Titip Salam

Titip Salam
Kontak Ketiga



#63


Kontak Ketiga


"Wah, ini seriusan buat Diana yah?" Ucap Diana begitu gembira.


"Iya dong, kan Ayah sudah janji jadi harus ditepatin." Ucap Arman, ayah Diana, yang turut senang melihat anak sulungnya yang begitu gembira.


"Sejujurnya ayah kamu itu gak yakin kalau kamu bisa menang Di, makanya dia berani menjanjikan hadiah yang cukup mahal." Ucap Mila, mama Diana, membongkar rahasia dibalik hadiah yang dijanjikan sang ayah.


"Mama ini. Yah gak usah diomongin juga." Ucap Ayah kesal karena ketahuan meragukan kemampuan anaknya.


"Oh, ternyata Ayah gak beneran niat mau ngasih hadiah ini ke Diana?" Diana melipat tangannya dan pura-pura ngambek.


"Iya sebenarnya gitu. Ayah emang gak yakin kamu bisa menang. Uang itu sebetulnya mau Ayah pakai buat beli alat pancing baru. Tapi karena udah janji, ya mau gimana lagi. Gak jadi deh beli alat pancingnya." Ucap Ayah penuh kejujuran.


"Ayaaaah.." Diana merengek kesal karena Ayahnya mengaku kalau beliau memang benar meragukan kemampuannya.


"Hehehe.. Tapi kan anak Ayak sudah berhasil, dan Ayah bangga banget pastinya. Ayah sampai pamerin koran yang ada foto kamu ke semua teman-teman kerja Ayah." Ucap Ayah sambil membelai kepala putri sulungnya.


Diana akhirnya tersenyum juga. Tangannya dengan hati-hati menyentuh hadiah dari Ayahnya berupa handphone baru. Dia benar-benar sudah menginginkan benda pipih itu sejak dulu. Namun, dia tidak berani meminta pada orang tuanya karena tau harganya cukup mahal.


"Tapi jangan dibawa saat sekolah ya, nanti kamu gak fokus sekolahnya gara-gara main hape mulu." Ucap Mama memperibgatkan.


"Iya Ma.." Ucap Diana sambil mulai mencoba memencet setiap tombol dan fitur yang ada di hape barunya.


"Coba liat mbak.." Ucap Tania.


"Jangan ah, nanti rusak!" Diana masih begitu senang dengan barang miliknya sampai merasa enggan membagi dengan adiknya. Diana masih takut-takut memainkan hape barunya. Bahkan plastik segelnya saja ia biarkan menempel. "Biar keliatan kayak hape baru" Begitu pikirnya.


"Mbak Di pelit." Tania cemberut memonyongkan bibirnya.


"Ayah, aku juga mau hape kayak mbak Di." Tania pun merengek manja pada sang Ayah.


"Hmm, Tania belum saatnya punya hape ya.. Nanti kalau sudah segede mbak Diana, ayah pasti belikan juga." Ucap Ayah begitu bijak.


"Lama dong Yah,"


"Jangan ngambek gitu. Besok malam minggu Ayah ajak jalan-jalan ke Alun-alun Kota." Ucap Ayah menghibur putri bungsunya yang merajuk.


"Bener ya Yah.. Aseek.." Semudah itu membujuk putri kecilnya.


"Kamu mau ikut Di?" Tanya Ayah pada Diana yabg mulai terfokus pada hapenya saja.


"Gak tau Yah, liat besok aja." Ucapnya tanpa.mengalihkan pandangan dari layar biru mungil itu.


Ayah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya.


"Diana, kamu perlu ingat satu hal. Kalau sampai nilai kamu turun, Ayah ambil lagi hape itu. Jadi, jangan sampai lupa belajar. Gunakan hape itu sebaik-baiknya." Ucap sang Ayah memperingati.


"Siyaaap Ayaaah.."


...


(Flash back On)


"Kamu bisa nyanyi gak Di?" Tanya Mario sedikit berteriak agar dapat didengar oleh gadis yang berada di belakangnya.


"Bisa, tapi cuma di kamar mandi." Ucap Diana pun sedikit berteriak karena suaranya harus bersaing dengan deru angin.


Mario tertawa lepas mendapat jawaban nyeleneh dari gadis yang sedang diboncengnya itu.


"Aku turun di persimpangan depan sana ya.." Ucap Diana menunjuk persimpangan yang ada di depan mereka.


"Kenapa gak nyampe rumah aja sih? Ini tuh masih gerimis. Disana gak ada tempat berteduh."


"Kan ada jaket dari kamu ini. Pokoknya turunin disana titik." Ucap Diana bersikeras.


"Oke, oke.." Sekali lagi Mario memilih mengalah saja.


Mario menepikan motornya, dan ikut turun setelah Diana turun lebih dulu.


"Kamu ngapain ikut turun?" Ucap Diana heran.


"Aku mau ngguin kamu sampai dapat angkot." Ucap Mario mengikuti langkah Diana menuju pelataran toko yang sedang tutup untuk berteduh.


"Gak usah.."


"Sekali aja gak usah pakai ngebantah bisa gak sih?"


Diana langsung terdiam mendegar intonasi suara Mario yang meninggi. Matanya celingukan kekiri dan kekanan khawatir kalau ada yang mengenalinya.


"Sabtu sore ada acara gak?" Mario kembali membuka obrolan.


"Kenapa?"


