
Mengidolakan seseorang memang kadang membut kita melakukan hal-hal konyol yang bahkan diluar kebiasaan kita. Itu adalah dorongan dari alam bawah sadar kita. Oleh karenanya otak harus selalu sadar untuk mengontrol diri agar terhindar dari hal-hal konyol bahkan tindakan gila yang nantinya dapat merugikan diri sendiri dan.orang lain.
Hera yang memandang geli pada Zahra ketika memuji idolanya, seolah tidak dapat membaca apa yang terjadi pada dirinya.
"Iya ya, keren banget meskipun keringetan." Hera tak menyadari apa yang keluar dari mulutnya.
Kata-kata yang menurutnya tadi menggelikan kini mengalir begitu saja dari lidahnya. Hera mulai hilang logika.
Zahra terkejut mendengar apa yang dikatakan teman di sebelahnya itu. Seperti bukan Hera biasanya. Hera yang merasa dipandangi oleh Zahra menjadi kikuk. Sepertinya dia baru menguasai kesadarannya.
"Pertandingannya keren banget. Seru! Sampe keringetan nontonnya. Ikut deg degan. Hehehe.." Ucap Hera menjelaskan panjang lebar.
"Sejak kapan kamu suka bola Her?"
Pertanyaan Zahra semakin membuat Hera berkeringat karena panik.
"Sejak diajak nonton bola di tivi bareng ayahku. Ternyata nonton langsung lebih seru." Hera menjawab dengan cengengesan berharap Zahra tidak mencium jawaban dusta yang ia lontarkan.
Pertandingan usai dengan skor 12-10 dengan kemenangan untuk tim Mario. Sekali lagi, ini adalah latihan. Jadi seusai latihan tidak ada suasana panas dan dendam. Semua pemain tampak berkerumun memperhatikan pelatih mereka beberapa saat sebelum berdoa dan membubarkan latihan.
Satu per satu penonton pun membubarkan diri.
"Her, ayo pulang. Kamu nungguin apa lagi?" Ajak Zahra pada Hera.
"Tunggu Za, itu siapa?" Tunjuk Hera pada seorang gadis cantik berambut panjang yang mendekat ke arah Mario.
Gadis itu tampak memberikan botol minum pada Mario. Hera semakin terkejut ketika gadis itu berusaha mengelap keringat di dahi Mario dengan handuk yang ia bawa namun sepertinya Mario menepisnya.
"Oh, itu Stefi anak 2D. Dia pernah jadi vokalis di bandnya Mario waktu di acara pembukaan pasar malam di Alun-alun kota."
Hera menatap sendu wajah Zahra. Dia berpikir sahabatnya pasti sangat terluka hatinya menyaksikan adegan seperti itu di depan matanya.
"Mereka pacaran?" Tanya Hera mulai penasaran.
"Denger-denger sih mereka gak ada hubungan spesial. Stefinya aja yang ngebet banget sama Mario. Lihat aja tuh, Mario biasa aja kan." Kata Zahra menjelaskan.
"Mungkin karena Mario sok kecakepan aja." Ucap Hera asal.
"Kok kamu ngomong gitu sih, bukannya bagus kalo Mario gak kecantol sama cewek genit kayak gitu." Zahra mulai terpancing emosi mendengar perkataan Hera.
"Bukan gitu Za, Stefi kurang apa sih. Cantik, putih, langsing. Kok bisa Mario gak tertarik."
"Ya mana ku tahu, dia risih kali kalo dikejar-kejar gitu."
"Oh, itu makanya kamu gak ngejar-ngejar Mario juga kayak si Stefi? Apa karena kamu gak pede aja?" Kata Hera yang mulai meledek temannya.
"Sialan kamu Her, kalo aku kan masih punya malu. Lagian aku cuma ngefans biasa aja. Gak sampe gila. Udah, yok pulang. Ntar kesorean." Ajak Zahra.
"Bentar ya Za, aku ada perlu sebentar." Kata Hera yang berjalan menyeberang lapangan menuju ke arah Mario yang masih duduk disana.
Zahra yang merasa heran memilih untuk mengikuti langkah Hera. Dia pun penasaran apa yang akan dilakukan Hera. Apakah Hera juga mengagumi Mario dan merasa tidak terima dengan tindakan Stefi? Apalagi Hera berjalan sambil menggenggam tongkat pramukanya erat-erat seakan mau menyerang. Wah bisa jadi pertumpahan darah nih..
Zahra semakin cemas menatap perubahan pada Hera. Dia tidak pernah melihat Hera setegang ini. Apa lebih baik Zahra menarik Hera segera pergi sebelum dia mempermalukan dirinya sendiri?
Meskipun kondisi lapangan yang mulai sepi, tapi ini masih lingkungan sekolah. Hera bisa dihukum berat bahkan di skors bila sampai ketahuan berkelahi di area sekolah.
