Titip Salam

Titip Salam
Mental Juara



#40


Menjadi juara merupakan hal yang sangat membanggakan. Namamu akan diagung-agungkan dan mendapat banyak penghargaan. Dirimu yang hanya biji pasir akan menjelma dipandang sebagai berlian yang berkilau ketika menjadi satu yang terbaik. Pujian, tepuk tangan, ucapan selamat, dan hadiah-hadiah tentu akan menghampiri.


Namun sebelum semua itu terjadi, tentu ada kompensasi yang harus dibayar mahal. Energi dan waktu yang tidak akan pernah bisa kembali. Maka berusahalah selagi mimpi itu belum diraih, dan bersyukurlah setelah kau tau usahamu tak akan pernah menghianati hasilnya.


Begitulah jungkir balik mereka para juara. Dibalik senyum merekah mencium medali kemenangan, ada peluh dan kegigihan dalam mendaki kesuksesan itu.


Tiga perempuan berseragam beladiri sedang berlari beriringan mengitari blok. Ini adalah wujud kerja keras mereka sebelum nantinya berharap dapat memborong gelar juara.


Diana, Rosa, dan Novi. Tiga orang terpilih yang nantinya akan mewakili SMP 15 Gresik di ajang pekan olahraga, seni, dan budaya yang diadakan setiap tahunnya.


"Nanti berhenti di penjual batagor depan SMP 10 sebentar ya.."Ajak Rosa sembari mensejajarkan langkah berlari santai bersama dua rekannya.


"Wah, setuju mbak Ros. Enak banget tuh batagor. Juara pokoknya." Ucap Novi menyetujui.


Novi adalah adik kelas Diana dan Rosa. Oleh karenanya dia selaluemanggil Diana dan Rosa dengan imbuhan "mbak" sebelum nama. Menghargai senioritas sekaligus adab sopan santun pada yang lebih tua.


"Hadeeeh, kalian ini jajan mulu. Nanti kalau ketahuan kak Ari bisa dihukum." Sahut Diana.


"Yah, kita makannya sambil lari pelan-pelan jadi gak ketahuan. Ayolah Di, aku laper. Jangan ditinggalin dong." Rengek Rosa pada Diana.


"Iya mbak Di, klo mbak Diana ninggal kita lari duluan malah ketahuan kalau kita sempaet jajan.dulu. Bentaaar aja mbak." Novi pun ikut-ikutan memohon manja.


"Kalian berdua kompak banget sih. Nanti aku jadi ikutan kepengen. Aku tuh lagi gak bawa duwit. Duwit aku di tas." Diana cemberut memanyunkan bibirnya.


Seketika capit kepiting mendarat di lengan Diana.


"Au, sakit Ros." Ucap Diana sambil mengusap lengannya.


Rosa terbahak melihat temannya itu nyengir kesakitan.


"Yah habis, kirain gak mau jajan karena disiplin. Taunya gara-gara gak bawa duwit. Kesel deh.."


"Ya udah ayok beli aja. Mbak Diana aku bayarin dulu aja kalau pingin. Aku bawa duwit lebih. Nanti ganti pas mau pulang" Ucap Novi mrmberi solusi.


Mendadak Diana mempercepat larinya dan segera berhenti tepat di depan gerobak batagor yang dimaksud. Rosa dan Novi hanya melongo menatap Diana dari jarak yang tak begitu jauh di belakang.


"Tuh, lihat Nov. Tadi sok sok an gak mau. Sekarang paling cepet geraknya. Dia itu paling gak tahan kalau urusan jajan." Ucap Rosa setengah berbisik seperti gaya emak-emak yang menggosipkan tetangga. Novi hanya terkekeh menanggapinya.


"Buruan Nov, bayarin dulu nih.." Ucap Diana sedikit berteriak.


"Resek kan temen aku itu. Gak ada sopan satun. Bilang makasih dulu kek.. Maafkan ya Nov." Ucap Rosa sambil geleng-geleng kepala.


"Hehehe.. Santai aja mbak."


Dan terjadilah transaksi jual beli batagor di lokasi itu.


Di sudut lain, tepatnya dibalik pagar besi nan tinggi, seseorang sedang kehilangan konsentrasi akibat pemandangan diluar pagar.


Tangan itu sibuk mendrible bola, namun pandangannya menuju satu titik yang samar-samar dibalik gerobak pedagang batagor.


Matanya tampak berbinar dan senyumnya merekah.


Beberapa detik dia mendrible, memantulkan bola pada lantai lapangan beberapa kali, kemudian melempar bola sembarang tepat sebelum bola itu direbut lawan.


Semua mata hanya menatap mengiringi arah bola, melongo, dan mematung ketika bola yang sepertinya dilempar sembarangan, melayang, dan masuk dalam keranjang.


Three poin


Sah!


Lapangan hening sesaat yang kemudian riuh dengan tepukan tangan. Bahkan gadis-gadis dengan pom pom ditangan bersorak berteriak khas jeritan cheerleaders.


Si melempar bola seolah tak bertanggung jawab. Dia berlari keluar lapangan, meraih botol minumnya, dan berlari lagi sambil berteriak...


"Pak, saya istirahat sebentar."


Terus bergerak menjauh sambil menenggak botol minumnya, tak menghiraukan suara peluit yang memekakkan telinga beserta sedikit kuah kuah basah dari bibir sang pelatih.


