelas tersebut, maka kelas itu terkadang memiliki jeda sampai sepuluh menit hanya untuk pergantian pelajaran. Bahkan, beberapa guru ada yang memilih mengosongkan jam pelajaran tanpa alasan dan pemberitahuan alias jadi sering mendapat jam.kosong.


Mario berjalan perlahan menuju sebuah bangku di ujung belakang. Bangku itu milik Rosa dengan si empunya juga berada ditempat.


"Ros, udah disampaikan?" Tanya Mario tanpa basa basi.


Rosa menatap bingung pertanyaan Mario. Beberapa saat dia tampak berpikir dan akhirnya mulai paham dengan apa yang dimaksudkan.


"Owh, sudah kok. Tadi pas istirahat pertama." Jawab Rosa.


"Terus, dia bilang apa?" Mario tampak penasaran.


"Gak bilang apa-apa." Jawab Rosa dengan datar.


Mario tampak sedikit kecewa sekaligus heran. Untuk pertama kalinya sebuah salam darinya tidak mendapatkan respon apapun.


"Memangnya kamu berharap dia bakal bilang gimana?" Tanya Rosa sambil menaik turunkan alidnya.


Pertanyaan jebakan dari Rosa membuat Mario mendengus pelan.


"Sial, kenapa aku yang seolah terlalu berharap." Gumam Mario sedikit kesal.


"Dia baik-baik saja? Apa kakinya sudah sembuh?" Bukannya menjawab pertanyaan Rosa, Mario malah melemparkan pertanyaan baru.


"Kayaknya sudah sembuh. Lagian, dia tadi juga dapat bingkisan obat dari her secret admirer, pengagum rahasianya." Jawab Rosa dengan nada memanas-manasi.


Mario sedikit terkejut mendengar pernyataan Rosa.


"Pengagum rahasia?" Ulangnya.


Mario antara takjub dan tak menyangka gadis biasa yang sama sekali tidak menonjol seperti seorang Diana memiliki pengagum rahasia? Apa istimewanya?


Mario yang hanya iseng mengirimkan salam untuk Diana ternyata malah mendapatkan kabar yang mengejutkan. Hal tersebut membuatnya semakin penasaran dengan sosok Diana ini.


Mario yang sebelumnya tidak sekalipun melirik Diana, bahkan sama sekali tidak ada ketertarikan dengan gadis itu, diam-diam mulai memantaunya sejak namanya disebut oleh seorang anak laki-laki yang sengaja dia hadang di pinggir jalan beberapa hari yang lalu.


Nama Diana disebut lantaran dialah pemilik jaket yang sengaja dipinjamkan pada anak laki-laki itu. Jaket yang sama seperti yang dipakai oleh seseorang yang menendang perut Mario pada suatu malam di tengah gang yang gelap gulita.


Antara yakin dan tidak, Mario masih menyelidiki yang sebenarnya.


"Kamu jangan kepedean dulu Mario.. Ternyata diam-diam Diana itu banyak yang naksir." Kata Rosa.


"Oh ya?" Tanya Mario meremehkan.


"Diana itu kelihatannya biasa aja. Tapi sebenernya dia itu pribadi yang misterius. Pantas saja banyak yang merasa penasaran dengannya." Ucap Rosa yang sedikit melebih-lebihkan.


Mario tertawa pelan. Sepertinya dia sedikit terpancing oleh perkataan Rosa. Dia merasa semakin penasaran dengan sosok Diana. Terlebih lagi, segala kemungkinan yang menjurus pada seseorang yang telah menendangnya dengan begitu kencang waktu itu seolah mengarah pada Diana.


Pertama, Diana memiliki kemampuan bela diri yang memungkinkan memiliki kekuatan tendangan yang cukup keras. Kedua, nyali yang besar benar-benar terlihat dari sorot mata Diana yang tidak menunjukkan rasa takut ketika beradu pandang dengan mata Mario.


"Memangnya siapa pengagum rahasianya itu?" Tanya Mario yang mulau penasaran.


"Mario... plese deh, namanya juga rahasia. Yah mana aku tau.. Hahaha.." Rosa cekikikan melihat Mario nampak kesal.


"Sialan! Kamu ngerjain aku Ros?" Umpat Mario.


"Hahaha... Jangan marah dong.. Aku gak bohong. Gak ada yang tau siapa pengagum rahasianya Diana itu. Dia cuma mengaku bernama Congek." Cerita Rosa menjelaskan.