Zahra meraih tangan Hera. Namun terlambat. Hera keburu sampai tepat di depan mereka.
"Dul, aku mau balikin ini."
GUBRAK!!!
Zahra sangat terkejut. Ternyata Hera bukan berniat melabrak Stefi, melainkan ada keperluan dengan Abdul yang sedang duduk di samping Mario. Zahra menertawai dirinya sendiri yang sudah berpikir terlalu jauh. Sial, kaki Zahra sampai dibuat lemas olehnya.
"Aku tau waktu itu bukan uangku. Aku gak pernah bawa uang sebanyak itu. Itu pasti uang kamu sendiri."
"Gak usah dibalikin. Gak apa-apa. Aku cuma gak sengaja lihat kamu kebingungan waktu itu." Jawab Abdul dengan senyum manisnya.
Hera yang mendapat senyuman seperti itu menjadi sesak. Jantungnya berdetak tidak normal. Dia meraih tangan Abdul dan menyerahkan uang pecahan sepuluh ribu di tangan itu tanpa menunggu ijin. Ini persis seperti apa yang Abdul lakukan waktu itu.
"Pokoknya aku mau balikin. Makasih." Ucapnya sambil berlalu pergi.
Tersisa Abdul yang masih tercengang dengan kejadian tersebut.
"Ciye Abdul sampe linglung gitu." Ledek Mario sambil menyenggol pundak temannya itu.
"Itu pacarnya kak Abdul?" Kata Stefi yang tiba-tiba ikutan nyambung.
"Apaan sih kalian kompak banget. Jadian sono!" Abdul mengantongi uang itu dan berjalan pergi.
Stefi tersenyum riang mendengar perkataan Abdul.
"Setuju banget kak Abdul.." Ucap Stefi sambil bertepuk tangan.
"Ngimpi!" Jawab Mario sambil ikutan pergi menyusul Abdul.
"Kak Mario jahaaat" Kata Stefi setengah berteriak. Bibirnya mengerucut dan mengumpat menunjukkan kekesalan.
Sementara itu, Hera berjalan dengan cepat sambil memegangi dadanya. Dia berjalan begitu cepat sampai tidak mendengar seseorang yang terus memanggilnya dari belakang sampai akhirnya ada tangan yang menariknya.
"Eh,"
"Hera, kamu kenapa sih? Kok aku ditinggalin?" Zahra yang ikut ngos-ngosan mengikuti langkah Hera.
"Udah sore, ayo pulang. Ntar keburu gelap." Kata Hera beralasan.
"Iya tapi pelan-pelan aja. Kamu maen ninggalin aku. Kita kan searah nungguin angkotnya." Kata Zahra yang terdengar jengkel.
"Maaf Za, jangan ngambek dong. Aku gak sengaja." Hera memperlambat langkahnya dan berjalan berdampingan dengan temannya itu.
"Kamu suka ya sama Abdul?"
Deg,
"Enggak kok. Kok kami tiba-tiba nanya gitu?" Hera tergagap mendapat pertanyaan seperti itu.
"Yah, kamu aneh. Gak kayak biasanya."
"Perasaan kamu aja kali."
"Kamu tadi ngasi apa ke Abdul sampe pegang tangannya gitu?"
Hera bingung dan berpikir keras mencari alasan yang tepat menjawab pertanyaan Zahra.
"Balikin yang Abdul sekalian ngucapin makasih. Udah itu aja kok." Jawab Hera sekenanya.
"Kok bisa balikin yang Abdul? Emang kamu kapan ngutangnya?" Zahra semakin penasaran dibuatnya.
"Panjang ceritanya Za, pokoknya waktu itu Abdul bantuin aku." Jawab Hera malu-malu.
"Cerita dong Her, aku penasaran nih. Aku punya banyak waktu kok."
Hera merasa terancam dengan pertanyaan bertubi-tubi Zahra. Dia tidak ingin tersebar gosip aneh-aneh yang membuatnya tidak nyaman. Dia akan lebih senang bila kejadian itu tidak usah ada yang tau. Apalagi teman-temannya. Bisa menjadi bahan ledekan seumur hidup nantinya.
"Aku yang gak ada waktu Za, tuh angkotku dateng. Dadaaah."
Hera melambaikan tangan untuk menghentikan angkot jurusan ke rumahnya. Dia segera menaiki angkot dengan penuh kelegaan meninggalkan Zahra yang masih menunggu angkot jurusan lainnya dengan tampang kesal. Hehee
"Semoga Zahra segera lupa dengan kejadian hari ini." Begitulan doa Hera dalam hati.
...
Author's cuap:
Hera nya sampe sini dulu ya,, ntar sambil jalan bareng cerita tokoh utamanya.
Jempolnya ya gaes,, ππΌππΌBiar makin uhuy nih nulisnya...
Makacih...