"Aku ada acara kecil-kecilan buat ngerayain ultah aku. Kamu bisa ikut? Nanti aku jemput."


"Kamu gak pakai pikir-pikir dulu? Langsung ditolak aja." Ucap Mario kesal.


"Aku gak pernah keluar sore atau malam-malam" Jawab Diana dengan tegas.


"Terus, malam Minggu waktu itu, kenapa kamu jalan sendirian?" Ucap Mario mengingatkan Diana pada titik mula perjumpaan yang membuat mereka hingga sedekat saat ini.


"Oh, itu aku baru pulang dari belajar kelompok di rumah Hera." Jawab Diana jujur.


Mario menghela napas menekan rasa kecewa.


"Mario, aku boleh tau kenapa kamu pukuli Willy malam itu?"


Diana benar-benar membuka kembali kisah itu. Dia sangat penasaran apa yang membuat seorang Mario mengeroyok seseorang padahal menurut cerita Rosa, Mario memiliki hati seperti malaikat.


"Apa karena pacar kamu direbut sama Willy?" Tanya Diana begitu polosnya mengungkapkan hipotesanya sendiri.


Mario tertawa mendengar spekulasi Diana tentang latar belakang pengeroyokan yang ia dan teman-temannya lakukan.


"Bukan lah Di. Masalahnya berawal dari aku yang kalah balapan. Aku berpikir kalau dia main curang dengan mengutakatik motor aku sampai akhirnya dia bisa menang dari aku. Tapi ada hal lain yang bikin aku semakin marah. Aku gak enak mau cerita.Tapi aku sadar, aku emang salah karena terlalu emosi waktu itu." Ucap Mario yang nampak benar-benar menyesal.


"Cerita aja. Aku janji gak akan bilang siapa-siapa." Desak Diana yang sudah dipenuhi rasa penasaran


"Aku ikut balapan itu karena lagi ngumpulin uang untuk bantu biaya berobat ibu temen aku. Tapi karena aku kalah malam itu, aku kehilangan kesempatan buat dapatin banyak uang. Aku semakin kesal ketika Willy memilih membagi-bagikan uang hasil balapan itu sama teman-temannya. Padahal aku butuh banget uang itu. Hingga esok harinya, ibu teman aku meninggal karena terlambat mendapat pertolongan."


Diana terenyuh mendengar kisah Mario. Ini seperti skenario di acara televisi. Tapi melihat raut wajah Mario ketika bercerita, Diana tidak menemukan kebohongan sedikitpun.


"Tapi kalau dipikir-pikir itu bukan kesalahan Willy kan? Willy kan gak tau kalau kamu benar-benar butuh uang itu."


"Iya, aku terlalu emosi waktu itu." Ucap Mario sendu.


"Harusnya kamu bilang sama Willy waktu itu. Menurutku, dia anaknya baik."


"Kok kamu belain dia terus? Kamu suka ya?" Mario menatap tajam pada Diana.


"Iya, aku suka. Emangnya kenapa aku harus gak suka?"


Mario tau kalau Willy pun menyukai gadis di depannya itu. Dia juga tau Willy sering sekali memberi titipan salam dan bingkisan pada Diana secara diam-diam seperti penuturan Rosa waktu itu. Bahkan bisa dikatakan, mungkin Willy sudah menyukai Diana jauh sebelum dia mulai memperhatikan gadis itu.


"Eh, angkot aku datang." Diana pun bergerak maju agar supir angkot yang akan ia tumpangi dapat melihatnya.


"Tunggu sebentar," Mario nampak mengambil buku dan pulpen, menuliskan sesuatu di selembar kertasnya, merobek bagian kecil yang ia tulisi tersebut, lalu menyerahkannya pada Diana.


Diana menerima secuil kertas bertuliskan deretan angka tersebut dengan ekspresi bingung.


"Kabari aku kalau seandainya besok kamu berubah pikiran." Ucap Mario kemudian.


Diana lantas menyimpan kertas itu. "Makasih ya udah traktir aku makan es krim. Nanti jaketnya biar aku cuci dulu." Ucap Diana.


"Itu buat kamu."


"Aku balik dulu ya.. Oh ya satu lagi, kalau bisa kamu minta maaf sama Willy ya.. Bye," Diana pun berpamitan dan masuk dalam angkot.


Dia melihat Mario masih berdiri memandang ke arahnya dari balik kaca mobil angkot, tidak beranjak, hingga bayangannya pun menghilang tak tampak lagi.


(Flash back off)


Diana masih terjaga memandangi secarik kertas berisikan deretan angka yang diberikan oleh Mario tadi.


Diana menyimpannya dalam kontak hapenya.


"Kasih nama apa ya? Mario ganteng? Eh, gak ah, hapus hapus.. Mario bawel? Nah iya, ini aja deh..."


save


Diana hanya menyimpannya tanpa ada niat menghubunginya saat ini.


Dia membuka lagi kontak hapenya yang hanya berisi tiga nomor itu. Ayah, Mama, dan yang ketiga Super Mario.


Diana tersenyum tersipu tanpa alasan. Hape itu pun ia letakkan di samping bantalnya, dan mulai memejamkan mata menuju alam impian.


...


Author's cuap:


Hayo, Diana..


Kepincut juga deh akhirnyaaa...


Buat yang udah baca,, jangan lupa support nya ya..


Like comment vote..


Terimakasih