"Congek?" Mario mengulangi nama itu. Dia seperti tidak asing dengan sebutan itu.


"Pastinya itu bukan nama asli. Jadi pasti sedikit sulit mencari taunya. Apalagi dia bukan anak SMP sini." Terang Rosa.


"Anak mana dia?" Tanya Mario lagi.


"Katanya sih, anak SMP 10." Jawab Rosa.


Ada senyum di bibir Mario. Dia berbalik dan kembali menuju bangkunya lagi.


"Ternyata benar dia. Congek." Gumam Mario.


...


Kring... Kring... Kring...


"Pulaaaaang..."


Begitulah sorak sorai bergemuruh dengan penuh kegembiraan oleh setiap siswa. Dengan respon secepat rambatan cahaya, buku-buku di atas meja langsung lenyap ditelan ransel mereka. Gerbang terbuka lebar seolah memberikan ungkapan sampai jumpa dan terimakasih untuk semangat di hari ini.


Diana, Hera, Zahra, dan Rida berjalan bersama keluar gerbang. Mereka mengambil jalur kanan untuk mencapai titik tunggu angkot. Meskipun nantinya mereka akan menaiki angkot yang berbeda, namun mereka bisa menunggu di titik sama.


"Jadi kamu masuk sepuluh kandidat yang akan maju ke kompetisi bela diri tingkat kabupaten?" Rida membuka percakapan.


"Belum Rid, ntar disaring lagi. Tiap-tiap sekolah cuma mengirim tiga perwakilan putri dan tiga putra. Minggu depan final seleksinya. Doain aku ya.."


"Aku doain semoga kamu terpilih. Ntar kita semua pasti dukung dan jadi supporter kamu pas kompetisinya.." Ucap Hera bersemangat.


"Ntar kita triakin nama kamu sambil bawa foto kamu yang paling gede biar musuhnya down duluan. Setuju gak?" Zahra pun tak kalah berapi-api.


"Aduh Zah, dukung sih dukung, tapi gak sampe yang norak gitu juga kali.. Aku tuh ikut lomba bela diri, bukan ajang pencarian bakat pake cetak foto aku segala." Jawab Diana cekikikan mendengar semangat teman-temannya.


"Aku gak nyangka kamu jago juga bela dirinya. Kirain asal ikut doang. Atau cuma ngecengin kakak pelatihnya yang ganteng itu.." Ucap Rida.


"Ganteng? Masak sih? Kamu latihannya kapan Di? Aku penasaran nih.." Celetuk Zahra.


"Dasar Zahra. Kalau dengar cowok ganteng langsung signal kuat." Ledek Hera.


Dan mereka pun tertawa bersama.


Melewati gang yang cukup ramai dengan murid-murid yang hilir mudik, tampak sekelompok anak perempuan berseragam putih biru yang sama dengan yang mereka pakai berjalan menuju arah mereka.


Zahra yang menyadari hal itu, tetap berjalan sambil terus mengamatinya. Pelan-pelan dia membisikkan sesuatu pada Diana.


"Di, ini yang aku maksud dengan hati-hati tadi." Bisik Zahra namun masih dapat di dengar oleh yang lainnya.


"Maksud kamu Zah?" Tanya Diana tidak mengerti.


"Lihat, tiga cewek di depan. Mereka berjalan kemari." Jawab Zahra.


Semua mata menuju pada tiga perempuan yang semakin lama berjarak semakin dekat dengan mereka. Tampak sorot mata yang tidak bersahabat dari ketiganya. Diana mulai menyadari ada ancaman yang datang.


"Fans Mario? Apa setajam itu telinga para fans Mario?" Tanya Diana sambil ikut berbisik.


Zahra mengangguk pelan. "Seperti yang kamu lihat sendiri sekarang."


"Memangnya mereka mau apa?" Hera pun mulai nampak waspada.


"Entahlah."


...


Author's cuap:


Aduh aduuuh... apa ada pertumpahan darah???


Atau adegan jambak jambakan???


Jadi ikut deg deg an akutuh..


Tapi aku lebih deg deg an kalau kalian habis tamat baca episode ini nyenggol jempolnya gak ya..


👍🏼


Atau nyenggol lope lope nya?? ❤️❤️❤️


😘🙏