
#109
Menuju Kompetisi - Jatuh Hati (part 1)
Suara dentuman bola yang terpantul menghantam bumi menggema tertiup angin. Sekelompok pemuda yang masih mengenakan seragam sekolahnya sedang menikmati teriknya matahari siang di sebuah lapangan basket sekolah mereka. Keringat yang mulai membuat seragam mereka basah tak menyurutkan keseruan permainan yang diiringi tawa canda.
Bam!
Bunyi pantulan keras bola itu setelah melewati ring dengan sempurna.
"Wah, asli gila! Hebat banget kamu." Ucap Salim yang masih melongo kagum pada Willy yang berdiri di tengah lapangan sambil menyeka keringatnya.
"Gila sih, dari tengah lapangan bisa tepat banget masuk ring. Makin sadis aja permainan kamu." Timpal teman yang lainnya.
Prok, prok, prok..
Suara tepuk tangan dari seseorang di bibir lapangan membuat mereka yang berada di tengah lapangan sontak menoleh ke sumber suara.
"Udahan dulu ya, besok lanjut lagi.." Ucap Willy melambaikan tangan pada teman-temannya dan berlari menghampiri seseorang yang tadi bertepuk tangan untuknya.
"Raden Willy Ardian, keren banget mainnya.."
"Raden-nya gak usah disebut juga lah kak," Balas Willy.
"Ada apa nih, kok udah pake seragam pendekar aja ke sini?"
"Pendekar? Dikata wiro sableng?"
"Kamu belum tau kalau Sabtu Minggu sekolah kamu dipakai latihan cabang beladiri buat persiapan POR Prov?"
"Kak Ari serius?" Willy berbinar senang.
"Kok kayaknya seneng banget? Ada apa nih? Hayo.." Ucap Ari tersenyum menggodai.
"Ada deh," Ucap Willy tersipu malu.
"Ah, cewek ya? Siapa? Aku kenal semua pesertanya loh.. Nanti aku bantuin deh," Ari terus saja menggodai Willy yang sudah salah tingkah. Anak muda ini sangat mudah ditebak.
"Emang bisa bantuin gimana? Ada-ada aja kak Ari ini. Paling bisa deh godain aku."
Ari tertawa lepas melihat Willy yang tersipu malu. Anak muda yang ia kenal tak banyak bertingkah itu kini mulai beranjak dewasa seiring bertumbuhnya sebuah perasaan yang mungkin baru saja ia kenali. Lucunya.
Di sudut lain masih di wilayah yang sama, seorang gadis tampak cemberut sambil mere mas-re mas buku jarinya. Berkali-kali ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya, hingga ia mulai melangkah setelah dirasa sesak karena amarah didadanya mulai mereda.
Dia berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Ia abaikan semua yang berada di sekelilingnya. Termasuk teriakan berkali-kali yang memanggil namanya.
Grep!
Sebuah telapak tangan meraih lengannya dan mencengkeramnya kuat membuat langkahnya terhenti dan berbalik menatap pemilik telapak tangan itu.
"Kamu kok main nyelonong aja sih? Aku panggil-panggil juga gak noleh sama sekali?" Mario begitu kesal karena dirinya diabaikan begitu saja.
"Aku lagi buru-buru." Jawab Diana ketus sambil berusaha melepaskan cengkeraman Mario.
"Aku kan udah bilang mau antar kamu. Aku nungguin kamu dari tadi."
Drama di pinggir jalan dimulai. Seorang gadis yang berada tak jauh dari mereka tampak tersenyum menikmati pertunjukan. Stefi sedang berdiri di dekat motor yang terparkir apik di pinggir jalan sambil sesekali menyibakkan rambutnya yang tertiup angin.
"Nungguin? Masak sih? Kok yang aku lihat kamu lagi asik ngobrol. Aku jadi gak enak kalau ganggu."
Mario mencubit gemas pipi yang mengembung itu membuat Diana teriak kesakitan.
"Kamu cemburu ya? Uwh, gemes banget.." Mario tertawa senang.
"Siapa yang cemburu sih?" Diana semakin merengut kesal sambil memegangi pipinya yang panas karena cubitan Mario.
"Udah gak usah bawel. Tunggu di sini, aku ambil motor sebentar."
Mario berlari kecil menuju motornya dengan perasaan berbunga-bunga. Ia senang sekali mengetahui gadis itu tampak kesal karena mebdapati dirinya dan Stefi yang sedang mmengobrol tadi.
"Kak, pertimbangin lagi ya.." Ucap Stefi ketika Mario sudah sampai di motornya.
"Keputusan aku udah final, aku minta maaf ya.." Ucap Mario sebelum berlalu membawa serta motornya menuju gadis berseragam beladiri yang ditutupi jaket abu-abu. Sebuah jaket yang menjadi salah satu saksi bisu lika liku hubungan mereka hingga sedekat ini.
Stefi mendengus kesal. Ia masih begitu tidak rela melihat pemuda yang ia sukai nyatanya sudah memberikan hatinya pada gadis lain. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, gadis itu terlalu tangguh untuk ia tantang.
Stefi berbalik dan pergi dengan sakit hati karena perasaan yang bertepuk sebelah tangan. Ia kini berharap agar rasa itu segera berlalu dan berlabuh pada hati yang baru dengan peruntungan yang lebih baik.
"Ayo naik." Ucap Mario ketika Diana hanya berdiri mematung masih dengan wajah cemberut.