Semua mata beralih memandang kepergiannya. Namun ada sepasang mata yang menatapnya lebih intens. Memandang terus, dan terus mengikuti kemana arahnya pergi. Sensor dari mata seolah mengirim sinyal pada otak untuk memberikan respon motorik. Hingga kakinya memutuskan untuk mengikuti.


...


"Hei, Di. Kamu kok di sini?"


Suara itu menyebabkan Diana melompat kaget dan membuat mata Diana melotot bulat sempurna. Sebutir batagor yang baru masuk dimulut langsung lolos begitu saja tanpa ada rintangan dan tegur sapa dengan gigi yang siap *******.


"Uhuk uhuk.." Diana sedikit terbatuk sambil menoleh ke arah sumber suara.


Rosa dan Novi pun ikut terkejut.


Willy berada disana. Wajahnya yang menyunggingkan senyum tiba-tiba panik melihat yang dia sapa terkejut hingga batuk-batuk.


Rosa nampak menepuk-nepuk punggung Diana.


Memahami Diana yang tersedak, Willy menyodorkan botol minum yang tadi ia bawa. Tanpa haha hihi dan pikir panjang Diana meraih botol itu dan menenggak isinya sampai tandas.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Willy cemas.


Diana spontan memukul-mukul lengan Willy dengan botol kosonng ditangannya bertubi-bertubi. Tapi pukulan kejengkelan, bukan pukulan pakai jurus ya..


Kini ganti Willy yang dibuat terkejut dengan reaksi Diana. Willy menyeringai sakit namun hatinya berbunga-bunga. Dia memperlakukannya seolah mereka teman yang begitu akrab.


Rosa dan Novi hanya melongo melihat pertikaian kecil di depan mereka. Ini sudah seperti sejoli yang sedang bertengkar karena pacarnya ketahuan selingkuh.


"Au, au, aduh.. Sakit Di.." keluh Willy.


"Kamu sih, resek banget. Ngagetin aja sampai aku keselek." Ucap Diana setelah puas menghujani Willy dengan pukulan meluapkan kekesalan.


"Hehe.. Maaf maaf. Lagian ngapain kamu kaget. Padahal aku nyapanya udah pelan-pelan loh.." Ucap Willy sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Aku kira tadi kakak pelatih yang mergokin aku lagi jajan ditengah-tengah pemanasan." Diana menggerutu kesal.


Willy tergelak dengan jawaban sekaligus ekspresi Diana. "Benar-benar imut ketika nampak kesal" batin Willy.


Di balik gerbang seseorang sedang menyaksikan semua itu. Napasnya naik turun meredam sesuatu. Lala.


Di sana Lala mengintip ingin tahu apa yang membuat Willy pergi meninggalkan lapanga. Hatinya sakit setelah mengetahuinya. Dia cemburu.


"Sst sst.. Siapa Di? Kok kayaknya akrab banget. Ganteng pula." Bisik Rosa telinga Diana yang disusul cubitan kecil dipinggang Rosa.


"Au, " Keluh Rosa sambil mengusap area capitan maut Diana.


"Oh iya, kenalin. Ini temen-temen aku. Rosa dan Novi." Ucap Diana memperkenalkan.


Rosa mengulurkan telapak tangan sambil menyebutkan namanya, begitu pula dengan Novi.


"Ya udah Wil, aku lanjut lari dulu. Ntar malah beneran ketahuan kakak pelatih aku jadinya." Ucap Diana berpamitan.


Sebuah telapak tangan menarik lengan Diana membuatnya tertahan.


"Hari Minggu kamu latihan gak?" Tanya Willy.


"Iya, kenapa?"


"Boleh ngobrol sebentar gak setelah kamu pulang? Aku tunggu di halte." Ucap Willy dengan penuh harap.


"Emang mau ngomongin apa? Sekarang aja kenapa?" Diana menjadi heran.


"Kamu kan lagi buru-buru sekarang."


Secara terang-terangan di depan teman-temannya, Willy yang tidak begitu ia kenal sedang mengajaknya ketemuan di lain hari. Diana merasa sedikit malu dan khawatir temannya akan berpikiran aneh-aneh.


Apalagi Rosa yang memiliki daya imajinasi yang begitu ajaib.


"Iya aku usahain deh." Diana berbalik mengambil ancang-ancang melanjutkan kegiatan pemanasannya tadi.


"Tunggu!" Willy menahan Diana sekali lagi.


"Apa lagi?" Diana mulai merasa kesal menghadapinya.


"Boleh aku minta balik botol aku?"


Diana memandang tangan kirinya yang menggenggam sebuah botol. Memorinya memutar kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Dia yang tanpa pikir panjang langsung meminum air dalam botol itu.


"Oh God.. Aku meminum bekasnya. Ini bisa berarti ciuman tidak langsung gak sih?" Batin Diana.


Memorinya memutar lagi adegan setelahnya yaitu ketika dirinya memukul lengan Willy bertubi-tubi menggunakan botol ditangannya. Diana meringis malu.


"Hehehe.. Maaf ya.." Ucapnya.


Diana menyerahkan botol itu dan segera berlari dengan kecepatan tinggi meninggalkan teman-teman yang menungguinya tadi. Dia sangat malu telah bertindak sok akrab tadi.


Diana terus berlari tanpa menghiraukan Rosa dan Novi yang meneriakinya dari belakang.


...


Author's cuap:


Siapa yang suka belok-belok jajan kayak Diana kalau lagi ada kegiatan diluar sekolah?


Aku gitu tuh..


Hahaha


Aku juga suka kalau dapet jempol, bunga, kopi, dan vote nya.. hehehehe


Modus author mah gitu..


Terimakasih..