"Mau aku gendong ke atas motor?" Lagi-lagi ancaman yang membuat gadis itu bereaksi.
Diana akhirnya menaiki motor itu dengan perasaan enggan. Dia duduk sangat mundur ke belakang memberi kesan tidak akur pada setiap yang melihatnya.
"Kok gak dipeluk?"
"Aw," Mario merasakan cenat-cenut di kepalanya karena telapak tangan sakti Diana mengenai kepalanya yang belum mengenakan helm.
"Aduh Di, kepalaku pusing nih. Sakit banget, aw.." Mario merunduk memegangi kepalanya.
Diana yang melihat mario merintih kesakitan menjadi cemas dan panik. Dia segera melompat turun, mengintip wajah Mario dari celah jemari yang menutupi wajah itu.
"Ma-af Mar, kamu gak apa apa kan?" Diana sangat panik melihat Mario yang merunduk sambil merintih memegangi kepalanya.
"Sakit banget, aakh.."
Ragu-ragu Diana meletakkan tangannya dikepala pemuda itu, tepat pada area yang ia pukul dengan spontan. Untuk pertama kalinya ia begitu menyesali respon cepatnya yang menurutnya merupakan sebuah anugerah pertahanan diri.
"Ma-na yang sa-kit? I-ni ya?" Diana berucap terbata karena panik dan cemas. Tangannya bergerak meraba apakah ada luka atau benjolan akibat pukulan tangannya tadi.
"Iya itu sakit.." Mario masih merunduk dan merintih kesakitan.
"Kita balik ke sekolah ya, ke UKS. Atau kita ke klinik depan sana? Atau ke puskesmas dekat tikungan?"
"Gak usah, coba gosok-gosok aja Di.."
Diana meletakkan kedua telapak tangannya dan mengusap pelan kepala Mario. Ia berharap semoga itu bisa mengurangi sakitnya.
"Aduh, gimana kalau Mario sampe gegar otak?" Batin Diana.
"Sakitnya nyampe kesini Di.." Ucap Mario menyentuh salah satu telapak tangan Diana sambil mengarahkannya pada area kepala yang lain.
"Hah? Sakitnya nyampe ke sisi sini?" Diana semakin cemas.
"Mam pus aku! Jangan-jangan kena syarafnya." Batin Diana yang semakin panik.
Mario mulai mengangkat wajahnya. Tangannya kembali memindahkan telapak tangan Diana yang tadinya mengusap kepalanya. Kali ini ia memindahkannya ke dada sebelah kirinya.
Diana dapat merasai detakan yang tersembunyi di dalam sana. "Gawat! Nyerinya sampe ke jantung?" Diana semakin cemas dan bingung harus berbuat apa.
"Paling sakit cenat cenut di sini Di.." Ucap Mario dengan wajah yang masih merintih.
Diana terdiam. Dia mulai mencium gelagat yang tidak beres.
"Sakiiiiiit banget gara-gara kamu tolak, aawwwh.." Mario benar-benar kesakitan sekarang karena cubitan oleh tangan mungil yang ia arahkan ke sana.
Diana menarik tangannya dan tampak begitu murka.
"Gak lucu Mario! Aku udah takut banget tau gak?" Diana meremas tangannya ke udara melepaskan geram karena kesal pada pemuda dihadapannya.
"Hehe.. Maaf. Tapi tadi beneran sampe nyut-nyutan kepala aku. Lain kali respon gesitnya kasih ke lawan kamu aja, jangan ke aku." Ucap Mario yang masib mengusap bekas cubitan Diana tadi.
"Iya, aku minta maaf. Habisnya kamu, udah tau aku lagi kesel, malah digodain melulu."
"Jangan manyun gitu. Aku jadi gemes pingin nyubit pipi kamu lagi. Hehe.."
"Ayo naik,"
Diana menaiki motor dan duduk dengan normal. Ia memindahkan tas ranselnya ke tengah sebagai pemisah guna menghindari modus berikutnya.
Setelah dirasa sang tuan putri duduk dengan nyaman, Mario memasang helmnya dan mulai menyalakan motornya. Ia membuka kaca helm, memundurkan sedikit kepalanya, dan berucap "Makasih udah khawatir sama aku."
"Siapa yang khawatir? Aku kan cuma merasa bersalah gara-gara aku pukul kepala kamu." Diana terus saja mengelak.
"Di, kalau emang sayang gak usah ditahan-tahan. Nanti jadi jerawat loh.. Lepasin aja.. " Ucap Mario sambil terkekeh mengintip ekspresi cemberut dengan pipi merona Diana dari kaca spion yang sengaja ia arahkan pada wajah gadis itu.
"Mau jalan atau aku turun?"
Mario melajukan motornya perlahan dengan perasaan berbunga. Ia begitu menikmati perjalanan sambil sesekali melirik spion yang mengarah ke gadis yang berada di belakangnya. Sesekali saat pandangan mereka bertemu, gadis itu akan cepat-cepat membuang muka. Ah, dapatkah kalian bayangkan bagaimana debaran yang menyelimuti mereka?
...
Author's cuap :
Aduh, author jd pingin jatuh cinta lagi deh jadinya...
Sialan nih bocah SMP bikin baper parrraaah...
Eh, readers sayang
jangan lupa jempol komen yaaaa
Bentar lagi tanggal muda euy, gak usah pelit vote dan poin hadiah lah ya..
hehehe
Terimakasih sudah membaca